Membalas Mereka Yang Menyakitiku

Membalas Mereka Yang Menyakitiku
Bab 6 - Dista Mulai Bekerja Di Perusahaan Amy


__ADS_3

Pagi ini Emil dan adiknya tiba di kantor, Dista tampak takjub dengan gedung yang cukup tinggi tersebut.


Emil menemui bagian yang menangani kepegawaian.


Dista lalu duduk dan menyerahkan berkas lamaran. Emil berada di sebelahnya.


"Kamu boleh bekerja di sini hari ini juga," ucap pria itu.


"Terima kasih, Tuan." Kata Dista senang.


Emil lalu pergi ke ruang kerjanya.


Dista bersama pria itu menuju ke ruang tempat di mana petugas kebersihan kantor berkumpul.


"Mulai sekarang dia adalah teman kalian. Perlakukan sebaik mungkin. Jangan sampai Nona Amy marah," ucap pria itu kepada karyawan kebersihan.


"Siap, Tuan!" Ucap kelimanya dengan serempak.


Pria itu pun berlalu.


"Siapa namamu?" tanya wanita gendut dan tinggi.


"Dista, Kak."


"Bersihkan kamar mandi sekarang!" perintahnya.


"Baik, Kak!"


Dista di antar ke kamar mandi karyawan wanita yang penuh dengan sampah berserakan.


"Jangan mengeluh dan kerjakan semuanya dengan hati senang!"


"Iya, Kak." Kata Dista.


Wanita gendut itu pun berlalu.


Dista mulai membersihkan kamar mandi karena ini pertama kalinya dirinya bekerja di bagian toilet.


Sejak perusahaan keluarganya bangkrut dan rumah papanya di jual hidupnya berubah. Dua tahun belakangan ini benar-benar membuatnya terpuruk.


Dista harus ke sana kemari mencari dan melamar pekerjaan meskipun semuanya tak bertahan panjang. Dua bulan adalah waktu paling lama baginya.


Selesai membersihkan toilet wanita, ia harus membuang sampah ke lantai bawah menggunakan tangga karena lift khusus pejabat tinggi perusahaan dan klien penting.


Dista melakukannya dengan berpeluh keringat sementara Amy melihatnya dari rekaman CCTV tersenyum puas.


"Kita akan lihat, berapa tahan kamu bekerja di sini?" Amy tersenyum menyeringai.


"Apa ada tugas untuknya lagi, Nona?" tanya Miley.


"Tetap dengan rencana awal kita," jawab Amy.


"Baiklah, Nona."


Selesai membuang sampah, Dista ke ruang untuk beristirahat sejenak. Kelima temannya tampak duduk santai dengan minum kopi dan teh sembari bermain ponsel.


"Hai, karyawan baru!" panggil salah satu pria kurus.


"Apa kamu sudah membersihkan tempat ibadah karyawan?" lanjut bertanya.


"Belum, di mana tempatnya?" tanya Dista.


"Di lantai bawah, tapi kamu harus menggunakan tangga," jawabnya.


"Saya akan kerjakan, boleh saya minum dulu," kata Dista.


"Nanti saja kamu minum. Sekarang bersihkan, sebelum Nona Amy marah," sahut wanita gendut yang menyuruh Dista pertama kali.

__ADS_1


"Baiklah," ucap Dista.


Wanita itu menuruni tangga dengan semangat maklum hari pertama.


Begitu memasuki waktu makan siang, Dista bergabung dengan rekan kerja lainnya. Tody membawa 5 kotak nasi lalu dibagikan kepada bagian karyawan kebersihan.


Dista hanya melongo ketika pria berkacamata itu membagi teman kerjanya.


"Aku tidak tahu jika ada karyawan baru," ucap Tody ketus.


Dista hanya mampu berkata, "Iya, Tuan. Tidak apa-apa."


Kelima temannya Dista makan begitu lahap sesekali mereka meliriknya yang hanya makan nasi dengan telur ceplok.


"Dista, setelah makan nanti kamu kutip gelas-gelas kotor dari ruangan staf, ya!" titah wanita gendut bernama Atin, 37 tahun.


"Iya, Kak."


"Bagus!" Atin tersenyum.


Keempat rekan kerjanya Dista keluar dari ruangan melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda karena diberikan kesempatan untuk santai.


Dista lalu mengerjakan tugasnya.


Ruang kerja Emil juga Dista datangi untuk mengambil gelas kotor.


"Oh, jadi dia ini adikmu," ucap Dion.


"Iya," ujar Emil.


"Tidak malu, hanya sebagai cleaning service?" sahut Widya.


Dista hanya diam.


"Eh, tolonglah buatkan aku kopi lagi!" pinta Dion.


"Aku juga teh tanpa gula, ya!" sahut lainnya.


"Kalau untuk hal itu saya kurang mengerti," ujar Dista.


"Dasar payah, minta ajarin sana dengan Atin!" Widya berkata ketus.


Emil menghela napas, teman-temannya memperlakukan adiknya tidak baik.


"Saya akan belajar dan buatkan," kata Dista kemudian berlalu.


Sepanjang jalan menuju pantry, Dista mengomel dalam hati. "Enak saja mereka menyuruhku, memangnya aku ini pelayannya. Sama-sama makan gaji tapi gaya seperti bos besar!"


Dista meminta Atin untuk membuatkan minuman yang diminta para staf.


Dengan senang hati Atin melakukannya, selesai membuatnya. Ia lalu menyuruh Dista untuk mengantarnya.


Jarum jam menunjukkan pukul 6 sore, namun Dista belum juga pulang. Karena Atin menyuruh wanita itu pulang paling akhir padahal 4 rekan lainnya sudah pulang.


"Ruang Nona Bos bagian siapa yang membersihkannya?" tanya Dista.


"Itu bukan bagian kamu, karena tak boleh sembarang orang masuk di sana," jawab Atin.


"Bagaimana wajah Nona Bos?" tanya Dista lagi.


"Dia masih muda, cantik dan baik hati," jawab Atin.


"Kenapa Kak Emil bilang kalau Nona Bos kejam?" batin Dista.


"Cepat bersihkan ruang staf satu lagi, biar kita pulang," kata Atin.


"Iya, Kak."

__ADS_1


Begitu selesai dengan pekerjaannya, Dista lalu pulang. Ternyata Emil masih menunggunya.


"Hari ini sangat lelah sekali, Kak."


"Namanya juga cleaning service."


"Tolong, sampaikan pada Nona Bos agar aku dinaikkan jabatannya menjadi staf," pinta Dista.


"Tidak semudah itu, Dis."


"Aku lulusan perguruan tinggi bergengsi pasti dia mau menerimaku, Kak."


"Nanti Kakak akan bicara padanya," janji Emil.


Sementara di lain tempat Amy dan suaminya sedang berbicara dengan beberapa orang yang menjadi kepercayaannya selain Tody dan Miley.


"Pekerjaan kalian hari ini cukup bagus. Saya senang sekali, pastikan besok ada kejutan baru lagi," ujar Amy.


"Kami akan pastikan mereka berdua tidak akan betah, Nona Bos."


"Dan mereka pergi dari perusahaan tanpa membawa apapun."


Amy tertawa kecil. "Aku memang mengharap itu."


Selepas berbicara dengan orang-orang kepercayaannya. Amy lalu pergi meninggalkan kafe bersama suaminya.


"Aku senang jika kamu bahagia hari ini meskipun di atas penderitaan orang lain," ucap Ardan.


Amy tertawa.


"Kapan kamu akan memberitahu mereka jika dirimu adalah Alya?"


"Sampai mereka mengemis meminta maaf padaku, sayang."


"Kamu tetap waspada dan hati-hati apalagi kamu sedang mengandung," Ardan menyentuh perut istrinya dengan tangan kirinya karena tangan kanannya sedang memegang setir.


"Iya, sayang. Kamu tenang saja, aku akan tetap hati-hati. Ada Tody dan Miley disampingku."


"Tapi, aku benar-benar khawatir. Ini begitu membahayakan," kata Ardan.


"Sayang, kamu percaya padaku 'kan? Kamu yakin aku mampu melakukannya?"


Ardan mengangguk mengiyakan.


"Maka tetap tenang, semua akan baik-baik saja. Jika kandungan aku memasuki tujuh bulan, aku segera beristirahat."


"Dan mulai bulan depan, kita akan satu ruangan," ujar Ardan.


"Kamu ingin kembali ke perusahaan? Eh maksudnya mau bekerja di kantor?"


"Iya, demi keselamatan kamu!"


Amy mendengus.


"Jangan membantah, karena aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan calon anakku," kata Ardan.


"Hmm.. baiklah." Amy tersenyum pasrah.


Amy dan Ardan tiba, tampak Anita telah menunggu keduanya di teras.


Anita baru mendapatkan kabar tadi siang bahwa menantunya sedang hamil 4 minggu. Tak ada tanda-tanda menunjukkan ke arah hal itu padahal dari kemarin malam mereka menikmati makan malam bersama.


"Menantuku!" Anita memeluk Amy.


"Mama, kenapa ke sini?" tanya Ardan.


"Memangnya kenapa kalau Mama ke sini?" tanya Anita.

__ADS_1


"Tadi siang katanya lagi di luar kota," jawab Ardan.


"Mendengar menantuku hamil, Mama buru-buru pulang," ucap Anita.


__ADS_2