Membalas Mereka Yang Menyakitiku

Membalas Mereka Yang Menyakitiku
Bab 20 - Dia Hanya Suami Di Atas Kertas


__ADS_3

Ketiganya tampak tidak percaya jika Gama menyimpan foto terakhir Alya tepatnya 8 tahun lalu sebelum meninggalkan rumah mewah milik mereka.


Gama mengaku foto tersebut di ambilnya ketika keduanya sedang makan di taman kecil yang ada di belakang rumah melalui ponselnya.


Gama lalu mencuci foto tersebut setelah Alya pergi dari rumahnya. Dirinya bertekad ingin mencari keberadaan mantan kakak iparnya karena selama ini sudah berbuat baik kepadanya.


Gama menceritakan kepada keluarganya kalau hadiah seperti tas, sepatu, jajanan bahkan uang saku bukan dari orang tua teman-temannya melainkan dari Alya.


"Jadi dia masih hidup?" tanya Dista.


Gama mengangguk.


"Kenapa kamu tidak memberitahu kami yang sejujurnya?" tanya Sari.


"Kata orang yang mengantarkan pesanannya melarang aku memberitahunya kepada orang-orang," jawab Gama.


"Apa sekarang dia masih mengirimkan kamu sesuatu lagi?" tanya Dista lagi.


"Tidak, Kak."


"Kamu bilang tadi jika ada tamu restoran yang mirip dengan atasannya Kak Emil," ucap Dista.


"Dari ciri-cirinya persis, aku lihat wajah wanita itu hampir menyerupai Kak Alya," kata Gama.


"Coba lihat fotonya!" pinta Emil.


"Sebentar aku ambil di kamar, Kak!" ucap Gama kemudian berlalu.


"Apa yang aku bilang, Kak. Mantan istrimu itu jual diri makanya dapat menyewa pengacara serta sering mengirimkan Gama barang-barang," ujar Dista.


"Jika masih hidup, tapi sekarang dia di mana?" tanya Emil.


"Kakak ingin mencarinya?" tanya Dista.


"Aku hanya penasaran saja, tinggal di mana dan pekerjaannya apa," jawab Emil.


Gama datang selembar foto yang mulai pudar lalu ia berikan kepada Emil.


Sari, Dista dan Emil melihatnya bersama-sama.


"Wajah Amy mirip sekali dengan Alya," gumam Emil.


"Tidak mungkin Nona Amy adalah Alya," ucap Dista.


"Mama juga tidak percaya, tidak mungkin gadis miskin dan jelek sepertinya menjadi istri dari atasan kalian," ujar Sari.


"Gama, foto ini buat Kakak!" ucap Emil.


"Ambil saja, Kak. Aku masih ada foto satu lagi," kata Gama.


Emil menyimpan foto tersebut dalam dompet.


"Apa ini ada hubungannya dengan dilarangnya aku tidak boleh bertemu dengan Nona Amy?" tanya Dista.


"Maksud Kak Dista apa?" Gama balik bertanya.


"Mereka melarang aku untuk melihat wajah Nona Amy. Apa sebenarnya dia mengenaliku?" ucap Dista.


"Besok Kakak akan cari buktinya. Apa Alya dan Amy adalah orang yang sama," kata Emil.


***

__ADS_1


Esok paginya, di meja kerjanya Emil terus memperhatikan foto Alya. Beberapa rekan kerjanya, mendekat dan bertanya tentang benda yang berada dalam pegangannya.


"Ini foto teman kecilku," kata Emil berbohong.


"Untuk apa kamu membawanya?" tanya temannya.


"Menurutmu wajah dia mirip sekali dengan Nona Amy, 'kan?" tanya Emil.


Rekan kerja wanitanya Emil itu melihatnya dengan saksama. Kemudian mengatakan iya.


"Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Aku hanya penasaran apakah Nona Amy adalah dia atau bukan," ujar Emil.


"Jika memang dia teman kecilmu pasti dia akan mengenalmu. Itu foto belum terlalu lama, mustahil kalau lupa," ucapnya.


Percakapan keduanya mengundang perhatian Dion dan Widya. Keduanya lantas mendekat lalu melihat foto di tangan Emil.


"Kata Emil, temannya itu mirip dengan Nona Amy," ujarnya.


"Ada beberapa orang yang memiliki kemiripan wajah sama, mungkin itu hanya kebetulan saja," ucap Widya.


"Aku ingin menunjukkan foto ini kepada Nona Amy," kata Emil.


"Nona Amy sedang hamil, tak ada yang boleh mendekatinya karena dipastikan Bos Besar Ardan akan mengambil langkah tegas jika berani membuat perasaan istrinya terganggu," jelas Dion.


"Dari mana kamu tahu?" tanya Emil.


"Apa kamu lupa jika aku pernah mengantarkan Nona Miley," kata Dion dengan bangga.


Emil manggut-manggut dengan wajah cemberut.


"Lebih baik simpan foto ini di dalam dompetmu sebelum ketahuan oleh asistennya," ujar Widya.


"Tapi, aku begitu penasaran dengan Nona Amy," ucap Emil.


"Orang tuaku juga......" ucapan Emil terjeda.


Emil lantas berdiri karena melihat Miley yang melintas di depan ruangannya. Gegas, dirinya mengejar langkah sang asisten Amy.


"Nona Miley!" panggil Emil.


Miley berhenti lalu menoleh ke belakang.


Emil mendekatinya, "Maaf, mengganggu waktunya Nona."


"Cepat katakan, apa keperluan kamu?"


"Saya hanya ingin menunjukkan foto ini, Nona. Apakah dia mirip dengan Nona Amy?" Emil menyodorkan sebuah foto.


Miley memandanginya cukup lama.


"Persis sekali 'kan, Nona."


"Iya."


"Dia teman kecil saya, cuma delapan tahun lalu dia menghilang. Saya baru ingat jika wajah Nona Amy mirip sepertinya," ucap Emil.


Miley tersenyum tipis.


"Saya ingin tahu apakah Nona Amy teman kecil saya atau bukan," kata Emil.


"Saya rasa bukan, karena Nona Amy tidak memiliki teman seperti kamu. Saya sangat mengenal baik siapa sosok Nona Amy sebenarnya. Jadi, jangan mengaku-ngaku jika kalian ada teman kecil," ucap Miley.

__ADS_1


"Saya ingin bertemu dengannya dan bertanya," ujar Emil.


"Tuan Ardan melarangnya. Jadi, buang saja rasa penasaran kamu itu di tong sampah," ucap Miley, kemudian membalikkan tubuhnya.


Emil mendengus karena tak mendapatkan tanggapan dari asistennya Amy.


Miley mengepalkan tangannya seraya berjalan meninggalkan lantai ruangan kerjanya Emil. "Dari mana dia mendapatkan foto lama Nona Amy?" gumamnya.


Miley lalu melaporkan informasi yang ia dapatkan kepada Amy dan suaminya.


"Dia mengaku kalau aku ini teman kecilnya," ucap Amy.


"Iya, Nona."


"Brengsek!" umpat Amy.


"Buat apa dia menunjukkan foto itu kepadamu?" tanya Ardan.


"Dia hanya ingin tahu apakah Nona Amy adalah Alya atau bukan. Tapi, dari itu semua pasti dia ingin menjatuhkan Nona Amy," tuding Miley.


"Ternyata dia masih penasaran denganku," Amy menarik ujung bibirnya.


"Kamu tidak boleh berhadapan dengannya. Ingat dengan kandunganmu," kata Ardan.


"Iya, suamiku!"


Sore harinya, Emil sengaja menunggu Ardan dan istrinya keluar dari ruangan di dekat pintu masuk gedung.


Beberapa menit kemudian, Ardan dan istrinya keluar dari lift dikawal Tody dan Miley.


Emil ingin mendekat tapi barisan 4 pria bertubuh tinggi dan besar menghalangi langkahnya.


Emil lalu berteriak memanggil Amy, "Alya!"


Amy mendengar nama aslinya di sebut memejamkan matanya sejenak bersamaan dengan air matanya yang jatuh.


Ardan mengenggam erat jemari tangannya.


Amy membuka matanya dan sekuat mungkin tak menoleh, tangannya sangat gatal ingin meninju wajah suaminya itu.


Karena Amy lagi berbadan dua maka diurungkannya niatannya itu.


Amy masuk ke dalam mobil bersama dengan suaminya. Dengan cepat sopir menutup pintu.


Ardan memberikan tisu kepada istrinya.


Amy meraih tisu dan menghapus air matanya.


Mobil pun dengan meninggalkan gedung kantor.


"Sepertinya dia ingin diberi pelajaran," ucap Ardan.


"Jangan, sayang. Biarkan dia hidup dalam penasaran!" ujar Amy.


"Tapi, dia tak mengakui kalau kamu mantan istrinya," kata Ardan geram.


"Memangnya kamu ingin semua tahu jika aku ini adalah mantan istrinya yang kini dinikahi atasannya?"


Ardan terdiam.


"Aku tidak mau orang-orang tahu tentang masa lalu kami. Aku hanya ingin membalas semua rasa sakit hatiku kepada mereka saja. Karena aku tak butuh pengakuan darinya."

__ADS_1


Ardan manggut-manggut.


"Suamiku cuma kamu saja. Dia hanya suami di atas kertas!"


__ADS_2