Memeluk Rindu

Memeluk Rindu
MR Bab. 37


__ADS_3

Memeluk Rindu


Bab. 37


“Apa perlu Mama perjelas lagi? Julia, ibunya Sara adalah selingkuhan papamu. Apa kamu pikir Mama bisa menerima anak dari perusak rumah tangga orang?”


Sara kehilangan kata-kata begitu mendengar kalimat menohok Mayang. Bukan hanya Sara, Bi Minah pun terkejut mendengarnya. Wanita paruh baya yang sudah bertahun-tahun lamanya bekerja di rumah itu pun hanya bisa melongo. Menyadari situasi sedang tidak baik-baik saja, Bi Minah pun bergegas pergi.


“Mama cuma ngarang kan? Mama sengaja mengatakan itu untuk menjelek-jelekkan keluarganya Sara. Mama sengaja berkata seperti itu agar Sara sakit hati. Dan Mama juga sengaja agar aku kehilangan simpatiku terhadap Sara. Aku benar kan, Ma?” Sejujurnya Danny pun tak menyangka, ayah yang ia bangga-banggakan selama ini ternyata menyimpan sebuah rahasia yang memalukan. Bagaimana bisa ayah yang dalam pandangannya adalah seorang ayah yang setia berselingkuh selama ini.


“Mama menyembunyikan ini selama bertahun-tahun demi kamu. Agar kamu tidak membenci papamu. Demi kamu Mama memaafkan kesalahan papa dan memberinya kesempatan. Bertahun-tahun Mama menyimpan luka ini sendiri hanya demi kamu. Agar kamu tetap punya sosok seroang ayah sampai Mama tetap mempertahankan papa kamu. Walaupun hati Mama hancur.”


Masih tergambar jelas dalam benak Mayang perbuatan Jayadi dahulu. Pernah sekali Mayang memergoki suaminya sedang bercumbu dengan Julia di sebuah ruang kosong kala itu. Hati Mayang hancur berkeping-keping. Namun akal sehatnya masih berada pada tempatnya. Demi Danny Mayang rela menahan rasa sakit itu. Mayang lebih memilih keutuhan rumah tangganya dibanding sakit hatinya kepada sang suami.


“Lalu kenapa Mama baru cerita ini sekarang. Seharusnya sejak dulu Mama ceritakan ini. Mama pasti sengaja melakukan ini untuk memisahkan aku dan Sara,” ujar Danny mulai dirasuki amarah.


Keterkejutannya tak melebihi amarahnya, yang menganggap Mayang sengaja mengarang cerita tersebut demi memisahkannya dari Sara. Bagaimana bisa sosok ayah yang dikaguminya selama ini ternyata adalah seorang pria brengssek, yang tega menyelingkuhi ibunya. Sampai-sampai mereka memiliki ...


Danny membekap mulutnya sendiri tak percaya. Kemudian mengusap wajahnya gusar. Sedangkan Sara, masih membisu, diam seribu bahasa dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca. Ia masih syok mendengar penuturan Mayang.


Berusaha mengingat kembali kenangan masa kecilnya, Sara sesungguhnya rindu kedua orang tuanya. Tetapi sayangnya, tak satu pun kenangan yang masih melekat di ingatannya. Yang ada justru kenangannya bersama mendiang Jayadi lah yang terbayang-bayang di pelupuk matanya.


“Iya, kamu benar. Mama memang sengaja melakukan ini untuk memisahkan kalian. Kamu tahu kenapa? Karena dia adalah anak papamu dengan perempuan itu.”


Bagai petir yang menyambar di siang bolong, baik Danny maupun Sara terdiam seketika. Akal sehat dan perasaan keduanya seperti tengah dipermainkan saat ini.


Danny terkekeh. Akal sehatnya sulit menerima. Tetapi kenyataan pun tak bisa dipungkiri. Andai saja ia bisa merubah takdir, namun sayangnya hal itu hanya bisa menjadi angannya saja.

__ADS_1


“Sekarang kamu sudah tahu kenapa Mama menentang hubungan kalian berdua. Karena Sara adalah adik kamu,” tambah Mayang, yang membuat kepala Danny semakin berputar-putar. Pening mendadak menderanya.


Sementara Sara, tak sepatah kata pun yang bisa ia utarakan. Sebab kenyataan yang diungkap Mayang itu terlalu mengejutkannya. Hingga membuatnya syok.


Bertahun-tahun lamanya Sara mengagumi dan menyukai kakaknya sendiri. Siapa yang tak syok mendengarnya. Aliran napasnya bahkan serasa berhenti saat ini. Tak tersisa sedikit ruang di dadanya, sehingga dada itu terasa sesak oleh perihnya luka yang ia rasakan. Hingga akhirnya, hanya air mata yang mampu meluruhkan segala sesak di dada itu.


Sama seperti Danny, akal sehat Sara pun sulit menerima. Namun kenyataan tak bisa ia pungkiri. Kenyataan yang membuatnya luka terlalu dalam. Ia tak menyangka, selama ini ia mencintai kakaknya sendiri.


Gila?


Ya. Memang hal itu terdengar gila. Seperti apa yang ia rasakan saat ini. Rasa-rasanya ia bisa gila. Sekujur tubuhnya bahkan mulai gemetaran. Persendiannya mulai terasa lemas, kepalanya mulai pening seperti berputar-putar.


Sara membisu dengan berderai air mata. Hatinya sungguh sakit mengetahui kenyataan ini. Yang selama ini ia anggap sebagai dewa penolongnya rupanya adalah ayahnya sendiri. Yang ternyata menyimpan sebuah rahasia besar yang menghancurkan hidup dan impiannya. Lantas bagaimana akal sehatnya menerima semua ini.


“Adik? Adik?” Danny terpingkal-pingkal tanpa sebab, seperti orang yang telah kehilangan kewarasannya. Jika ia dan Sara adalah kakak beradik, lalu kenapa mendiang ayahnya malah menjodohkan mereka berdua. Apakah mendiang ayahnya juga sama tak waras seperti dirinya. Yang mencintai adik sendiri?


“Mama memang yang terbaik,” ujarnya sembari mengacungkan jempol disela tangisnya.


“Mama sungguh hebat mengarang cerita. Apa Mama pikir aku percaya?” sambungnya menghujam Mayang dengan tatapan menelisik curiga.


“Kalau Sara adikku, lalu kenapa papa menjodohkan kami?” tanyanya kemudian. Sebab apa yang dikatakan Mayang sungguh tak bisa ia terima dengan akal sehatnya.


“Karena papamu sudah gila. Papa lebih menyayangi perempuan ini daripada kamu, sampai-sampai papa menjodohkan kalian agar kamu bisa menjaga perempuan ini,” ujar Mayang sambil menunjuk Sara.


Danny menggeleng. ”Tidak. Aku tidak percaya. Aku tidak percaya!” tegasnya.


“Terserah kamu percaya atau tidak. Kalau kamu mau, Mama bisa menunjukkan ke kamu bukti perselingkuhan papamu. Apa masih tidak cukup dengan papa memberikan semua aset keluarga kita pada perempuan ini? Itu karena papa lebih menyayangi perempuan ini dibandingkan kamu. Mama bukannya mau mengungkit atau menjelek-jelekkan papa kamu. Tapi memang itulah kenyataannya.”

__ADS_1


Kepala Danny terasa pening mencerna semua ucapan Mayang. Sejujurnya ia sulit menerima kenyataan ini. Terdengar mustahil, namun ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia juga tak bisa mengubah masa lalu.


“Seharusnya Mama dulu tidak menerima perempuan ini tinggal di rumah kita. Mama sungguh sangat menyesal. Dan sekarang kamu ingin membawa kembali perempuan ini ke rumah kita? Mama tidak sudi menerimanya. Lebih baik Mama mati daripada Mama harus melihat wajahnya setiap hari.” Dengan begitu berapi-api Mayang berkata, tak ingin memberi kesempatan walau sekali pun.


Isak tangis Sara pun semakin menjadi. Tak ada kata yang bisa ia ucapkan. Sungguh semua ini terlalu menyakitkan baginya. Sehingga, dengan pergi menjauh adalah pilihan terbaik yang harus diambilnya saat ini.


Sara pun membawa langkahnya berlari meninggalkan rumah itu. Rumah yang menyisakan banyak kenangan untuknya. Baik itu kenangan buruk maupun kenangan indah.


“Sara, tunggu!” Danny hendak mengejar Sara. Namun suara Mayang malah menghentikan kakinya yang belum sempat mengayun.


“Danny, kamu pergi, Mama juga pergi. Tapi Mama tidak akan pernah kembali lagi. Karena Mama akan pergi dari dunia ini untuk selama-lamanya!” ujar Mayang memberi ancaman. Sehingga Danny pun urung mengejar Sara.


....


Sementara di lain tempat.


Sudah beberapa jam berlalu, namun Sara belum jua menampakkan batang hidungnya. Membuat Arga didera cemas luar biasa. Sejak tadi ia tak bisa tenang. Ingin menghubungi Sara, tapi Sara lupa membawa ponselnya.


Arga tak bisa menghilangkan kecemasan itu sebab ia tahu Sara sedang bersama siapa saat ini. Atas dasar kecemasan itulah hingga Arga pun nekat menghubungi preman-preman yang pernah ia sewa untuk mencaritahu di mana Sara saat ini.


“Aku ingin kalian temukan dia secepatnya!” Seperti itulah perkataan Arga ketika menghubungi preman tersebut. Setelahnya ia menghubungi Oma Widya.


“Oma, apa aku boleh meminta sesuatu?” tanyanya.


“Apa yang kamu inginkan cucuku? Katakan saja, akan Oma kabulkan.” Oma Widya berkata di ujung telepon.


“Aku ingin segera menikahi Sara. Kalau bisa, pernikahan kami dipercepat. Aku hanya takut apa yang pernah Oma katakan dulu itu akan terjadi. Aku tidak ingin terlambat mengambil keputusan. Aku ingin menikahi Sara secepatnya, Oma.”

__ADS_1


*


__ADS_2