Membalas Mereka Yang Menyakitiku

Membalas Mereka Yang Menyakitiku
Bab 8 - Masa Lalu Amy (bag. 2)


__ADS_3

Alya berjalan ke dapur, tak ada lauk dan sayur yang tersisa di ruangan itu. Hanya nasi dan sisa sambal yang menempel di kuali.


Alya mengambil nasi lalu meletakkannya di dalam kuali, di dalam wadah itu ia menikmati makan malamnya.


Selesai makan, Alya mencuci semua peralatan masak. Terdengar suara ibu mertua yang memanggilnya.


Alya dengan cepat menghampirinya, "Ada apa, Bu?"


"Kami sudah selesai makan, cepat bereskan dan bersihkan meja ini!" perintahnya.


Alya mengangguk mengiyakan.


Alya pun melaksanakan perintah dari mertuanya. Setelah itu, pergi ke kamar untuk beristirahat.


Jam 9 malam, pintu kamar Alya diketuk. Gegas, ia membukanya. Senyumnya mengembang kala melihat sosok pria berdiri di hadapannya.


"Kamu belum tidur, 'kan?" tanya Emil.


"Belum, Mas."


"Tolong, belikan rokok di toko depan jalan!" pintanya.


"Sekarang, Mas?"


"Iya. Ini uangnya!" Emil menyerahkan selembar uang kertas berwarna merah dan menyebut nama mereknya.


"Sudah cepat sana pergi. Sebelum tokonya tutup!" titahnya.


"I... iya Mas!"


Alya keluar dari rumah mewah sembari melihat ke kanan kirinya yang sangat sepi. Tak ada pengendara melintas.


Alya pun mencari toko yang dimaksud suaminya.


Selang 30 menit, Alya akhirnya menemukan tokonya. Setelah membeli barang yang diminta suaminya dengan cepat Alya berjalan menuju kediaman mertuanya.


Sesampainya Alya memberikan rokok yang dipesan suaminya.


"Mana kembaliannya!"


Alya memberikan sisa uang belanja.


"Hei, kakak ipar. Belikan nasi goreng diujung jalan buat aku!" pinta Dista.


"Jalanan sangat sepi," ucap Alya.


"Hei, siapa yang mau menculikmu?" bentak Emil.


"Tapi, Mas..."


"Cepat belikan nasi goreng pesanan adikku!" titah Emil.


"Temani aku, Mas." Mohon Alya.


"Enak saja minta di temani. Memangnya kamu siapa, hah!" hardik Emil.


"Cepat beli!" ucap Dista lantang.


"Jika kamu tidak mau membelinya, jangan harap ada sarapan pagi untukmu!" ancam Emil.


Alya dengan terpaksa menuruti permintaan adik iparnya.


Alya kembali ke luar rumah untuk membeli nasi goreng, ia harus berjalan dengan langkah lebar karena takut ada seseorang yang akan menyakitinya.


Begitu juga sebaliknya ketika dirinya balik ke rumah bahkan ia harus berlari-lari kecil agar cepat sampai.


Alya menyerahkan sebungkus nasi goreng adik iparnya dan mengembalikan sisa uangnya. Setelah itu ia melanjutkan istirahatnya di kamar.


"Alya! Buka pintunya!" ucap Sari dengan lantang.

__ADS_1


***


Jam 5 pagi, pintu kamarnya di ketuk sangat nyaring sehingga Alya yang terlelap tidur tersentak.


Pintu terbuka dan Sari muncul di kamarnya. "Kenapa kamu belum memasak?" tanyanya dengan marah.


"Aku sangat capek, Bu."


"Alasan saja!" hardiknya.


"Cepat pergi ke dapur dan buatkan sarapan untuk kami!" lanjutnya.


"Iya, Bu."


Di dapur Alya menyiapkan sarapan pagi nasi goreng dengan telur ceplok, dia juga harus menyiapkan teh hangat.


Setelah selesai, Alya menyajikannya di meja makan.


"Emil mau ke kantor, Dista dan Gama akan ke sekolah begitu juga dengan saya harus pergi menemui teman-teman. Kamu harus mencuci pakaian dan membersihkan isi rumah!" perintah Sari.


Alya mengangguk pelan.


"Dan jangan lupa belanja untuk makan. Jam dua belas kamu harus selesai masak karena Gama sudah pulang sekolah. Paham, 'kan!" kata Sari.


"Iya, Bu."


Sejam berlalu, Emil telah berangkat ke kantor begitu juga dengan Dista dan Gama yang pergi ke sekolah.


Sari menghampiri Alya yang hendak mengepel lantai. "Ini uang belanja, usahakan beli bahan masakan untuk dua hari!" menyerahkan 3 lembar berwarna biru.


Alya mengiyakan.


"Gama suka daging sapi, Emil udang dan Dista ikan Gurame. Pastikan uangnya cukup, pintar-pintarlah menawar biar dapat banyak!" lanjut Sari.


"Uang segini tidak cukup untuk bahan masakan sebanyak itu, Bu."


"Aku bilang kamu harus pintar menawar. Paling penting makanan kesukaan anakku itu yang utama!"


"Iya, Bu."


Jam 10 pagi, Alya pulang dari pasar. Uang yang di beri ibu mertuanya hanya cukup membeli seperempat daging sapi, udang 3 ons, ikan gurame seekor dengan berat setengah kilo. Selebihnya bahan masakan yang lainnya untuk pelengkap ketiga lauk tersebut.


Alya mulai memasak semur daging sapi, ikan panggang, tahu goreng serta tumis buncis campur tempe.


Tepat jam 1 siang Gama pulang dari sekolah bersamaan dengan Dista dan juga Sari kecuali Emil.


Sari dan kedua anaknya menikmati makan siang dengan lahap.


Alya melihatnya dari kejauhan sembari memegang perutnya yang mulai terasa lapar.


"Kak Alya tidak makan?" tanya Gama kepada kakak iparnya yang menuangkan air putih di gelas ibunya.


"Jatah makan dia hanya pagi dan malam saja," jawab Sari dengan cepat.


"Kenapa begitu?" tanya Gama lagi.


"Jangan cerewet!" sentak Sari.


Gama pun diam.


Selesai makan, Gama berusia 10 tahun pelan-pelan berjalan menghampiri Alya yang sedang mencuci piring.


"Kak Alya!" panggilnya dengan suara pelan.


Alya menoleh dan tersenyum.


Gama menyodorkan roti dalam bungkusan kepada Alya. "Buat Kakak, cepat dimakan sebelum mama tahu!" katanya dengan nada suara rendah.


Alya tersenyum haru lalu mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


Gama segera pergi dan masuk ke kamarnya.


Alya pergi ke gudang yang merupakan kamarnya dan memakan roti pemberian adik iparnya. Ia bersyukur jika di rumah ini masih ada yang memiliki hati baik.


Selesai makan roti, Alya melanjutkan pekerjaannya.


Malam hari pun tiba, Alya telah memasak udang goreng tepung dan 4 telur ceplok karena dua menu lainnya seperti semur daging dan tumis buncis masih ada karena memang sebelumnya dipisahkan.


Sari beserta ketiga anaknya menyantap makan malam. Gama berdiri dari tempat duduknya sembari memegang piring.


"Mau ke mana?" tanya Sari.


"Mau ke dapur, Ma." Jawab Gama.


"Kenapa bawa piring?" tanya Sari lagi.


Gama tak menjawab dan berlalu begitu saja.


Gama menyerahkan piring berisi nasi dan semur daging kepada Alya yang sedang duduk di dapur.


"Nanti kamu dimarahi, Gam."


"Tidak akan, Kak. Ini Kakak makan saja," ucap Gama.


"Lalu kamu?"


"Masih ada sedikit lagi semur daging dan udang gorengnya."


"Terima kasih, Gam."


"Sama-sama, Kak."


Gama kembali ke meja makan, bergabung dengan saudaranya yang lainnya.


"Mana piringmu?" tanya Sari.


"Sudah ku letakkan di dapur," jawab Gama.


Sari dan kedua anaknya mengernyitkan dahi.


Gama melanjutkan makan malamnya.


"Kamu memberi jatah makan kepada dia?" tanya Dista.


"Kak Alya, Kak."


"Aku tidak suka memanggil namanya," ucap Dista.


"Kamu memberikan dia makan?" tanya Sari.


"Iya, Ma. Kak Alya seharian ini bekerja, nanti dia mati karena lapar, bagaimana?" Gama balik bertanya.


"Tidak mungkin dia mati," ujar Sari.


"Apa salahnya memberi walau sedikit?" singgung Gama.


"Ingat, ya. Mama tak suka kamu dekat dan baik dengan wanita itu. Jika berani melanggar, Mama akan memotong uang jajanmu!" Sari memberikan peringatan.


"Iya, Ma. Aku janji," kata Gama menunduk.


Alya melangkah ke kamarnya, belum saja membuka pintu terdengar suara bariton dari belakangnya.


Alya membalikkan badannya dan bertanya, "Iya, Mas. Ada apa?"


"Belikan aku rokok!"


"Mas, ini sudah jam sepuluh," kata Alya.


"Aku tidak mau tahu, kamu harus membelinya!" sentaknya.

__ADS_1


Alya akhirnya pasrah dan pergi ke toko di ujung jalan.


__ADS_2