Membalas Mereka Yang Menyakitiku

Membalas Mereka Yang Menyakitiku
Bab 27 - Emil Berdebat Kecil Dengan Rima


__ADS_3

Emil dan Rima kini sudah berada di apartemen, keduanya duduk saling berhadapan di meja makan.


"Kenapa kamu tidak memilih salah satu penawaran dari Nona Amy?"


"Buat apa?"


"Ini kesempatan baik untuk kita, Rima."


"Kamu yang diuntungkan, tetapi aku tidak!"


"Jika jabatan diriku lebih tinggi dari kamu, aku akan memberikan nafkah layak untukmu."


"Ingat ya, Emil Sudrajat. Pernikahan kita ini bukan serius, aku tidak membutuhkan nafkah belanja darimu!"


"Tapi aku harus bertanggung jawab apalagi kamu adalah istri sah ku."


"Lupakan semua tentang pernikahan kita, jalani hidup seperti orang asing."


"Kenapa kamu begitu keras kepala, hah?"


"Oh, kamu senang aku ditertawakan mereka jika memilih salah satu?"


"Bukan begitu."


"Aku tetap tidak akan memilih penawaran mereka!" kata Rima tegas.


Emil menghela napas.


Rima mengundurkan kursinya kemudian pergi ke kamarnya.


Ditengah perdebatan pasangan pengantin baru, terdengar suara bunyi bel. Emil melangkah membukanya.


Tampak Sari telah berdiri dan tersenyum.


"Kenapa Mama kemari?"


"Mama rindu dengan kamu. Di rumah cuma sendirian, Dista pergi dengan temannya begitu juga Gama."


"Ma, ini apartemen milik Rima. Ku tak bisa sembarangan memasukkan orang," jelas Emil.


"Mama adalah mertuanya, tidak mungkin dia melarangnya," ujar Sari kemudian masuk.

__ADS_1


Rima keluar dari kamar dengan wajah cemberut, ia menatap sengit ibu mertuanya.


"Mama hanya menginap semalam di sini," ucap Emil sebelum istrinya bertanya.


"Hanya semalam 'kan?" tanya Rima.


"Iya," jawab Emil.


Rima kemudian kembali masuk ke kamar.


"Emil, Mama lapar. Kalian masak 'kan?" tanya Sari.


"Kita ke ruang makan, Ma!" ajaknya.


Ibu dan anak itu duduk berhadapan menikmati makanan seadanya di atas meja. Ada tahu balado dan tumis buncis bumbu kecap.


Tak berapa lama, bel kembali berbunyi. Rima keluar dari kamarnya dan lekas membuka pintu.


Sari dan Emil melihat Rima menerima paket makanan dari seorang kurir pria.


Setelah kantong makanan di genggamannya dan kurir berlalu, Rima bergegas masuk ke kamarnya.


"Sudahlah, Ma. Bersyukur kita dapat makan ini, tadi Rima lagi berdebat denganku makanya tak selera makan," ungkap Emil.


"Memangnya kalian berdebat mengenai apa?"


"Nona Amy menawarkan hadiah menarik tapi Rima menolaknya, alasannya harga dirinya jatuh jika harus menerima tawarannya."


Sari menanyakan hadiah yang ditawarkan, Emil pun menjelaskannya.


"Kenapa dia tidak ambil salah satunya? Jalan-jalan ke luar negeri sudah lama tidak kamu lakukan sejak berpisah dari Alya."


"Pernikahan kami ini terpaksa, Ma. Dia tak mau bulan madu bersamaku. Yang aku sesalkan, kenapa dirinya tak mau jabatan aku naik."


"Mungkin dia takut tersaingi," tebak Sari.


"Bukankah dia juga senang? Aku punya uang banyak dan dapat membahagiakannya."


"Kamu harus membahagiakan Mama juga!"


"Iya, Ma."

__ADS_1


"Istri kamu itu memang bodoh!"


***


Esok paginya sebelum berangkat ke kantor, Rima menyediakan 3 potong roti selai isi coklat dan 3 cangkir teh di meja.


Sari melihat menu sarapan tampak sederhana lalu melirik putranya.


"Kalau Mama mau makan yang enak, minta uang dengan Emil," cetus Rima.


"Ini cukup lumayan juga mengganjal perut," celetuk Sari gegas menyeruput teh.


"Mama jadi pulang pagi ini 'kan?" tanya Rima.


"Iya," jawab Sari.


Rima manggut-manggut.


"Mama boleh minta ongkos naik taksi," pinta Sari.


"Jangan naik taksi, naik bus saja lebih hemat!" ucap Rima.


"Aku tidak punya uang untuk ongkos taksi Mama," ujar Emil.


"Kalau begitu nanti sore saja Mama pulang, biar diantar Emil," kata Sari.


"Tidak bisa, Mama harus pulang pagi ini. Minta jemput Gama!" ucap Rima.


"Apa salahnya kalau Mama pulang sore, Rim?" tanya Emil.


"Aku tidak suka ada orang lain di sini!" jawab Rima.


"Makanya, beri Mama uang!" ucap Sari membuka telapak tangan kanannya.


Rima lalu mengeluarkan isi di dompetnya dan meletakkan 1 lembar uang berwarna hijau di telapak tangan mertuanya.


"Ini tidak cukup untuk ongkos, Rima!" protes Sari.


"Cukup kalau Mama naik bus atau angkot!" ucap Rima ketus.


Sari hanya dapat mendengus, menantunya begitu pelit.

__ADS_1


__ADS_2