Membalas Mereka Yang Menyakitiku

Membalas Mereka Yang Menyakitiku
Bab 19 - Amy Mirip Alya


__ADS_3

Seminggu ini Amy kembali aktif bekerja di kantor dan selama itu juga Dista semakin penasaran dengan sosok istri atasannya itu.


Berulang kali memohon agar dirinya dapat bertemu dengan Amy namun tak dihiraukan Atin dan Miley.


Amy ingin berjalan-jalan melihat bagian produksi frozen food salah satu anak perusahaan milik keluarga suaminya dan Ardan lantas menemaninya.


Menggenggam jemari tangannya tak lupa menggunakan masker, keduanya di temani Miley dan Tody berjalan mengelilingi pabrik.


Sejam mengobrol dengan pengawas mereka kembali ke ruangan kerjanya. Dista melihat dari kejauhan sepasang suami istri itu berusaha mendekat namun Miley dengan cepat memberikan kode kepada suami istri itu.


Ardan paham dengan gerakan tubuh Miley yang berjalan di depannya, memindahkan posisi dirinya lalu merangkul istrinya. Beruntung Amy belum membuka maskernya.


Dista berjinjit untuk dapat melihat Amy tetapi wajahnya terhalang tubuh Ardan yang gagah dan tinggi.


"Hei, ngapain kamu di sini?" bentak Atin.


Dista membalikkan badannya.


"Kerjakan tugasmu!"


"Iya, Kak." Dista menunjukkan wajah kesal.


"Cepat, jangan diam saja!" ucap Atin lagi dengan lantang.


Dista bergegas pergi melakukan pekerjaannya.


"Ada apa, sayang?" tanya Amy pelan.


"Ada mantan adik iparmu," jawab Ardan berbisik.


Amy mengintip dari balik dekapan suaminya ternyata Dista telah menghilang.


"Dia sudah pergi, Tuan, Nona," kata Tody.


Amy dan Ardan lalu memperbaiki jalan keduanya seperti biasanya.


"Potong gaji dia, Tody. Karena berusaha mencari tahu tentang aku," titah Amy.


"Baik, Nona." Kata Tody.


"Sayang, kenapa kamu harus memotong gajinya?" tanya Ardan.


"Biarkan saja mereka berdua bekerja di perusahaan ini tanpa digaji. Bukankah kita harus memanfaatkan mereka sebelum menjebloskannya ke tahanan," jawab Amy.


Ardan manggut-manggut setuju.


-


Gama sedang beristirahat setelah bergantian dengan karyawan resto lainnya. Lisha duduk di sebelah pemuda itu sembari tersenyum dan menawarkan kentang goreng.


"Tidak, Sha. Terima kasih," ucap Gama.


"Ini aku yang masak," kata Lisha.


"Aku tidak yakin dengan rasanya," ujar Gama.


"Walaupun pekerjaan aku hanya memegang uang setidaknya aku bisa memasak," ucap Lisha.


"Baiklah, aku coba cicip 'ya!" Gama mengambil sebiji kentang goreng lalu mengunyahnya.


"Bagaimana?"


"Berapa sendok kamu memberikan garam bubuk?"


"Rasanya sangat asin, ya?"

__ADS_1


"Coba saja sendiri."


Lisha akhirnya mencicipi kentang goreng buatannya lalu tersenyum nyengir.


Gama geleng-geleng kepala lalu melanjutkan makannya.


Sore harinya, setelah berganti shift dengan temannya. Gama dan karyawan lainnya yang mendapatkan jadwal kerja pagi bersiap pulang.


Gama berdiri di depan pagar restoran, Lisha yang mengendarai motor menawarkan tumpangan untuknya namun ditolak pemuda itu dengan sopan.


"Kamu menunggu seseorang, ya?" tanya Lisha.


Belum menjawab, terdengar bunyi klakson mobil dari belakang. Lisha lalu menoleh.


"Aku duluan, Sha. Sampai jumpa besok!" Gama melambaikan tangannya kepada teman kerjanya.


Lisha hanya tersenyum singkat sembari menggerakkan dagunya pelan.


Gama memasuki mobil tersebut.


Mobil perlahan meninggalkan restoran, sementara Lisha masih belum beranjak menatap kendaraan yang ditumpangi oleh Gama.


"Sepertinya dia menyukaimu?" tanya seorang gadis berusia 20 tahun seraya menyetir.


Gama tertawa kecil.


"Dia sangat cantik."


"Tapi, kamu lebih cantik."


"Jelaslah aku lebih cantik dari dia. Nesha Attala tak ada yang mampu menandingi apalagi saingannya karyawan restoran seperti dia."


"Kekasihmu juga seorang karyawan restoran," ucap Gama.


"Tapi, kamu keturunan orang kaya raya kebetulan saja sedang ditimpa musibah makanya harus putus kuliah dan terpaksa bekerja."


"Wah, kamu tahu banyak tentangnya," singgung Nesha."


"Tiap hari kami bertemu pastinya tahu semua. Bukan hanya dia saja tapi seluruhnya."


"Aku tidak suka kamu terlalu dekat-dekat dengannya."


"Aku dan dia hanya sekedar teman, kamu tidak perlu cemburu berlebihan."


"Kamu harus jaga jarak dengannya."


"Iya, demi menjaga perasaan kamu. Aku akan menjaga jarak dengannya."


"Aku senang mendengarnya," ucap Nesha tersenyum.


Gama tiba di rumah dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada kekasihnya itu.


Mobil Nesha kemudian berlalu.


Gama memasuki rumah tak lupa menyalim tangan ibunya.


Dista dan Galih duduk dengan wajah sedih sembari melamun.


"Kak Dista, Kak Emil, kenapa dengan kalian?" tanya Gama.


"Gaji mereka bulan ini di potong lagi," sahut Sari menjawabnya.


"Kenapa di potong? Kesalahan apa yang kalian buat?" tanya Gama.


"Aku dituduh menggoda Bos Besar dan berusaha melihat wajah Nona Amy dari dekat," jawab Dista.

__ADS_1


"Kalau Kak Emil?" tanya Gama lagi.


"Di potong karena menggoda asisten Nona Amy," lagi-lagi Dista menjawabnya.


"Kenapa alasannya tidak masuk akal begitu?" tanya Gama penasaran.


"Mama saja bingung, padahal Kakak kamu tak sampai menyentuh tubuh asisten itu. Tapi, sudah main potong saja," ungkap Sari kesal.


"Makanya kalau kerja yang baik-baik saja," celetuk Gama.


"Kami bekerja seperti biasa. Datang tepat waktu, melakukan semuanya dengan baik dan benar. Kenapa harus tiap bulan mendapatkan potongan? Memang benar-benar aneh 'kan?" ujar Dista.


Sari juga tampak berpikir.


"Kenapa Nona Amy tak suka Kak Dista melihatnya?" tanya Gama yang masih penasaran.


"Aku juga tidak tahu, padahal dari awal bekerja di sana belum pernah bertemu dengannya. Jika punya kesempatan, kepala kebersihan akan menyuruhku mengerjakan sesuatu," jelas Dista.


"Aku juga merasakan aneh sejak istri atasan masuk ke perusahaan. Wajah Nona Amy seperti tak asing di mataku," ungkap Emil.


"Apa Kak Emil pernah bertemu sebelumnya dengannya?" tanya Gama lagi.


"Tapi, dia mirip seseorang. Aku lupa pernah melihatnya di mana," jawab Emil.


"Mirip mantan kekasih Kak Emil mungkin namanya Sinta," tebak Dista.


"Tidak, bukan dia. Aku dan Sinta baru putus dua tahun lalu masih ingat dengan wajahnya," ucap Emil.


"Kak Tias?" tebak Gama.


"Kami baru putus setahun lalu," kata Emil.


"Agnes?" kali ini Sari ikut bicara.


"Agnes pacar Kak Emil yang ketahuan dengan mantan istrinya," sambung Dista.


Sari mengiyakan.


"Bukan dia juga," ucap Emil.


"Lalu siapa, Kak?" tanya Dista.


"Alya!"


Sari dan kedua anaknya yang lainnya saling pandang.


"Amy mirip sekali dengan Alya. Tapi, kulitnya ini lebih bersih dan bersinar. Lekuk wajahnya sangat persis begitu juga dengan hidungnya," ujar Emil.


"Tidak mungkin Nona Amy itu adalah Alya. Pasti Kak Emil salah lihat atau sedang memikirkan mantan istrinya itu," tuding Dista.


"Aku sama sekali tidak memikirkannya, tapi wajah Amy mirip sekali dengannya. Rambut Amy di potong pendek dan penampilannya sangat modis." Ungkap Emil.


"Aku juga pernah bertemu dengan tamu yang Kak Emil sebutkan ciri-cirinya. Wajahnya hampir mirip dengan Kak Alya," timpal Gama.


"Memangnya kamu ingat wajah Alya?" tanya Sari.


Gama menjawab, "Iya."


"Bukankah Kak Emil dan dia telah lama bercerai? Kenapa Gama mengingat wajahnya?" tanya Dista.


"Aku menyimpan fotonya," jawab Gama.


Emil, Dista dan Sari cukup terkejut mendengarnya.


"Kenapa kamu menyimpan fotonya?" tanya Sari.

__ADS_1


"Suatu hari nanti aku ingin mencarinya dan mengucapkan terima kasih," jawab Gama.


__ADS_2