
Alya terbangun ketika dirinya berada di rumah sakit. Seorang pria muda tampan dan gagah melempar senyum kepadanya.
Dengan lembut sosok pria bernama Ardan menanyakan tentang dirinya. Alya tak sanggup hingga akhirnya menangis memohon agar tidak meninggalkannya.
Alya menceritakan semuanya apa yang terjadi pada dirinya sehingga wajah dan tubuhnya babak belur.
Karena iba dan kasihan, Ardan membawa Alya ke apartemen. Di sana dirinya bekerja tanpa imbalan selama sang pemilik tempat memberikan dia makan dan berteduh.
Kedekatan keduanya semakin hari semakin dalam, walaupun Ardan menempuh pendidikan di luar negeri. Dia selalu mengirimkan kabar, komunikasi mereka tak terputus karena Anita memberikan ponsel kepadanya.
Di tempat tinggal baru, Alya menemukan kebahagiaannya setelah 17 tahun tak didapatkannya.
Anita sangat menyayanginya sehingga memberikan bekal pendidikan, bela diri serta merawat diri. Ia lalu menyuruh dan mengganti nama Alya menjadi Amy, seluruh orang yang mengenalnya harus memanggil dengan nama tersebut.
Alya tumbuh menjadi sosok wanita kuat, cantik dan pintar.
Ardan yang diam-diam menyukai Alya akhirnya memberanikan diri melamar dan menikahinya. Apalagi sang mama merestuinya.
"Sayang, ayo cepat. Mama sudah menunggu kita!" panggil Ardan dari balik pintu.
"Sebentar, sayang!" teriak Alya dari kamar.
Tak berselang lama, pintu kamar terbuka. Alya tersenyum kepada suaminya.
"Kamu hari ini sudah siap 'kan latihan berkuda?"
"Sudah, sayang."
"Ayo kita gerak sekarang!"
Alya mengangguk.
Di tempat latihan, Anita memeluk menantunya dan mengecup keningnya. "Sudah siap, Amy?"
Alya tersenyum mengiyakan.
Ditemani suaminya, Alya mulai berlatih berkuda. Kehidupan dirinya bagai seorang putri bangsawan.
Perceraian dirinya dengan Emil telah selesai. Tanpa bertemu sang mantan, semuanya berjalan tanpa hambatan.
Hampir 8 tahun, Alya menjadi bagian dari keluarga besar Ardan Grahadi. Kemewahan dan kasih sayang tercurah padanya.
Tepatnya 3 tahun lalu, Ardan mengatakan jika mantan suaminya Alya bekerja di perusahaan keluarganya.
Dendam Alya pun muncul mengepalkan tangannya dan wajahnya memerah.
"Kamu ingin aku melakukannya?"
"Tidak, Dan. Biarkan aku saja yang membalas mereka!"
"Aku tidak ingin kamu terluka," kata Ardan.
Alya tampak terkejut dengan perkataan pria yang menolongnya itu.
"Alya, aku tidak mau mereka menyakiti perasaanmu," ujar Ardan.
"Terima kasih, sudah perhatian denganku. Tapi, aku ingin sekali membalas mereka," ucap Alya.
"Baiklah, kamu boleh melakukannya beberapa tahun lagi," kata Ardan.
Alya mengiyakan.
__ADS_1
"Karena saat ini kamu harus banyak belajar agar tidak mudah ditindas," ucap Ardan.
"Iya, Dan. Terima kasih banyak sudah membuat aku seberani dan sekuat ini," ujar Alya.
"Sama-sama, Al. Sebenarnya aku menyukaimu," ungkap Ardan.
Lagi-lagi Alya terkejut dengan pernyataan cinta pemuda yang dikaguminya itu.
"Jika kamu bersedia, aku akan melamar sekaligus menikahimu," ucap Ardan.
"Tapi -"
"Aku tidak akan memaksa kamu memberi jawabannya hari ini," ujar Ardan.
"Aku masih trauma dengan pernikahan yang lalu."
"Maaf, Al. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaan ini sebelum kamu dimiliki orang lain," kata Ardan.
Alya tersenyum tipis, hatinya sangat bahagia ketika ada seorang pria yang mengatakan perasaannya. Apalagi Ardan adalah orangnya.
Anita datang menghampiri putranya dan Alya di balkon rumah. Dirinya sempat mendengar pernyataan cinta Ardan.
"Mama setuju kalian menikah," ucap Anita.
Ardan yang mendapatkan dukungan tersenyum bahagia.
"Mama juga setuju dengan perkataan Alya karena tak mudah menghilangkan rasa trauma," ujar Anita.
"Aku akan menunggu sampai Alya siap membuka hati dan menikah denganku, Ma."
Alya begitu terharu ketika Ardan mau menunggu dirinya. Keduanya pun saling berpelukan.
***
Rumah mewah dahulunya menjadi tempat penyiksaan Alya telah dijual untuk menutupi utang.
Dista awalnya bekerja di salah satu perusahaan ternama di ibukota terpaksa berhenti karena pengurangan karyawan.
Dista lalu lanjut bekerja di salah satu toko pakaian, tapi hanya bertahan 3 bulan karena alasan gaji kecil.
Keluarga Emil akhirnya pindah ke rumah yang tak terlalu besar. Barang-barang mewah terpaksa harus dijual juga satu persatu untuk biaya hidup.
Dista dan Sari biasanya menjadi nyonya besar harus melakukan pekerjaan yang jarang dikerjakan ketika di rumah mewah.
Alya yang mendengarnya hanya dapat tersenyum menyeringai. Perlahan orang-orang yang menyakitinya tumbang.
Alya tak lupa dengan adik iparnya yang selalu membantunya. Diam-diam dirinya juga mengikuti kegiatan pemuda itu.
Gama tak pernah tahu sosok Alya yang baru karena mereka belum pernah bertemu.
Hanya saja hadiah seperti sepatu sekolah, tas dan ponsel didapatkan dari wanita itu yang selalu memberikan nama pengirimnya meskipun tanpa alamat.
Alya beralasan belum siap menunjukkan dirinya kepada orang-orang yang menyayanginya.
Ketika hendak menikah, beberapa pria yang menjadi orang suruhan Ardan mengikuti Sam kemanapun berada.
Begitu tiba di salah satu toko makanan ternak ayam, seorang pria menghampiri Sam yang hendak meninggalkan tempat.
"Permisi Tuan!"
Sam menoleh dan berkata, "Iya, Tuan."
__ADS_1
"Apa anda kenal Alya Marissa?" tanyanya.
Sam sangat terkejut mendengar nama tersebut, sudah 9 tahun dirinya tak bertemu dengan keponakannya.
"Tuan Sam!"
"Darimana kalian tahu namaku dan keponakan aku?" tanya Sam terbata.
"Kami suruhan Nona Muda, jika tidak percaya silahkan berbicara melalui ini!" pria itu membuka ponselnya lalu menghubungi atasannya dengan panggilan video.
Sam begitu kaget, senang dan sedih, akhirnya dirinya dapat melihat wajah keponakannya.
"Apa kabar, Paman?" Alya melambaikan tangannya dari kejauhan.
"Paman baik, Nak." Mata Sam tampak berkaca-kaca.
"Aku ingin bertemu dengan Paman tapi tolong jangan beritahu bibi," kata Alya.
Sam mengiyakan.
"Sampai jumpa, Paman!" ucap Alya kemudian mematikan ponselnya.
"Apa anda sudah percaya?"
Sam mengangguk.
"Besok kami akan menjemput anda. Jangan sampai orang lain tahu akan hal ini dan tentunya tentang keberadaan Nona Alya. Kami pastikan anda dapat menjaga rahasia ini, kalau tidak nyawa anda jadi taruhannya," ancamnya.
"Kalian tidak melakukan kekerasan kepadanya, 'kan?" tanya Sam.
"Kami tidak berani menyakiti Nona Alya karena dia adalah seorang bos," jawabnya.
Sam hanya mengiyakan perkataan pria tidak dikenalnya itu.
***
Keesokan harinya, Sam di jemput 2 orang menggunakan sebuah mobil mewah di ujung jalan tempat tinggalnya.
Sam beralasan ingin ke rumah temannya menanyakan pekerjaan makanya tak membawa motor.
Sesampainya di restoran, Sam melangkah memasuki tempat itu dengan perasaan takut dan cemas.
Alya berdiri di dampingi seorang pemuda tampan.
Alya melempar senyumnya dengan cepat menghampiri Sam dan menyalim tangannya. Air matanya tumpah begitu juga dengan Sam.
"Dua tahun lalu Paman mendatangi rumah mantan mertuamu tapi mereka sudah pindah dan kata para tetangga di sana bilang kalau kamu telah berpisah," ucap Sam.
Alya menjelaskan jika selama ini dirinya mengalami penyiksaan dari keluarga mantan suaminya.
Sam tak menyangka kalau keponakannya itu menderita ia lalu meminta maaf.
"Itu semua bukan salah Paman, mereka saja yang sangat kejam pada diriku."
Sam manggut-manggut.
"Aku mengajak Paman bertemu agar mau menikahkan aku dengan Ardan," Alya menatap pria di sebelahnya.
Sam dengan semangat mengiyakan.
Alya meminta agar pertemuan mereka tak diketahui oleh Lenny dan orang-orang yang mengenal dirinya.
__ADS_1
"Paman akan menjaga rahasia ini dan siap menikahkan kamu," kata Sam.