Membalas Mereka Yang Menyakitiku

Membalas Mereka Yang Menyakitiku
Bab 14 - Rencana Licik Emil


__ADS_3

Satu bulan berlalu....


Dista menerima gaji pertamanya sebagai Office Girl di perusahaan tempat sang kakak mencari uang.


Dista begitu sumringah ketika melihat teman-temannya menunjukkan uang yang mereka terima dalam amplop berwarna putih.


Kini giliran Dista menghadap staf bagian masalah karyawan. Pria berusia 40-an itu menyodorkan amplop kepadanya.


Dista penuh semangat membuka isinya, matanya mendelik. Gaji yang diterimanya tak sesuai seperti rekan kerja lainnya. Dista lalu protes, "Saya rasa Tuan salah memberikannya."


"Saya tidak salah. Nama kamu Adista Sudrajat, 'kan?"


Dista mengiyakan.


"Gaji kamu memang dipotong sebesar tujuh puluh persen."


"Apa!" Dista tampak terkejut. "Sebanyak itu dipotong, padahal saya bekerja tanpa bolos selama sebulan," lanjutnya.


"Memang peraturan perusahaan begitu. Setiap karyawan baru hanya mendapatkan tiga puluh persen dari gaji utama."


"Itu berlaku selama berapa bulan?"


"Enam bulan. Setelah itu, gaji kamu akan normal seperti biasa."


"Apa tidak dapat dikurangi, Tuan?"


"Tidak. Jika kamu masih bersedia bekerja di sini, maka besok silahkan kembali datang."


Dista mengangguk pasrah.


Di dalam mobil, Dista menggerutu. "Sudah capek bekerja selama sebulan gaji tak sampai satu juta."


"Kenapa, Dis?" tanya Emil mulai menyalakan mesin mobilnya.


"Gaji aku dipotong, Kak. Jumlahnya sangat besar lagi," jawabnya Dista sendu.


"Memangnya kamu terima gaji berapa?"


"Tujuh ratus ribu. Gaji segitu mana cukup untuk beli bensin dan alat make-up."


"Hanya segitu?" tanya Emil tak percaya.


Dista mengangguk.


"Ini pasti mereka salah," ucap Emil.


"Katanya peraturan perusahaan yang baru. Aku harus bersabar menunggu dalam waktu enam bulan. Apa ku harus arus pindah kerja lagi?"


"Jangan, Dis. Untuk masuk ke perusahaan ini sangat sulit, jangan sia-siakan kesempatan bagus untukmu. Pertahankan dahulu, lagian lima bulan lagi kamu akan mendapatkan gaji utuh."


"Tapi, gaji ini setara uang jajan seminggu aku lima tahun lalu."


"Mau bagaimana lagi, Kakak di pecat dari perusahaan itu karena bangkrut." Kata Emil seraya mengendarai mobilnya.


"Sejak Kakak resmi berpisah dengan wanita itu, semua harta habis terjual. Apa ini karma untuk kita?" tukas Dista.


"Hus, kalau bicara hati-hati. Dia itu wanita pembawa sial, beruntung waktu di pengadilan tak bertemu dengannya. Jika saja, maka aku akan menghabisinya."

__ADS_1


"Buktinya dia mengirimkan pengacara hebat menangani kasus perceraian kalian. Apa jangan-jangan dia simpanan para om-om hidung belang?" tebak Dista.


Emil tertawa mendengarnya, lalu berkata, "Wanita buruk rupa seperti dia, siapa yang sudi memungutnya?"


"Siapa saja dia jual tubuh lalu operasi wajah," ucap Dista.


"Sudahlah, jangan bahas dia. Aku sudah melupakannya," kata Emil.


Dista setuju dengan ucapan kakaknya.


Keduanya lalu mengganti topik pembicaraan. Lagi-lagi, Dista yang memulainya.


"Sejak aku bekerja di sini, belum pernah melihat Nona Amy. Bagaimana wajahnya?"


"Nona Amy sangat cantik, meskipun sedikit kejam. Kakak mau jika menjadi selingkuhannya," ucap Emil percaya diri.


Dista tertawa sembari menggelengkan kepalanya.


"Sudah dua minggu ini Nona Amy tak masuk, yang menggantinya suaminya," ujar Emil.


"Apa suaminya sangat tampan?" tanya Dista.


"Lebih tampan Kakak." Jawab Emil bangga.


"Cih, Kakak terlalu percaya diri!" celetuknya.


"Jika kamu berhasil menggodanya, maka perusahaan itu bisa menjadi milik kita," kata Emil yang berencana jahat.


"Aku saja tidak tahu suaminya. Bagaimana dapat menggodanya," ucap Dista.


"Boleh juga rencana Kakak," Dista menyetujui perkataan Emil.


Begitu sampai rumah, selepas makan malam. Keduanya menyampaikan rencananya untuk menggoda pemimpin perusahaan yang tak lain adalah Ardan suami Amy.


Sari awalnya tampak marah karena Dista hanya mendapatkan gaji seperampat. Mendengar rencana kedua anaknya, maka dia menyuruh Dista agar bertahan dan mencari titik kelemahan atasannya.


Gama sedari tadi sedang membuat lamaran kerja lantas memotong pembicaraan ibu dan kedua saudara kandungnya itu. "Ingat dengan dosa!"


"Anak kecil, kerjakan saja tugasmu. Besok cari kerja yang enak dan duitnya banyak. Kalau perlu jadi selingkuhan para istri genit," ujar Dista.


"Astaga, apa tidak ada pekerjaan lain. Sampai harus menjual harga diri," celetuk Gama.


"Penting saat ini uang, capek terus mikirin dosa," kata Emil enteng.


"Terlalu sulit berbicara dengan orang-orang yang serakah dan tamak seperti kalian berdua," ujar Gama.


"Sudah, sudah, cukup. Kenapa kalian jadi berdebat?" lerai Sari.


"Gama duluan, Ma. Dia memancing emosi aku, belum tentu dia benar," jawab Dista.


"Aku 'kan bicara yang benar, bahwa rencana kalian itu dosa besar. Apalagi sampai memisahkan suami istri," ucap Gama.


"Kamu juga yang akan hidup senang, jika rencana ini berhasil," tukas Dista.


"Buat apa hidup senang tapi diatas penderitaan orang lain," sindir Gama.


Dista yang kesal ingin menampar dan memukul adiknya. Namun, tangan Sari memegangnya erat.

__ADS_1


"Gama, pergilah masuk. Kerjakan lamaran kerja kamu di kamar!" titah Sari.


Gama mengiyakan.


***


Esok harinya...


Amy sedang menikmati sarapan pagi bersama suaminya, dirinya tak suka makan terlalu banyak hanya roti selai sepotong bahkan menolak minum susu.


"Kamu minta buatkan jus saja kalau tidak mau susu," kata Ardan.


"Iya, sayang. Kalau mau aku akan memintanya," ucap Amy.


"Usahakan kamu harus makan, aku tidak mau kamu sakit kasihan calon anak kita."


"Iya, sayang."


"Aku berangkat kerja dulu, ya." Ardan lantas berdiri.


"Sayang, aku ingin balik ke kantor melihat mereka tersiksa," kata Amy.


"Kamu sedang hamil, aku tidak mau Mama menyalahkan aku karena membiarkanmu bekerja di kantor," ucap Ardan.


"Tapi, aku ingin bermain-main," kata Amy.


"Serahkan saja itu kepada Miley dan Tody."


"Hanya saja aku belum puas kalau tidak melihatnya secara terang-terangan, Dan."


"Jika kandungan kamu kuat atau setelah melahirkan, kamu boleh melanjutkan rencana itu," kata Ardan.


"Hmm, baiklah," Amy pun pasrah.


Ardan mendekati istrinya lalu mengecup bibir dan keningnya. "Makan siang nanti aku akan pulang."


Amy mengangguk dan tersenyum.


Ardan kemudian berangkat kerja.


Amy meraih ponsel di atas meja lalu menghubungi seseorang, "Awasi mereka, jika ada yang berani mendekati suamiku maka hancurkan secara perlahan!"


"Baik, Nona."


Amy tersenyum menyeringai, apalagi di dalam perangkapnya ada 2 target yang menderita secara pelan-pelan.


Amy juga menyuruh asisten pribadinya mengawasi seorang wanita yang bernama Rima.


Karena menurut informasinya, wanita itu ingin menggoda suaminya dan berusaha mendekatinya menggunakan pakaian seksi.


Amy sempat mengutarakan rasa cemburunya, namun suaminya selalu menenangkan hatinya agar tak berlebihan menyikapinya.


Ardan mengatakan bahwa dia tak menyukai wanita lain kecuali Amy seorang, gadis malang yang ditemuinya di gelapnya malam dengan keadaan benar-benar terpuruk.


Tapi, Rima berhasil membuat rasa cemburunya Amy meledak-ledak apalagi sedang hamil.


Amy lantas berdiri berjalan ke kamarnya untuk sekedar rebahan sembari menunggu kabar dari kedua asistennya.

__ADS_1


__ADS_2