
Nesha dan 2 orang teman perempuannya mengunjungi sebuah mall. Ketika asyik bermain wahana di bangunan tersebut. Dirinya bertemu dengan Amy bersama ibu mertuanya. Mereka mengobrol di salah satu resto yang ada di dalam gedung tersebut.
Nesha tampak hati-hati berbicara dengan Amy dan mertuanya. Kedua temannya memilih diam.
Hampir 30 menit mengobrol, Amy dan ibunya pun pamit pulang.
Nesha membalikkan badannya, alangkah terkejutnya ketika calon ibu mertuanya kini ada dihadapannya.
"Nesha, kamu kenal dengan wanita itu?" tanya Sari.
Nesha tampak bingung dalam hatinya bertanya, "Aku harus jawab apa?"
"Nesha.."
"Tidak, Tante." Jawab Nesha.
"Hmm, Tante kami duluan 'ya!" Nesha mengecup punggung tangan Sari begitu juga dengan kedua temannya.
Nesha menarik tangan kedua temannya menjauh dari Sari yang masih heran dengan kedekatannya bersama Amy.
"Kenapa kamu tidak memberitahu Mamanya Gama siapa wanita itu?" tanya teman Nesha berkacamata.
"Malas saja memberitahunya," jawab Nesha asal.
Kedua temannya Nesha mengerti lantas manggut-manggut paham.
"Huh, syukurlah aku tidak keceplosan," batin Nesha.
Sari dapat melihat jelas jika Nesha dan kedua temannya tersenyum ke arah Amy. Tampak dari kejauhan, mereka saling mengobrol.
"Apa yang sebenarnya di sembunyikan Gama dan Nesha?" Sari membatin.
-
Malam ini kebetulan Emil dan istrinya berkunjung ke rumah. Mereka duduk bersama menikmati makan malam namun tanpa kehadiran Gama karena pemuda itu akan pulang jam 11.
Di hadapan anak-anaknya, Sari mengatakan jika dirinya ketika berada di mall tak sengaja melihat Nesha mengobrol bersama Amy dan seorang wanita paruh baya.
"Dari mana Nesha mengenal Amy?" tanya Emil.
"Mama tanya katanya tak kenal," jawab Sari.
"Tak kenal tapi mereka cukup lama berbicara," lanjut Sari berkata.
"Mama tidak terus bertanya padanya?" tanya Dista.
"Dia dan dua temannya langsung kabur," jawab Sari.
"Kemarin Gama, sekarang Nesha. Apa sebenarnya mereka saling mengenal?" tanya Rima.
"Mama harus tanya Gama dan Nesha. Darimana dapat mengenal Amy?" tanya Dista.
"Gama dan Mama tak terlalu dekat sekarang," jawab Sari.
"Biasanya Mama dan Gama paling dekat. Semua harus dengannya," celetuk Rima.
Rima tak tahu jika Gama bukan satu ayah dengan Emil dan Dista.
"Nanti aku akan bertanya kepada Gama," ujar Emil.
Sepulang bekerja, Emil menelepon sang adik dan menanyakan tentang pertemuan Sari dan Nesha di mall.
"Aku tak tahu tentang itu, Kak. Nesha tidak berbicara apapun kepadaku," ujar Gama.
"Kami curiga saja dengan kalian berdua. Kenapa mengenal orang yang sama?" tanya Emil.
"Mungkin kebetulan saja, Kak." Jawab Gama.
"Tidak ada yang kalian rahasiakan dari kami?" tanya Emil lagi.
"Tidak, Kak." Jawab Gama.
__ADS_1
"Ya sudahlah, kalau begitu. Kakak tutup teleponnya, selamat tidur dan selamat malam," ucap Emil.
Gama mengiyakan.
Panggilan keduanya pun berakhir.
***
Pagi harinya sebelum bangun tidur, Gama mengirimkan pesan bahwa Sari mencurigai dirinya dan Nesha kepada Ardan.
Ardan membalasnya kalau Gama dan Nesha tidak perlu takut atau khawatir. Karena Amy akan membongkar semuanya.
Gama keluar dari kamar dan mengerjakan tugas hariannya di rumah.
Selesai membantu mamanya, Gama berangkat ke restoran.
Begitu sampai, Ardan datang menemui Gama. Tapi kali ini tanpa ditemani oleh istrinya.
Keduanya duduk saling berhadapan.
"Ada yang ingin Kakak sampaikan kepadamu tentang kakak kamu Emil," ucap Ardan.
"Kenapa dengan Kak Emil, Kak?"
"Dia terlibat penipuan empat tahun lalu. Jangan beritahu hal ini kepada siapapun."
"Apa sebenarnya mama tahu juga tentang ini?"
"Iya. Mama kamu juga terlibat," ucap Ardan.
"Memangnya mereka menipu siapa, Kak?"
"Seorang wanita. Mereka janji akan membayar tanahnya tapi sampai sekarang belum dilunasi karena kakak dan ibumu menjualnya kembali kepada orang lain."
"Kenapa wanita itu mudah percaya sekali dengan Kak Emil?"
"Entahlah."
"Kakak tidak dapat melindungi mereka lagi. Beberapa tahun ini Amy yang memintanya," ujar Ardan.
"Amy ingin membalas rasa sakit hatinya beberapa tahun lalu."
Gama manggut-manggut paham.
"Kakak harap kamu jangan melindungi mereka lagi. Kami ingin hidup tenang apalagi Amy akan melahirkan," ucap Ardan.
"Iya, Kak. Ku berharap mama, Kak Emil dan Kak Dista segera menyesali perbuatannya dan menjadi pribadi lebih baik," kata Gama.
"Amy ingin mereka mendapatkan balasan setimpal apa yang telah dilakukan dahulu," ujar Ardan.
"Aku setuju saja, Kak. Semoga dengan ini mereka sadar dan mau meminta maaf kepada Kak Amy."
-
-
Sepulangnya dari bekerja, Sari bertanya apakah putranya itu akan keluar atau tidak. Gama mengatakan kalau dirinya akan bertemu Nesha.
Tepat jam 6 sore, Gama keluar dari rumah mengendarai motor.
Emil mengikutinya dari belakang dengan seorang pria yang menjadi suruhannya.
Gama sampai di rumah Nesha, 5 menit kemudian keduanya sudah berboncengan dan melaju ke sebuah tempat.
Emil yang duduk di bagian belakang terus memperhatikan laju kendaraan adiknya.
Tak sampai 30 menit mereka tiba di sebuah rumah mewah, seorang pria membuka pagar untuk keduanya.
Emil memantaunya dari kejauhan. Tampak seorang pria melangkah mendekati pagar. Emil sangat mengenalnya.
"Bukankah itu sopir pribadi Nona Amy dan Tuan Ardan?" Emil membatin.
__ADS_1
"Tuan, bagaimana? Apa kita menunggu?"
"Kita pulang saja."
Motor yang ditumpangi Emil kemudian berbalik arah meninggalkan kediaman mewah itu.
Emil pulang ke apartemennya, lalu ia menunjukkan foto yang sempat diambilnya ketika berada di rumah mewah tempat Gama dan Nesha berkunjung.
"Apa kamu tahu ini rumah siapa?"
"Ini rumah Ardan."
"Ardan?" tanya Emil lirih.
"Iya. Kenapa kamu ada foto rumah mereka?" tanya Rima.
"Gama dan Nesha masuk ke rumah ini," jawab Emil.
"Kenapa adikmu mengenal Ardan dan Amy?"
"Aku juga tidak tahu."
"Pasti ada rahasia besar yang mereka sembunyikan. Aku sangat tahu siapa saja saudara dekat Tante Anita," kata Rima.
"Aku akan bertanya pada Gama besok hari."
****
Sepulang kerja, Emil sengaja menemui Gama di restoran. Tentunya kedatangannya untuk menanyakan hasil penyelidikannya kemarin.
"Kenapa kamu dan Nesha mendatangi rumah Tuan Ardan dan Nona Amy?" tanya Emil.
"Dari mana Kakak tahu aku ke rumah mereka?" Gama balik bertanya.
"Jadi kamu benar datang ke rumah mereka?" tanya Emil lagi.
"Iya, Kak."
"Kenapa kalian sedekat itu dengan mereka?" tanya Emil.
"Karena Nona Amy dan suaminya sering kemari," jawab Gama.
"Kakak tidak percaya."
"Terserah Kakak mau percaya atau tidak," ucap Gama.
"Tidak ada yang kamu rahasiakan dari kami, 'kan?"
"Tidak, Kak."
"Kenapa kemarin ke rumah mereka?"
"Kakak mengikuti aku?" tanya Gama balik.
"Iya."
"Kenapa Kakak mengikuti aku?"
"Karena Kakak merasa kalau kamu menyimpan sesuatu."
Gama tertawa kecil.
"Cepat berikan alasan kamu ke rumah mereka?"
"Aku disuruh pimpinan restoran ke rumahnya."
"Memangnya ada acara apa mereka?"
"Mereka hanya ingin bertanya menu apa saja yang ada di restoran ini. Rencananya mereka akan mengadakan acara di sini. Aku datang untuk mewakilinya."
Emil pun manggut-manggut percaya.
__ADS_1
"Ada yang ingin Kakak tanyakan lagi?"
"Tidak."