Memeluk Rindu

Memeluk Rindu
MR Bab. 36


__ADS_3

Memeluk Rindu


Bab. 36


“Danny ... Danny tunggu!” Tania berteriak memanggil sambil berlari-lari kecil menyusul langkah Danny yang tengah berjalan cepat di depannya.


Danny yang sedang menggandeng Sara itu tak menghiraukan teriakan Tania. Ia melangkah panjang menyusuri lobi dengan satu tangannya menggandeng pergelangan Sara, sementara satu tangan lainnya sedang memegang ponsel.


“Danny, tunggu Danny. Kita harus bicara sekarang.” Tania masih saja mengejar, tak peduli berpasang-pasang mata memandanginya keheranan.


Sedangkan Danny tetap tak menghiraukan. Ia terus saja menyeret langkahnya sambil menggandeng Sara menuju tempat parkir. Sementara ponselnya terus saja berdenting. Mayang mengiriminya beberapa pesan chat jika Mayang akan mengakhiri hidupnya jika Danny masih saja mempertahankan Sara. Jelas saja Danny panik, lalu terburu-buru hendak pulang ke rumah. Dan ingin mengajak serta Sara pulang bersamanya.


“Aku tidak mau,” kata Sara ketika Danny membukakan pintu mobil untuknya. Mendadak ia berubah pikiran dan tak ingin ikut bersama Danny. Pikirannya melayang-layang, antara perkataan Mayang yang menumbuhkan rasa penasaran, juga bayang-bayang Oma Widya dan Arga yang menghadirkan rasa bersalah di hatinya.


“Sara, please. Pulanglah bersamaku. Kita mulai lagi semuanya dari awal.”


Sara menggeleng. “Aku ... Aku tidak yakin.”


“Sara, apa kamu tidak percaya padaku?”


“Maaf, aku tidak bisa ikut bersama kamu. Tante Mayang memang membenciku sejak lama. Jujur aku kecewa dengan sikap Tante Mayang selama ini padaku. Tapi walaupun begitu, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Tante Mayang. Sebaiknya kamu pergi, Danny. Cepatlah, sebelum terjadi sesuatu pada Tante Mayang.”


“Aku akan pergi hanya jika kamu ikut bersamaku.”


Sara kembali menggeleng. “Tidak.”


“Sara_” Kalimat Danny pun terhenti karena ponselnya berdering. Segera Danny menjawab panggilan itu.


“Halo, Tuan Danny. Nyonya Tuan, Nyonya ...” Suara Bi Minah terdengar panik di ujung telepon. Saking paniknya sampai-sampai Bi Minah tersendat melanjutkan kalimatnya.


Memutus sambungan telepon, bergegas Danny naik ke mobil setelah memaksa Sara naik untuk ikut bersamanya.


Sara tak bisa menolak, sebab Danny mendorongnya, memaksanya naik ke mobil. Sejurus kemudian mobil yang dikendarai Danny terlihat melaju dengan kecepatan diatas rata-rata membelah jalanan ibukota.


....


“Ma ... Mama.” Danny memanggil Mayang sembari melangkah panjang memasuki rumah. Puluhan pesan chat yang dikirim Mayang kepadanya hanya berisi ancaman jika Mayang nekat akan mengakhiri hidupnya jika Danny masih saja ingin mempertahankan Sara. Sampai mati pun, Mayang tidak akan pernah sudi menerima Sara sebagai menantunya.

__ADS_1


“Tuan, Tuan Danny. Nyonya Tuan.” Bi Minah dengan wajah paniknya datang menghampiri tergesa-gesa.


“Mama di mana, Bi?”


“Nyonya ada di kamar, Tuan. Saya takut sekali Tuan. Nyonya bawa pisau ke kamar sambil marah-marah. Saya takut kalau sampai terjadi apa-apa sama Nyonya, Tuan.”


Membawa langkahnya cepat menuju kamar Mayang, Danny diliputi ketakutan. Ia takut jangan sampai Mayang nekat berbuat hal yang tidak-tidak. Namun ia tetap berharap Mayang hanya sekedar menggertak saja.


Sara dan Bi Minah menyusul di belakang Danny. Pun tak kalah takut dan panik dengan situasi. Mayang mengancam akan mengakhiri hidupnya. Tentu saja hal itu merupakan hal yang serius. Tak bisa diabaikan begitu saja, karena sudah menyangkut keselamatan nyawa seseorang.


“Ma, Mama!” panggil Danny sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Mayang.


“Pergi! Pergi saja dari sini. Tidak usah kamu pedulikan Mama lagi.” Terdengar suara Mayang menyahuti dari dalam kamar.


“Ma, Mama tolong buka pintunya, Ma.”


“Mama akan buka pintunya asalkan kamu janji sama Mama, kalau kamu akan benar-benar menceraikan Sara.”


Danny menghela napasnya panjang. Diliriknya Sara yang berdiri di sampingnya. Sara mengangguk pelan, sebagai isyarat agar Danny menuruti permintaan Mayang.


“Lakukan saja demi mama kamu. Apa kamu mau terjadi sesuatu sama mama kamu?” ucap Sara memelankan nada suaranya.


“Apa Bibi panggilkan si Kosim saja Tuan. Biar Kosim yang mendobrak pintunya.” Kosim adalah tukang kebun di rumah itu. Tadinya Bi Minah ingin meminta bantuan Kosim. Tapi, mengingat situasi darurat, maka menghubungi Danny adalah pilihan yang paling tepat.


“Tidak perlu, Bi. Aku bisa mengatasinya.”


Danny melirik Sara sekali lagi. Sembari berharap Sara hanya tidak benar-benar serius menuruti permintaan ibunya.


“Baiklah kalau memang itu yang Mama inginkan. Aku akan mengabulkan permintaan Mama. Tapi Mama tolong buka pintunya dulu,” ujar Danny pada akhirnya.


“Kamu bohong. Mama tidak percaya sama kamu. Lebih baik Mama mati saja daripada dibohongi anak Mama sendiri.” Mayang masih saja bersikeras.


“Iya, Ma. Baiklah, aku akan menuruti permintaan Mama. Tapi tolong Mama buka pintunya dulu. Mari kita bicara baik-baik.”


“Kamu janji? Kamu tidak bohong kan?”


Danny kembali melirik Sara yang hanya diam tanpa memberikan reaksi apapun. Danny pun meraih jemari Sara.

__ADS_1


“Sara, aku tidak serius mengatakan ini ke Mama. Aku melakukan ini hanya agar Mama mau membuka pintunya. Kamu sendiri sudah tahu kan seperti apa Mama?” ujar Danny cemas, memelankan nada suaranya. Jujur ia tak ingin lagi mematahkan hati Sara. Sudah cukup ia menyakiti Sara dengan sikap juga perkataannya. Kali ini, ijinkan ia membahagiakan Sara dengan caranya sendiri. Tetapi untuk saat ini, keselamatan nyawa mamanya juga tidak bisa diabaikan.


Sara mengangguk. “Aku tahu,” ucapnya pelan.


“Nya, tolong buka pintunya Nyonya. Tolong jangan bertindak gegabah Nyonya.” Bi Minah ikut membujuk majikannya. Sama seperti Sara, Bi Minah pun selama ini bertanya-tanya apa gerangan yang membuat sang majikan membenci Sara. Padahal Sara tidak melakukan kesalahan apapun.


“Tidak Bi. Kecuali jika Danny sudah berjanji akan menikahi Tania, baru pintunya saya buka.” Mayang menyahuti dengan syarat yang lain.


Mendengar syarat yang diajukan Mayang itu, Sara pun menarik jemari tangannya dari genggaman Danny. Menghela napasnya sejenak, kemudian ia beranikan diri mengetuk pintu kamar itu.


“Tante, tolong buka pintunya Tante,” ujar Sara.


Tak terdengar sahutan Mayang. Hening beberapa saat, sebelum akhirnya pintu itu pun terbuka. Mayang berdiri sambil memegangi handel pintu dengan raut wajah tak bersahabat, menatap tajam kepada Sara.


“Untuk apa kamu datang ke sini? Apa kamu mau melihat saya bunuh diri? Kamu senang kan kalau saya mati?” tanya Mayang ketus.


“Kamu yang bawa dia ke sini? Bukannya Mama sudah minta sama kamu agar kamu berhenti menemui perempuan ini?” Mayang beralih menatap Danny.


“Ma, sebaiknya kita bicarakan ini baik-baik,” pinta Danny.


“Bisa, asalkan kamu bisa menjamin kalau kamu akan meninggalkan perempuan ini. Mama tidak sudi melihat perempuan ini tinggal di rumah Mama. Sudah cukup Mama bersabar selama ini. Hati wanita mana yang sudi merawat anak dari selingkuhan suaminya. Apalagi jika harus membagi kasih sayang. Seujung kuku pun, Mama tidak sudi!” Mayang memberi penekanan pada kalimat terakhirnya. Yang membuat Sara terdiam.


Namun bukan karena kata tak sudi yang membuat Sara terdiam. Melainkan kata selingkuhan suaminya itu lah yang membuat Sara terkejut sebetulnya. Tetapi ia kehilangan ekspresi dan. Saking terkejut Sara bahkan terpaku, bahkan tak memperlihatkan reaksi apapun.


Sama seperti Danny. Terkejut bukan kepalang mendengar penuturan Mayang. Perkataan Mayang itu pun serta merta menimbulkan berbagai pertanyaan dalam benak Danny. Yang membuat Danny bingung, bahkan mulai menerka-nerka sendiri.


“Selingkuhan siapa maksud Mama?” tanya Danny dengan suara bergetar.


“Selingkuhan papamu, siapa lagi?”


“Ja-jadi Sara ini ... Sara ini ...” Ya Tuhan, Danny mulai berspekulasi sendiri dengan perkataan Mayang. Jika Sara adalah anak dari selingkuhan ayahnya, yang berarti pula bahwa Sara adalah ...


Ya Tuhan! Jika itu memang benar, lantas mengapa papanya malah menjodohkan mereka?


“Apa perlu Mama perjelas lagi? Julia, ibunya Sara adalah selingkuhan papamu. Apa kamu pikir Mama bisa menerima anak dari perusak rumah tangga orang?”


*

__ADS_1


__ADS_2