
Dista tak pernah tahu jika Miley adalah wanita yang membuat dirinya dipecat dari kafe. Karena ketika itu, asisten Amy itu memakai topi dengan rambut di kuncir, menggunakan kaca mata hitam, celana jeans serta kemeja putih jadi dirinya tidak mengenalnya.
Miley mendatangi Dista yang sedang membersihkan ruang karyawan. Dengan melipatkan tangannya, memperhatikan adiknya Emil itu.
"Nona Miley!"
"Kakak kamu sudah menemani perusahaan ini lebih dari tiga tahun. Jadi, saya harap jangan membuat dirinya malu atas sikap dan tingkahmu yang suatu saat dapat merugikannya," kata Miley.
"Saya tidak mengerti dengan perkataan Nona."
"Baiklah, saya akan jelaskan sebelum para karyawan lainnya tahu," ujar Miley.
"Sepertinya kamu berusaha untuk menggoda Bos Besar Ardan," tukas Miley.
Dista tersenyum, "Saya tidak mungkin berani menggoda Bos Besar, Nona."
"Beberapa kali saya dan Tody memergoki kamu berusaha mencari cara agar dapat mendekati Bos Besar Ardan. Kamu tahu akibatnya 'kan jika kabar ini sampai di telinga Nona Amy," ucap Miley.
"Memangnya apa yang akan dilakukan Nona Amy?" tanya Dista.
"Rumah yang keluarga kamu miliki akan kami ratakan dengan tanah!" jawab Miley.
"Dan satu hal lagi, rumah itu telah kalian gadaikan. Kami siap membelinya dari lintah darat dengan harga mahal. Lalu kalian tidak punya tempat tinggal lagi," lanjutnya.
Dista menelan salivanya.
"Jadi berpikirlah ulang untuk menyentuh Keluarga Ardan Grahadi Janson!" Miley mengingatkan, kemudian berlalu meninggalkan Dista yang masih bergeming.
"Apa yang dikatakan dia benar atau hanya menggertak saja?" batin Dista.
Sore harinya sepulang kerja, Dista memberitahu kakaknya bahwa Miley datang menemuinya dan mengancam akan mengambil rumah jika berani mengusik ketenangan Bos Besar.
"Sepertinya kita harus menggagalkan rencana ini, Kak." Kata Dista.
"Nanggung, Dis."
"Nona Miley sangat galak, Kak. Aku takut ancaman dia benar adanya," ucap Dista.
"Apa Kakak harus mendekatinya agar kamu mudah menjalankan misi kita?" Emil memberikan usulan.
"Memangnya Kakak berani menghadapi wanita gila itu?"
Emil diam dan berpikir.
"Aku yakin pasti akan kesulitan menaklukkannya, seluruh karyawan di kantor itu saja tak berani," ucap Dista.
"Kita belum coba, Dis. Nona Miley selalu menemani Nona Amy, jadi harus dia yang di dekati," kata Emil.
"Ya sudah, Kakak coba saja," ujar Dista.
Adik dan kakak itu akhirnya tiba di rumah dengan perjalanan hampir 1 jam karena sangat macet makanya sedikit terlambat.
Tak lama mereka sampai, Gama pulang dengan wajah sumringah. Memeluk ibunya dan berkata, "Aku di terima di restoran itu, Ma."
"Halah, kerja di restoran saja bangga. Gaji kecil dan harus bersih-bersih meja orang," Emil berkata merendahkan.
"Iya, tuh. Begitu saja senang kali," sahut Dista.
"Memangnya Kak Dista kerja sebagai apa di kantor?" tanya Gama, melepaskan pelukannya.
"Walaupun hanya pekerja bersih-bersih di kantor tapi gajinya besar," jawab Dista.
"Apa yang besar? Gajimu saja di potong hampir sembilan puluh persen," celetuk Sari.
__ADS_1
"Itu karena saran dari Kak Emil, Ma." Kata Dista.
"Kenapa aku yang disalahkan?" Emil tak terima.
"Coba saja Kakak tidak menyarankan menggoda Bos Besar pasti gajiku tidak potong," jawab Dista.
"Tapi, kamu dan Mama setuju saja 'kan dengan usul Kakak," ucap Emil.
"Iya, 'sih," Dista tersenyum nyengir.
"Mama pikir gaji kamu tidak dipotong," timpal Sari.
"Apapun pekerjaan aku sekarang yang penting tidak merugikan orang lain dan jelas asal usul penghasilannya," kata Gama.
"Kamu belum bekerja, siapa tahu nasibmu seperti aku," ucap Dista.
"Semoga saja tidak," ujar Gama penuh yakin.
***
Esok harinya, Emil datang lebih lama dari adiknya yang harus tiba di kantor awal. Emil mempercepat langkahnya ketika melihat Miley yang baru saja keluar dari mobilnya.
Emil menyapa wanita itu dengan senyuman terbaiknya, "Selamat pagi, Nona!"
Dahi Miley berkerut melihat sikap aneh yang ditunjukkan mantan suami atasannya itu.
"Nona Miley, apa anda ingin minum sesuatu biar saya antar ke ruangan?" Emil menawarkan diri.
"Tidak perlu, sudah ada yang bertanggung jawab mengantarkan minuman ke ruangan saya," jawab Miley.
"Nona..."
Miley melewati Emil yang ingin mengajaknya berbicara lagi.
Emil membalikkan badannya mengejar langkah asisten atasannya.
"Nona, kenapa jalannya terburu-buru?"
"Kamu mau di pecat atau di potong gajinya?" Miley bertanya seraya berjalan tanpa menoleh.
"Tidak dengan keduanya, Nona."
"Kamu harus menentukan pilihan sebelum menggodaku," ucap Miley menekan tombol lift.
"Bisa tidak kalau Nona tak memberikan pilihan," ujar Emil.
Miley bergegas masuk ke lift membiarkan Emil mengoceh.
Pintu lift tertutup, Emil dengan cepat menaiki tangga agar terkejar langkah Miley.
Begitu tiba di lantai tujuan, Miley telah masuk ke ruangannya. Alhasil, rencana Emil mendekatinya gagal untuk hari ini.
Emil sengaja membawa secangkir kopi yang biasanya menjadi pesanan sang target ke ruangan kerjanya.
Miley tampak terkejut dengan perbuatan yang dilakukan Emil.
"Silahkan, Nona!"
"Saya tidak mau meminumnya," tolak Miley.
"Ini saya buat spesial buat Nona," ucap Emil.
"Bisakah kamu keluar dari ruangan saya sekarang juga?" pintanya dengan nada dingin.
__ADS_1
"Nona saya hanya ingin..."
"Silahkan keluar!"
"Tapi, Nona.."
"Satu..!"
"Nona saya cuma mau kita dekat dan akrab," kata Emil percaya diri.
"Dua..!"
"Nona jangan galak-galak nanti..."
"Tiga..!"
"Baiklah, Nona. Saya akan pergi tapi tolong diminum kopinya," ucap Emil.
"Bawa kopi buatan kamu ini!" titahnya.
"Nona.."
"Cepat!" bentaknya.
Emil membawa kopi buatannya kembali dan bergegas menuju ruangan kerjanya.
"Kamu bukan pria idaman aku, pria pengecut!" gumamnya.
Miley dan Tody mengetahui semua fakta tentang keluarga Emil yang dulu selalu menyiksa Amy.
Miley sangat membenci namanya kekerasan dalam rumah tangga, apalagi dirinya pernah melihat sang ibu selalu mendapatkan siksaan dari ayahnya semasa hidup.
Sekarang hidup ibunya membaik pasca ayahnya pergi selama-lamanya dari dunia ini.
Makanya, ketika mendengar kisahnya Amy dirinya berniat membantu wanita itu membalas rasa sakit hatinya.
Emil kembali ke ruang kerjanya.
"Dari mana saja?" tanya Dion.
"Ke ruangan Nona Miley," jawab Emil.
"Mau apa kamu ke sana?" tanya Dion lagi.
"Mendekatinya, siapa tahu dapat menjadi kekasihnya," jawabnya.
Seketika Widya yang mendengarnya tertawa.
Emil mengarahkan pandangannya kepada teman kerjanya itu.
"Hei, mikir dong kalau mau dekat dengan Nona Miley. Seleranya bukan kamu!" cetus Widya.
"Namanya juga usaha," kata Emil.
"Gilanya, dekat dengan Nona Miley sama saja mencari mati," ucap Dion.
"Aku merasa tertantang saja jika dekat dengannya," ujar Emil.
"Kamu memang uji nyali dekat dengan Nona Miley kejamnya sama seperti Nona Amy," kata Widya.
"Aku suka saja dengan dia!" ucap Emil.
"Kamu suka dengan orang yang salah!" ujar Dion.
__ADS_1
"Biarin selama cincin emas belum melingkar di jemarinya dan kartu undangan tidak di sebar maka aku akan tetap mengejarnya sampai aku lelah," kata Emil.
Widya dan Dion berdecak seraya menggelengkan kepalanya, bukan hanya mereka berdua saja melakukan hal sama. Dua karyawan lainnya yang berada di ruangan kerja juga tak habis pikir dengan rencana gila Emil.