
Ardan pergi ke kantor seorang diri, rencananya dia akan satu ruangan dengan sang istri. Berhubung Amy sedang hamil muda maka ia dan Mama Anita melarangnya sementara beraktivitas.
Ardan hendak memasuki lift, seorang wanita dengan sengaja menabrak tubuhnya. Sontak, membuat Tody yang berada di dekat mendorongnya dengan kasar.
"Kamu sengaja, ya!" hardik Tody.
"Maaf, Tuan!" Dista menundukkan pandangannya.
"Potong gaji dia, Tody!" perintah Ardan.
"Dengan senang hati, Tuan!" Tody menarik ujung bibirnya.
Dista mendongakkan wajahnya, "Potong gaji, Tuan?" tanyanya terbata.
Ardan gegas memasuki lift di susul Tody kemudian.
Rima menarik lengan Dista dengan kasar, "Mau cari muka di depan Bos Besar, Hah!" sentaknya.
Dista menggelengkan kepalanya.
"Berani kamu menyentuh kulit Bos Besar, maka pekerjaanmu di sini berakhir!" Rima mengancamnya.
"Saya janji, Nona!" ucap Dista memasang pura-pura bersalah.
Rima dengan wajah angkuhnya kemudian berlalu.
Dista mengangkat wajahnya dan tersenyum menyeringai, "Sepertinya dia juga naksir dengan Tuan Ardan. Kita lihat saja, siapa yang berhasil memikat hatinya?" batinnya.
Ardan meminta Tody mengambilkan jas yang baru di dalam lemari yang terletak di ruang kerjanya dan gegas menggantinya.
"Suruh Miley bawa jas itu ke tempat laundry!" titahnya.
"Baik, Tuan."
"Jangan sampai istriku tahu hal ini, aku tak mau dia menjadi murka!"
Tody mengiyakan, kemudian berlalu membawa jas atasannya.
Tody menyerahkan jas Ardan kepada Miley dan memberitahu perintahnya.
Miley lalu menjalankan tugas atasannya itu. Tak sampai 30 menit, kembali ke kantor dan menghampiri Dista di ruang karyawan bagian kebersihan.
Miley datang dengan langkah tidak terburu-buru, menyilangkan tangannya. Pintu telah di buka salah rekan kerjanya Dista.
Melihat Miley masuk ke ruangan itu, gegas para karyawan pergi sebelum di sebutkan namanya.
"Dista!" ucap Miley dengan nada dingin.
Dista mendekat.
Miley lalu berkata, "Apa kamu sudah tahu kesalahanmu?"
Dista menggelengkan kepalanya.
Pintu ruangan tertutup, telapak tangan Miley sudah melayang di pipi wanita di hadapannya.
Dista terperanjat, memegang pipinya yang sakit sembari menatap Miley.
"Jika kamu berani melakukannya ini lagi, maka gaji takkan pernah kamu dapatkan!" Miley berkata tegas.
"Memangnya apa salah saya?"
"Menyentuh jas Bos Besar!"
"Saya tidak sengaja, karena...."
"Cukup!".
"Saya..."
"Aku bilang cukup!" sentaknya.
Dista diam.
"Kamera pengawas membuktikan kamu sengaja!"
"Maaf, Nona."
"Aku tidak akan segan melakukan lebih dari ini!" ucap Dista tegas, kemudian membalikkan badan dan berlalu.
__ADS_1
Dista mendengus kesal sembari menahan sakit.
Beberapa rekan kerjanya Dista kembali masuk.
"Makanya, jangan jadi wanita genit!" singgung lainnya.
"Aku tidak genit, dia saja terlalu berlebihan!" Dista menyangkal.
"Kami lebih percaya perkataan Nona Miley daripada kamu!" kata yang lainnya lagi.
Jam 12 siang, Ardan keluar dari ruangan kerjanya.
Dista dengan langkah buru-buru mengejar Ardan, "Tuan, tunggu!" panggilnya.
Ardan tak menoleh dan lanjut berjalan.
Miley gegas membalikkan badannya menghadang Dista. "Mau apa lagi kamu?"
Ardan dan Tody masuk ke lift.
"Saya ingin minta maaf pada Bos Besar, Nona."
"Tidak perlu, lanjut saja pekerjaanmu!"
"Saya tidak ingin gaji dipotong, Nona."
"Jika kamu mengejarnya, maka jangan harap dapat menerima gaji sedikit pun di bulan depan!"
Dista pun terdiam, bagaimana mungkin dia dapat bertahan hidup tanpa memiliki uang.
Miley membalikkan badannya dan lanjut memasuki lift.
Dista begitu kesal, dirinya sulit untuk berbicara dengan Ardan.
-
Ardan tiba di rumahnya, begitu sampai Amy memeluk dan mengecup pipinya.
"Aku rindu kamu," kata Amy dengan manja.
"Aku juga, sayang." Ardan tersenyum.
Ardan mengecup kening istrinya lalu menjawab, "Pekerjaan di kantor tidak terlalu sibuk dan tak ada yang menggangguku."
"Jika ada yang berani menyentuh dan menggoda kamu, maka kutak segan membuat karir mereka hancur."
Ardan tertawa kecil, "Istriku sekarang benar-benar berani."
"Aku tidak mau kehilanganmu," kata Amy.
"Aku juga, sayang."
Amy tersenyum bahagia.
"Aku sangat lapar, mau makan bersama istri dan calon anakku."
"Aku sudah masak makanan kesukaan kamu," ucap Amy.
"Sop iga dan buntut sapi?"
Amy mengangguk.
"Oh, sayang. Kamu tahu saja makanan kesukaan aku," ucap Ardan menarik kursi buat istrinya lalu untuk dirinya.
"Aku juga buatkan acar mentimun dan nenas."
Ardan tersenyum, "Terima kasih, sayang. Kamu memang sangat mengerti aku."
"Delapan tahun kita selalu bersama. Tentunya baik dan buruk kamu, aku tahu."
Ardan meraih tangan Amy dan mengecupnya.
"Kapan kita makannya jika kamu terus memuji dan memegang tanganku?"
Ardan tertawa kecil dan melepas genggamannya.
Selesai makan siang, Amy memeluk suaminya sebelum berangkat kerja ke kantor.
"Jangan terlambat pulang, ya!"
__ADS_1
Ardan mengiyakan dan tak lupa mengecup pipi istrinya.
Ardan memasuki mobilnya, Amy melepaskan kepergian suaminya dengan lambaian tangannya.
Setelah kendaraan roda empat itu menghilang dari pandangannya, Amy masuk ke rumah untuk kembali rebahan dan membaca buku.
Ardan tiba di kantor, Tody telah menunggunya di depan pintu masuk gedung.
Rima menghampiri Ardan dan berucap, "Tadi aku berniat mengajak kamu makan siang bersama."
Ardan lalu berkata, "Tak perlu mengajakku makan siang, karena istriku telah menyiapkan semuanya."
"Aku mengajakmu hanya sesekali saja."
"Tapi, dia tak suka aku jalan atau makan berdua dengan wanita lain."
"Kita 'kan hanya teman dan rekan kerja. Tak mungkin dia cemburu," ujar Rima.
"Apa kamu tidak cemburu jika suamimu pergi makan berdua dengan wanita lain meskipun dirimu mengenalnya?" singgung Ardan.
Rima terdiam.
Ardan lanjut melangkah, Tody mengikutinya dari belakang.
Rima tampak kesal, lagi-lagi usaha mendekati Ardan selalu gagal.
Emil mendekati Rima yang sedang berada di depan pintu lift, "Nona, kenapa berdiri di sini?"
"Bukan urusan kamu!" ketusnya kemudian berlalu.
"Ya ampun, kenapa dia tak pernah melirikku? Aku tampan, tinggi, putih hanya saja kurang kaya raya," Emil membatin.
Dista menepuk bahu Emil sehingga pria itu terjengit kaget.
"Kenapa melamun, Kak?" tanya Dista.
"Itu Nona Rima target Kakak, sulit sekali mendapatkannya," jawab Emil.
"Katanya mau mengejar Nona Amy," ucap Dista.
Emil mendekat kepada adiknya, "Jangan membicarakan rencana kita di sini!"
"Maaf, Kak."
"Sudah sana, waktunya bekerja!"
"Iya, Kak." Dista lantas berlalu.
Emil melangkah ke ruangannya dan mulai bekerja.
"Aku dengar bulan depan Nona Amy dan suaminya satu ruangan. Kutak bisa bayangkan jika mereka bekerja sama di perusahaan," ucap Widya.
"Untuk apa mereka bekerja di ruangan yang sama?" tanya Emil.
"Biar salah satu di antara keduanya tak diganggu oleh calon perusak rumah tangga orang," jawab Widya.
"Apa kalian bisa jamin jika mereka dapat profesional?" tanya Emil lagi.
"Profesional atau tidak, ini perusahaan mereka yang penting gaji kita tepat waktu tiap bulan," jawab Dion.
"Benar!" sahut lainnya.
"Aku rasa tidak cocok saja mereka satu ruangan," ujar Emil.
"Itu 'kan kamu!" celetuk Widya.
"Jangan mengobrol saja, lanjutkan pekerjaan kalian!" titah Miley.
"Iya, Nona!" ucap mereka serempak, lalu kembali ke kursi kerja masing-masing.
Miley mendekati Emil dan berkata dengan dingin, "Saya tidak suka kamu menceritakan Tuan Ardan dan Nona Amy jika masih ingin berkerja di sini!"
"Iya, Nona Miley!" Emil menundukkan kepalanya.
"Saya ingatkan kepada kalian semua untuk tidak menceritakan keburukan pimpinan perusahaan ini, jika tak mau dipecat. Paham 'kan!" kata Miley tegas.
"Baik, Nona!" ucap mereka serentak.
Miley kemudian berlalu.
__ADS_1