Memeluk Rindu

Memeluk Rindu
MR Bab. 18


__ADS_3

Memeluk Rindu


Bab. 18


“Maukah kamu jadi pacarku?” sambung Arga memberanikan diri. Entah ia mendapatkan keberanian diri dari mana, tapi dorongan hatinya tak bisa ia cegah lagi.


Mungkin lantaran terbiasa bertemu wanita-wanita agresif, sehingga bertemu wanita yang selalu menjaga sikapnya seperti Sara ini membuatnya penasaran. Berbeda dengan gadis-gadis di luar sana, yang menyukainya, bahkan histeris ketika bertemu dengannya. Sara justru bersikap biasa-biasa saja. Padahal kata Oma Widya Sara adalah salah satu penggemarnya.


Paling tidak Sara memperlihatkan reaksi sebagaimana seorang penggemar bertemu idolanya. Apalagi ia meminta Sara untuk menjadi pacarnya. Minimal Sara kegirangan, atau histeris seperti gadis-gadis lain yang mengaku penggemarnya.


Namun, jangankan reaksi, sikap Sara bahkan terlalu biasa. Sedikitpun tidak memperlihatkan euphoria ketika bertemu idolanya. Hal itulah yang membuat Arga penasaran.


Tak kunjung ada jawaban dari Sara, Arga malah dibuat salah tingkah sendiri. Berkali-kali ia mengusap tengkuk, membasahi bibir, lalu bingung harus berbuat apa.


“Emm ... Pertanyaanku aneh ya?” tanyanya sebagai pengusir canggung. Sebab keadaan mendadak terasa aneh. Sara tak merespon pertanyaannya.


“Maaf kalau aku membuatmu merasa tak nyaman. Aku tahu pertanyaanku ini memang aneh. Kita baru saja bertemu, bahkan kita belum saling mengenal satu sama lain. Tapi aku terlalu lancang menanyakan hal itu. Aku tahu ini mungkin tidak bisa dipercaya bagimu. Terkesan terburu-buru, bahkan mungkin hanya main-main. Tapi percayalah, aku sungguh-sungguh dengan pertanyaanku.” Bingung harus berkata apa, Arga mengutarakan saja pemikirannya gamblang.


“Aku yakin Oma pasti sudah cerita semua tentangku padamu kan? Oma juga pasti sudah cerita padamu mengapa Oma pergi dari rumah,” ujar Arga demi mengurai canggung, ingin sekali menyambung kata dengan Sara. Yang masih saja membisu, seolah enggan membahas perihal hubungan asmara.


“Oma sangat ingin melihatku menikah dan membentuk sebuah keluarga kecil. Tapi aku berulang kali menolak, sampai-sampai Oma marah lalu pergi dari rumah. Aku ini seorang yatim piatu, aku hanya punya Oma di dunia ini. Aku sangat menyayangi Oma. Aku tidak ingin membuat dia kecewa. Tapi, jangan salah. Aku tidak menanyakan hal itu padamu hanya sekedar untuk menyenangkan Oma saja. Aku benar-benar tertarik padamu.” Jujur mungkin akan membuat keadaan lebih mencair. Arga masih meyakini hal itu. Padahal ia adalah tipe seorang yang gengsian.


Namun, Sara masih saja diam seribu bahasa. Atau mungkin saja, Sara memang tidak tertarik padanya.


Oh God. Arga sudah salah mengambil strategi. Ia pikir akan semudah itu menembak Sara. Padahal ini adalah usul Oma Widya, yang memintanya untuk menembak Sara saja sekarang. Daripada menunda-nunda waktu. Nanti yang ada, malah Sara keburu diambil orang.


“Ya, mungkin aku memang aneh. Lupakan pertanyaanku. Anggap saja aku hanya bercanda. Aku bisa memaklumi kalau kamu_”


“Aku sudah pernah menikah. Aku ini seorang janda.” Sara pun berkata pada akhirnya, menyela ucapan Arga dengan cepat. Hingga membuat Arga terdiam seketika.

__ADS_1


“Bukannya aku menolak, tapi akan lebih baik kalau kamu menemukan yang lebih pantas dariku. Bagaimana jika semua orang tahu statusku ini. Kamu pasti akan jadi bahan pergunjingan. Aku hanya tidak mau merusak reputasimu. Aku juga tidak mau mengecewakan para penggemarmu,” tambah Sara.


Arga mengerjap. Kini berganti ia yang kehilangan kata-kata. Oma Widya tidak pernah mengatakan hal ini sebelumnya. Apakah Oma Widya sengaja merahasiakan hal ini karena saking suka dengan Sara?


“Aku tidak pernah mengatakan hal ini pada Oma,” tambah Sara memberitahu kebenaran tentang dirinya. Selama Oma Widya tinggal bersamanya, tak pernah sekali pun ia menceritakan tentang hidupnya. Selain kenyataan tentang dirinya yang hidup sebatang kara. Jadi wajar saja jika Oma Widya mengira dirinya masih seorang gadis.


Sungguh Arga kehilangan kata-kata seketika. Ia bingung bagaimana harus bersikap dan menanggapi kejujuran Sara. Ia salah tingkah sendiri, hanya bisa membasahi bibir berkali-kali.


....


“Dia sudah pernah menikah Oma. Dan dia sudah bercerai dengan suaminya. Dia janda!” Arga berkata, memberi penekanan pada kalimat terakhir, ketika ia dan Oma Widya berbincang berdua di taman belakang dekat kolam renang.


Beberapa saat setelah Arga mempublikasikan hubungannya dengan Sara, studio satu Lucky Star TV telah dipenuhi media masa yang ingin mendapatkan konfirmasi secara langsung dari Arga dan Sara. Sehingga mereka sedikit kesulitan kembali ke rumah karena banyaknya media yang ingin meliput kedekatan mereka berdua.


Tidak ada pilihan lain bagi Arga, ia sudah terlanjur mempublikasikan hubungannya dengan Sara. Sehingga kebenaran tentang Sara menjadi urusan kedua setelah mereka kembali ke rumah.


“Kenapa tidak memberitahuku tentang ini?” sambung Arga menuntut penjelasan.


“Bagaimana mungkin seorang Arga menikahi janda? Bisa hancur reputasiku nanti.” Arga bergumam sambil berkacak pinggang.


“Tapi kamu sudah terlanjur mempublikasikan hubungan kalian kan? Kalau kamu tarik kembali omonganmu, maka kamu akan dianggap seorang player. Laki-laki yang tidak punya pendirian dan suka mempermainkan perempuan. Oma jamin, reputasimu akan lebih hancur daripada menikahi janda. Kalau kamu menikahi Sara, Oma yakin, yang akan terjadi justru sebaliknya. Kamu malah akan menuai simpati publik. Oma sangat yakin itu. Apalagi Sara adalah janda miskin.” Oma Widya tersenyum tipis.


Kebenaran tentang Sara sebetulnya juga mengejutkannya. Namun berbeda dengan Arga, ia masih bisa melihat sisi positif dari kejujuran Sara. Lagi pula, Sara adalah perempuan yang baik. Hanya nasibnya saja yang kurang beruntung. Lalu apa salahnya jika dia seorang janda.


“Oma mau aku menikahi seorang janda? Apa Oma sudah memikirkan ini sebelumnya?” Arga sungguh terkejut. Ia masih belum bisa berpikir jernih.


“Tapi kamu suka dengan Sara kan?”


Arga tergagap, lalu salah tingkah. Ia memang tertarik kepada Sara. Tapi tentang diri Sara yang seorang janda itu masih mengganggu pikirannya. Bahkan mulai menggoyahkan keyakinannya. Bagaimana mungkin ia menikahi perempuan bekas lelaki lain?

__ADS_1


“Jangan egois. Kamu belum tahu semua kebenaran tentang Sara. Bahkan alasan dia bercerai dengan suaminya kamu juga belum tahu kan? Oma kasih tahu sama kamu ...” Oma Widya mendekat, lalu menepuk pundak Arga dengan lembut.


“Jangan suka menilai seseorang hanya dari apa yang tampak di depan matamu saja. Saran Oma, sebaiknya kamu kenali Sara lebih dalam lagi. Karena menurut penilaian Oma, Sara itu adalah perempuan yang baik. Dia jujur juga tulus.”


Arga terdiam sejenak. Ia menghela napasnya dalam-dalam. Sembari menimbang omongan sang nenek.


....


Sementara di lain tempat.


Melangkah lesu memasuki rumah, Danny terlihat lelah. Ia hendak menuju kamarnya saat langkahnya terhenti di ruang tengah.


Di ruang tengah itu Bi Minah sedang menonton acara TV, infotainment. Bi Minah tersenyum-senyum sendiri sambil mengomentari sebuah berita yang ditontonnya.


“Waaah ... Non Sara cantik sekali sekarang. Mana dapat calon artis lagi. Ganteng pula. Mereka terlihat sangat serasi. Non Sara, Bibi ikut senang dengan kabar bahagia ini. Semoga Non Sara bahagia selalu.”


Tiba-tiba saja dada Danny bergemuruh, terasa panas saat melihat berita di televisi itu. Apalagi mendengar komentar Bi Minah yang berkata bahwa Sara dan Arga pasangan yang serasi. Sungguh, rasa-rasanya ia ingin membanting TV itu.


“Bi, tolong matikan TV nya,” ujar Danny sembari berjalan menuju kamarnya yang tak jauh dari ruang tengah.


“Baik, Tuan.” Bi Minah segera mematikan TV. Lalu beranjak hendak kembali ke kamarnya. Namun langkahnya harus terhenti ketika Danny memanggilnya.


“Bi!”


“Iya, Tuan.” sembari memutar tubuh.


“Apa aku boleh meminta bantuan Bibi?”


“Boleh, Tuan. Tuan Danny butuh bantuan apa dari Bibi? Tuan Danny butuh sesuatu? Bisa Bibi ambilkan sekarang. Atau Tuan Danny mau dibuatkan makan malam? Bisa Bibi buatkan sekarang.”

__ADS_1


“Bukan, Bi. Ini tentang Sara. Aku butuh bantuan Bibi sebagai perantara.”


*


__ADS_2