
Menjelang 2 tahun pernikahan, sikap Emil semakin menjadi. Jika Alya melakukan kesalahan sedikit maka tubuh dan beberapa peralatan makan menjadi sasaran kemarahannya.
Pagi ini, Alya mengerjakan tugas rumahnya seperti biasa. Berhubung hari libur maka seluruh keluarga mertuanya melakukan perjalanan ke luar kota kecuali Emil, sejak dari kemarin sore belum pulang.
Alya sedang menyetrika pakaian, terdengar suara pintu terbuka dari ruang utama. Gegas, mencabut kabel dan melangkah melihat siapa yang bertamu pagi-pagi.
Mata Alya membulat ketika suaminya sedang mengecup bibir wanita lain di rumah yang masih memiliki istri sah.
Alya tak terima suaminya mendua tanpa melepas dirinya lantas memergoki keduanya. "Apa yang kalian lakukan?"
Sontak, Emil dan kekasihnya tersentak lalu menoleh.
"Kenapa membawa wanita lain di rumah ini, Mas?" tanya Alya lantang dan penuh emosi.
"Siapa dia, sayang?" tanya wanita di sebelah suaminya.
Emil lantas berdiri dan melayangkan tamparan di pipi istrinya.
Wanita selingkuhan Emil tampak terkejut.
"Aku rela diinjak, Mas. Tapi, tidak kelakuan bejat ini!" kata Alya memegang pipinya.
Emil ingin melayangkan tamparan lagi di pipi Alya namun tangannya di cekal wanita simpanannya.
"Lepaskan aku!" sentaknya.
Wanita itu melepaskan genggamannya, lalu berkata, " Ternyata kamu sosok pemarah dan aku tak suka. Apalagi berani berbohong padaku!"
Emil mengarahkan pandangannya kepada kekasihnya gelapnya itu. "Aku minta maaf, sayang."
"Cukup, Emil. Hubungan kita sampai di sini saja!" wanita itu kemudian berlalu.
Melihat kekasihnya pergi, rahang Emil mengeras menatap tajam istrinya.
Alya memundurkan langkahnya karena takut.
Emil yang sangat marah, kembali menampar Alya hingga tersungkur. Bahkan, tanpa belas kasih Emil menarik rambut istrinya hingga tubuhnya juga terseret.
Alya yang tampak kesakitan memegang rambutnya dan berteriak serta menangis, "Mas, lepaskan aku!"
Emil tak memperdulikan tangisan istrinya, menariknya hingga ke kamar.
Alya masih menangis.
"Berdiri!" titahnya dengan lantang.
Alya gegas berdiri dengan wajah babak belur dan tubuh gemetaran.
Emil mendorong tubuh istrinya ke ranjang secara kasar.
"Jangan harap aku memberikan kamu makan dan sampai mereka kembali aku akan melepaskanmu dari kamar ini!" kata Emil tegas dan dingin.
Alya bangkit dari ranjang, dengan cepat Emil menutup pintu.
"Mas.. tolong bukakan pintunya!" Alya terus mengetuk pintu.
Malam hari tiba, ketika hujan turun sangat deras. Gama yang telah pulang dari sore mencari keberadaan Alya. Ingin bertanya tapi takut dimarahi akhirnya dirinya diam.
Saat semua anggota keluarga lainnya tidur, Gama mulai mencari Alya di kamarnya karena dari tadi sore dilihatnya tak terbuka.
Gama mengetuk pintu yang kuncinya masih menggantung lalu memanggil dengan suara pelan, "Kak Alya!"
Gama mengetuk kembali tapi tidak ada jawaban, akhirnya memberanikan diri membukanya.
Gama begitu terkejut melihat Alya tergeletak tak berdaya, gegas menghampirinya, "Kakak!"
Alya membuka matanya dan berkata lirih, "Haus!"
Gama lalu keluar dari kamar, mengambil segelas air putih lalu di berikannya kepada Alya.
Gama membantu Alya duduk dan memegang gelas.
__ADS_1
Selesai menengguk air putih, Alya berucap, "Terima kasih, Gam."
Gama kembali keluar tak lama kemudian muncul dengan membawa 1 buah apel.
Alya melihat buah yang disodorkan Gama.
"Makan saja, Kak. Hanya ini yang ada di dapur," katanya.
"Bagaimana-?"
" Ku akan katakan jika aku yang memakannya."
Alya memakan buah apel dengan lahap karena sangat lapar dari tadi pagi belum mengisi perut.
Gama melihat wanita itu dengan perasaan iba dan kasihan.
"Kakak mau kabur dari sini. Apa kamu bersedia membantunya?"
"Kakak mau pergi ke mana?" tanya Gama dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak tahu, Gam. Yang penting keluar dari rumah ini," jawab Alya.
"Aku bakal sendiri di sini, Kak." Gama menunjukkan pandangannya.
"Kita akan bertemu lagi, Kakak janji mencarimu jika di luar sana berhasil dan sukses," kata Alya.
Air mata Gama pun jatuh.
Alya yang tak ingin berpisah dengan adik iparnya itu lantas memeluknya, kedua menangis bersama.
"Di sini Kakak sangat menderita, Gam. Kakak ingin lepas dari keluargamu, hanya kamu yang dapat menolongku," ucap Alya terisak.
Gama tidak berkata apa-apa.
Alya melepaskan pelukannya.
"Pergilah, Kak. Jangan pernah lupakan aku!" kata Gama.
Gama membantu Alya berdiri dan menuntunnya keluar dari rumah. Di depan pintu pagar, keduanya saling melambaikan tangannya dan menangis.
Setelah beberapa langkah Alya pergi, Gama segera menutup semua pintu seperti semula agar keluarganya tak curiga.
Alya melangkah terseok-seok mencari pertolongan karena malam hari dan hujan deras tak ada yang berani mendekat.
Alya terus bertekad dalam diri lepas dari jeratan keluarga suaminya.
Alya sempat terjatuh namun dirinya bangkit lagi.
Sementara itu, Gama yang hendak ke kamar dipergoki Emil. "Dari mana kamu?"
"Kamar mandi, Kak." Gama beralasan.
"Oh, ya sudah. Pergi sana masuk!"
Gama pun masuk kamar.
Emil melangkah ke dapur dan melihat pintu kamar Alya sedikit terbuka. Penasaran, mendekat dan memeriksa. Ternyata, istrinya telah kabur.
Emil yang begitu marah, lantas berjalan ke kamar ibunya dan mengetuk pintu dengan kasar.
Sari yang tidur bersama Dista tersentak kaget, lalu buru-buru membuka pintu.
"Ada apa sih, Mil?"
"Alya menghilang, Ma."
"Hah, apa!" Dista dan ibunya saling pandang.
"Aku mengunci dia dari luar, sekarang pintunya terbuka," ujar Emil.
"Pasti ada membuka kuncinya," ucap Dista.
__ADS_1
"Tapi, siapa?" tanya Sari.
"Siapa lagi kalau bukan Gama," tebak Dista.
"Tidak mungkin adikmu yang membantu dia kabur," ucap Sari.
"Coba saja tanya dia," ucap Dista.
Ketiganya melangkah ke kamar Gama, Sari mengetuk pintu putra bungsunya dan memanggil namanya.
"Mungkin adikmu lagi tidur, Mil."
"Tidak mungkin, Ma. Aku melihat dia tadi masuk ke kamar," kata Emil.
Sari kembali memanggilnya.
Gama yang ketakutan enggan membuka pintu.
Sari memanggil dengan suara lembut dan membujuk.
Pintu kamar Gama terbuka.
"Di mana Alya?" tanya Emil marah.
"Kamu pasti membantunya, 'kan!" tuding Dista.
Gama hanya tertunduk.
"Ayo ngaku!" teriak Dista.
"Gama, apa benar Alya telah kabur?" tanya Sari.
Gama mengangguk pelan.
Emil dan Dista berdecak kesal menerima kenyataannya.
"Kamu yang membantunya?" tanya Sari lagi.
Gama mengiyakan.
Emil ingin melayangkan tamparan ke wajah Gama namun suara bentakan sang ibu menghentikannya.
"Jangan pernah memukul adikmu!" kata Sari marah.
"Dia sudah berani melawan aku, Bu!" ucap Emil.
"Adikmu masih kecil, dia pasti dibujuk dan dirayu wanita sialan itu!" ujar Sari.
"Mereka 'kan memang selalu dekat, jelaslah dia mendekati Gama yang mudah dibodohi," timpal Dista.
Emil menjambak rambutnya secara kasar, "Sial!"
"Bukankah lebih baik dia pergi dari sini, Kak?" tanya Dista.
"Dia keluar dari rumah ini dengan wajah penuh luka. Bagaimana jika dia lapor polisi? Tamatlah riwayat kita!" kata Emil.
Sari dan Dista juga ikutan panik.
Sari lalu menyuruh Gama kembali ke kamar dan tidur.
"Bagaimana ini, Bu?" tanya Emil.
"Kalian harus mencari dia sebelum ditemukan orang lain!" perintah Sari.
Emil dan Dista mengiyakan.
Keduanya kemudian berangkat mencari keberadaan Alya menggunakan mobil.
Sejam memutari jalanan tempat tinggalnya, mereka tidak menemukan sosok Alya. Keduanya lalu memberikan laporan.
Sari meminta mereka mencari ketika pagi. Emil dan adiknya lantas mengiyakan.
__ADS_1