
Hari ini Amy kembali ke perusahaan setelah sebulan lebih mendekam di istana mewah milik suaminya.
Ardan menggenggam erat tangan istrinya ketika memasuki gedung perusahaan membuat para karyawan begitu senang melihat pasangan suami istri tersebut.
Namun, diantara para karyawan ada 2 orang yang tak menyukai kemesraan dan kebahagiaan Ardan dan istrinya.
Dista sengaja di berikan pekerjaan agar tak dapat melihat sosok Amy Janson oleh Atin, di ditugaskan untuk membersihkan toilet wanita padahal sudah bersih.
Para karyawan telah melihat Amy yang sedang hamil lantas memberikan komentar pujian kepadanya.
"Nona Amy sangat cantik 'ya, jika hamil."
"Bos Besar pasti sangat menyayanginya."
"Semoga hubungan mereka langgeng dan selalu bahagia tanpa ada wanita penggoda yang tak tahu malu."
Dista yang merasa tersindir hanya mendengus.
Ardan menarik kursi untuk istrinya tepat di sebelah mejanya. "Jangan berdiri, jika butuh sesuatu katakan saja padaku."
"Sayang, tidak mungkin seharian aku hanya duduk saja," Amy sedikit protes.
"Aku tidak mau Mama Anita memarahiku karena tak bisa menjaga kamu," ujar Ardan.
"Aku 'kan hanya bergerak di sekitar ruangan ini, sayang."
"Tetap tidak boleh, Amy."
"Hmm, baiklah. Karena aku menyayangimu dan Mama Anita maka ku akan menurut," kata Amy.
Ardan menangkup wajah istrinya lalu mengecup bibirnya. "Begini 'kan enak kedengarannya!"
Amy tersenyum bahagia.
Ardan menuju meja kerjanya dan menarik kursi lalu duduk.
"Bagaimana dengan mereka berdua, sayang?"
"Biarkan itu menjadi urusan Tody, Miley dan lainnya."
"Lalu Gama?" tanya Amy.
"Aku sudah meminta pihak restoran untuk menerimanya, sepertinya dia sosok pemuda yang rajin dan bertanggung jawab, kelihatan dari kinerjanya," jawab Ardan.
Amy tersenyum mengiyakan.
Jam 12 siang, Ardan dan istrinya memilih makan di ruang kerjanya. Karena tak ingin Amy kelelahan jika harus naik turun lift.
Dista memaksa ingin mengantarkan minuman kepada atasannya itu, namun Atin melarangnya.
"Aku penasaran dengan wajah Nona Amy, Kak."
"Dia tak mau kamu yang melayaninya," ujar Atin.
"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah memperkerjakan aku di sini," ucap Dista beralasan.
"Tidak, Dista. Saya bilang kamu tak boleh mengantarkan minuman ini kepada mereka!" kata Atin tegas.
"Huh, pelit!" gumamnya.
"Apa kamu bilang, hah?"
"Tidak ada!" Dista kemudian keluar dari ruangan pantry.
-
Sore harinya, Ardan dan Amy pulang meninggalkan kantor. Lagi-lagi Dista diberikan pekerjaan agar tak melihat istri atasan mereka.
__ADS_1
Emil yang mencoba mendekati Miley menghampiri wanita itu sebelum pulang kerja.
"Sore, Nona Miley!"
"Sore juga, Emil."
"Besok akhir pekan, apa Nona Miley memiliki waktu luang?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Saya ingin mengajak Nona jalan-jalan."
"Terima kasih tawarannya."
"Nona, saya hanya ingin lebih dekat saja."
"Besok saya sangat sibuk dan sudah memiliki janji dengan seorang pria, jadi kamu ajak saja orang lain untuk menemanimu!"
"Tapi, saya ingin mengajak Nona."
Miley merapikan meja kerjanya lalu berdiri kemudian melangkah pergi. Emil menyusul wanita itu keluar.
"Nona..." ucapan Emil terhenti ketika melihat Dion mendekati Miley.
"Nona Miley, ayo saya antar pulang!"
Miley tersenyum mengiyakan.
"Aku 'kan lebih dulu mengajak Nona Miley," kata Emil mendekati keduanya.
"Kamu 'kan hanya berkata ingin mengajak saya jalan-jalan besok, bukan mengantarkan pulang," ujar Miley.
Emil terdiam.
"Dion, antar saya pulang!" ajak Miley.
"Tapi, kenapa Nona menerima Dion begitu saja, tanpa ada penolakan?" tanya Emil.
Dion menoleh ke arah Emil dan menunjukkan senyum kemenangan. Gegas, dirinya menyusul langkah sang asisten Amy.
Emil mengepalkan tangannya, rencana mendekati Miley gagal.
Dista yang sedari tadi menunggu di parkiran, berulang kali harus menghubungi kakaknya.
Emil dengan wajah sendu membuka pintu mobil dan Dista segera masuk juga.
"Kenapa Kakak lama sekali?" tanya Dista.
"Tadi aku mencoba membujuk Nona Miley agar mau menerima tawaran besok tapi keduluan Dion," jawab Emil.
"Maksud Kakak, Nona Miley menerima ajakan Dion?"
"Bukan. Ketika Dion mengajak Nona Miley pulang, dia dengan mudahnya menyetujuinya. Sementara Kakak yang berusaha mendekatinya malah tidak mendapatkan respon."
"Berarti Nona Miley menyukai Dion, Kak. Makanya, mau diajaknya. Kakak bukan seleranya," ucap Dista.
"Kakak mau tanya, tampan dia atau aku?"
"Hmm, aku pikir lebih tampan Dion."
"Kamu tuh bukan mendukung Kakakmu," ucap Emil kesal.
"Kenyataan memang Dion lebih tampan, karena lebih tinggi dari Kakak lalu hidungnya mancung dan ada lesung pipi persis aktor Korea." Kata Dista sambil senyam-senyum.
"Terus saja puji dia, jangan harap Kakak akan memberikan kamu uang bulan depan!"
"Kak Emil paling tampan di antara karyawan di gedung ini," ucap Dista dengan cepat.
__ADS_1
Sementara itu, Amy dan suaminya telah tiba di restoran tempat Gama bekerja sebagai pelayan.
Amy melemparkan senyumnya kepada pemuda itu membuat sang suami berdehem.
Gama tersenyum kepada kedua tamunya dan berkata, "Mau pesan apa Tuan, Nona?"
Amy menoleh ke arah suaminya lalu kembali menatap Gama, "Suamiku sangat cemburuan maafkan dia."
"Itu tandanya suami Nona sangat menyayangi," ucap Gama.
"Tentunya, dia sangat mencintai dan menyayangi saya. Makanya, saya beruntung mendapatkan dia," kata Amy menatap wajah suaminya lalu tersenyum.
Ardan menunjukkan senyumnya kepada sang istri.
Keduanya lalu menyebutkan pesanannya. Gama kemudian pamit dan menuju ke dapur.
"Aku tidak suka kamu senyum-senyum padanya seperti itu," ucap Ardan.
"Sayang, dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Kamu tahu 'kan jika dia yang membantuku melarikan diri dari rumah itu."
"Iya, tapi aku tidak suka saja. Apalagi kamu dan dia bukan saudara kandung. Aku mau senyummu hanya 'tuk ku seorang."
"Iya, suamiku." Amy memberikan senyuman termanisnya.
Tak lama pesanan keduanya datang. Mereka pun menikmatinya. Selesai makan, Amy tak lupa memberikan uang kepada Gama untuk dibagikan kepada yang lainnya juga.
Dengan senang hati, Gama menerimanya dan mengucapkan terima kasih kepada kedua tamunya itu.
Ardan menggenggam tangan istrinya meninggalkan restoran.
Seorang sopir membukakan pintu untuk keduanya. Mereka pun meninggalkan restoran.
-
Gama pulang dari restoran dengan wajah sumringah. Menghampiri ibunya dan memberikan selembar uang berwarna merah. "Buat Mama!"
Sari melihat uang pemberian putra bungsunya, "Kamu sudah gajian?"
"Belum, Ma. Itu pemberian dari tamu restoran."
"Sebanyak ini?"
"Iya, Ma."
"Baik sekali mereka," ucap Sari.
"Bukan hanya aku saja yang diberi tapi karyawan lain juga," kata Gama.
"Wuih, banyak dapat uang nih!" goda Dista.
"Lihat adikmu ini, belum sebulan bekerja tapi sudah memberikan Mama uang. Bukan kayak kamu dan Emil, minta uang bayar listrik dan air saja sulit!" singgung Sari.
"Gajiku dan Kak Emil harus mendapatkan potongan maklumi saja, Ma." Kata Dista.
"Uang belanja 'kan aku kasih tiap bulan, Ma!" sahut Emil.
"Iya , tapi baru dua minggu sudah habis!" cetus Sari.
"Nanti aku tambahin, Ma. Jika memang sudah gajian, jangan marahi Kak Emil lagi. Dia banyak berkorban untuk kita," ucap Gama.
"Lihat adik kalian ini, dia lebih pengertian dari kalian berdua!" ujar Sari.
"Terus saja bela dia, Ma." Dista tampak tak senang ibunya selalu membandingkannya.
"Sudahlah, Ma. Ini hanya kebetulan saja aku mendapatkan lebih makanya memberikan Mama," kata Gama.
Dista kemudian berlalu, lelah mendengar ibunya selalu membanggakan adiknya itu.
__ADS_1
Emil melakukan hal sama seperti Dista.
Melihat kedua kakaknya telah berlalu, Gama pun pamit ke kamar untuk membersihkan diri.