
Beberapa jam sebelum berakhir jadwal kerjanya, Gama bertemu dengan Amy dan suaminya di restoran. Pertemuan mereka sangat tertutup sehingga memesan ruangan VVIP.
Gama memasuki ruangan tersebut dengan gugup. Bagaimana tidak? Tamu khusus langganan restoran tempatnya bekerja mengajaknya mengobrol apalagi diketahui jika sepasang suami istri itu sangat kaya.
Amy tersenyum kepada Gama kemudian mengarahkan pandangannya kepada suaminya.
Gama bersikap tenang meskipun jantungnya berdebar sangat kencang.
"Hai, namaku Amy dan ini suamiku!" memegang tangan Ardan di sebelahnya.
"Nama saya Ardan Grahadi Janson. Kami ini adalah atasan kedua kakak kamu, Emil dan Dista," kata Ardan.
"Ke.. kenapa kalian ingin bertemu dengan saya? Apa yang telah dilakukan kedua kakak saya?" tanya Gama gemetaran.
"Kami ingin bertemu kamu tidak ada sangkut pautnya dengan mereka. Ini murni karena kemauan kami berdua," jawab Ardan.
"Apa yang bisa saya bantu?" tanya Gama lagi tak berani menatap sepasang suami istri dihadapannya.
"Apa kamu mengenal Alya?" tanya Amy.
"Alya? Alya siapa?" tanya Gama karena dirinya hanya tahu nama kakak iparnya.
"Alya mantan istri kakak kamu," jawab Amy.
Gama dengan cepat berkata, "Saya mengenalnya, sudah lama tidak bertemu dengannya."
"Jika bertemu dengannya, apa yang ingin kamu katakan?" tanya Amy.
"Saya sangat merindukannya. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepadanya dan berharap dia selalu mendapatkan kebahagiaan," jawab Gama yang matanya mulai berkaca-kaca
"Terima kasih doanya," ucap Amy.
Gama mengernyitkan keningnya.
"Sebenarnya kalian siapa? Kenapa bertanya tentang Kak Alya?" tanya Gama.
"Istri saya adalah Alya yang kamu cari!" jawab Ardan.
Gama tampak tak percaya.
"Amy adalah Alya, gadis yang saya temui beberapa waktu lalu di tengah hujan malam. Terima kasih sudah begitu menyayanginya selama berada di rumah kalian," ujar Ardan.
"Benarkah ini Kak Alya?" Gama menatap wanita dewasa yang ada dihadapannya.
Amy mengangguk.
Gama menutup mulutnya, air matanya menetes.
"Aku adalah Alya, Gama." Kata Amy.
Gama berkali-kali mengucapkan syukur akhirnya dapat bertemu dengan Alya.
"Selama ini Kakak adalah atasannya Kak Emil dan Kak Dista. Apa mereka tahu?" tanya Gama.
"Tidak, saya harap mereka takkan pernah tahu. Apa kamu dapat menyimpan rahasia ini?" pinta Amy.
__ADS_1
Gama mengangguk mengiyakan.
"Saya harap jika kedua kakakmu berusaha ingin mencari tahu tentang Alya tolong kamu cegah," ujar Ardan.
"Saya akan melarang mereka untuk mencari Kak Alya," ucap Gama.
"Terima kasih, Gama." Kata Amy.
"Sama-sama, Kak."
"Oh, ya Gama. Pekerjaan kamu di sini juga atas permintaan istri saya, kebetulan pemilik restoran adalah teman kami berdua," ucap Ardan.
"Terima kasih banget, Kak. Sudah membantu saya bekerja di sini," ujar Gama.
"Ini semua karena kamu begitu baik kepada istri saya," kata Ardan.
"Gama, tolong jangan sampai ada orang lain yang tahu tentang pertemuan kita ini," mohon Amy.
"Aku tidak akan memberitahu mereka," janji Gama.
Amy dan suaminya saling memandang dan tersenyum lega.
***
Pagi harinya, di meja makan Emil kembali membahas foto Alya kepada adiknya.
"Jangan mencari apapun mengenai Kak Alya. Cukup waktu itu Kak Emil menyakitinya!" ujar Gama.
"Kami hanya penasaran seperti apa sekarang dia, Gam. Lebih baik sih' dia benar-benar menderita," cetus Dista.
"Tidak mungkin, dia hidup senang daripada kita. Dari lahir dia sudah miskin!" ujar Sari.
"Jangan menghina keadaan orang, Ma. Tidak akan selamanya kita selalu di atas," kata Gama.
"Tapi Mama takkan tinggal diam jika melihat Alya hidupnya di atas kita," ucap Sari.
"Kesalahan apa yang telah dilakukan Kak Alya sehingga kalian begitu membencinya?" tanya Gama.
Sari menceritakan semuanya, kenapa dirinya dan anak yang lainnya sangat membencinya.
"Kak Alya sejak kecil sudah di tinggal oleh orang tuanya. Dia mana tahu kejadian itu? Kalian pasti telah termakan fitnah." Kata Gama.
"Ayahmu sendiri yang mengatakannya!" ucap Sari.
"Aku tetap tidak percaya, kalian menimpakan kesalahan orang lain kepada Kak Alya yang jelas tak tahu apapun. Bukankah sangat jahat?" singgung Gama.
"Dia harus merasakan apa yang kita rasakan," sahut Dista.
"Aku rasa ini tidak adil buat Kak Alya," kata Gama tegas.
"Kenapa kamu selalu membelanya? Apa karena dia telah berbuat baik padamu?" tanya Dista.
"Kalian telah salah menilai Kak Alya. Ingat, karma itu ada. Apa yang kalian lakukan kepada orang yang tak bersalah pasti akan menimpa pada kita," jawab Gama.
"Anak kecil tahu apa tentang karma? Harusnya dia yang mendapatkannya, karenanya kamu harus kehilangan papa!" ucap Emil.
__ADS_1
Gama mengakhiri sarapannya lalu berdiri, "Papa pergi bukan karena kesalahan Kak Alya, memang sudah ajalnya. Dia sakit keras selama di balik jeruji, jelas tak ada hubungannya dengan mantan istri Kak Emil!"
Gama kemudian meninggalkan ruang makan.
"Kenapa dia semakin hari semakin aneh?" tanya Dista.
"Entahlah, sepertinya dia telah bertemu dengan Alya makanya begitu semangat membela gadis miskin itu!" jawab Sari.
"Apa kita harus menyelidiki Gama juga, Ma, Kak?" tanya Dista.
"Biar Mama yang akan bertanya kepada Gama dengan pelan-pelan selama ini Alya selalu mengirimkan hadiah buatnya," jawab Sari.
Emil dan Dista mengangguk setuju.
Selesai sarapan Emil dan adiknya berangkat ke kantor bersama karena Dista mengaku tak memiliki uang lagi.
Sesampainya di sana, Dista dimarahi Atin karena terlambat 10 menit dari jadwalnya sebagai karyawan bagian kebersihan.
"Uang saya habis, Kak. Jadi harus berangkat bersama Kak Emil biar sampai di sini," Dista memberikan alasan.
"Saya tidak terima alasan kamu. Sekarang, potong rumput yang ada di taman depan gedung!" titah Atin.
"Kak, matahari sudah tinggi," ucap Dista.
"Saya tahu, itu hukuman buat kamu yang datang terlambat. Cepat kerjakan!"
"Baik, Kak!"
Dista mengikuti langkah Atin keluar gedung. Begitu sampai, Dista lantas berjongkok dan mulai memotong rumput dengan gunting.
Dista berkali-kali mengelap keringatnya yang membasahi dahinya. Dia lalu berdiri untuk melonggarkan sendi-sendi tubuhnya.
Mata Dista kini terarah ke sebuah mobil yang berhenti di depan gedung diyakini kendaraan mewah milik Presdir dan istrinya.
Dista menyipitkan matanya saat ke arah Amy. Tanpa disadarinya, kakinya melangkah mendekat untuk memastikan wanita yang berada di dekat Ardan.
"Hei, mau ke mana?"
Dista terperanjat, dia gegas membalikkan badannya.
"Mau ke mana?" tanya Atin dengan lantang dan berkacak pinggang.
"Saya mau ke sana..." Dista membalikkan badannya lagi, namun Ardan dan istrinya telah memasuki gedung kantor.
"Jangan mencari alasan, cepat selesaikan pekerjaanmu!" perintah Atin.
Dista kini menatap Atin dan berkata, "Iya, Kak!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sambil Menunggu Update Cerita Ini, Kalian Bisa Mampir ke Karyaku Yang Lainnya...
- Salah Jatuh Cinta
- Calon Istriku Musuhku
__ADS_1
Sehat Selalu 🤗