
Gama menghampiri Nesha yang menunggu di di parkiran restoran tepatnya di dalam mobil.
Gama memasang safety belt sebelum kendaraan itu bergerak.
"Memangnya mereka siapa?" tanya Nesha.
"Nanti aku akan jelaskan. Kamu mau makan bakso, 'kan?" tawar Gama.
"Boleh," jawab Nesha dengan semangat.
Nesha menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan restoran. Mereka singgah di sebuah warung bakso tak jauh dari kediaman ibunya Gama.
Keduanya turun lalu memesan 2 porsi bakso dan 2 gelas es jeruk.
Sebelum pesanan keduanya tersaji di meja, Nesha menagih penjelasan dari sang kekasih.
"Kamu jangan pernah memberitahu hal ini kepada siapapun termasuk keluargaku," ucap Gama.
"Iya, aku janji!"
"Mereka itu sudah aku anggap seperti kakak kandung sendiri," ujar Gama.
Dahi Nesha berkerut.
"Wanita itu adalah mantan kakak iparku," ucap Gama.
Obrolan keduanya terhenti karena pelayan warung menyajikan pesanan mereka.
"Mantan istri Kak Emil? Sangat cantik!" pujinya.
"Iya. Mereka menikah sepuluh tahun lalu, dua tahun pernikahan kemudian bercerai."
"Kenapa berpisah?" tanya Nesha penasaran.
"Kak Emil tidak mencintainya," jawab Gama.
"Tapi kenapa keluargamu tidak boleh mengetahui hal ini?" tanya Nesha lagi.
Gama pun menjelaskan semuanya kenapa Emil dan Amy harus berpisah.
Nesha tidak menyangka jika keluarga kekasihnya itu begitu tega kepada Amy.
"Aku mohon padamu, jangan sampai mama dan lainnya tahu!" pinta Gama.
Nesha mengangguk.
Keduanya menikmati bakso, namun Nesha tampak dengan sedang berpikir meskipun tangannya bergerak menyuapi mulutnya.
Gama memperhatikan kekasihnya lalu bertanya, "Nes, kenapa?"
Nesha terperanjat kemudian menoleh ke arah kekasihnya. "Ya, kamu tadi tanya apa?"
"Kamu melamun?"
"Aku sedang mikir aja, Gam."
"Mikir apa?"
"Jika kita menikah nanti, apakah keluargamu akan melakukan hal yang sama padaku juga?" tanya Nesha.
Gama tertawa kecil.
"Aku tidak mau menikah dengan pria yang hanya menyiksa batin dan ragaku."
"Kamu tidak percaya dengan aku?"
Nesha menatap mata kekasihnya.
"Kamu kenal aku sudah berapa lama?"
"Lebih dari tiga tahun."
"Kamu lihat 'kan sikap Kak Amy dan suaminya padaku?"
Nesha mengangguk mengiyakan.
"Aku janji tidak akan ada yang boleh menyakitimu," ucap Gama.
Nesha menarik ujung bibirnya.
__ADS_1
"Pernyataan aku begini tidak untuk menikahimu dalam waktu dekat, 'ya!" ujar Gama.
"Memangnya kenapa kalau kita menikah dalam tahun ini? Kamu tidak yakin dengan aku?"
"Ada banyak pertimbangan yang harus aku pikirkan."
"Jangan terlalu lama berpikir nanti kamu gagal menikahiku!"
Gama terdiam, dirinya memang mencintai Nesha tapi entah kenapa hatinya ragu menikahinya.
"Gam!"
"Hmm, ya."
"Cepat habiskan baksonya, aku mau menjemput mama lagi di rumah temannya."
Gama pun segera menghabiskan makanannya.
Gama lalu membayarkan makanannya kemudian pulang, kali ini dirinya yang mengambil alih menyetir.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Gama, Nesha tampak lebih diam.
"Nesha!"
Gadis itu menoleh ke arah kekasihnya, "Iya, Gam. Ada apa?"
"Kamu punya masalah?"
Nesha mengiyakan.
"Masalah apa?"
"Mama ingin menjodohkan aku dengan anak temannya."
"Kamu mau?"
"Tidaklah, aku 'kan sudah punya kamu."
Gama tersenyum mendengarnya.
"Aku tidak mau menikah dengan pria yang tak ku suka."
"Kamu menyuruhku menikah dengan orang lain, kamu tidak mencintaiku lagi?"
"Aku sangat mencintaimu, Nes. Tapi belum mampu menikahimu dengan cepat. Kamu tahu 'kan aku baru saja berhenti kuliah dan memulai bekerja di restoran."
"Aku akan menunggumu, tapi jika kamu maksa aku menikah dengannya. Maka, aku siap pergi darimu!"
Gama terdiam.
Nesha yang kesal dengan ucapan kekasihnya memilih memalingkan wajahnya.
Sesampainya di rumah Gama, Nesha segera mengambil kunci mobilnya. Tanpa berbicara apapun, ia segera melaju pergi.
Gama masih berdiri memperhatikan mobil yang dikendarai kekasihnya menghilang dari pandangannya.
"Gama, kenapa masih berdiri saja?"
Gama menoleh dan menjawab pertanyaan ibunya dengan senyuman, ia pun segera masuk ke rumah.
***
Seminggu berlalu....
Gama mengajak kekasihnya ke rumah Amy dan suaminya. Keduanya berangkat menggunakan sepeda motor.
Nesha tampak takjub dengan rumah mewah milik suaminya Amy.
Setelah memarkirkan motornya, Gama menggenggam tangan kekasihnya memasuki rumah tersebut.
"Besar sekali rumahnya!" kata Nesha lirih.
Gama tak menggubrisnya.
Amy menyambut keduanya dengan tersenyum.
Amy memeluk Nesha yang tampak gugup ketika bersentuhan dengan istri konglomerat.
"Kalian tidak nyasar 'kan tadi?" tanya Amy.
__ADS_1
"Tidak, Kak." Jawab Gama.
"Syukurlah." Kata Amy.
Dia lalu mempersilakan sepasang kekasih itu duduk di kursi yang berada di ruang makan.
"Aku Amy dan ini suamiku!" Amy mengarahkan pandangannya kepada Ardan.
Nesha menggerakkan kepalanya dan senyuman tipis.
"Kami sengaja mengundang kalian ke sini, karena Gama meminta saya untuk mengenalkan diri kepada kekasihnya," ujar Amy.
"Maaf, sudah mengganggu waktunya!" kata Nesha.
"Tidak apa-apa, Gama sudah aku anggap seperti adik sendiri," ucap Amy.
"Kami harap kamu tidak memberitahu siapapun tentang pertemuan ini," ucap Ardan kepada Nesha.
Gadis yang ditatap tampak takut, dengan gugup dirinya mengangguk.
"Jika berani membuka rahasia ini, maka kamu akan tahu akibatnya," timpal Amy.
Nesha menelan salivanya.
"Silahkan dimakan!" ucap Ardan menghilangkan kecanggungan diantara mereka.
Nesha perlahan menyantap makanan yang disajikan sang empunya rumah.
Selesai makan, Amy menggandeng tangan Nesha membawanya ke ruangan khusus dirinya yang menyimpan tas, sepatu, sandal dan dompet.
Gama dan Ardan memilih mengobrol di teras bagian samping rumah.
Nesha terperangah melihat ruangan yang cukup besar, seperti memasuki sebuah toko di pusat perbelanjaan.
"Suamiku sering sekali membelinya untukku, tetapi aku jarang menggunakannya. Jika kamu mau, boleh pilih salah satu," ucap Amy.
Nesha tak menyangka dirinya disuruh memilih salah satu barang mewah di dalam ruangan itu.
"Apa saja, Kak?"
"Iya."
"Apa nanti suami Kak Alya eh maksudnya Kak Amy tidak marah?"
"Aku sudah meminta izin kepadanya. Benda yang disukainya telah letakkan di tempat khusus."
Nesha manggut-manggut.
"Ayo dipilih!" Amy mempersilakannya.
Nesha mengelilingi ruangan, memperhatikan etalase dan rak yang berjejer. Setengah jam melihat-lihat, akhirnya dirinya menjatuhkan pilihannya kepada sepatu olahraga.
"Aku ini saja, Kak!" kata Nesha.
Amy lalu menyuruh salah satu pelayannya membungkuskannya ke dalam paper bag.
"Terima kasih, Kak!" Nesha begitu senang.
"Sama-sama," Amy tersenyum.
Setelah berada 2 jam di kediaman Amy dan suaminya, Gama dan kekasihnya pamit pulang.
Ardan tak lupa memberikan sepatu kepada Gama.
"Ini buat aku, Kak?" tanya Gama tak percaya dibelikan sepasang sepatu olahraga baru.
"Iya," jawab Gama.
"Kalian benar-benar cocok, Nesha memilih sepatu olahraga juga padahal suamiku belum memberikan hadiah kepadamu," ujar Amy.
"Kak Amy dan Kak Ardan merestui kami?" tanya Nesha yang bahagia dikatakan sangat cocok dengan kekasihnya.
Amy menjawabnya dengan anggukan.
"Kak Amy, Kak Ardan, kami pamit pulang 'ya. Terima kasih jamuan makan siangnya dan hadiahnya," ucap Gama.
"Sama-sama. Kami tunggu undangan pernikahan kalian," celetuk Amy.
Nesha tampak senyum-senyum malu mendengarnya, dirinya memang sangat berharap menikah dengan Gama.
__ADS_1