
Memeluk Rindu
Bab. 7
Dua bulan berlalu pasca Danny terbangun dari koma. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya seorang Danny menjalani hari-harinya tanpa Sara. Bagaimana sepinya hidup Danny tanpa bayangan Sara. Tak ada lagi yang bisa ia perintah sesuka hatinya, mengerti apa yang ia mau, menuruti keinginannya, menyiapkan segala kebutuhannya, bahkan ia omeli seenak jidatnya.
Tanpa Sara kehidupan Danny terasa hampa. Seperti malam tanpa bintang. Kekosongan itu semakin terasa kala tanpa sengaja bayangan Sara datang mengganggunya. Danny merasa kehilangan, namun berulang kali ia memungkiri perasaan itu.
“Sarapan dulu, Dan.” Terdengar Mayang memanggil ketika Danny melenggang menuju depan rumah.
Rutinitas yang dijalani Danny dua bulan belakangan ini tak lagi sama seperti sebelum kecelakaan menimpanya. Sebuah tanggung jawab menuntutnya untuk bekerja keras mengelola dan mengembangkan Venus Hotel, melanjutkan kerja keras mendiang ayahnya.
Menuruti kata ibunya, Danny pun berbalik, melangkah menuju meja makan. Ditariknya satu kursi untuk ia duduki. Mengambil selembar roti tawar, ia lantas mengoleskan selai cokelat ke roti tersebut.
Namun tiba-tiba ia terdiam. Memaku pandangan pada roti yang telah ia olesi selai itu tanpa berkedip. Sepotong kenangan masa lalu tiba-tiba melintasi benaknya. Masih terbayang jelas di pelupuk matanya kenangan itu. Kenangan bersama Sara ketika sarapan di suatu pagi yang lalu.
“Ini, makanlah.” Sara mengangsurkan piring yang berisi roti tawar yang telah diolesi selai ke depan Danny yang tengah asik bermain game di ponselnya.
“Kamu tidak lihat aku sedang apa?” sahut Danny ketus tak mengalihkan perhatian sedikit pun dari layar ponsel.
Sara yang mengerti, tanpa menunggu perintah, mengambil roti itu dan menyuapkannya ke mulut Danny. Persis seperti sedang menyuapi seorang anak kecil.
“Kalau begini terus, aku jadi ragu apa kamu bisa hidup tanpaku,” ujar Sara sembari mengelap sudut bibir Danny menggunakan tisu.
“Tentu saja bisa. Asalkan aku menemukan seseorang yang patuh sepertimu.”
Kalimat Danny itu seperti angin segar yang berhembus, menyejukkan hati, menggelitik sanubarinya terdalam. Sara tersenyum-senyum mendengarnya. Wajahnya bahkan bersemu merah.
“Jangan salah paham. Maksudku orang lain, bukan kamu. Kamu itu bukan tipeku.” Seperti tahu reaksi Sara yang mendengar ucapannya, Danny pun cepat menghempaskan harapan Sara. Sehingga senyuman yang baru saja terbit di wajah Sara itu, terbenam dengan sendirinya.
Sepotong kenangan itu membuat dada Danny terasa sesak. Nyatanya ia tidak bisa hidup tanpa Sara. Namun ia masih saja memungkiri. Hanya karena Sara bukan wanita tipe idealnya.
__ADS_1
“Oh ya, Danny. Gimana hubungan kamu dengan Tania? Mama lihat, akhir-akhir ini Tania lebih sering mengunjungi kamu di kantor.” Suara Mayang membuyarkan lamunan Danny.
Danny tak menggubris pertanyaan Mayang. Ia memilih memakan rotinya pelan-pelan.
“Apa tidak sebaiknya kalian menikah saja? Bukannya kalian pacarannya sudah lama ya?” sambung Mayang sembari menyuapi mulutnya dengan sesendok nasi goreng.
“Aku belum kepikiran ke sana, Ma. Aku ingin fokus bekerja dulu. Aku belum siap untuk itu,” sahut Danny pada akhirnya. Setelah berpisah dari Sara, ia memang tak memiliki keinginan untuk berumah tangga kembali. Sekalipun itu dengan Tania, kekasihnya. Bayangan dan kenangan Sara yang selalu membayanginya, membuatnya resah tak menentu. Yang membuatnya kebingungan mengartikan perasaannya itu.
“Kenapa belum siap? Kalian kan sudah lama menjalin hubungan, bahkan sebelum kamu menikah dengan Sara. Dan sekarang kamu sudah bebas. Kamu sudah tidak punya ikatan apa-apa lagi dengan Sara. Jadi, kenapa kamu masih menunda-nunda waktu? Bukankah kalian saling mencintai? Tunggu apa lagi, Danny. Cepatlah nikahi Tania. Jangan sampai kamu keduluan sama laki-laki lain. Nanti kamu menyesal loh.”
Membahas soal pernikahan, membuat selera makan Danny menguap entah ke mana. Tak berselera lagi, ia menaruh kembali potongan roti ke piringnya. Kemudian ia bangun dari duduknya, bergegas ia meninggalkan meja makan.
“Loh, Dan? Danny? Habiskan dulu sarapanmu, sayang.” Mayang memanggil, keheranan dengan perubahan sikap yang ditunjukkan Danny sekarang.
“Ada apa dengan anak itu? Belakangan ini sikapnya berubah. Apa dia tidak suka aku menyinggung soal Sara?” gumam Mayang heran juga bingung.
***
“Hati-hati di jalan ya, Sara,” ujar Oma Widya sembari melambaikan tangan, mengiringi kepergian Sara ke tempat kerjanya yang hanya berjarak cukup dekat dari kontrakan yang mereka tinggali. Sehingga bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki saja.
Seulas senyum penuh suka cita terukir di wajah Oma Widya. Bukan hanya bahagia, ia bahkan teramat sangat bersyukur dipertemukan dengan Sara. Gadis manis yang berhati tulus, menolongnya tanpa pamrih.
Melihat kegigihan Sara dalam mengais rejeki, bersusah payah menghidupi dirinya sendiri, bahkan dengan tulus membantunya walau pun dirinya sendiri kesusahan. Menjatuhkan simpatinya, juga ketertarikannya terhadap gadis itu.
Sangat jarang ia menemui gadis muda seperti Sara. Yang tanpa pamrih membantu orang yang sedang kesusahan.
Membuang napasnya panjang, Oma Widya pun memutar tubuhnya hendak masuk ke dalam rumah. Baru selangkah saja kakinya berayun, tiba-tiba dua orang tak dikenalnya mencekal lengannya kuat. Mencegahnya masuk ke dalam rumah.
“Siapa kalian?” Diserbu panik, Oma Widya terlihat tegang. Dua pria bertubuh kekar itu menyeretnya hendak keluar pagar, menuju sebuah Alphard hitam yang terparkir manis di seberang jalan.
Oma Widya meronta, meminta dilepaskan. Tetapi kedua pria yang dipenuhi tato di kedua otot lengannya itu tak mengindahkan. Terus menyeretnya, sampai terhenti di sisi Alphard.
__ADS_1
“Lepaskan. Kalian kurang ajar sekali, memperlakukan orang tua dengan tidak sopan seperti ini. Aku akan melaporkan kalian ke polisi. Apa untungnya menculik orang tua yang sudah bau tanah sepertiku ini?”Oma Widya mengomel sambil berusaha membebaskan diri dari dua pria tersebut. Menyentak kasar kedua lengannya, sampai akhirnya terlepas.
“Tolong bekerja samalah dengan baik, Nek. Keuntungannya menculik nenek bagi kami yaitu kami akan dibayar tiga kali lipat. Sudah berbulan-bulan kami mencarimu, Nek. Lihai sekali nenek tua sepertimu ini bersembunyi,” balas salah satu pria itu.
“Biarkan aku pergi. Kalian mau membawaku ke mana, sialan?”
“Kami akan membawamu pulang, Nek.”
Salah seorang pria kekar yang berambut gondrong membuka pintu mobil.
“Ayo, naik.” titahnya.
“Yang sopan sama orang tua ya? Aku adukan kalian pada polisi biar kalian dihukum sekalian.”
“Masuk saja, Nek. Biarkan kami mendapatkan hak kami. Bayaran tiga kali lipat.”
“Dasar berandal kalian.” Oma Widya masih saja menolak naik ke mobil itu.
“Kami berandalan yang dibayar, Nek. Jika Nenek tidak menurut, maka kami terpaksa berbuat kasar padamu, Nek.”
Oma Widya pun gentar. Ia tak membalas lagi. Lalu dengan suka rela ia bergegas naik. Pintu mobil kemudian ditutup.
“Beres, Bos!” seru si gondrong menepuk body mobil.
“Kami tunggu transferannya ya, Bos?” sambungnya tersenyum senang. Lantas meninggalkan tempat itu bersama rekannya.
Di dalam mobil, Oma Widya dikejutkan oleh sebuah suara familiar dengan omongan pedasnya, yang membuatnya kesal. Lantas memasang wajah masamnya seketika.
“Mau lari ke mana lagi kamu wanita tua? Tolong jangan menyusahkanku lagi. Aku sudah cukup kesulitan belakangan ini karenamu.” Seorang pria berparas rupawan pun terlihat tak kalah kesalnya dengan ulah Oma Widya. Duduk memangku sebelah kaki dan bersandar punggung di jok depan, pria itu lantas menoleh sekilas.
“Kita pulang sekarang wanita tua. Jalan, Pak,” titahnya pada supir pribadi.
__ADS_1
*