
Miley bertanya sekali lagi, apakah perusahaan harus memberikan hak Dista.
"Jangan beri!" larang Amy dengan tersenyum.
"Kamu Alya, 'kan?" tanya Sari.
"Siapa Alya?" tanya Amy balik.
"Kamu mirip sekali dengan Alya!" ucap Sari.
"Saya tidak mengenal Alya. Usir wanita gila ini dari sini!" titah Amy.
Amy kemudian berlalu.
"Hei, aku kemari ingin meminta hak anakku!" teriak Sari dari balik tubuh para pengawal yang menghalangi jalannya.
"Jangan biarkan dia masuk ke gedung ini lagi!" perintah Miley.
"Baik, Nona!"
Sari di tarik paksa oleh 2 orang penjaga keamanan keluar gedung.
"Aku akan membalas kalian!" teriak Sari.
Emil yang mengetahui keributan, menghampiri ibunya di luar gedung.
"Kenapa Mama kemari?" tanya Emil pelan.
"Mama ingin meminta hak Dista, Mil."
"Mama mau aku juga di pecat karena ulah konyol begini?" omel Emil.
"Kamu tuh sebagai Kakak memang tidak ada gunanya. Melindungi adikmu saja tak mampu!"
"Ma, lawan kita ini berbeda. Mereka sangat kuat dan kaya raya."
"Mama tidak peduli, Mil. Mereka sudah menginjak harga diri keluarga kita," ucap Sari.
"Lupakan tentang harga diri, sekarang pikirkanlah isi perut. Bagaimana kalau aku tidak bekerja di sini?"
Sari pun terdiam.
"Suruh Dista bekerja di tempat lain, jangan pernah datang kemari lagi!"
Sari yang kesal kemudian berlalu.
Selepas Sari pergi, Emil melangkah memasuki ruang kerjanya.
Widya menyampaikan pesan Miley jika Emil telah kembali agar menyuruhnya ke ruangannya.
Emil melangkah ke ruangan Miley dengan perasaan gugup.
Miley sudah berdiri dengan bersedekap dada.
"Nona memanggil saya?"
"Ya."
"Ada apa, Nona?"
"Kenapa ibumu sampai ke kantor ini?"
"Saya tidak tahu, Nona."
"Bagaimana kamu bisa tidak tahu, hah?"
"Maafkan mama saya, Nona!" Emil menundukkan kepalanya.
"Dia hampir menyentuh Nona Amy, maka gaji kamu dipotong!"
"Kenapa harus dipotong, Nona?"
"Karena kamu harus menanggung kesalahan ibumu!"
Emil hanya dapat menghela napas pasrah.
_
Malam harinya, Emil meluapkan kekesalannya kepada ibunya.
"Gara-gara Mama ngamuk di kantor gajiku malah di potong," ucap Emil.
"Mama hanya ingin menuntut hak!"
__ADS_1
"Makanya Dista jangan membuat masalah!"
"Kamu tuh sayang atau tidak dengan adikmu, bukannya membela malah menyalahkan begini!"
"Ma..."
"Cukup!" sentak Gama.
"Apa kalian tidak bisa berhenti berdebat?" tanya Gama.
Emil dan Sari terdiam.
"Setiap hari ketika pulang bekerja pasti ada saja masalah yang dibawa. Aku capek mendengar kalian terus beradu mulut!" ucap Gama.
"Kak Dista yang jadi akar masalahnya saja tidak di rumah, tapi Kak Emil dan Mama terus menerus bersitegang. Kapan rumah ini damai, hah?" tanya Gama lagi.
"Ini semua karena Mama!" tuding Emil.
"Kamu menyalahkan Mama?" tanya Sari dengan nada tinggi.
Gama yang kesal memilih meninggalkan meja makan.
"Argh... lama-lama pecah kepalaku di rumah ini!" Emil pun turut menyusul Gama.
Selang beberapa menit, Emil keluar dari kamar dan telah berganti pakaian.
"Mau kemana kamu?" tanya Sari.
"Aku mau menenangkan pikiran," jawab Emil kemudian berlalu.
Emil mendatangi sebuah klub malam mencari hiburan, ia lalu memesan minuman yang kadar alkoholnya tak terlalu tinggi.
Di tengah lampu warna-warni dan suara musik yang membuat telinga sakit, mata Emil tertuju pada seorang wanita.
Emil mencoba mengamati tajam wanita yang telah mabuk.
Emil kemudian mendekat dan melihat Rima sudah setengah sadar.
"Nona Rima?"
Rima mengangkat kepalanya dan tersenyum.
"Tuan mengenalnya?" tanya bartender.
"Iya."
"Aku akan membawanya pulang," kata Emil.
Pemuda itu mengangguk mengiyakan.
Emil memapah tubuh Rima ke dalam mobilnya.
Emil memasangkan safety belt di tubuh Rima. "Nona, aku akan membawamu pulang."
"Jangan ke rumahku!"
"Jadi, aku harus bawa ke mana?"
"Cari ke hotel terdekat, aku sangat mengantuk cepat ke sana!"
"Baiklah, Nona."
Emil kemudian melajukan kendaraannya ke sebuah hotel dan memesan kamar. Emil lalu membantu Rima menuju kamarnya.
Begitu sampai, Rima yang benar-benar telah mabuk berat menarik tubuh Emil hingga jatuh di atasnya.
Emil menelan salivanya ketika matanya menatap belahan dada Rima yang begitu mulus.
"Aku butuh kehangatan, kamu harus menemaniku!" Rima tanpa membuka matanya mencium bibir dihadapannya.
Emil yang tak menolak lantas membalas serangan dari Rima.
Keduanya pun bergelut di atas ranjang hotel.
***
Pagi harinya, Rima membuka matanya. Tubuhnya terasa remuk dan berat. Mengerjapkan matanya lalu melihat sekelilingnya.
Dengan cepat dirinya bangkit dari tidurnya, Rima sadar jika ia tak berada di kamarnya.
Rima lalu melihat ke arah sampingnya, matanya membulat ketika tahu jika Emil tertidur dengan bertelanjang dada.
Rima melihat dari balik selimutnya, dirinya juga telah bugil.
__ADS_1
Rima pun menjerit lalu mendorong tubuh Emil hingga terjatuh dari ranjang.
Emil yang lagi enaknya tidur, terkejut ketika dirinya sudah jatuh ke lantai. Ia pun sempat memekik kesakitan.
"Kenapa kamu ada bersamaku?" tanya Rima dengan nada marah.
"Semalam Nona sangat mabuk berat."
"Kenapa membawaku kemari? Kamu sengaja, ya?"
"Nona sendiri yang memintanya."
"Jangan bohong!" sentaknya.
"Saya mau mengantarkan ke rumah tapi Nona meminta ke sini."
Rima mengacak rambutnya, "Lalu apa yang terjadi di antara kita?" tanyanya dengan air mata telah menetes.
"Saya akan bertanggung jawab, Nona."
"Apa? Kamu mau tanggung jawab?"
"Iya, saya akan menikahi Nona Rima."
"Aku tidak mau menikah denganmu!"
"Terserah Nona mau menikah dengan saya. Tapi jika hamil apa Nona mau menanggungnya sendiri?"
Rima mendengus kemudian berteriak kesal.
Beberapa jam lalu, Rima sangat terluka. Ardan pria pujaannya secara tegas menolak dirinya. Padahal mereka telah lama kenal. Ardan tetap memilih Amy sebagai istri satu-satunya.
Rima pun patah hati, akhirnya dia melampiaskan amarahnya dengan minum-minuman keras.
"Bagaimana, Nona?"
"Baiklah, aku mau menikah denganmu. Tapi jangan sampai hal ini diketahui orang-orang di kantor."
"Nona mau kita menutupi pernikahan kita?"
"Iya. Karena jabatan aku di perusahaan lebih tinggi."
"Baiklah, tapi Nona harus tinggal bersamaku."
"Aku tidak mau, kamu harus tinggal di apartemen milikku."
"Baiklah, aku setuju."
Emil kemudian pulang ke rumah, kebetulan hari libur jadi dirinya tak perlu bolos ke kantor.
Sari melihat Emil pulang dengan pakaian acak-acakan.
"Tidur di mana kamu semalam?" tanya Sari.
"Di hotel," jawabnya singkat.
"Wah, hebat gaji kecil saja tidur di hotel."
"Aku tidur karena ada perempuan yang bayarin."
"Maksudmu apa?"
"Aku ingin menikahinya, Ma."
"Apa menikah? Kamu tidak salah?" tanya Sari tak percaya.
"Aku serius, Ma."
"Memangnya siapa wanita yang telah kamu tiduri? Apa dia kaya?" Sari penasaran.
"Dia lebih kaya dari kita dan jabatan ada di atas aku, Ma."
"Dia bekerja satu kantor dengan kamu?"
"Iya, Ma."
...----------------...
Jangan Lupa Mampir ke Karyaku Yang Lainnya ...
- Pria Kejam Dan Gadis Jujur
- Cinta Asisten Dingin
__ADS_1
- Cinta si Gadis Sombong
- Dikejar Cinta Si Model Cantik