
Ardan memasuki lift khusus petinggi dan pejabat perusahaan bersama Miley dan Tody.
Tampak juga Rima ingin mengikuti langkah Ardan di tempat yang sama.
Dengan cepat Miley mencegah langkah wanita itu dan berkata, "Jika ingin menaiki lift tunggu sebentar. Biarkan terlebih dahulu Tuan Ardan ke ruangannya."
"Lantai ruang kerja saya terlebih dahulu sampai," ujar Rima tak mau kalah.
"Kamu tidak akan terlambat jika hanya menunggu lima menit!" seru Miley kemudian melangkah memasuki lift.
Rima berdecak kesal.
Emil dari tadi memperhatikan perdebatan keduanya. Lalu menghampiri Rima yang berdiri di depan lift. Sejak dirinya bekerja di perusahaan Amy, ia tak telah menyukai wanita itu.
"Selamat pagi, Nona Rima!" sapa Emil ramah.
Rima menoleh dan menjawab sapaan dengan ketus, "Pagi juga!"
"Saya lihat anda memiliki masalah dengan asisten Nona Amy," tukas Emil.
"Itu bukan masalah besar, kamu salah melihat saja," kata Rima.
Emil manggut-manggut.
Pintu lift terbuka, Rima bergegas masuk namun tidak dengan Emil karena dirinya hanya staf rendahan makanya menggunakan tangga.
Lift khusus staf dengan gaji tinggi, jika dibandingkan dengan Emil yang jabatannya rendah tak diperbolehkan memakainya.
Padahal beberapa staf setara dengan pekerjaannya menggunakan lift. Emil merasakan jika dirinya mendapatkan perlakuan berbeda.
Sejam berlalu, Ardan mengunjungi ruang kerja para karyawannya sekedar menyapa mereka. Tentunya di dampingi oleh kedua asisten pribadi istrinya.
Emil mengambil ponselnya lalu memotret Ardan secara diam-diam dari meja kerjanya ketika sang pemilik perusahaan mendekati dan mengajak rekan kerjanya tepat beberapa jarak darinya.
Dengan cepat tangan Tody merampas ponsel Emil dan melemparnya ke lantai. Membuat penghuni ruangan itu menoleh karena kaget.
Emil terperanjat karena aksi yang dilakukan Tody dan melihat ponselnya tergeletak di lantai tak berbentuk sempurna.
"Aku akan mengganti ponselmu!" kata Tody kepada Emil.
"Apa yang terjadi, Dy?" tanya Ardan.
"Dia berusaha mengambil gambar anda, Tuan." Jawab Tody.
Ardan lantas mengarahkan pandangannya kepada Emil yang menunduk karena takut.
Ardan lalu meninggalkan ruangan dengan cepat diikuti keduanya.
"Untung saja kamu tidak dipecat hari ini juga!" kata Widya.
"Buat apa sih' kamu ingin memotret Tuan Besar?" tanya Dion.
"A... aku..." Emil tak dapat melanjutkan ucapannya karena bingung menjawabnya.
"Memang cari masalah saja kamu!" kesal Dion.
"Jangan bilang kamu ingin mengambil foto Tuan Besar untuk dikonsumsi pribadi," tuding Widya.
"Aku masih pria normal!" kata Emil tegas.
"Lalu buat apa diam-diam mengambil fotonya?"
"Sudahlah, jangan tanya lagi!" Emil mengambil ponselnya yang sudah retak dan padam.
__ADS_1
Emil lalu pergi ke ruangan staf yang menangani gaji karyawan dan menunjukkan ponselnya.
Staf tersebut lalu menghubungi Tody, setelah itu ia kembali berbicara kepada Emil dan menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah.
"Kenapa hanya segini, Tuan? Ponsel saya harganya dua kali lipat dari uang ini," protes Emil.
"Itu harga sesuai ponsel bekas kamu. Kami tidak akan mengganti rugi seharga barang baru."
"Tidak bisa begitu, Tuan."
"Kamu mau ambil uang itu atau dilaporkan karena telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan kepada pimpinan perusahaan?" Staf tersebut memberikan penawaran.
Emil memilih mengambil uang itu kemudian berlalu.
Daripada dirinya dilaporkan hanya akan membuat sang mama bersedih, pekerjaannya juga terpaksa hilang.
Ketika jam makan siang, Dista cepat-cepat mendekati kakaknya yang hendak menuju kantin kantor.
"Kakak!"
Emil menoleh.
"Bagaimana dengan rencana kita? Apa Kakak berhasil mendapatkan fotonya?" cecar Dista.
Emil mendelikkan matanya lalu melihat ke kanan kirinya kemudian menyentuh bibir dengan jari telunjuk.
"Kenapa, Kak?"
"Jangan cerita itu di sini!" Emil menekankan kata-katanya namun pelan.
Dista mengangguk paham.
"Pergilah sana, jika kamu di sini mereka akan curiga!"
Emil menarik napas lalu kembali memperhatikan sekelilingnya berharap tak ada yang mendengarnya.
Sore harinya, Emil menunggu adiknya di mobil. Begitu wanita itu duduk dan menggunakan safety belt, Emil menyalakan mesin kemudian berlalu.
"Bagaimana dengan pertanyaan aku tadi siang, Kak?"
"Kakak gagal mengambilnya, sekarang ponselnya rusak. Terpaksa harus mengganti baru."
"Wih, banyak uang Kakak!" singgung Dista
"Itu karena diganti," ucap Emil.
"Wah enak dapat uang untuk menggantinya," kata Dista.
"Apanya yang enak, hanya diganti separuh harga. Ini semua karena asisten sialan itu!"
"Asisten Presdir yang merusak ponsel Kakak?" tanya Dista.
"Iya, Kakak ketahuan mengambil foto Tuan Besar," jawab Emil.
Dista menghembuskan napas kasar.
"Kita rubah cara lagi, bagaimana kamu dapat mengetahui wajahnya dan mendekatinya," ujar Emil.
Dista mengiyakan.
_
Di lain tempat di kediaman Ardan, Amy dengan manjanya berlari-lari kecil menghampiri suaminya yang baru saja pulang dari kantor.
__ADS_1
"Sayang, jangan lari-lari. Bagaimana kalau kamu jatuh?" Ardan mengingatkan istrinya ketika keduanya saling berpelukan.
Amy mengecup pipi suaminya dan menjawab, "Maaf, sayang. Aku begitu rindu denganmu!"
"Kita baru berpisah beberapa jam tapi kamu sudah rindu," kata Ardan.
"Mungkin karena aku di rumah dan tak melakukan apa-apa makanya merasa bosan selalu ingin bersamamu," ucap Amy.
"Sekarang aku sudah di rumah, kamu ingin apa?"
"Ingin mengobrol lalu lanjut menonton."
"Baiklah, aku mau mandi dulu."
Amy mengangguk mengiyakan.
Selesai mandi, Ardan yang duduk di sofa kamarnya tepat di depan layar televisi membiarkan kepala istrinya di dadanya.
Ardan mengelus dan mengecup ujung kepala istrinya berulang kali.
"Apa tadi kamu bertemu dengannya?"
"Siapa?"
"Dia? Si wanita gatal yang tak tahu malu itu!"
Ardan tertawa kecil.
"Kenapa tadi siang kamu tidak pulang ke rumah?"
"Tadi sangat sibuk, ada jadwal rapat yang tak mungkin terkejar jika harus pulang lagi."
"Kenapa tidak menghubungi aku?"
"Bukankah Miley sudah menelepon kamu?" Ardan balik bertanya.
"Aku mau kamu yang menelepon aku," jawab Amy mendongakkan wajahnya.
Ardan dengan cepat mengecup bibir istrinya ketika menatap wajahnya.
"Aku minta maaf, sayang."
"Jangan lagi di ulangi!" Amy menurunkan wajahnya dan tangannya beralih ke arah dada suaminya.
"Sejak hamil, kamu lebih cemburuan dan sangat manja," kata Ardan.
"Kamu tak suka jika aku begini walaupun tidak hamil?" tanya Amy mengangkat kepalanya menjaga jarak dengan suaminya.
Ardan tersenyum lalu menarik tubuh istrinya dan kembali mendekapnya. "Aku sangat suka, sayang."
"Jangan pernah mengubah perasaan kamu kepadaku, ya!" mohon Amy dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang, kenapa menangis?"
"Aku tidak mau kamu mengkhianati pernikahan kita. Apalagi aku...."
Ardan menyentuh bibir istrinya dengan jari telunjuknya. "Jangan pernah membicarakan masa lalu kamu. Aku menerimamu yang sekarang."
Ardan tak suka jika istrinya selalu mengingat masa lalunya yang buruk. Amy hampir sering berkata kalau dirinya hanya seorang wanita miskin berstatus janda, datang dan mengiba kepada pemuda kaya.
Padahal Ardan sendiri yang membantunya dengan ikhlas dan Ardan juga pertama kali jatuh cinta pada istrinya tanpa ada paksaan.
Meskipun Amy telah menikah namun dirinya masih perawan karena pernikahan dahulu mantan suaminya tak sudi menyentuhnya apalagi mereka tak pernah satu kamar.
__ADS_1