Membalas Mereka Yang Menyakitiku

Membalas Mereka Yang Menyakitiku
Bab 32 - Mirip Gama


__ADS_3

Gama tiba di rumah ketika waktu telah menunjukkan pukul 5 sore. Saat berada di depan pintu, dirinya melihat sang mama hendak pergi.


"Mau ke mana, Ma?"


"Mama mau dapat undangan dari teman di mall."


"Oh."


"Kamu baru pulang belanja?" Sari melihat kantong plastik yang digenggam putranya.


"Iya, Ma. Nesha yang membelinya," jawab Gama berbohong.


"Baik sekali dia denganmu. Mama tidak pernah di belinya," singgung Sari.


"Nesha belum bekerja, masih minta uang jajan dari papanya. Tidak mungkin mampu belikan Mama barang," ujar Gama.


"Itu kamu dibelinya!"


"Ini karena dia menabung uang jajan," Gama lagi-lagi memberikan alasan berbohong.


Sari manggut-manggut.


"Kalau begitu Mama berangkat, 'ya. Makan malam sudah Mama siapkan di meja. Jangan lupa cuci piring dan lipat pakaian," ucap Sari.


"Iya, Ma."


Sari pun berangkat menggunakan motor.


Gama menghela napas.


Gama lalu masuk ke rumah, mengganti pakaiannya dan mengerjakan apa yang diperintahkan sang mama.


Di rumah dirinya yang selalu membantu Sari berberes. Emil dan Dista tak pernah bisa diharapkan, mereka bagaikan bos.


Sari tiba di mall 15 menit kemudian, di sana beberapa temannya sudah menunggunya.


Sari duduk bersama dengan teman-temannya itu dan memesan makanan serta minuman. Hidangan pun tersaji di meja, mereka sama-sama menikmatinya.


Di tengah obrolan dengan temannya, mata Sari tertuju pada seorang pria paruh baya yang sedang menggendong seorang balita di taksir berusia 1 tahun-an.


Seketika wajah Sari memucat, dirinya begitu gemetaran.


"Hei, kamu kenapa?" tanya teman Sari.


"A.. aku tidak apa-apa," jawab Sari mencoba tersenyum.


"Lagi sakit?" tanya teman yang lainnya.


"Aku duluan pulang, ya!" pamit Sari.


"Kenapa cepat sekali?" tanya lainnya.


"Aku mau mengantarkan anakku ke terminal," jawab Sari.


"Siapa yang memangnya mau pergi?"


"Anakku, si Gama."


Teman Sari manggut-manggut.


Sari pun bergegas meninggalkan tempat. Karena buru-buru dan ketakutan, dia tak sengaja sehingga menyenggol pengunjung mall yang sedang melintas.


"Ya ampun, punya mata apa tidak sih'?" bentak seorang wanita muda dengan teman prianya.


"Maaf!" ucap Sari gemetaran.


Sari membantu wanita itu memungut barang yang berserakan.


Insiden kecil itu membuat pria paruh baya di ujung mengalihkan perhatiannya. Dahinya berkerut melihat wanita yang sedang diomelin.


Selesai mengumpulkan barang tersebut dan meminta maaf lagi. Sari buru-buru pergi, dirinya sempat menoleh ke belakang memastikan pria itu tak melihatnya.


"Dia!" gumam pria itu.


Sari menaiki motornya dan tancap gas meninggalkan mall.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Gama sedang makan malam bersama Emil. Melihat Sari yang pulang begitu cepat membuat keduanya saling pandang.


"Mama!" ucap Gama.


"Kalian lagi makan, ya?" tanya Sari mengatur napas.


"Sudah selesai acaranya?" tanya Emil.


"Belum 'sih, cuma tadi Mama sedikit pusing. Kalian lanjut makan, Mama mau ke kamar," ucap Sari.


Lalu diiyakan oleh Gama dan Emil.


"Ini baru setengah delapan sudah pulang. Kamu yakin kalau mama sedang sakit?" tanya Emil.


"Biasanya mama kalau lagi kumpul dengan temannya tak pernah mengeluh sakit," jawab Gama.


Sementara Sari di dalam kamar tampak mondar-mandir, dirinya kelihatan bingung.


"Semoga dia tidak melihat aku tadi. Jangan sampai kami bertemu lagi," gumam Sari.


Pintu kamar diketuk membuat Sari tersentak kaget. Sari mengatur napas, mencoba tenang. Perlahan dirinya membuka pintunya.


"Mama tidak ingin berobat?" tanya Gama.


"Tidak, Gam. Mama hanya butuh istirahat saja," jawab Sari.


"Benar tidak mau berobat?"


"Iya. Kamu tidak perlu khawatir."


"Hmm, baiklah. Jika butuh apa-apa, panggil saja aku," ucap Gama.


Sari mengiyakan.


***


Gama melakukan pekerjaan sehari-harinya menjadi pelayan sebuah restoran. Hari ini dirinya melayani sebuah keluarga yang memesan tempat ruang VIP.


Gama menyajikan hidangan di atas meja dengan senyuman. Hal itu tidak dilakukannya sendiri melainkan dengan 2 orang rekan kerjanya.


Pria itu lantas memperhatikan Gama yang sedang sibuk menyajikan makanan. Memang benar, senyuman, mata serta hidungnya mirip dengannya.


"Mirip sekali 'kan, Yah?" tanya wanita muda itu lagi.


"Mungkin hanya kebetulan saja," jawabnya.


Gama melemparkan senyumannya kepada keduanya dan menundukkan sedikit kepalanya.


Gama dan 2 rekan lainnya pun keluar dari ruangan tersebut.


Tak lama kemudian pria paruh baya itu menyusul Gama dan temannya.


"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" tanya salah satu rekannya Gama.


"Saya ingin bicara dengannya," jawabnya.


"Hm, baiklah. Kami tinggal, permisi!" ucap teman Gama yang tadi bertanya.


Gama mendekat dan tersenyum. "Ada yang Tuan butuhkan?"


"Siapa namamu?"


"Gama, Tuan."


"Apa kamu tinggal di kota ini?"


"Iya."


"Wajahmu mirip sekali dengan saya. Apa kamu masih memiliki orang tua lengkap?"


"Papa sudah meninggal beberapa tahun lalu dan saat ini tinggal bersama dengan mama."


"Saya turut berduka cita."


"Terima kasih, Tuan."

__ADS_1


"Perkenalkan nama saya Romi," pria paruh baya itu mengulurkan tangannya.


Gama pun menyambutnya.


"Ayah!" panggil seorang pemuda yang sebaya dengan Gama.


Romi menoleh.


"Dipanggil ibu!"


"Iya, sebentar lagi Ayah masuk."


Pemuda itu kembali ke ruangannya.


Romi lalu menatap Gama, "Lain waktu lagi kita mengobrol, saya sudah dipanggil istri."


"Iya, Tuan."


Romi masuk ke dalam ruangan yang telah dipesan keluarganya dan Gama kembali melanjutkan pekerjaannya.


Dua jam kemudian, Romi dan keluarganya meninggalkan ruangan. Romi sempat mencari keberadaan Gama yang tak dilihatnya.


"Cari siapa, Yah?" tanya wanita muda yang merupakan putri kandungnya.


"Kalian duluan, Ayah akan menyusul," jawab Romi.


"Ayah mau ke mana?" tanyanya lagi.


"Toilet," jawab Romi mengangguk.


Rombongan keluarga Romi melangkah ke parkiran restoran.


Romi lalu bertanya kepada kasir yang hari ini bukan Lisha. "Saya ingin bertemu dengan Gama?"


"Gama sudah pulang sepuluh menit yang lalu, Tuan."


"Apa dia sudah lama bekerja di sini?"


"Hampir setahun, Tuan."


"Terima kasih informasinya," ucap Romi.


Gadis itu lalu tersenyum.


Gama tiba di rumah, menarik kursi dan menengguk air putih yang telah dituangkannya ke dalam gelas.


"Gama, ada uang?" tanya Sari.


"Ada, Ma. Tapi tidak terlalu banyak, karena gajian seminggu lagi."


"Minta sedikit boleh? Mama mau beli gula di warung depan," ujar Sari.


Gama lalu mengeluarkan selembar uang berwarna hijau dan menyodorkannya.


Sari tersenyum mengambilnya.


"Ma, tadi ada tamu pria di restoran. Wajahnya mirip sekali denganku," ucap Gama.


Sari mengerutkan keningnya.


"Dia juga mengatakan hal yang sama padaku," lanjut Gama berucap.


"Kalian saling mengobrol?" tanya Sari.


"Iya, Ma."


"Itu hal wajar, 'sih. Di dunia ini pasti ada kembaran kita meskipun tak sedarah," ujar Sari.


"Dia sudah tua, Ma. Bukan sebaya denganku," ucap Gama.


"Tua bagaimana?" tanya Sari yang tak mengerti dengan ucapan putranya.


"Kira-kira usianya tak jauh dari Mama," jawab Gama.


"Memangnya siapa namanya?"

__ADS_1


"Romi."


__ADS_2