
Beberapa minggu setelah pertemuan Emil dengan keluarga gadis itu. Mereka datang ke rumah untuk bersilaturahmi.
Sari menghampiri menantunya yang sedang menjemur pakaian, "Calon istrinya Emil akan datang, kamu harus siapkan makanan yang enak untuk mereka!" perintahnya.
"Mas Emil mau menikah lagi, Bu?" tanya Alya.
"Iya, dia wanita yang cantik, pintar dan tentunya kaya raya," jawab Sari.
"Jika memang Mas Emil mau menikah kenapa tidak menceraikan aku, Bu?"
"Karena kamu bermanfaat untuk kami. Sudah, jangan banyak tanya. Lakukan saja yang aku minta!" kata Sari.
Alya mengiyakan.
Sari lalu meninggalkan menantunya di bagian belakang rumah.
Selesai menjemur pakaian, Alya pergi ke dapur memeriksa bahan masakan di lemari es.
Alya lalu menemui ibu mertuanya untuk meminta uang belanja.
"Aku 'kan sudah memberikan uang banyak padamu kemarin. Kenapa cepat sekali bahan masakannya habis? Kamu ingin korupsi, ya?" sentak Sari.
Alya menggeleng, "Tidak, Bu. Memang uangnya habis. Kalau Ibu mau, aku bisa masak balado telur dan sayur asem saja."
"Jangan-jangan, tamu kami itu spesial. Masak yang enak, ini uangnya. Pergi sana belanja!" Sari membuka dompet dan memberikan 2 lembar uang berwarna merah.
Alya menerimanya.
"Karena ini tamu spesial jika tidak, ogah aku memberikan uang belanja sebanyak itu!" Sari menggerutu.
Alya lalu pergi berbelanja membeli bahan masakan yang sesuai diminta ibu mertuanya.
Selesai berbelanja, Alya menyiapkan masakan buat makan siang karena tamu keluarga suaminya akan datang sekitar 3 jam lagi.
Tepat pukul 11 lewat 45 menit, semua masakan yang akan di sajikan hari ini di meja makan telah selesai.
Alya menghidangkan semur daging, tumis brokoli, balado telur puyuh dan kentang, sayur sop dan kerupuk.
Sari mendekati menantunya yang sibuk mondar-mandir di ruang makan. "Selama mereka menikmati makanan, jangan pernah menunjukkan dirimu. Aku takut tak selera ketika melihat wajahmu yang jelek itu!"
Alya mengangguk mengiyakan.
Jam 12 lewat 15 menit, 3 orang tamu Sari pun datang. Terdiri seorang gadis muda dan sepasang suami istri yang berusia paruh baya.
Alya yang berada di dalam kamar tak mendengar percakapan keluarga suaminya dengan tamu spesialnya.
Hampir sejam di meja makan, mereka pindah duduk di ruang tamu. Dista mendatangi Alya lalu menyuruh kakak iparnya itu untuk membersihkan meja makan.
"Setelah ini tolong buatkan teh untuk kami!" titah Dista kemudian diiyakan Alya.
Sepuluh menit kemudian, Alya mengantarkan minuman kepada tamu ibu mertuanya.
"Dia siapa, Tante? Kenapa tadi kami tidak melihatnya?" tanya gadis muda itu.
"Dia...."
"Saya istri sahnya Mas Emil," Alya memotong cepat perkataan ibu mertuanya.
Semuanya tampak terkejut dengan pernyataan Alya.
"Hah, apa!" Gadis muda dan orang tuanya tampak syok lalu menatap Emil dan ibunya.
__ADS_1
"Eh, maaf semuanya. Dia sebenarnya sedikit...." ucap Dista.
"Saya memang istrinya, Nona." Kata Alya dengan tegas dan berani menyela adik iparnya.
Sari memberikan isyarat agar Dista membawa pergi Alya.
Dista yang paham dengan isyarat mata ibunya menarik tangan Alya menjauh dari ruang tamu.
"Apa yang dikatakan wanita itu benar?" tanya temannya Sari.
"Hmm, itu tidak benar," jawabnya tampak terbata.
Terdengar dari arah dapur meskipun samar, "Aku memang istri kakakmu, Dista!"
Ketiga tamu itu kembali menatap Emil dan ibunya.
"Dia hanya pelayan kami tapi memiliki gangguan jiwa," jelas Sari.
Temannya Sari itu lalu berdiri, "Kami tidak percaya!"
Emil hanya diam menahan marah.
Gadis incaran Emil juga berdiri, "Kalian sudah membohongi kami, tidak mungkin mempekerjakan orang dalam gangguan jiwa di rumah ini!"
"Kami...." ucap Sari yang terjeda.
"Cukup, Bu Sari. Perjodohan anak kita gagal, kami tidak mau putriku menikah pria beristri!" kata teman Sari dengan tegas.
Ketiga orang tersebut kemudian pergi meninggalkan kediaman Emil sekeluarga.
Emil yang kesal lantas menghampiri Alya yang duduk di lantai karena tadi rambutnya telah ditarik Dista.
Alya berdiri dengan tubuh bergetar.
Emil lantas memberikan tamparan ke wajah istrinya membuat air mata Alya jatuh.
Emil lalu menarik rambut Alya dan bertanya alasan istrinya berkata demikian kepada tamunya.
Mendengar alasan istrinya, membuat Emil semakin murka bahkan ia mendorongnya dengan kasar sehingga tersungkur.
Emil melemparkan gelas tepat di samping istrinya membuat Alya tersentak.
"Aku benci kamu, gadis bodoh!" umpatnya.
Emil kemudian berlalu ketika semua amarahnya telah ditumpahkannya.
Sari yang kesal lantas menyiram air teh ke wajah menantunya. "Semua gagal karena kamu, gadis sialan!"
Alya tak hentinya menangis, pipinya merah dan tangannya sedikit berdarah terkena serpihan kaca.
***
Sejak gagal dengan gadis impiannya, Emil tampak lebih banyak diam dan suka marah-marah. Dirinya semakin membenci Alya yang telah menghancurkan rencananya.
Emil tak mau makan sarapan yang dibuat istrinya, memilih pergi ke kantor lebih pagi.
Selepas anak-anaknya pergi, Sari ke dapur dan menarik rambut Alya hingga mundur ke belakang.
"Gara-gara kamu, anakku jadi malas untuk makan di rumah!" katanya dengan nada marah.
"Maafin aku, Bu!" Alya meringis.
__ADS_1
"Jika mulutmu itu bisa diam, pasti semua ini takkan terjadi!" ucap Sari.
Alya diam karena menahan sakit di ujung kepalanya.
Sari mendorong tubuh Alya hingga membentur tembok.
Sari kemudian pergi tak memperdulikan wajah menantunya lebam.
Di dalam kamar, Alya mengopres lukanya dengan air hangat. Sembari menangis, ia terus berdoa dalam hati agar dapat keluar dari rumah neraka ini.
Sejam kemudian, Gama pulang dari sekolah bergegas menuju kamarnya Alya tak lupa mengetuk pintu.
Alya membuka pintu dan bertanya, "Gama, kenapa kamu sudah pulang?"
"Guru-guru sedang rapat, makanya kami pada pulang cepat," jawabnya.
"Oh."
"Kakak di siksa lagi?" tanya Gama.
Alya mengangguk.
"Andai aku besar, pasti ku akan memarahi mereka," kata Gama sendu.
Alya tersenyum dan mengacak rambut adik iparnya.
"Ini ada es krim, ku beli buat Kak Alya," Gama menyodorkan sebungkus es krim rasa coklat.
"Terima kasih, Gam."
"Sama-sama, Kak." Gama berlari kecil menuju kamarnya.
Alya gegas memakan es krim pemberian adik iparnya.
Emil pulang larut malam, anggota keluarga lainnya telah memejamkan matanya.
Emil berteriak memanggil nama Alya.
Dari arah kamarnya, Alya berlari-lari dengan tergopoh-gopoh menghampiri suaminya.
Tanpa bertanya Emil melayangkan tamparan di pipi istrinya.
Alya begitu terkejut sembari memegang pipinya, "Apa salahku, Mas?"
"Kamu bertanya salahmu, hah!"
Alya mengangguk.
"Karena menikah dengan kamu, hidupku menjadi sial!" ucapnya dengan lantang.
"Ceraikan aku, Mas!"
Emil mengangguk dan menarik rambut istrinya, "Aku takkan pernah menceraikan kamu!" menekankan kata-katanya.
"Mas, sakit!" pekiknya.
"Ini belum seberapa, gadis bodoh!" bentaknya.
"Aku minta maaf, Mas. Tolong, lepaskan aku jika dirimu tak suka denganku!" isaknya.
"Karena kamu telah menggagalkannya maka aku akan semakin menyiksamu!" kata Emil dengan senyum jahat.
__ADS_1