Membalas Mereka Yang Menyakitiku

Membalas Mereka Yang Menyakitiku
Bab 24 - Memecat Dista


__ADS_3

Amy dan Ardan sempat menyapa Sam ditengah jalan, mereka bertiga mengobrol di dalam mobil sejenak.


Tak lama kemudian Sam keluar dari mobil keponakannya, lalu melambaikan tangannya kepada Amy dan suaminya.


Lenny melihat dari kejauhan suaminya keluar dari mobil mewah gegas mendekatinya apalagi jika diperhatikan wajah lelaki yang menikahinya beberapa puluh tahun lalu begitu sumringah.


"Bicara dengan siapa, Pak?"


"Bukan siapa-siapa, Bu."


"Sepertinya sangat akrab, memangnya siapa Pak?"


"Tidak ada, ayo kita pulang!" Sam mengajak istrinya.


"Bapak sekarang ingin main rahasia dengan Ibu?" tanya Lenny.


"Tidak, Bu. Tadi Bapak bicara dengan teman lama kebetulan melewati jalan ini," jawab Sam.


"Teman Bapak yang mana?"


"Ibu tidak mengenalnya, kami berteman telah cukup lama."


"Oh."


Amy menoleh ke belakang, memastikan kalau Bibi Lenny tak menaruh curiga.


"Aku yakin Paman Sam dapat menyimpan rahasia dengan baik, kamu tidak perlu khawatir," ujar Ardan.


Amy mengangguk mengiyakan.


Sejam kemudian, Amy dan suaminya tiba di kantor. Keduanya keluar dari mobil sembari memegang tangan.


Dista yang sudah beberapa bulan bekerja di perusahaan milik Amy akhirnya dapat melihat wajah istrinya Ardan dengan sangat jelas.


Dista membulatkan matanya ketika tahu jika Amy adalah wanita yang membuat dirinya di pecat dari kafe.


Dista mengepalkan tangannya, ingin menyerang Amy namun tubuh Tody menghalanginya. Dengan cepat, ia mendorong Dista hingga terjatuh.


Dista memekik kesakitan ketika lututnya mengenai lantai dengan kasar.


"Siapa yang menyuruhmu mendekati Nona Amy?" raut wajah Tody telah memerah.


"Aku ingin memberi pelajaran pada wanita jahat sepertinya!" jawab Dista menahan kesal.


"Kamu atau dia yang sangat jahat?" sahut Miley yang kini berdiri di hadapan Dista.


Wanita itu mendongakkan kepalanya, menatap wajah Miley dengan senyuman mengejek.


"Kamu dipecat!" ucap Miley.


"A..apa? Saya di pecat?" tanya Dista dengan bibir bergetar.


"Iya, kamu di pecat karena berusaha menyakiti Nona Amy," jawab Miley melipat kedua tangannya.


Dista lalu berdiri dan memperbaiki pakaiannya. "Baiklah, kalau begitu. Saya minta uang pesangon!"


"Tidak ada uang pesangon maupun gajimu untukmu!" kata Miley dengan tegas.


"Tidak bisa begitu dong!" protes Dista.


"Karena kamu ingin menyakiti Nona Amy maka tak ada gaji untukmu!" Miley kemudian berlalu.


Diikuti Tody di belakangnya.


Atin mendekati Dista kemudian berkata, "Kemasi semua barang kamu dan tinggalkan gedung ini!"


Dista mengeraskan rahangnya, dirinya begitu marah kepada Miley seenaknya memecatnya.


-


Malam harinya, ketika seluruh anak-anaknya Sari telah berkumpul.


"Kenapa kamu bisa dipecat?" tanya Emil kepada adiknya.

__ADS_1


"Karena aku ingin menyentuh Nona Amy," jawab Dista.


"Apa kamu sudah gila? Jelas-jelas itu sudah melanggar peraturan perusahaan!" ucap Emil.


"Nona Amy yang membuatku dipecat di kafe waktu itu, Kak!" ungkap Dista.


"Lihatlah sekarang, kamu tidak memiliki pekerjaan lagi," ujar Emil.


"Kamu mau adikmu terus mendapatkan penindasan dari orang-orangnya Amy?" sentak Sari.


Emil diam.


Gama malah tertawa meskipun tak terlalu lebar.


"Kenapa tertawa, hah? Senang aku menderita?" Dista menatap sengit adiknya.


"Makanya, jangan suka berbuat jahat pada orang lain. Dapat balasannya, 'kan?" Gama tersenyum mengejek.


"Ini karena asisten Nona Amy yang belagu," ucap Dista.


"Sudah tahu asisten Nona Amy selalu sigap, kamu masih saja mencari gara-gara!" omel Emil.


"Besok, kamu minta gaji adikmu dengan Nona Miley!" pinta Sari.


"Aku akan usahakan buat memintanya," ujar Emil.


***


Emil mendatangi ruang Miley tentunya untuk menanyakan gaji adiknya yang tak dikeluarkan oleh pihak perusahaan.


"Kamu tahu kesalahan dia, 'kan?"


Emil mengangguk.


"Jika kulit Nona Amy tersentuh, maka Tuan Ardan takkan segan menjebloskannya ke dalam jeruji besi!"


Emil meneguk salivanya mendengar ancaman yang diucapkan asisten Amy.


"Walaupun hanya setengah, Nona?"


"Iya."


"Nona, tolonglah berikan sedikit upah untuk adik saya," mohon Emil.


Miley lalu memberikan 2 lembar uang berwarna merah. "Aku sedang berbaik hati!"


"Hanya segini, Nona?" tanya Emil.


Miley mengangguk.


"Apa tidak bisa di tambah lagi?"


"Tidak."


"Nona tambahkan sedikit?" Emil mengiba.


"Mau ambil atau tidak?" Miley sudah memberikan tatapan tajam.


"Baiklah, Nona. Saya ambil!" Emil dengan cepat memasukkan 2 lembar uang tersebut ke dalam saku celananya.


Emil lalu meninggalkan ruangan Miley.


Di kursi kerjanya, Emil menghela napas kasar.


"Kenapa? Ada masalah?" tanya Dion.


"Nona Miley hanya memberikan gaji adikku segini!" Emil menunjukkan uang pemberian asistennya Amy.


"Bersyukurlah, di beri uang segitu. Daripada tidak sama sekali!" sahut Widya.


"Tapi, ini sangat keterlaluan!" ujar Emil.


"Beruntung dia tak membawa adikmu ke tahanan," timpal Dion.

__ADS_1


"Kesalahan dilakukan Dista tak terlalu fatal. Asistennya saja yang sangat berlebihan!" ucap Emil.


"Kenapa mereka membedakan kami dengan karyawan lainnya?" tanya Emil lanjut.


"Entahlah, tanyakan saja pada Nona Amy dan suaminya jika ingin tahu apa kesalahan kalian," jawab Widya.


Sore harinya....


Sesampainya di rumah, Emil menyerahkan uang yang diberi Miley kepada adiknya.


"Kenapa cuma segini, Kak?"


"Aku tidak tahu, hanya itu yang diberikan Nona Miley."


"Ini gaji tiga hari aku, Kak."


"Kalau mau protes datangi saja Nona Miley!" sentak Emil kemudian berlalu.


Sari datang dan duduk di samping putrinya. "Bagaimana?"


Dista menunjukkan uangnya.


"Benar-benar keterlaluan mereka!" geram Sari.


"Besok Mama akan datang ke sana dan buat kekacauan!" ancam Sari.


"Kalau Mama tidak takut di penjara, silahkan!" sahut Emil duduk membawa segelas air dingin.


"Mama tidak takut, mereka sudah kelewat batas!" ucap Sari.


"Aku dukung Mama melabrak Nona Miley, kalau bisa Nona Amy juga!" kata Dista semangat.


***


Keesokan harinya, Sari memang menepati janjinya. Dia datang dan segera ke meja resepsionis.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"


"Saya ingin bertemu dengan Nona Miley dan Nona Amy."


Karyawan wanita itu tersenyum lalu mengarahkan jarinya kepada Amy dan Miley yang berjalan beriringan.


Sari yang sangat marah melangkah cepat menghampiri keduanya.


Beberapa pengawal yang tak jauh dari keduanya, gegas mencegah langkah kaki Sari.


"Minggir!" bentaknya.


Amy dan Miley menoleh.


"Aku ingin bicara dengan mereka!" katanya.


Miley maju dan mendekat, "Saya Miley, apa yang ingin anda bicarakan?" tanyanya dengan nada dingin.


Amy melihatnya sembari bersedekap dada.


"Oh, jadi kamu yang namanya Miley?" Sari memberikan tatapan sengit.


"Iya," jawab Miley.


"Berikan hak anakku!" pinta Sari.


"Anak anda yang mana?" tanya Miley pura-pura tidak tahu.


"Yang kemarin kamu pecat!"


"Oh, dia!" ucap Miley.


"Berikan hak dia yang kalian curangi!" kata Sari.


Miley menoleh ke belakang. "Bagaimana Nona Amy?"


Sari mengikuti arah pandangan Miley dan memperhatikan sosok Amy secara saksama dengan jarak hanya 3 meter. "Alya!" gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2