
Sepuluh tahun lalu....
Ucapan sah begitu nyaring terdengar di sebuah rumah tamu. Meskipun tidak terlalu ramai yang hadir namun tampak wajah bahagia terpancar pada diri Sam.
Hari ini dirinya menikahkan keponakannya kepada seorang pemuda tampan dan kaya raya. Karena diberikan keyakinan jika Alya akan bahagia bersama dirinya membuatnya percaya begitu saja.
Selang sejam, setelah mengisi perut Sam dan istrinya kemudian berpamitan. Tak lupa Sari membawakan sekeranjang kecil buah-buahan berisi apel, jeruk dan anggur serta amplop berisi sejumlah uang kepada mereka.
"Ini apa, Bu Sari?" tanya Sam.
"Anggap saja ini sedikit rejeki buat kalian," jawab Sari.
Lenny menyambar amplop tersebut dan memasukkannya ke dalam tas. "Terima kasih," ucapnya mengukir senyum.
Sari membalasnya dengan senyuman palsu.
"Ayo, Mas. Kita pergi dari sini!" ajak Lenny.
"Bu Sari titip Alya, ya!" ucap Sam.
"Iya, Pak Sam. Saya akan menjaga dan menyayangi Alya seperti anak sendiri," kata Sari.
"Kalau begitu, kami pamit," ujar Sam.
Sari tersenyum dan mengangguk.
Selepas Sam dan istrinya pergi menggunakan motor, Sari menutup pintu dan menguncinya.
Tetangga dan para saksi pernikahan telah meninggalkan kediaman mewah milik keluarga Sudrajat.
Senyum menyeringai terpancar dari wajah wanita berusia 45 tahun itu.
Sari berjalan menghampiri menantunya yang sedang menggulung tikar dan membereskan piring dan gelas kotor yang berserakan di meja dan di lantai.
"Alya, jangan lupa sekalian kamu cuci semuanya!" titah Sari.
"Semuanya, Bu?" tanya Alya.
"Iya!"
Alya begitu terkejut, dirinya pengantin baru tapi sudah di suruh mencuci piring. Kemana beberapa pria dan wanita yang tadi tampak sibuk menghidangkan makanan.
"Tapi, Bu..."
"Tidak ada tapi-tapian, kamu di sini bukan hanya sebagai menantu saja!"
"Bu...."
"Saya tidak mau tahu, kamu harus mencuci piring dan gelas. Jangan lupa menyapu dan mengepel!" perintah Sari.
Alya mengangguk mengiyakan.
"Saya mau tidur, jika nanti saya bangun seluruh pekerjaan ini harus selesai!"
"Iya, Bu."
Sari kemudian melangkah ke kamarnya.
Tak berselang lama, Emil datang menghampiri istri yang baru dinikahinya.
"Pakaian kotor aku di kamar, jangan lupa dicuci pakai tangan. Paham!" titah Emil.
"Mas Emil mau ke mana?" Alya melihat suaminya telah berganti pakaian yang tadinya memakai kemeja putih dan celana panjang hitam menjadi kaos berkerah berwarna merah dan celana jeans.
"Bukan urusan kamu, aku mau ke mana. Jangan lupa kerjakan apa yang ku pinta!"
"Iya, Mas." Alya mengangguk.
__ADS_1
Emil keluar dari rumahnya, terdengar dari dalam suara deru mobil.
Menjelang pukul 3 sore, Alya baru selesai mengerjakan apa yang diminta suami dan ibu mertuanya.
Alya mengambil piring, meletakkan nasi dan balado telur. Ia pun segera menyantapnya dengan begitu lahap.
Selesai makan, Alya menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Alya memakai pakaian sehari-harinya yang memang dibawanya.
Begitu membuka kamar, Emil terkejut Alya telah tertidur di atas ranjang. Dengan cepat, menarik tangan istrinya dan mendorongnya ke lantai.
Alya yang baru saja memejamkan matanya tampak begitu kaget. "Mas, kenapa aku....."
"Jangan pernah tidur di ranjang aku, gadis kotor!" sentaknya.
"Mas, aku ini istri kamu," ucap Alya.
"Aku tidak menyukaimu, jangan harap menjadi istriku!" kata Emil lantang.
"Jika memang tidak menginginkan aku menjadi istri, kenapa datang melamar dan menikahiku?"
"Itu semua karena kami ingin kamu menjadi pelayan di rumah ini!"
Lagi-lagi Alya di buat syok.
"Pergi sana!" usir Emil.
"Lalu aku harus tidur di mana, Mas?"
"Terserah kamu yang penting jangan di kamar!"
Alya membalikkan badannya hendak keluar.
"Hei, tunggu!"
"Bawa tas usang kamu juga!" Emil melirik tas hitam berukuran sedang.
Alya mengambil tasnya dan membawanya keluar.
Alya memilih tidur di ruang santai keluarga. Di sofa dirinya merebahkan tubuhnya.
Alya menahan air matanya agar tidak jatuh, dirinya berharap ketika menikah hidupnya akan menjadi lebih baik daripada tinggal dengan Bibi Lenny yang suka menyuruhnya melebihi pembantu. Ternyata, nasibnya sama saja. Direndahkan dan dimanfaatkan.
Sari menghampiri Alya dan melemparkan air dari dalam gelas yang tersisa sedikit ke wajah menantunya itu.
Alya tersentak lalu kemudian duduk.
"Siapa yang menyuruhmu tidur di sofa mahal saya, hah?" bentaknya.
"Maaf, Bu. Saya hanya ingin tidur tapi bingung mau di mana," ujar Alya.
"Kamu tidur di gudang belakang sana!"
"Apa di sana ada lampu dan kipas angin?"
"Hei, gadis burik. Sudah bersyukur kamu memiliki kamar tidur. Kamu mau saya suruh di teras belakang?" tanya Sari dengan nada tinggi.
Alya menggelengkan kepalanya cepat.
"Sudah sana pergi!" usianya.
Alya berjalan ke arah gudang tanpa ada penunjuknya padahal dirinya baru pertama kali menginjakkan kakinya di rumah itu.
Alya membuka kamar tidak terpakai yang selama ini menjadi gudang. Alya menyalakan lampu dengan penerangan minim.
Sebelum beristirahat sejenak, Alya mau tak mau terpaksa membersihkan kamar tersebut.
__ADS_1
Alya akhirnya dapat beristirahat.
Sejam kemudian, pintu kamar di gedor-gedor berulang kali.
Alya terperanjat, lalu berteriak, "Siapa?"
"Hei, gadis malas! Cepat mandi dan siapkan makan malam buat kami!"
Alya membuka pintu dan melihat ibu mertuanya di hadapannya.
"Jatah tidurmu di atas jam sepuluh malam, selain itu kamu harus melayani kami!"
"Bu, sangat lelah sekali hari ini," kata Alya meminta keringanan.
"Tidak bisa, nanti lama-lama kamu kebiasaan!" sentak Sari.
"Saya cuma ingin...."
Sari belum mendengarkan penjelasan menantunya, menarik baju yang dikenakan Alya menuju dapur.
Sesampainya, Sari mendorong tubuh gadis itu yang hampir saja terjatuh.
"Sebelum jam tujuh malam, pastikan hidangan kamu telah tersaji di meja makan!"
"Baik, Bu."
"Jangan keasinan apalagi terlalu pedas!"
"Iya, Bu."
Jam 6 lewat 10 menit, Alya telah selesai memasak namun masakannya belum di hidangkan.
Sari sedang membaca majalah, ketika menantunya datang mendekat. Dengan cepat ia menutup hidung.
"Kenapa kamu ke sini?" sentaknya.
"Masakannya telah selesai, apa boleh saya sajikan di atas meja?" tanya Alya.
"Badanmu bau bumbu dapur, pergi sana mandi setelah baru sajikan makanan di atas meja," jawab Sari tanpa menurunkan tangannya dari hidung.
"Iya, Bu."
"Ini pekerjaan kamu selama tinggal di sini, mandi terlebih dahulu baru menyajikan makanan!"
Alya mengangguk paham.
"Sudah sana, huss!" usirnya.
Setelah mandi dan mengganti pakaian, Alya menyajikan masakannya di depan keluarga suaminya.
Alya hendak menarik kursi.
"Mau apa kamu?" sentak Dista yang duduk di sebelah Sari.
"Saya ingin makan malam bersama kalian," jawab Alya.
"Hah, apa! Kamu mau makan bersama kami?" tanya Emil membentak.
"Iya, Mas." Jawab Alya pelan.
"Jika kamu makan bersama kami, selera aku hilang!" kata Emil merendahkan istrinya
"Ya sudah, aku makan di dapur saja," ucap Alya.
"Memang tempat kamu di sana!" sahut Dista.
Alya hendak mengambil nasi namun punggung tangannya di pukul ibu mertuanya. "Nanti kamu makan tunggu sisa dari kami!"
__ADS_1