Memeluk Rindu

Memeluk Rindu
MR Bab. 10


__ADS_3

Memeluk Rindu


Bab. 10


“Kenalkan, ini Sara. Mulai hari ini Sara akan tinggal di rumah ini. Tolong layani dan perlakukan dia dengan baik. Dia ini adalah calon istrinya Arga.”


BYUR


Air minum yang baru saja memasuki mulut Arga itu pun menyembur tiba-tiba begitu mendengar omongan Oma Widya. Ia terkejut luar biasa.


“Apa? Ca-calon istri?” Dipandanginya heran Sara yang sedang duduk di samping Oma Widya. Tanpa sadar ia menelan ludahnya kelat.


Sara pun tak kalah terkejut. Bahkan mungkin syok mendengarnya, sampai ia terpaku dan tak berkedip sekali pun.


“Uhuk ... Uhuk ...” Arga sampai terbatuk ketika memindai Sara dari ujung kaki sampai ujung kepalanya.


Kampungan!


Kata itulah yang terlintas di kepalanya saat pertamakali menangkap kesan yang ada pada diri Sara. Seorang wanita yang menurutnya sangat jauh di bawah standar tipe idealnya itu bagaimana bisa menjadi calon istrinya nanti?


Oh, came on.


Apakah Oma Widya sedang bercanda? Ataukah ingin Oma Widya ingin memberinya pelajaran? Karena berulang kali ia menolak dijodohkan. Padahal gadis-gadis sebelumnya yang hendak dijodohkan dengannya cantik-cantik dan seksi. Lalu gadis yang satu ini?


Ya Tuhan.


Arga menelan ludahnya kelat. Diletakkannya gelas di tangan di atas meja.


“Uhuk ... Uhuk ...” Ia terbatuk-batuk kembali demi mengusir kejengkelan atas omongan Oma Widya yang asal sembur saja. Bagaimana bisa ia yang tampan paripurna sejagat raya ini dijodohkan dengan wanita kampungan seperti Sara ini. Bisa kabur nanti semua penggemarnya.


Tidak bisa!


Ini namanya pembunuhan karakter. Rupanya sang nenek ingin bermain-main dengannya.


“Tidak usah batuk-batuk seperti itu. Kamu sudah janji sama Oma kan, kalau kamu akan menuruti keinginan Oma. Dan inilah, keinginan Oma,” ujar Oma Widya.

__ADS_1


“Oooh ... Jadi ini ya calon istrinya Den Arga? Cantik. Cantiknya alami.” Ucapan Darmi yang memuji Sara itu serasa membuat perut Arga mulas saja.


Sara yang mendapat pujian itu pun salah tingkah, lalu  menundukkan wajahnya malu. Sedangkan Oma Widya tersenyum-senyum melirik Arga dengan ekor matanya.


Lain lagi dengan Arga. Pria itu mengusap wajahnya gusar. Ia tahu, ia tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Jika ia menolak, maka ia harus bersiap-siap untuk yang kedua kalinya kehilangan nenek tersayangnya itu.


Mungkin lain waktu saja ia membahas hal ini dengan Oma Widya. Sekarang, biarkan saja seperti ini adanya. Biarkan Oma Widya berekspektasi tinggi dengan impiannya itu. Setelah waktunya tepat, ia akan menghempaskan mimpi itu.


****


“Oma, kenapa Oma berkata seperti itu tadi?” Sara bertanya ketika Oma Widya datang berkunjung ke kamarnya setelah makan malam. Mereka tengah duduk di tepian tempat tidur.


Sara merasa tak enak hati, bahkan malu setelah Oma Widya memperkenalkannya sebagai calon istri Arga. Yang kemungkinan juga bila Arga tidak menyukainya. Sama seperti Danny. Dan lagi pula, ia tidak memiliki perasaan terhadap Arga.


Oma Widya menghela napas pelan, kemudian meraih jemari Sara ke dalam genggamannya. Ditatapnya penuh kasih gadis yang telah mencuri hatinya itu.


“Sara, terus terang saja, sejak pertama kali bertemu kamu, Oma sudah jatuh hati sama kamu. Hanya dengan melihatmu saja, Oma sangat yakin kalau kamu adalah gadis yang baik. Kamu itu adalah gadis yang selama ini Oma cari. Oma yakin, kamu adalah gadis yang pantas untuk cucu Oma.” Sembari mengulum senyuman lembut penuh kasih.


“Tapi, Oma. Bukannya aku menolak. Hanya saja aku ...” Sara menghela napas sejenak. Mana mungkin ia berterus terang kalau di hatinya ada pria lain. Dan sedikit pun tak ada perasaan untuk Arga. Ia hanya tak ingin melukai perasaan Oma Widya yang telah mengasihinya dan menganggapnya seperti cucu sendiri.


“Sara, Arga itu cucu Oma satu-satunya. Oma hanya tidak mau dia sampai salah memilih. Cuma kamu yang pantas menjadi pendamping hidup Arga.”


“Seperti yang sudah Oma katakan sama kamu, Arga itu masih sendiri. Belum ada satu gadis pun yang mengisi hatinya. Kalaupun ada, Oma mau gadis itu adalah kamu.”


“Tapi, Oma ...”


“Sara, tolong jangan kecewakan Oma. Oma sungguh sangat berharap sama kamu.” Mengeratkan genggaman, Oma Widya memasang wajah penuh permohonan.


Melihat air muka Oma Widya seperti itu membuat Sara jadi tak tega. Ia menyayangi Oma Widya seperti keluarga sendiri. Ungkapan terima kasih mungkin takkan cukup ia haturkan atas kebaikan Oma Widya. Yang telah membawanya dari kesulitan ke kehidupan yang lebih nyaman. Oma Widya bahkan memintanya berhenti dari pekerjaannya di rumah sakit. Serta telah melunasi sisa pembayaran kontrakan yang sempat menunggak beberapa bulan itu. Ia pun tak memiliki pilihan. Menolak akan sangat melukai Oma Widya.


“Oh ya, kamu istirahat saja sekarang. Karena besok kamu harus ikut Oma,” ujar Oma Widya melepas genggamannya lantas menepuk lembut pundak Sara.


“Ke mana, Oma?”


“Besok kamu akan tahu. Sudah, pokoknya kamu menurut saja sama Oma. Ya?”

__ADS_1


Sara mengulum senyuman. Tak mungkin ia menolak Oma Widya yang telah membawanya dari kesulitan.


****


“Apa-apaan ini? Kenapa Oma malah menjodohkanku dengan gadis kampungan itu? Gawat ini. Bisa-bisa reputasiku hancur kalau begini. Mana bisa seorang Arga menikah dengan gadis kampungan itu.” Arga bergumam sembari memandangi pantulan dirinya pada cermin dalam balutan kaus oblong dan  short pant, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Ia masih tak habis pikir dengan ide mendadak Oma Widya itu. Tak terima, ia ingin melayangkan protes. Namun ada konsekuensi yang harus ia terima jika ia menolak.


“Mana mungkin aku menikahi gadis kampungan itu,” sambungnya mulai jengkel.


“Apa Oma sudah tidak waras? Mana mungkin aku menikahi gadis kampungan itu,” sambungnya frustasi.


“Siapa yang gila?”


Arga pun tersentak begitu suara Oma Widya terdengar menggema di dalam kamarnya. Gegas ia menoleh. Rupanya ia lupa mengunci pintunya. Dan wanita tua yang sudah membuatnya frustasi itu tengah berdiri di ambang pintu. Menatapnya tajam mengintimidasi.


“Sejak kapan Oma berdiri di situ?” tanyanya salah tingkah.


“Siapa yang gila? Hm? Dan siapa yang kampungan?” cecar Oma Widya sembari mendekat. Menghunus tatapan tajam menikamnya. Yang membuat Arga semakin salah tingkah.


“Bukan siapa-siapa. Mungkin Oma salah dengar. Lagi pula kenapa sih Oma mau menjodohkan aku dengan perempuan itu?”


“Sara. Namanya Sara, Arga.”


“Iya, Sara. Oma sadar tidak sih dengan perbedaan yang ada  diantara aku dan Sara? Jauh, Oma. Perbedaan kami sangat jauh. Tidak mungkin kami akan cocok.”


“Kampungan maksud kamu?”


“Emm ...” Arga tak ingin memungkiri. Untuk ukuran gadis jaman sekarang Sara terlihat kampungan. Mulai dari cara berpakaiannya, rambutnya yang dikuncir, wajah polos tanpa riasan, dan ...


“Iya ...” Arga meringis membayangkan Sara. Ia tak menyangka masih ada gadis seperti Sara di dunia. Apakah dia tidak mengetahui perkembangan jaman? Dunia sudah secanggih ini tapi gadis itu ...


Arga hanya bisa menggaruk tengkuknya. Bisa dipastikan reputasinya bakal hancur lebur kali ini. Dunia entertainmen akan berduka karena salah seorang entertainer menikahi gadis dari jaman purba.


Oh No!

__ADS_1


“Kalau begitu tunggu sampai besok. Oma ingin lihat apa kamu masih akan mengatai Sara kampungan.” Mengulum senyuman sinis, Oma Widya kemudian beranjak. Meninggalkan Arga yang termangu dengan pikirannya sendiri.


*


__ADS_2