
Emil pulang dengan wajah penuh luka, kaca jendela bagian penumpang belakang sebelah kiri retak.
Sari memekik melihat Emil dengan langkah gontai dan memegang bibirnya yang sedikit memar serta berdarah.
"Kamu kenapa?" tanya Sari panik.
"Aku dipukul orang tak dikenal, Ma." Jawabnya sembari meringis kesakitan.
Sari bergegas mengambil kotak P3K lalu kembali mendekati putranya dan mengobati lukanya.
"Kamu tidak lapor ke polisi?"
"Mereka mengancam aku, Ma. Jika berani melapor, maka aku akan mendapatkan lebih parah dari ini."
"Tega sekali mereka melakukan ini. Apa kamu memiliki musuh?"
"Tidak, Ma."
Sejam yang lalu....
Emil tak berhasil berbicara dengan Amy lantas pulang. Dista tak ikut dengannya karena ingin singgah ke rumah temannya.
Hanya beberapa meter dari gedung kantor, mobilnya dipaksa berhenti oleh 2 pria yang menaiki sepeda motor dengan melempar batu di jendela bagian penumpang belakang.
Emil yang terkejut, lantas menghentikan laju kendaraannya lalu keluar.
Belum sempat bertanya, perut Emil dipukul begitu juga dengan rahang wajahnya. Emil memekik kesakitan.
Para warga yang melihat ingin menolong tapi salah satu pria tak dikenal berkata, "Dia ini sudah merebut istri orang jadi kalian tidak perlu ikut campur!"
Seketika warga mengurungkan niatnya membantu Emil yang terluka.
Salah satu pria meraih dompet Emil dari saku celananya, membukanya lalu mengambil isinya tanpa tersisa kecuali kartu penting saja. Foto Alya juga mereka bawa.
"Siapa kalian?" tanya Emil menahan sakit.
"Kamu tidak perlu tahu siapa kami. Jika mengadu maka kami tak akan segan membuat lukisan di wajahmu itu lebih banyak!" jawab salah satu pria dengan postur tubuh lebih tinggi.
Emil menelan salivanya.
*
"Jadi mereka hanya mengambil foto dan uang kamu saja?"
"Iya, Ma. Hanya selembar uang seratus, cuma itu yang tersisa di dompetku mereka ambil juga."
"Buat apa mereka foto Alya di ambil?"
"Aku juga tidak tahu."
"Apa ini ada hubungannya dengan atasan kamu itu?"
"Entahlah."
"Pasti mereka suruhan atasan kamu itu!" tebak Sari.
"Buat apa mereka foto Alya?"
"Bisa saja, jika Amy adalah Alya."
Emil tampak berpikir.
"Kamu harus membuktikannya."
__ADS_1
"Bagaimana kalau bukan? Mereka akan memecat aku, Ma."
"Kamu pintar dikitlah, cari cara agar dapat bicara dengannya tanpa membuat mereka salah paham."
"Bagaimana caranya, Ma?"
"Basa-basi dengan asistennya, tawarkan sesuatu yang membuatnya senang."
Emil tak segera mengiyakan.
"Emil.."
"Iya, Ma. Emil akan coba sarannya."
***
Esok paginya, Emil membawakan es kopi untuk Miley.
Wanita itu mengernyitkan dahinya ketika Emil memberikan minumannya. "Pasti ada yang ingin kamu ketahui?" tebaknya.
"Saya ingin berbicara dengan Nona Amy karena ini sangat penting," ujar Emil.
Miley menarik napas lalu dihembuskannya kemudian berkata, "Aku akan ke ruangannya, tunggu sebentar."
"Baiklah," ucap Emil senang.
"Kembali ke ruangan kamu sekarang, jika memang Nona Amy ingin bertemu maka aku akan memanggilmu," kata Miley.
Emil mengangguk paham.
Tak lama kemudian, seorang karyawan memanggil Emil. Dirinya diperintahkan untuk datang ke ruang khusus tamu klien.
Sesampainya di sana tampak Amy duduk di sebelah suaminya dan di samping tepat di kirinya ada Miley.
"Cepat katakan apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Ardan.
Emil dengan tangan gemetar menunjukkan foto Alya dengan Gama kepada sepasang suami istri itu.
Kemarin malam, Emil meminjam foto Alya bersama Gama karena foto seorang diri mantan istrinya itu hilang di ambil orang tak dikenal.
Amy menarik salah satu ujung bibirnya. "Dia wanita yang sangat manis?" pujinya.
"Nona tidak mengenalnya?" tanya Emil ragu.
Amy menggelengkan kepalanya.
"Siapa dia?" tanya Ardan pura-pura tidak tahu.
"Dia mantan...eh dia teman semasa kecil saya yang sudah lama menghilang. Wajahnya mirip sekali dengan Nona Amy," jawab Emil.
"Oh," ucap Ardan singkat.
"Saya tidak kenal dengan dia dan kamu juga bukan teman kecil saya. Apa itu cukup meredakan rasa penasaran kamu?" Amy menatap Emil.
"Kenapa kamu berpikir jika istri saya ini adalah teman semasa kecilmu?" tanya Ardan.
"Karena wajah mereka sangat mirip, apa mungkin mereka saudara kembar atau orang yang sama," jawab Emil.
"Oh, begitu. Saya ingin memberitahu kamu tentang Amy. Saya mengenal dia delapan tahun lalu, dia wanita cantik, hebat dan kuat. Tiap hari kami selalu bertemu, memperlakukan dia dengan baik. Saya menganggapnya sangat sempurna meskipun ada seorang pria yang menghancurkan hidupnya," ungkap Ardan.
Emil hanya diam.
"Jadi, jika ada yang berani menyentuh dan menyakitinya maka saya tak segan membuat pelakunya hidupnya berantakan!" Ardan mempertegas ucapannya.
__ADS_1
"Beruntung sekali Nona Amy mendapatkan Tuan Ardan yang sangat penyayang dan setia," kata Emil melirik Amy.
"Tentunya, saya sangat beruntung mendapatkan suami sepertinya. Tak selamanya hidup kita selalu menderita, karena setelah hujan akan ada pelangi," sahut Amy.
"Kalau begitu, maafkan saya sudah mengganggu waktu Tuan dan Nona," Emil sedikit menunduk.
Ardan dan Amy mengerakkan dagunya pelan.
Emil lantas berdiri kemudian, tak lupa menundukkan kepalanya lagi.
Amy meremas tangan suaminya dengan kuat, Ardan lalu memeluknya. Kini tinggal keduanya di ruangan itu.
"Aku tidak mau mereka mengetahui ku sebelum dendam di hatiku terbalas, Dan!"
"Sayang, tenanglah. Mereka tidak akan pernah tahu. Jadi, bersikap biasa saja."
"Pasti dia punya foto aku dari Gama, karena dia selalu dekat denganku di rumah itu."
"Tujuan bocah itu apa menunjukkan foto itu kepada keluarganya?" tanya Ardan.
Amy mengendikkan bahunya.
"Apa kamu ingin bertanya padanya dan memberitahu Gama jika dirimu adalah Alya?"
"Tidak, Dan."
"Hanya cara ini dapat membantu kita agar mantan suamimu itu tak perlu mengejar dan mencari tahu kamu."
Amy sejenak berpikir, tak lama kemudian mengiyakan.
-
Sore harinya, Emil pulang dia memberitahu ibunya jika Nona Amy bukanlah Alya yang ia cari.
Emil juga menceritakan tentang perjalanan cinta Ardan bertemu dengan istrinya itu 8 tahun lalu.
"Kamu dan Alya berpisah delapan tahun lalu? Dan kamu bilang kalau Amy disakiti seorang pria, siapa dia?" tanya Sari.
"Aku tidak tahu siapa dia, Ma."
"Harusnya kamu tanya dia disakiti mantan suaminya atau kekasihnya," ujar Sari.
"Aku tidak berani bertanya terlalu detail, Ma."
"Ya ampun, Emil. Kamu memang benar-benar bodoh, padahal tadi kesempatan bagus untuk mengorek semua tentang istri atasan kamu itu!" Sari greget.
"Mama mau aku mendapatkan tatapan tajam dari dua asisten mereka," ucap Emil.
"Selama mereka tidak menyentuh tubuhmu tidak masalah," ujar Sari.
"Aku tidak mau dipecat, Ma."
"Lebih baik Kak Emil tak perlu lagi mencari Kak Alya!" sahut Gama.
Emil dan ibunya menoleh ke arahnya.
"Kenapa, Gam?" tanya Sari.
"Buat apa kalian mencari Kak Alya? Biarkan dia bahagia dengan kehidupan barunya. Apa belum cukup Mama, Kak Emil dan Kak Dista menyiksanya," jawab Gama.
"Bukankah kamu juga ingin bertemu dengannya?" tanya Emil.
"Memang iya, aku hanya ingin mengatakan terima kasih. Jika pun bertemu dengannya, aku takkan memberitahu kepada kalian," jawab Gama lagi.
__ADS_1