Membalas Mereka Yang Menyakitiku

Membalas Mereka Yang Menyakitiku
Bab 35 - Putramu Sudah Mati!


__ADS_3

Tubuh Sari gemetar hebat ketika pria dari masa lalunya muncul, dirinya mencoba menyalakan mesin motornya.


"Aku ingin bicara denganmu," ucapnya.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Putramu sudah mati!"


"Apa kamu bilang?" tanyanya tak percaya.


Sari berusaha sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan air matanya. Tanpa bicara apapun dirinya melarikan diri dari pria itu.


Pria itu pun mengejar Sari menggunakan mobil.Karena gugup tanpa memperhatikan jalanan, motor yang dikendarai Sari menabrak pembatas jalan.


Sari pun jatuh, dirinya pingsan di jalanan


Dibantu beberapa warga Sari dimasukkan ke dalam sebuah mobil dan melesat ke rumah sakit terdekat.


Tepat 30 menit setelah kecelakaan itu, Gama dan kedua saudara kandungnya datang ke rumah sakit.


Gama datang ditemani sang kekasih. Dirinya begitu khawatir ketika mendengar kabar ibunya kecelakaan.


Gama begitu terkejut melihat pria yang duduk di bangku tamu pasien tepat di depan ruangan di mana Sari sedang mendapatkan pertolongan.


"Paman Romi!" sapa Gama heran.


Pria paruh baya itu mendongakkan wajahnya lalu menoleh. "Gama!"


Emil dan Dista mendekati ruangan tersebut.


"Kenapa Paman di sini?" tanya Gama. "Apa ada keluarganya yang sakit?" lanjutnya.


"Paman menolong seorang wanita, dia lagi di rawat di sana!" Romi menunjuk ruangan itu.


"Jadi Paman yang membantu mama dan membawanya ke sini?" tanya Gama.


Romi mengiyakan.


"Syukurlah, Paman. Mama tidak apa-apa, 'kan?"


"Dia hanya syok saja."


Gama manggut-manggut.


"Jadi dia mama kamu?"


"Iya, Paman."


Romi memperhatikan wajah Gama yang mirip sekali dengannya.

__ADS_1


"Apa Sari berbohong? Gama adalah putranya, dia persis aku. Apa benar dia anakku yang selama ini aku cari," Romi membatin.


Sejam setelah mendapatkan pengobatan, Sari dipindahkan ke ruang rawat inap.


Romi lalu masuk membuat Sari tak dapat berkutik, wajahnya kembali cemas.


"Biaya pengobatan Mama sudah dibayar Paman Romi," ucap Gama.


Romi tersenyum.


"Terima kasih sudah membantu Mama saya, Tuan!" ucap Emil.


"Sama-sama, panggil saja Paman seperti Gama," kata Romi.


Emil mengiyakan.


"Mama mau pulang, Mil!" ucap Sari tak berani menatap Romi.


"Sementara Mama di sini dulu," kata Dista.


"Mama tidak mau di sini, sungguh tak enak!" ujar Sari beralasan.


"Mama belum terlalu pulih. Jadi tetaplah di sini, besok sore kita baru kembali," kata Gama.


"Lagian biaya rumah sakit sudah dibayar. Mama tak perlu takut lagi, tinggal nunggu dokter memeriksa," celetuk Dista.


"Mama tak betah di sini," kata Sari.


Romi akhirnya pamit pulang, Sari pun jadi lega. Dirinya takut kalau rahasianya di bongkar.


Tak lama kemudian Emil pulang bersama Dista, terlebih dahulu mengantarkan adiknya pulang.


Sejam kemudian, Gama pamit pulang mengantarkan kekasihnya.


"Siapa yang akan menjaga Mama di sini, Gam?" tanya Sari.


"Kak Emil nanti akan datang jam sembilan malam," jawab Gama. "Kasihan Kak Dista seorang diri di rumah," lanjutnya berucap.


"Dia takkan lama, 'kan? Mama takut di sini," ucap Sari.


"Ma, di sini ramai ada perawat dan dokter. Ada televisi juga jadi tak bosan," ujar Gama.


"Kami pulang, ya!" Gama mengecup punggung tangan Sari, Nesha pun melakukan hal yang sama.


Keduanya pun berlalu.


Beberapa menit setelah Gama dan Nesha pergi, pintu kamar terbuka. Sari yang terlanjur ketakutan segera menoleh.

__ADS_1


Romi kembali datang dan melangkah mendekati ranjang Sari.


"Pergilah!" Sari memalingkan wajahnya.


"Diantara mereka, siapa yang merupakan anak kandungku?" tanya Romi.


"Tidak ada," jawab Sari.


"Jangan berbohong!"


"Aku sudah katakan anakmu mati!"


"Aku yakin dia masih hidup dan sudah dewasa. Apa salahnya kamu memberitahu aku?"


"Aku tidak mau kamu merebutnya dariku!"


"Aku janji tidak akan mengambilnya. Aku hanya ingin tahu saja," ucap Romi.


"Buat apa kamu harus tahu, hah?"


"Aku ingin memeluknya."


"Setelah itu dia akan bertanya siapa dirimu dan kemudian tahu jika kamu adalah ayahnya," kata Sari.


"Menjauhlah sejauh-jauhnya, aku dan dia sudah tenang. Kamu juga telah memiliki keluarga bahagia, jangan usik kami lagi!"


"Aku dan Vira telah bercerai," kata Romi.


"Lalu balita yang kamu gendong di mal itu siapa?"


Romi berusaha mengingatnya.


"Kamu begitu bahagia dengan keluargamu saat makan siang di mall," ungkap Sari.


"Kamu sudah pernah melihatku di mall."


"Ya, aku di sana juga."


"Dia adalah cucuku dari pernikahan yang ketiga," ujar Romi.


"Kamu sudah bahagia. Untuk apa lagi ingin menemui kami, aku sudah menutup masa lalu diantara kita," ucap Sari.


"Baiklah, aku akan pergi dari kehidupan kalian. Asal kamu memberitahu siapa anakku agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari," kata Romi.


"Baiklah, aku akan memberitahunya. Putra kamu masih hidup, dia sangat tampan dan baik," ucap Sari.


"Apa Gama putraku?" tanya Romi.

__ADS_1


Sari mengiyakan.


"Mama!"


__ADS_2