Membalas Mereka Yang Menyakitiku

Membalas Mereka Yang Menyakitiku
Bab 38 - Gama Terpaksa Berbohong


__ADS_3

Rima dan Emil sepulangnya bekerja singgah ke sebuah restoran yang menjadi tempat Gama mencari nafkah.


Rima menarik lengan Emil membuatnya menghentikan langkahnya. Pria itu kemudian menoleh ke arah istrinya.


"Mil, bukankah itu Amy dan suaminya?" Rima menunjuk ke salah satu meja yang ada di teras restoran tepat di sampingnya sebuah kolam kecil.


Emil mengikuti arah telunjuk istrinya.


"Iya. Kenapa mereka mengobrol dengan Gama?"


"Aku pun juga tidak tahu. Mereka sangat begitu akrab."


"Iya. Seperti sudah lama berkenalan."


"Apa kita hampiri saja mereka?" usul Rima.


"Tidak usah. Tuan Ardan dan Nona Amy akan marah besar, aku takut dipecat," ucap Emil.


"Tapi kenapa mereka bisa berkenalan begitu? Kita saja yang bertahun-tahun bekerja di perusahaan tak pernah seakrab itu," kata Rima.


"Nanti aku tanya dengan Gama. Bagaimana bisa dia mengenal mereka," janji Emil.


Rima mengangguk mengiyakan.


Kehadiran Rima dan Emil di restoran ternyata mencuri perhatian Gama.


"Mereka melihat kita, Kak." Kata Gama pelan.


Amy malah tersenyum.


"Tapi Kak Amy dan Kak Ardan tak perlu khawatir. Aku bisa menangani mereka," ujar Gama.


Amy dan Ardan menggerakkan dagunya pelan.


Emil dan Rima memesan makanan tapi tatapan mereka ke arah meja Gama dan Amy.


Amy dan suaminya kemudian beranjak meninggalkan restoran.


Gama lalu melangkah menghampiri Emil dan istrinya. "Kakak, aku harus lanjut kerja. Maaf tidak dapat menemani kalian mengobrol."


"Tidak apa, Gam. Lanjutkan pekerjaanmu," ucap Rima.


Gama kemudian melanjutkan pekerjaannya.


-


Malam harinya, Emil datang ke rumah mamanya. Sesampainya di sana, dirinya lantas bertanya kepada Sari, "Dimana Gama, Ma?"


"Belum pulang bekerja, Mil."


"Biasanya dia pulang jam berapa?" tanya Emil.


"Biasanya jam enam. Mungkin lagi lembur," jawab Sari.


"Memangnya kenapa kamu mencari Gama?"


"Aku dan Rima sepulang kerja singgah ke restorannya. Kami melihat dia sedang mengobrol dengan Nona Amy dan Tuan Ardan."


"Kenapa dia bisa mengenal mereka?"


"Aku juga tidak tahu, Ma. Makanya ku datang kemari untuk menanyakan hal itu."


Selang 15 menit kemudian, Gama pulang dari restoran terdengar deru suara motornya.


Gama memasukkan motornya ke dalam rumahnya. Emil lalu beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Sudah lama, Kak?"


"Baru saja, Gam. Kamu tadi lembur, ya?" tanya Emil.


"Iya, Kak. Tadi dua orang karyawan tak datang," jawab Gama.


"Oh," ucap Emil singkat.


"Kakak ingin bicara padamu," lanjut Emil berucap.


"Aku ke kamar dulu, Kak."


"Kakak tunggu," kata Emil.


Tak sampai 15 menit, Gama keluar dan tampak segar karena telah membersihkan diri.


"Gama sudah keluar, Mama tinggal 'ya." Pamit Sari.


Gama duduk di hadapan Emil. "Kakak mau bicara apa?"


"Darimana kamu mengenal Nona Amy dan Tuan Ardan?"


"Oh, jadi mereka adalah Nona Amy dan Tuan Ardan bos-nya Kak Emil."


"Iya."


"Mereka tamu khusus restoran, Kak. Bos tempatku bekerja adalah temannya. "


"Sepertinya kalian sangat akrab," ucap Emil.


"Pemilik restoran ingin aku menemani mereka mengobrol selama dia tak ada di tempat," jelas Gama berbohong.


Emil manggut-manggut.


Gama tersenyum singkat.


Sejam lebih berada di rumah ibunya, Emil pun pamit pulang.


Gama lalu mengirimkan pesan kalau Emil tak mencurigainya lagi.


Begitu sampai apartemen, Emil menjelaskan alasan Gama mengobrol dengan Amy dan suaminya kepada Rima.


***


Di kediaman Ardan...


Amy, suami dan mertuanya menikmati sarapan pagi bersama. Ardan menyampaikan jika Emil datang menemui Gama hanya untuk menanyakan kedekatan diantara mereka.


Amy tersenyum mendengarnya.


"Kalian ingin membuat mereka semakin penasaran?" tanya Anita.


"Iya, Ma. Sangat seru jika mereka terus menebak," jawab Amy.


"Sayang, hari ini kamu tidak perlu ke kantor lagi," kata Ardan.


"Kenapa?" tanya Amy.


"Kandungan kamu sudah memasuki usia enam bulan. Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada kalian," jawab Ardan.


"Aku sangat bosan jika jauh darimu," ucap Amy dengan wajah seperti bocah.


"Ada Mama yang akan menemani kamu," ujar Ardan.


"Mama nanti pergi menemui temannya. Aku ditinggal sendiri lagi," kata Amy.

__ADS_1


"Tidak, Nak. Mama dua hari ini takkan kemana-mana," ujar Anita.


"Benar, Ma?" tanya Amy yang belum yakin.


Anita mengangguk mengiyakan.


Selepas sarapan, Ardan lalu berangkat ke kantor tak lupa memberikan kecupan di kening sang istri.


Ardan juga menyalim tangan ibunya.


"Kamu ingin kita melakukan apa hari ini?" tanya Anita.


"Aku sudah lama tidak masak. Ardan selalu melarangku," jawab Amy.


"Nanti kita akan masak makanan kesukaan Ardan," ucap Anita.


"Iya, Ma."


Sebelum memasak, Amy dan mertuanya menyibukkan diri dengan berkebun. Sejam kemudian mereka mengobrol lanjut membaca buku.


Tepat jam 12 lewat 15 menit, Amy dan ibu mertuanya makan siang bersama. Setelah itu istirahat di kamar masing-masing.


Jam 3 sore, Amy dan Anita pergi ke dapur menyiapkan makan malam. Keduanya akan masak menu yang menjadi favorit mereka bertiga.


Amy yang tak tahan berdiri lama, memilih duduk.


Itu juga permintaan Anita yang tak mau menantunya kelelahan.


Jam 5 sore, Amy dan mertuanya kembali ke kamar masing-masing membersihkan diri sambil menunggu kedatangan Ardan dari kantor.


Tepat jam 6 sore, Ardan pulang. Dirinya bergegas ke kamar lalu mandi. Setengah jam kemudian, dirinya menghampiri istrinya tak lupa memberikan kecupan di pipinya.


"Hari ini lebih banyak beristirahat, 'kan?" tanya Ardan pada istrinya.


"Iya, sayang." Jawab Amy berbohong.


Anita hanya mengulum senyum.


Tepat jam 7 malam, ketiganya berkumpul di meja makan. Ardan melihat menu yang cukup banyak.


"Aku tahu pasti kamu yang memasaknya, 'kan!" Pandangan Ardan ke arah istrinya.


"Bukan hanya aku saja yang bekerja di dapur. Ada Mama dan dua pelayan. Kamu tidak perlu khawatir, karena aku lebih banyak duduk," jelas Amy.


"Kenapa kamu tadi berbohong?" tanya Ardan.


"Aku tidak mau kamu marah," Amy tersenyum nyengir.


"Makanan sebanyak ini memang sanggup kita habiskan bertiga?" tanya Ardan.


"Ini sedikit, Dan. Kamu lihat, piring yang tersaji di meja semua kecil-kecil, lagian untuk para karyawan juga sudah dilainkan," jawab Anita.


"Ini ada sepuluh macam menu, Ma. Sangat berlebihan," ucap Ardan.


"Suamiku, tenang saja. Aku akan habiskan, istrimu sangat doyan makan," kata Amy.


"Benar kata istrimu, Dan. Selama hamil, selera makan Amy sangat tinggi," ujar Anita.


"Baiklah, kalau begitu. Jika Amy sanggup menghabiskannya," ucap Ardan.


Dan benar saja, beberapa hidangan dilahap Amy. Ardan tak percaya melihatnya, karena dirinya tak terlalu memperhatikan kebiasaan baru istrinya.


"Kalau kamu sedang berpergian atau rapat, aku akan memperbanyak makan," jelas Amy.


"Pantas saja tong sampah di ruangan penuh bungkusan makanan!" ujar Ardan.

__ADS_1


__ADS_2