
Kabar rencana pernikahan Dista cukup membuat Gama terkejut. Tiba-tiba saja, Sari memberitahu dirinya ketika hendak makan malam.
"Kenapa mendadak begini, Ma?"
"Mama juga tidak tahu, Kakak mau baru tadi pagi bicara."
"Kak Emil sudah tahu?"
"Sudah. Tadi sore dia kemari."
"Kapan Kak Dista menikah biar aku ambil izin kerja?"
"Nanti dia akan mengabari Mama."
"Sekarang Kak Dista ke mana?"
"Menemui calon suaminya."
Gama manggut-manggut.
Malam harinya, menjelang tidur. Dista pulang ke rumah tentunya di antar calon suaminya menggunakan mobil mewah.
Dista menenteng kantong kertas berisi sandal high heels dan tas pesanan ibunya.
Sari yang membuka pintu tampak tersenyum melihat putrinya membawa barang belanjaannya.
"Buat Mama!" Dista menyodorkan 1 kantong.
"Terima kasih, putriku!"
"Sama-sama, Ma. Aku mau tidur dulu 'ya!"
"Kapan kalian menikah? Mama sudah memberitahu Gama dan Emil," ujar Sari.
"Besok malam, Ma."
"Baiklah, Mama akan memberitahu kakak kamu."
Dista mengangguk mengiyakan.
Sari lalu menelepon Emil dan mengatakan jika Dista akan menikah besok malam. Emil kemudian mengiyakan, jika dirinya akan datang esok malam bersama istrinya.
"Siapa yang menelepon?" tanya Rima.
"Mama. Dia menyuruhku untuk menikahkan Dista," jawab Emil.
"Apa? Adikmu mau menikah? Secepat itu?"
"Iya. Besok kamu ikut aku ke rumah Mama."
"Hmm, baiklah."
***
Jam 6 sore sepulangnya dari kantor, Emil dan istrinya berangkat ke rumah ibunya. Begitu sampai, tak ada saudara dan tetangga yang hadir. Hanya ada kepala lingkungan tempat Sari tinggal.
Rima tampak diam ketika berada di kediaman keluarga suaminya.
Dista sudah tampak cantik dengan gaun pengantin sederhana yang disewanya.
"Jam berapa acaranya?" tanya Rima berbisik kepada suaminya.
Sebentar lagi," jawab Emil.
Dan tak berapa lama tepat Rima tiba di rumah mertuanya 30 menit lalu, calon pengantin pria pun datang.
Rima membulatkan matanya ketika tahu calon suami adik iparnya.
"Dia?" tanya Rima pada suaminya.
"Mungkin," jawab Emil.
"Kamu ini bagaimana 'sih? Masa tidak tahu calon adik iparnya?" gerutu Rima.
__ADS_1
"Baru hari ini kami bertemu," jelas Emil.
Calon suami Dista menyapa Sari dan Emil, pria itu tampak terkejut ketika melihat istri calon kakak iparnya.
Sebelum janji suci pernikahan, Rima menarik tangan Emil. "Aku ingin bicara denganmu!"
Emil mengikuti istrinya.
"Dia itu sudah memiliki menikah dan punya dua. Istrinya sahabat tante aku!"
"Aku tidak dapat melarangnya," ucap Emil.
"Kenapa rupanya kalau dia suami orang?" Sari tiba-tiba muncul.
Rima terdiam, dirinya tak berkutik ketika di rumah suaminya.
"Awas saja kalau kamu memberitahu teman tantemu itu, Mama akan menyebarkan berita pernikahan kalian di kantor!" ancam Sari.
"Aku tidak akan memberitahu hal ini, Ma." Janji Rima.
-
Janji pernikahan Dista dan kekasihnya akhirnya terlaksana setelah itu mereka menikmati makan bersama.
Rima meminta suaminya untuk tidak berlama-lama. Dirinya mendesak agar segera pulang.
"Aku belum makan," ucap Emil.
"Nanti aku akan mentraktirmu makan," bisik Rima.
Emil pun mengiyakan ajakan suaminya.
Sebelum ke apartemen, mereka pun singgah ke warung pedagang sate kambing. Di sana Rima mengatakan kalau jalan yang diambil Dista sangat beresiko tinggi.
"Kamu tahu 'kan kalau merebut sesuatu yang bukan milik kita itu tak baik. Lalu kenapa kamu ingin mengambil miliknya Nona Amy?"
sindir Emil.
Rima terdiam.
"Bagaimana kalau pernikahan ini diketahui Tante Mayang? Aku juga habis-habisan dimarahi tanteku."
"Kamu bilang saja kalau tidak tahu. Beres 'kan!"
Rima pun manggut-manggut paham.
Sementara itu, setelah menikah Dista tak lagi tinggal bersama ibunya karena suaminya akan membawanya ke sebuah apartemen yang kini menjadi miliknya.
Sebelum putrinya dibawa menantunya, Sari mendapatkan uang yang cukup buat sebulan ke depan.
Selepas Dista dan suaminya pergi, Gama lalu berkata kepada ibunya, "Ma, suaminya Kak Dista selisih usia dengan Mama hanya tiga tahun. Kenapa menyetujuinya saja?"
"Mereka saling mencintai. Kenapa tidak?"
"Tapi dia itu suami orang. Bagaimana kalau istrinya datang melabrak? Pasti Kak Dista akan terluka."
"Biarin saja, itu sudah konsekuensi kakakmu menikah dengan suami orang lain."
"Mama tidak sayang dengan Kak Dista?"
"Mama sayang dengan kalian semua. Tapi Mama butuh uang juga. Semoga pernikahan kakak kamu selalu bahagia dan lebih diutamakan oleh suaminya."
Gama menghela napas.
"Sekarang, Mama mau tanya dengan kamu. Kapan nikahi si Nesha itu? Dia anak orang kaya, sepertinya dia sangat mencintaimu. Buruan nikahinya sebelum diambil orang lain!"
"Aku belum siap menikahinya. Aku masih menabung untuk biaya pernikahan, lagian juga aku ingin tinggal terpisah dari Mama."
"Kamu mau meninggalkan Mama?"
"Bukan meninggalkan tapi mandiri. Aku tidak mau istriku tersiksa jika seatap dengan Mama, kutak ingin nasibnya seperti Kak Alya."
"Alya lagi, Alya lagi, kenapa selalu ingat dia?"
__ADS_1
"Karena aku masih ingat bagaimana perlakuan Mama, Kak Dista dan Kak Emil menyiksanya."
"Jangan pernah sebut nama Alya di rumah ini!"
"Baiklah, aku tidak akan menyebutnya asal Mama tak mencari tahu tentangnya!"
"Mama sudah tidak tertarik lagi mencari tahu tentang dia!"
"Syukurlah kalau begitu!"
"Mama curiga kalau kamu sebenarnya tahu banyak tentang Alya!" Sari menatap menyelidik.
"Aku sama sekali belum pernah bertemu dengannya," Gama berkilah.
"Yakin?"
Gama mengangguk mengiyakan.
***
Seminggu berlalu...
Gama bertemu dengan Amy dan suaminya di restoran, dirinya bercerita pada wanita itu jika Dista dan Emil telah menikah.
Amy dan suaminya pura-pura terkejut padahal sebenarnya mereka sudah tahu jika 2 orang musuhnya telah memiliki pasangan.
"Aku tidak setuju Kak Dista menikah dengan pria beristri. Tapi Mama malah mendukungnya," ucap Gama.
"Semua sudah terjadi, Gam." Kata Amy.
"Kak, aku ingin menikahi kekasihku. Apa kalian setuju?" tanya Gama.
Alya dan suaminya tersenyum.
Lalu Alya menjawab, "Kami setuju saja kamu menikah."
"Kami siap membiayai pernikahan kalian," timpal Ardan.
"Bu.. bukan begitu, Kak. Tapi akhir-akhir ini aku ragu dengan hubungan kami," ujar Gama.
"Kenapa?" tanya Alya.
"Entahlah, Kak. Aku ragu saja, padahal ku ingin sekali menikahinya dan kami tinggal terpisah dari Mama," jawab Gama.
"Kamu tidak yakin dengan calon kekasihmu itu?" tanya Alya.
Gama menjawab iya.
"Kamu ingin Kakak menyelidikinya?" tanya Alya.
"Tidak usah, Kak." Jawab Gama.
"Kamu ini bagaimana sih'? Ingin menikah tapi ragu," ujar Alya.
Ditengah percakapan Gama dengan Amy dan suaminya, tiba-tiba Nesha muncul dan tersenyum kepada ketiganya.
"Mereka siapa, Gam?"
Gama lantas berdiri lalu menarik tangan kekasihnya menjauh dari Amy dan suaminya.
Kemudian menjawab, "Mereka tamu khusus di restoran ini."
"Tapi kenapa kamu bisa mengobrol di meja yang sama?"
"Nanti aku ceritakan."
Nesha manggut-manggut mengiyakan.
...****************...
Jangan Lupa Like, Komentar, Vote dan Beri Rating Lima...
Terima Kasih Masih Setia Membaca, Maaf Jika Ceritanya Tak Terlalu Menarik...
__ADS_1
Sehat Selalu 🤗 Buat Seluruh Pembaca Karyaku☺️☺️☺️🌹