
Mendengar namanya seketika tubuh Sari membeku, wajahnya pucat, keringat membasahi dahinya.
"Mama?"
Sari menoleh ke arah putranya.
"Mama baik-baik saja, 'kan?"
Sari mengangguk cepat.
"Mama tidak jadi ke warung membeli gula?"
"Ini Mama mau ke warung!" Sari gegas pergi.
Menuju tujuan, Sari terus memikirkan ucapan putranya. Dirinya begitu takut jika nama tersebut adalah masa lalunya.
"Semoga saja nama yang sama," gumam Sari.
Sepulangnya dari warung, Sari segera memasuki kamarnya. Gama mengerutkan dahinya memperhatikan sikap ibunya yang seketika berubah saat dirinya menyebut nama tamu restorannya.
Sejam kemudian, Sari keluar dari kamar dan menghampiri putranya yang sedang mencuci piring.
"Jika bertemu dengan pria itu, kamu harus menjauhinya," ucap Sari.
"Memangnya kenapa, Ma?" tanya Gama.
"Mama tidak mau kamu dekat dengan orang asing. Siapa tahu dirinya ingin berbuat jahat," jawab Sari.
"Tapi Ma..."
"Jangan melawan perintah Mama!"
"Baiklah," ucap Gama.
***
Esok paginya...
Sari meminta Gama untuk mengantarkannya ke apartemen milik Dista katanya putrinya itu sedang mengalami mual. Karena khawatir dirinya pun pergi menemuinya.
Gama hanya mengantarkannya hingga di pintu masuk halaman apartemen saja, selanjutnya dirinya berangkat ke restoran.
Ketika Sari hendak merebus air, terdengar bunyi bel. Dirinya pun membuka pintu.
Mata Sari membulat ketika tahu siapa yang menjadi tamu putrinya.
"Kamu?" Wajah wanita paruh baya itu juga terkejut ketika melihat musuhnya ada dihadapannya.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Sari dengan nada tinggi.
"Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kamu ada di rumah perebut suamiku?" tanya wanita itu.
"Ma, siapa yang datang?" Dista keluar dari kamarnya.
Sari dan 2 wanita yang ada di pintu menoleh ke arah Dista.
"Oh, jadi putrimu yang telah merebut suamiku, hah!" Wanita yang bernama Niken itu mendorong tubuh Sari hingga terhuyung.
"Mama!" pekik Dista.
Niken dan putrinya lantas mendekati Dista menjambak rambutnya.
"Auww, lepaskan aku!" teriak Dista.
"Ini akibatnya menjadi perebut ayahku!" ucap gadis muda ditaksir berusia 22 tahun.
Sari menarik tangan Niken agar melepaskan genggamannya.
Gadis muda itu mendorong Sari hingga tersungkur di lantai. "Rasain!" umpatnya.
"Kamu dan ibumu sama saja. Dasar wanita rendahan tak tahu malu!" kata Niken dengan wajah marah.
"Lepaskan aku!" Dista memohon.
Niken masih menarik rambut Dista, "Tinggalkan suamiku!"
__ADS_1
"Aku tidak mau!" tolak Dista.
Niken pun tak segan melayangkan tamparan ke wajah Dista membuatnya tersungkur di sofa.
"Dista!" pekik Sari.
Putri Niken meraih gelas berisi air lalu menyiramkannya ke wajah Dista. "Biar cepat sadar!" ledeknya.
"Kalian berdua memang pantas mendapatkan ini!" ucap Niken.
"Niken, jangan sakiti putriku!" mohon Sari.
"Kamu bilang tidak boleh menyakiti putrimu, hah!" teriak Niken di depan wajah Sari.
"Apa perlu ku ingatkan kepadamu tentang masa lalu kamu!" ancam Niken.
Sari menggelengkan kepalanya.
"Mama mengenal wanita ini?" tanya Dista yang heran karena Sari tahu nama istri pertama suaminya.
"Jadi kamu tidak tahu tentang masa lalu ibumu, hah?" tanya Niken lantang.
"Niken, aku mohon jangan beritahu dia!" Sari mengiba.
"Dia harus tahu kalau ibunya dulu juga adalah seorang pelakor!" kata Niken lantang.
Dista tampak terkejut, pandangannya kini ke arah Sari.
"Ibumu pernah berselingkuh dengan kakak iparku!" ungkap Niken.
"Tidak mungkin Mama ku seperti itu!" ucap Dista.
"Sifat dia sekarang menurun kepadamu, pelakor!" Niken menekankan kata-katanya.
Niken menyuruh putrinya untuk mengusir Dista dan Sari dari apartemennya.
"Ini milikku!" kata Dista ketika tangannya di tarik paksa untuk keluar oleh pria yang menjadi suruhan Niken.
"Ini milik suamiku! Kamu hanya istri siri!" ucapnya.
"Seret mereka keluar dari apartemen ini!" perintah putrinya Niken.
"Aku sedang hamil anaknya!" ucap Dista.
"Aku tidak peduli!" kata Niken.
Sari memeluk putrinya yang terus memberontak tak terima di usir.
Suami Dista pun datang menghampiri istri keduanya.
Dista lalu mengadukan semua perlakuan Niken kepadanya membuat pria itu mengepalkan tangannya.
Pria itu kemudian melangkah menuju unit apartemen yang telah diberikannya kepada Dista.
Dista dan Sari saling menatap lalu tersenyum menyeringai.
"Kenapa kalian mengusirnya?" tanya suami Niken tiba-tiba muncul.
"Kamu membelanya?" tanya Niken lantang.
"Dia sedang hamil anakku!" jawabnya.
"Dasar jahat!" umpat Niken dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu membela dia, padahal aku yang berjuang dari nol bersamamu!" ucap Niken.
"Aku mencintainya!"
"Kalau Ayah mencintainya, silahkan pergi bersama dengannya. Tapi jangan harap membawa harta Ibu sepeserpun!" sahut putrinya Niken.
"Apa maksud kamu?" tanyanya.
"Apartemen ini atas namaku yang dibeli Ibu!" jawab Putri Niken.
"Apartemen ini sudah lama tidak pernah dipakai!"
__ADS_1
"Karena aku belum diizinkan Ibu untuk tinggal sendiri!" kata putrinya Niken.
"Keluar dari sini!" usir Niken dengan suara keras.
"Kamu tidak bisa mengusirku!"
"Kenapa? Aku sudah mengajukan gugatan cerai. Kamu tidak memiliki hak lagi di rumah maupun perusahaan!" kata Niken.
"Aku akan mempertahankan hakku!"
Putri Niken mendorong ayahnya keluar dari unit apartemen. "Aku sangat membenci Ayah!"
"Maafin Ayah, Nak!"
"Kami tidak membutuhkan Ayah lagi!" ucap putrinya Niken.
-
Dista menghampiri suaminya dan bertanya, "Bagaimana?"
"Kamu tidak dapat lagi tinggal di sini."
"Apa!" Dista dan Sari terkejut.
"Untuk sementara aku tinggal bersama kamu dan Mama."
"Tidak! Kalian tak boleh tinggal serumah dengan aku dan Gama!" tolak Sari.
"Ma!" Ucap Dista.
"Kenapa Dista tak boleh tinggal di apartemen ini?" tanya Sari.
"Karena ini milik putrinya Niken," jawabnya.
"Kamu ini bagaimana 'sih?" Dista tak terima.
"Mau bagaimana lagi? Aku sudah memilih kamu!" ucapnya.
Dista tampak begitu kecewa.
"Maafkan aku, Dis!"
"Dasar laki-laki tak berguna!" maki Dista.
"Apa kalian tidak memiliki rumah atas namamu?" tanya Sari pada menantunya.
Pria itu menggelengkan kepalanya.
"Sama sekali kamu tidak memiliki harta?" tanya Sari lagi.
"Semua atas nama Niken," jawabnya.
"Oh, sial!" umpat Dista mengacak rambutnya dengan tangan kanannya dan tangan kirinya memegang pinggang.
"Jadi sekarang kamu jatuh miskin?" tanya Dista.
"Aku akan mencari pekerjaan dan membiayai calon anak kita," janjinya.
"Kamu harus mulai dari nol lagi?" tanya Dista.
"Kamu menyayangi aku, 'kan?" tanyanya balik.
"Dista, Mama tidak mau suamimu menumpang hidup di rumah kita. Jadi cari sendiri rumah untuk kalian tinggalin," ujar Sari.
"Ma, sementara izinkan kami tinggal bersama Mama dan Gama!" mohon Dista.
"Tidak bisa!" tolak Sari dengan tegas.
"Ma, aku sedang hamil," ucap Dista.
"Mama tidak peduli. Itu adalah urusan kalian!" kata Sari kemudian berlalu.
Suami Dista menghela napas panjang.
"Aku pikir kamu itu hartanya banyak ternyata milik istrimu. Dasar tak berguna!" umpat Dista.
__ADS_1
"Kamu tidak mencintaiku?"
"Aku menyesal menikah denganmu!" Dista kemudian menyusul ibunya.