
Sari dan Romi menoleh ke asal suara. Keduanya tampak terkejut Gama muncul dihadapan mereka.
"Aku tadi kemari berniat mengambil tas milikku yang ketinggalan tapi kutak sengaja mendengar semuanya. Apa benar aku bukan anak kandung papa, Ma?" tanya Gama.
"Mama akan jelaskan, Gam." Kata Sari.
Tatapan Romi kali ini ke arah Sari.
"Kamu memang bukan anak kandungnya papa. Mama telah berpisah darinya ketika Dista berusia enam tahun, Mama pergi meninggalkannya lalu menikah dengan Romi," Sari berusaha menahan air matanya.
"Ketika mengandung dua bulan kamu, Mama pergi dari kehidupan Romi karena desakan istri pertamanya. Papamu kembali datang dan menawarkan pernikahan lagi."
"Ketika usia kamu menginjak enam bulan, kami kembali menikah. Makanya kamu hanya tahu papa adalah ayah kandungmu," ungkap Sari menundukkan wajahnya.
"Pantas saja Dista menjadi wanita perebut suami orang, mama ternyata begitu," sahut Emil yang juga tiba-tiba muncul.
"Kenapa Mama membohongi kami selama ini?" tanya Gama.
"Papa kalian yang memintanya," jawab Sari.
"Mama kamu meninggalkan suaminya karena papa kalian jatuh miskin dan ia kembali karena harta juga. Sari adalah wanita licik yang aku kenal," ucap Romi.
"Jaga mulut anda!" sentak Gama.
Sari dan Emil begitu terkejut mendengar suara Gama yang biasanya selalu bersikap lembut.
"Anda di sini juga salah. Kenapa menikahi mama jika masih memiliki istri sah?" tanya Gama.
Romi terdiam.
"Papa adalah orang yang paling menyayangi aku tanpa membedakan kami," ucap Gama.
"Kenapa baru muncul setelah beberapa tahun?" tanya Gama.
"Selama ini Ayah berada di luar negeri tapi terus mencari keberadaan kalian," jawab Romi.
"Kamu bukan ayahku!" kata Gama tegas.
"Gama..." Emil mendekati adiknya dan menyentuh bahunya.
Gama yang sangat syok mendengar pengakuan ibu kandungnya itu lantas memeluk Emil dan menangis.
Romi tak dapat melakukan apapun hanya berdiri dengan mata berkaca-kaca.
Sari duduk di ranjang dengan air mata menetes.
"Aku benci mereka, Kak!" ucap Gama.
Emil menepuk lembut punggung Gama dan berkata, "Maafkan kesalahan mereka."
__ADS_1
Gama melepaskan pelukannya, menyeka air matanya menatap Sari dan Romi kemudian mengambil tasnya lalu pergi.
Romi pun mengejar langkah putranya, "Gama tunggu!"
Gama yang masih terus menghapus air matanya sejenak berhenti. Kemudian ia menoleh.
"Maafin Ayah!"
Gama tak menjawab.
"Ayah tahu sudah salah, tapi tolong maafkan!" mohon Romi mengiba.
"Aku butuh waktu sendiri!" ucap Gama kemudian kembali melangkah.
Sementara Emil duduk di ujung ranjang. "Kenapa tidak pernah jujur? Gama begitu sangat kecewa."
"Mama hanya mengikuti apa kata papa kamu, Mil. Jika Romi tahu pasti Gama akan disakiti oleh mantan istri pertamanya," jelas Sari.
"Mama di sini benar-benar salah. Pertama menjadi perusak rumah tangga orang lain dan kedua tidak memberitahu aku dan Dista jika Gama bukan adik kandung kami."
"Mama minta maaf, Mil!" Air mata Sari kembali menetes.
"Semua sudah terjadi, tak ada yang perlu disesali lagi," ucap Emil.
"Gama pasti tidak ingin bertemu dengan Mama."
"Nanti aku yang akan bicara padanya," ujar Emil.
Pagi harinya, Gama bangun mengerjakan tugas rumahnya namun dengan wajah sendu dan lebih banyak diam.
Dista memandang heran adiknya itu yang biasanya menyapa dan bertanya apa keinginannya.
"Gama, apa kamu baik-baik saja?"
Gama hanya mengangguk pelan.
"Apa kamu sedang bertengkar dengan Nesha?" tanya Dista.
"Tidak, Kak." Jawab Gama.
"Kak, Mama akan pulang nanti sore. Sarapan pagi telah aku siapkan, aku mau keluar menemui Nesha. Aku tinggal sebentar tidak apa-apa, 'kan?"
"Kamu tidak bekerja hari ini?"
"Hari ini aku masuk sore, Kak."
Dista manggut-manggut.
Gama pun pergi mengendarai motornya.
__ADS_1
Gama tiba di rumah kekasihnya 15 menit kemudian, orang tua Nesha sedang bekerja.
Nesha menyajikan teh di meja lalu duduk di hadapan kekasihnya. "Tumben, kamu datang pagi-pagi ini kalau tidak memiliki rencana jalan-jalan."
"Aku lagi memiliki masalah dengan mama, Nes."
"Tante Sari 'kan lagi di rumah sakit," ucap Nesha.
"Aku tahu masa lalu dari sana. Aku bertemu dengan ayah kandungku," ujar Gama.
Nesha tampak bingung dengan perkataan kekasihnya.
Gama pun menjelaskan siapa pria yang menolong Sari ketika kecelakaan. Dia juga memberitahu kalau Romi adalah ayah kandungnya.
Nesha menutup mulutnya tak percaya.
Gama menundukkan kepalanya, air matanya kembali menetes.
Nesha lantas berdiri dan mendekati kekasihnya kemudian memeluknya.
"Aku sangat kecewa dengan mereka, Nes."
"Kamu yang sabar, ya. Mereka sangat menyayangimu tapi caranya yang salah."
"Aku tidak mau bertemu dengan mereka, Nes."
Nesha tidak berkata-kata lagi.
Gama pulang setelah hari sudah menjelang siang, dirinya menyiapkan makan untuk kakaknya. Kemudian lanjut beristirahat sejenak di kamar.
Pukul 3 sore, Gama berangkat ke restoran. Begitu sampai, Romi telah menunggunya di sebuah meja.
Lisha memberitahunya jika ada tamu yang ingin bicara pada Gama.
Dengan terpaksa pemuda itu menghampiri Romi. Tanpa senyuman dirinya duduk dihadapannya.
"Ayah tidak dapat melakukan kegiatan dengan tenang sebelum kamu memaafkannya," ucap Romi.
"Aku sudah mengatakan bahwa sementara ingin sendiri. Jangan datang menemuiku, sebelum aku dapat menerima kesalahan yang kalian lakukan," kata Gama.
Romi menghela napas.
"Aku mau kerja, pulanglah!" ucap Gama pelan.
Romi mengiyakan.
Malam harinya, Gama pulang dari restoran. Sari telah menunggunya di ruang tamu, namun dirinya tak menyapanya.
"Gama, jangan diamkan Mama seperti ini," ucap Sari.
__ADS_1
"Aku sangat lelah hari ini, Ma. Mau beristirahat," kata Gama kemudian melangkah cepat ke kamarnya.
Wajah Sari kembali sendu, dirinya tak sanggup jika Gama mendiamkannya.