Membalas Mereka Yang Menyakitiku

Membalas Mereka Yang Menyakitiku
Bab 37 - Curhat Dengan Amy


__ADS_3

Libur bekerja Gama mendatangi kediaman Amy dan suaminya. Di sana dirinya mencurahkan isi hatinya mengenai permasalahannya dengan sang mama.


Amy dan suaminya mendengarnya semua ungkapan hati Gama yang telah dianggap seperti adik sendiri.


"Jadi kamu bukan anak kandungnya Papa Emil?" tanya Amy.


Gama mengiyakan.


"Pantas saja sifat Gama dan dua saudaranya sangat berbeda. Dia memiliki hati yang baik dan lembut. Emil dan Dista mempunyai hati busuk seperti kedua orang tuannya. Menuduh ayahku penyebab papanya di penjara, menanamkan doktrin jahat untuk membenci dan menyiksaku," Amy membatin.


"Aku tidak ingin tinggal bersama mama lagi, 'Kak."


"Lalu kamu akan tinggal di mana?" tanya Ardan.


"Aku akan mengontrak rumah. Mama sangat jahat, dia mengkhianati papa untuk menikah dengan ayahku. Akhirnya, mama juga meninggalkannya karena papa mengimingi harta lagi," jawab Gama.


"Lebih baik kamu tetap di rumah mama," ucap Amy.


"Tidak, Kak. Aku tak mau tinggal dengan wanita yang sangat egois," ujar Gama.


Amy dan Ardan saling pandang.


Setelah mencurahkan isi hatinya, Gama kemudian pulang ke rumah. Sesampainya di sana, Sari mendekatinya dan tersenyum.


Gama tak menghiraukannya, masuk ke kamar meletakkan tas dan sepatu di rak. Ia lalu ke dapur untuk mencuci piring. Tetapi peralatan makan yang kotor tidak ia temui di wastafel.


"Mama sudah mencucinya," ujar Sari.


Gama hanya diam kemudian melangkah ke kamarnya.


"Kamu sudah makan?"


"Sudah, Ma. Di rumah teman."


"Gama, maafkan Mama. Seminggu ini kamu terus menjauh," kata Sari dengan nada sedih.


"Aku belum siap menerima kenyataan ini, Ma. Dua puluh tahun Mama menutupi semuanya. Harusnya aku mendapatkan cinta dari ayah kandungku," ujar Gama.


Sari terdiam.


Gama kemudian masuk ke kamarnya.


Sari menghela napas.

__ADS_1


"Ma, Gama sebenarnya kenapa 'sih? Sepulangnya dari rumah sakit dia selalu diam dan pelit bicara," ujar Dista.


Sari lalu menarik tangan Dista duduk di ruang tamu.


Dista tampak bingung dengan sikap ibunya.


Sari menarik napas lalu menceritakan alasan Gama menjauhinya.


Dista tak menyangka jika Gama bukan anak kandung papanya.


"Maafkan Mama, Dis!"


"Pantas saja Gama kecewa," ucap Dista.


"Tolong bantu Mama bicara padanya," kata Sari.


Dista pun mau membantu ibunya.


-


Gama menikmati makan malam bersama Sari dan Dista namun tak ada pembicaraan diantara mereka.


Sari dan Dista saling pandang memperhatikan Gama yang sedang mengunyah.


"Aku hanya malas bicara saja," ucap Gama.


"Bukan hanya kamu saja yang kecewa tapi aku dan Kak Emil juga," kata Dista.


Mata Sari tampak berkaca-kaca.


"Jangan terus membuat Mama bersedih, Gam!" ucap Dista pelan.


"Jangan membahas hal itu lagi, Kak! Aku belum siap saja. Aku sudah memaafkan kesalahan Mama," ujar Gama.


Dista saling pandang dengan Sari dan melempar senyum.


Sementara di apartemennya Rima. Sepasang suami istri itu sedang menikmati makan malam bersama.


"Tanteku tadi bilang kalau Tante Niken sudah mengajukan gugatan cerainya. Dan aku baru tahu juga jika ibumu pernah menjadi perempuan yang menghancurkan kehidupan rumah tangga kakak kandungnya Tante Niken," singgung Rima.


Emil hanya diam, dia tak membantahnya karena memang kenyataannya.


"Apa yang dilakukan ibumu menurun pada putrinya. Semoga saja, kelak aku memiliki keturunan mereka tidak mengalami nasib buruk seperti keluargamu."

__ADS_1


"Kita baru sekali melakukan hubungan itu. Sampai sekarang juga belum hamil."


"Jikapun hamil, aku tidak ingin kamu menjadi ayahnya," ucap Rima.


"Sampai kapan kamu akan menjalankan rumah tangga seperti ini?" tanya Emil.


"Aku menunggu kamu melepaskanku," jawab Rima.


"Agar kamu dapat mengejar Tuan Ardan lagi?"


"Tidak."


"Kamu 'kan sangat tergila-gila padanya," celetuk Emil.


"Tapi dari beberapa masalah yang keluarga kamu dapatkan. Aku banyak belajar, jika harus menjadi wanita baik dan benar," kata Rima.


Di lain tempat, Amy sedang bercengkrama dengan suami dan mertuanya.


Anita duduk di samping menantunya yang bergelayut manja di lengannya. "Mama dengar mereka mulai mendapatkan balasannya."


"Iya, Ma. Wanita itu juga dulunya adalah seorang pelakor," ucap Amy.


"Pantas saja putrinya begitu," ujar Anita.


"Lalu kapan kamu akan memberitahu mereka?"


"Lebih baik mereka tidak pernah tahu Amy sebenarnya, Ma." Ardan memotong pembicaraan 2 wanita yang disayanginya.


"Kenapa, Dan?" tanya Anita.


"Aku tidak mau mereka menjadikan Amy bahan gosip," jawab Ardan. "Amy lagi hamil tak ingin psikisnya terganggu karena mendengar hinaan, cacian dan umpatan mereka," lanjutnya.


Anita mencerna ucapan putranya kemudian mengiyakannya.


"Aku sangat menyayangi Amy. Jika mereka menyinggung hati istriku ini, maka kutak segan menghancurkannya!" kata Ardan.


Amy melepaskan tangannya dari lengan mertuanya kemudian duduk tegak dan menoleh ke arah suaminya tepat di sebelah kirinya. Amy lalu memeluknya, "Suamiku, aku juga menyayangi kamu. Jangan melakukan apapun untuk membalas mereka karena kutak ingin kehilanganmu apalagi tanganmu harus menyentuhnya."


Ardan mengecup kening istrinya. "Makanya, dengarkan ucapan aku!"


Amy menunjukkan wajah manjanya dan mengangguk pelan.


"Mama setuju dengan ucapan istrimu. Mereka sekarang jatuh miskin saja sudah membuat Mama senang. Itu agar mereka cepat sadar dan tak terlalu sombong," kata Anita.

__ADS_1


__ADS_2