
Sebulan sudah Alya menjadi istri dari Emil namun mereka tak pernah tidur sekamar hanya status saja di mata negara.
Emil menikmati sarapan roti isi selai dengan segelas susu hangat seorang diri karena ibu dan kedua adiknya sedang berlibur ke luar negeri.
Alya memberanikan diri duduk di kursi di dekat suaminya.
Emil yang sadar lantas menoleh, "Siapa yang menyuruhmu duduk di sini?"
"Aku ingin bicara denganmu, Mas."
"Berdiri!"
Alya dengan cepat berdiri.
"Aku tidak mau berbicara denganmu!" kata Emil tanpa menatap.
"Mas, aku ini...."
"Jangan mengulangi ucapan itu lagi!"
"Mas..."
Emil memukul meja dengan keras sehingga Alya tersentak.
Emil lalu berdiri, "Kita menikah bukan karena kemauan aku. Jangan pernah berharap, hubungan kita seperti orang-orang!"
Alya hanya dapat menunduk dan menangis.
Emil lalu berangkat ke kantor.
-
Malam harinya, Emil kembali ke rumah dengan langkah gontai. Mulutnya bau alkohol sehingga Alya yang memapahnya menjauhi wajahnya.
Emil mendorong tubuh istrinya dengan kasar. "Jangan pernah menyentuhku, wanita buruk rupa!" hardiknya.
Alya mencoba berdiri, " Mas, kamu sedang mabuk."
Emil menunjuk wajah Alya, "Ini semua salah kamu!"
"Apa yang telah aku lakukan, Mas?"
Emil mendekat dan menarik rambut istrinya dari belakang. "Karena menikahimu, para wanita menjauhiku!"
Alya tersenyum dan berkata, "Aku senang mendengarnya, Mas!"
Emil melepaskan genggamannya secara kasar.
"Mereka tahu kalau kita sudah menikah," ujar Alya senang perlahan berdiri.
"Hei, jangan berpikir mereka tahu. Aku merahasiakan pernikahan kita dari dunia. Karena aku tidak sudi mengakuimu!"
Alya tampak bersedih mendengarnya.
"Jangan pernah bermimpi menjadi istriku!" kata Emil dengan lantang.
"Lalu buat apa kita menikah?"
Emil melayangkan tamparan di wajah istrinya.
Alya terjatuh dan memegang pipinya, matanya kembali berair.
"Karena aku ingin kamu menjadi pembantu di rumah ini!"
"Apa salah aku kepada kalian sehingga membuatku tersiksa?" tanya Alya dengan terisak.
Emil mendekat dan mencengkeram dagu istrinya lalu menjawab, "Ayahmu yang telah membuat papaku di penjara!"
__ADS_1
"A...ayahku..."
"Iya, karena dia membongkar semuanya makanya papaku harus di tahan!"
"Aku tidak pernah tahu siapa ayahku, jangan memfitnahnya," kata Alya.
Emil tertawa sinis.
"Kamu pasti berbohong. Kata Paman Sam, ayahku adalah seseorang yang baik," ujar Alya.
Emil lantas berdiri, lalu menendang Alya hingga tersungkur.
Wajah Alya yang membentur lantai tampak berdarah.
Emil melihat Alya tak berdaya memilih berlalu ke kamarnya.
***
Keesokan harinya, Alya yang demam tak dapat melakukan pekerjaan sehari-harinya.
Emil masuk ke kamarnya dan menarik tangan istrinya dari ranjang.
Alya tersentak dan memekik.
"Kenapa jam segini kamu masih tidur, hah?" bentaknya.
"Aku lagi sakit, Mas."
"Alasan saja!"
"Aku tidak berbohong, Mas."
Emil kembali menarik tangan Alya hingga keluar dari kamar.
Emil melangkah ke kamar mandi dan mengambil air menggunakan gayung kemudian menyiramkan gadis itu secara kasar.
Emil kemudian berjongkok, "Buatkan sarapan untukku atau aku akan menyiksamu!"
Alya mengangguk dengan cepat.
Emil kemudian berlalu.
Alya lantas bangkit dan berdiri, masih dengan memakai baju yang setengah basah ia menyiapkan sarapan buat suaminya.
Menghidangkan nasi goreng dan segelas air putih di meja dengan perasaan ketakutan jika suaminya itu akan memukulnya kembali.
Emil menikmati sarapannya, kemudian berkata, "Nanti siang mereka tiba di rumah. Jangan lupa siapkan makan siang."
"Iya, Mas."
Emil lalu menggerakkan telapak kanannya, mengusir istrinya itu.
Alya yang paham lantas meninggalkan ruang makan.
Setelah Emil berangkat ke kantor, Alya berangkat ke pasar. Masih tersisa selembar uang berwarna biru untuk dibelikan bahan makanan hari ini.
Sepulangnya dari pasar, Alya memasak makanan buat ibu dan kedua adik iparnya. Tepat jam 12 siang, mereka pun sampai di rumah.
Alya menghidangkan tempe balado dan tumis kacang panjang di atas meja.
"Kamu hanya masak ini saja?" tanya Sari.
"Iya, Bu. Uangnya hanya cukup beli ini saja, karena tadi beras habis," jawab Alya.
"Kamu itu sebenarnya bodoh atau tidak, sih? Harusnya ditawar jangan mau di tipu pedagang!" Kata Sari.
"Memang semua bahan di pasar harganya sama, Bu." Jelas Alya.
__ADS_1
"Alasan kamu saja!" sentak Sari.
Alya menunduk.
Ibu dan kakaknya sibuk memarahi Alya. Gama memilih menikmati masakan kakak iparnya yang sangat lezat.
"Karena kamu hanya memasak makanan ini, maka tak ada jatah makan siang untukmu!" kata Sari dengan kesal.
Alya pun hanya bisa pasrah.
Ketika semua pekerjaannya telah selesai, Alya memilih merebahkan tubuhnya sejenak di kamarnya karena ibu dan iparnya juga sedang beristirahat.
Pintu kamar Alya diketuk namun nada suaranya tak seperti biasanya yang didengarnya setiap pagi.
Alya lalu membuka pintunya, Gama tersenyum dan meletakkan jari telunjuknya di bibir mengisyaratkan agar jangan berisik.
"Ada apa, Gama?" tanya Alya pelan.
"Aku tadi membeli coklat dan roti di toko depan jalan. Ini buat Kak Alya!" Gama menyodorkan kantong plastik berukuran kecil.
Alya begitu terharu dengan kebaikan adik iparnya itu. "Dari mana kamu mendapatkan uang untuk membeli ini?"
"Aku minta pada mama karena ingin jajan," jawab Gama.
"Jadi, kamu berbohong?"
"Maafin aku, Kak. Aku kasihan lihat Kak Alya selalu dimarahin mama, Kak Emil dan Kak Dista," ungkap Gama sedikit menunduk.
Alya tersenyum.
"Aku mau balik ke kamar, Kak Alya makanlah," ucap Gama.
"Terima kasih, Gama."
"Sama-sama, Kak."
Bocah laki-laki itu pun bergegas pergi dari kamarnya Alya.
Malam harinya, Alya memasak nasi goreng tanpa telur dan hanya ditemani kerupuk sebagai makan malam untuk perutnya.
Tadi sepulang kerja, Emil membawa sekotak martabak manis dan ayam goreng tepung buat makan keluarganya.
Alya memilih diam dan tak protes karena hanya akan membuat suaminya itu marah.
Gama tadi sempat ingin memberikan sepotong ayam namun ketahuan oleh Dista dan bocah laki-laki itu dimarahi oleh ibunya.
"Sudah berapa kali Mama bilang, jangan pernah memberikan makanan kepada gadis miskin itu!"
"Aku kasihan, Ma. Kita makan enak, tapi Kak Alya hanya melihatnya saja," jelas Gama.
"Itu sudah resikonya masuk ke keluarga kita. Harusnya dia bersyukur tinggal di rumah mewah ini daripada gubuk pamannya yang hampir roboh!" kata Sari.
"Sudahlah, Ma. Gama jangan dimarahi, kalau mau dia saja yang diusir dari sini," ucap Dista.
"Alya tidak boleh pergi dari rumah ini, dia harus menanggung semuanya!" kata Emil.
"Gama, pergi ke kamar dan tidur!" titah Sari.
Gama mengangguk kemudian berjalan ke kamarnya.
"Aku benci dia lama-lama di sini, Ma. Lihatlah tubuhnya bau dan kulitnya tak bersih. Benar-benar sangat jelek!" hina Dista.
Alya hanya dapat menunduk, air matanya tak mampu lagi menetes karena sudah terlalu lelah.
"Bagaimana pun dia di sini mampu menghemat pengeluaran kita yang harusnya membayar pelayan dua sampai tiga orang," jelas Sari.
"Selama dia masih di sini, maka manfaatkan saja tenaganya dia," kata Emil memandang jijik istrinya.
__ADS_1
Sari menyetujui perkataan putranya dan diikuti anggukan Dista.