
Gama dan Emil yang sedang berada di ruang tamu heran ketika melihat Sari pulang bersama dengan Dista membawa koper.
"Ma, apa yang terjadi?" tanya Emil.
"Sementara Dista tinggal di sini bersama kita," jawab Sari dengan wajah kesal.
"Loh, kenapa?" tanya Gama.
"Ceritanya panjang," jawab Sari lagi.
Wanita paruh baya itu lalu menyuruh putrinya untuk masuk ke kamar dan beristirahat.
Dista melangkah ke kamar ibunya. Karena memang dahulu dirinya tidur bersama Sari.
"Kenapa Dista ikut Mama? Apa dia bertengkar dengan suaminya?" tanya Emil.
"Bukan. Tapi dilabrak madunya," jawab Sari.
"Apa 'kan aku bilang? Pasti ini akan terjadi!" cetus Gama.
"Mama sih' bukan melarangnya malah menikmati hasilnya," ujar Emil menyalahkan.
"Lalu sekarang di mana suaminya?" tanya Gama.
"Dia tidur di rumah temannya," jawab Sari lagi.
"Bukannya membawa Kak Dista bersamanya, malah ditinggal begini!" Gama menggerutu.
"Kenapa Dista tak ikut suaminya, Ma?" tanya Emil.
"Mau tinggal dimana dia? Suaminya saja tidak memiliki apa-apa lagi alias sudah jatuh miskin!" ucap Sari.
"Astaga, kenapa malang begitu nasib Kak Dista?" tanya Gama lirihnya.
"Dista lagi hamil, jadi jangan menyinggung atau bertanya mengenai suaminya kepadanya. Jika dalam sebulan dia tak menjemputnya, maka akan menyuruh Dista mengajukan gugatan," ujar Sari.
"Tidak bisa mengajukan gugatan dalam keadaan hamil, Ma." Kata Emil.
"Kalau begitu setelah anak itu lahir. Mama tak mau punya menantu miskin," ucap Sari lagi.
Sementara di tempat lain, Amy yang duduk di kursi santainya menghadap hamparan rumput hijau tersenyum ketika melihat ponselnya. Dirinya mendapatkan laporan dari anak buahnya jika Dista mendapatkan kejutan.
"Kenapa senyum-senyum sendiri, sayang?" Ardan menghampiri istrinya dan mengecup keningnya.
"Ada pertunjukan mengharukan hari ini, sayang." Jawab Amy.
"Apa yang telah kamu lakukan hari ini?"
"Tak sia-sia aku menugaskan mereka untuk menghancurkan kebahagiaan dia."
Delapan hari lalu, Amy menyuruh anak buahnya untuk mengikuti Dista dan suaminya. Tak lupa mereka memotret setiap aktivitas yang dilakukan sepasang suami istri baru itu.
Amy kemudian memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu siapa suaminya Dista. Tak sampai lama, dirinya mendapatkan informasinya.
Lalu Amy meminta anak buahnya mengirimkan foto-foto tersebut serta alamat tempat tinggal Dista dan suaminya ke rumah miliknya Niken.
Dan cara ini ternyata ampuh, Niken datang ke apartemen lalu melabrak Dista dan melempar wanita itu kembali ke asalnya.
"Apa yang akan kamu lakukan lagi, sayang?"
"Kamu tunggu saja, sayang."
"Jangan terlalu lelah, sayang." Nasehat Ardan mengelus rambut istrinya.
"Iya, sayang. Aku tidak bekerja sendiri tapi ada anak buah kamu," ucap Amy.
-
__ADS_1
Emil pulang ke apartemen milik istrinya.
"Dari mana saja kamu? Kenapa baru pulang? Apa kamu sudah bosan tinggal di sini? Atau kamu terpesona dengan wanita lain?" cecar Rima.
"Apa kamu tidak bisa membiarkan aku sedikit bernapas?"
"Apa kamu memiliki masalah lagi?" tanya Rima menyelidik.
"Bukan masalah aku tapi Dista," jawab Emil.
"Kenapa dengan adikmu itu?"
"Dia diusir dari apartemennya."
Rima yang mendengarnya pun tertawa.
Emil menatap istrinya begitu bahagia dengan penderitaan adiknya.
"Akhirnya adikmu mendapatkan balasannya," ucap Rima.
"Pusing aku dibuatnya," ujar Emil.
"Adikmu sendiri yang mencari masalah. Sudah tahu suami orang tapi tetap saja dikejar," kata Rima.
Emil kemudian menatap lama istrinya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Rima heran ditatap suaminya.
"Apa kamu yang mengadukannya kepada tantemu?" tuding Emil.
Rima tertawa kecil lalu ia menjawab, "Kamu pikir aku tidak memiliki pekerjaan. Untuk apa repot-repot mengadukannya kepada tante. Toh, pada akhirnya adikmu sendiri sudah mendapatkannya walaupun aku tak bergerak."
"Lalu kenapa istri pertamanya tahu kalau Dista tinggal di sana dan sudah menikah?"
"Aku tidak tahu. Bisa saja, Tante Niken menyuruh mata-mata untuk mengawasi mereka," tebak Rima.
"Lebih baik Dista dan suaminya itu segera berpisah," ujar Rima.
"Tidak bisa."
"Kenapa?"
"Dista lagi hamil."
"Astaga, kenapa harus hamil sih'? Sudah tahu dinikahi siri tapi malah mengandung, ujungnya ntar repot sendiri."
"Setelah melahirkan, Dista mau suaminya itu menjatuhkan talak," kata Emil.
"Lalu bagaimana dengan anak dalam kandungannya?"
Emil terdiam.
"Makanya kalau mau menikah pikir-pikir dulu. Anak itu butuh surat-surat pengakuan negara, pernikahan orang tuanya saja tak jelas," ujar Rima.
"Lalu apa yang harus dilakukan Dista?"
"Entahlah, aku pun tak tahu."
***
Gama menghentikan laju kendaraannya karena merasa diikuti oleh seseorang. Dirinya menoleh ke belakang, hanya ada sebuah mobil hitam yang terus melaju melewatinya.
Gama kembali melanjutkan perjalanannya sampai ke rumah. Ketika hendak memasukkan motornya, Sari keluar dengan pakaian rapi dan menjinjing tas.
"Mau kemana, Ma?"
"Ke rumah teman."
__ADS_1
"Ya sudah, hati-hati," ucap Gama.
"Jaga kakakmu, kalau dia terbangun berikan dia makan," ujar Sari.
"Iya, Ma."
Sari kemudian berlalu menggunakan motornya.
Sari tidak ke rumah temannya melainkan menemui suaminya Dista.
Begitu sampai, Sari mengingatkan pria itu untuk segera meninggalkan putrinya.
"Aku tidak bisa meninggalkan Dista, Ma!"
"Pria tua sepertimu itu mau kerja apa? Bagaimana memberikan anakku makan, hah?"
Suami Dista terdiam.
"Jangan menemui Dista lagi, kalau perlu sekarang jatuhkan talak!"
"Dia lagi hamil!"
"Ya, kalau begitu pergi menjauh dari kehidupan putriku!"
Sari kemudian pergi meninggalkan rumah kecil yang ditempati menantunya itu.
"Aku berharap anak yang ada didalam kandungan Dista mati. Sungguh merepotkan jika harus lahir ke dunia," gumamnya.
Sari mengendarai motornya menuju sebuah kafe, tentunya dirinya ingin meminjam uang kepada mantan pacarnya.
"Kamu datang padaku jika membutuhkan sesuatu," ucap pria tua berusia 60 tahun.
"Tidak ada tempat lain selain padamu, " ujar Sari.
"Aku akan memberikanmu uang, tapi menikahlah denganku," katanya.
"Aku tidak mungkin menikah lagi," tolak Sari.
"Aku masih mencintaimu, Sari."
"Hubungan kita telah berakhir tiga puluh tahun lalu," ujar Sari.
"Papanya Emil telah meninggal dan kamu juga ditinggal Romi. Tak ada lagi penghalang kita. Aku dan istriku juga sudah bercerai," katanya lagi.
"Maaf, aku tidak dapat menikah denganmu. Aku sudah berjanji pada anak-anak menjaga dan merawat mereka."
"Anak-anakmu sudah dewasa. Menikahlah denganku!"
Sari kemudian berdiri dan berkata, "Jika kamu tidak ingin memberikan uang kepadaku. Jangan memberi syarat!"
Sari kemudian pergi dari tempat itu.
Di tengah perjalanan menuju rumah, motor Sari di halangi sebuah mobil hitam. Sontak, dirinya mengerem mendadak.
Sari berdecak kesal.
Seorang pria paruh baya keluar dari mobil dan melemparkan senyumnya kepadanya. Jantung Sari berdegup kencang, keringat bercucuran, matanya membulat.
Pria yang selama ini dihindarinya kini ada dihadapannya. "Ka...kamu?"
"Apa kabar, Sari?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa Mampir Ke Karyaku Yang Lainnya,
- Marsha, Milik Bara
__ADS_1
- Marry The Star