Memeluk Rindu

Memeluk Rindu
MR Bab. 26


__ADS_3

Memeluk Rindu


Bab. 26


Melirik gelisah arloji yang melingkar di pergelangan kirinya berkali-kali, Danny didera resah tak menentu. Sejam sudah berlalu sejak ia menghubungi Sara meminta untuk bertemu, namun hingga malam semakin merangkak, Sara tak jua menampakkan batang hidungnya.


Satu kenyataan yang membuat Danny terkejut ketika ia memasuki sebuah minimarket dua jam lalu. Ia yang hendak membeli air mineral itu dikejutkan oleh seorang suster yang mengenalinya sebagai pasien koma beberapa bulan lalu di rumah sakit tempatnya bekerja. Suster itu mengatakan sebuah fakta yang menamparnya halus akan kenyataan tentang Sara.


Selama dirinya dalam keadaan koma ketika itu, Sara-lah yang senantiasa berada di sisinya, menjaganya, merawatnya sepenuh jiwa. Satu fakta yang dikatakan suster itu pun yang semakin menumbuhkan keyakinannya akan perasaannya terhadap Sara. Bahkan dengan mengesampingkan satu kenyataan lain, ia beranikan diri menghubungi Sara.


Kini ia tengah duduk di terali besi, pembatas jembatan dengan sebuah sungai yang dalam di bawahnya. Ia tengah menanti kedatangan Sara.


“Aku yakin, kamu pasti datang, Sara,” gumamnya resah memandangi sungai dalam di bawahnya. Aliran deras sungai itu bahkan sampai ke telinganya. Membuatnya ngeri sendiri.


Beberapa saat lalu ia menggertak Sara bahwa ia akan mengakhiri hidupnya jika Sara tidak datang menemuinya malam ini. Mudah-mudahan saja gertakannya berpengaruh kepada Sara. Sebab ia yakin, di lubuk hati Sara yang terdalam masih terukir namanya.


Sekali lagi ia melirik arloji. Sudah sejam tiga puluh menit, Sara belum juga menampakkan diri. Dicobanya sekali lagi menghubungi ponsel Sara, tidak aktif. Ia pun semakin resah. Ia kesal Sara malah menonaktifkan ponselnya. Padahal ia telah menggertak Sara dengan gertakan yang tak main-main.


“Sara, kalau kamu tidak datang malam ini, maka aku ...” sembari memandangi dalamnya sungai di bawah sana, ia berdiri pelan-pelan. Jika dilihat tingkahnya seperti orang yang ingin mengakhiri hidupnya dengan cara melompat ke sungai yang dalam tersebut.


Menghubungi kembali ponsel Sara, masih saja sama. Ia pun lantas meninggalkan satu pesan suara. Agar nanti ketika Sara mengaktifkan kembali ponselnya, maka Sara akan mendapatkan pesan itu sebagai pesan terakhirnya.


“Sara, saat kamu menerima pesan ini, mungkin ini adalah pesan terakhirku untukmu. Sara, seumur hidupku belum pernah aku se-menyesal ini. Aku sungguh menyesal mengapa dulu aku menyia-nyiakan kamu. Sara, aku sungguh berharap kamu hidup bahagia. Jalanilah hidupmu dengan baik tanpaku. Selamat tinggal, Sara.”


Tadinya ia hanya berniat menggertak saja. Tetapi ketidak hadiran Sara memenuhi permintaannya itu membuat gertakan yang tadinya hanya untuk menakut-nakuti Sara, kini akan ia wujudkan menjadi kenyataan. Agar Sara tahu jika ia sedang tidak baik-baik saja. Bahwa ia tidak bermain-main dengan ucapannya.


“Baiklah, Sara. Setelah aku pergi dengan cara seperti ini, kita lihat saja nanti, apa kamu masih bisa hidup tenang.”


Memejamkan matanya, ia menghela napasnya panjang. Detik demi detik berlalu, ia mengumpulkan keberanian. Hanya dengan bermodalkan nekat saja ia melakukan semua ini. Terkesan norak, kekanak-kanakan, tapi hanya cara inilah yang terpikir olehnya. Sembari berharap hati Sara meluluh.


Ia sudah mencondongkan tubuh pelan-pelan. Ia nekat hendak melompat saat tiba-tiba terdengar sebuah suara melengking memanggil namanya.

__ADS_1


“Danny ...”


Kenekatannya pun urung. Lekas ia menoleh ke belakang. Jantungnya sudah berdegup kencang, harapannya sudah melambung tinggi. Namun terhempas kembali ke dasar ketika yang datang menghampiri bukan seseorang yang tengah dinantinya sedari tadi. Melainkan Mayang, ibunya sendiri.


“Danny, apa kamu sudah gila?” Mayang menghampiri dengan kemurkaan. Ia yang hendak beristirahat beberapa saat lalu itu harus urung lantaran menerima telepon dari Sara. Yang memberitahunya perihal gertakan Danny yang katanya hendak mengakhiri hidupnya itu. Bergegas, tanpa berpikir panjang pun ia langsung tancap gas dengan memanggil Eko, supir pribadinya.


“Mama? Dari mana Mama tahu aku ada di sini?” Danny pun turun dari pembatas. Acara mengakhiri hidup pun batal. Mereka menjadi objek perhatian setiap pengendara yang lewat.


“Tidak penting Mama tahu dari mana. Yang jelas Mama hanya ingin menghentikan kegilaan anak Mama ini. Apa kamu sudah bosan hidup, sampai-sampai kamu punya pikiran mau bunnuh diri. Apa yang terjadi padamu, Danny? Apa kamu mau mempermalukan keluarga kita? Hah?” cecar Mayang berang berapi-api. Ia terkejut luar biasa, serasa jantungnya mau copot begitu melihat Danny hendak melompat dari jembatan.


“Mama ke sini bersama siapa?” Danny celingukan, mencari-cari sosok Sara dalam pandangannya. Berharap sosok itu menampakkan diri. Sebab rindunya tak tertahankan lagi.


“Mama ke sini sama Eko. Memangnya kamu cari siapa?”


“Sara. Pasti Sara yang memberitahu Mama kalau aku ada di sini. Iya kan?”


“Lagi-lagi Sara, lagi-lagi Sara yang kamu sebut. Mama sudah muak mendengarnya. Danny, Mama sudah bersusah payah menuruti keinginan kamu berpisah dari perempuan itu. Tolong hargai Mama. Dan sampai kapan pun Mama tidak akan merestui hubungan kalian.”


Entah kesalahan apa yang dilakukan Sara, baik di masa lalu dan di masa sekarang. Sehingga Mayang membencinya sampai seperti ini. Dahulu Sara hanyalah seorang anak yang tak berdosa, yang diadopsi Jayadi. Padahal Mayang tahu sendiri siapa sebenarnya jati diri Sara.


“Aku yakin, Sara pasti datang ke sini. Aku sangat yakin itu.” Tak menghiraukan Mayang, Danny mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Sara tidak menampakkan dirinya, namun ia bisa merasakan kehadiran Sara. Hati kecilnya berulang kali membisikkan hal itu.


Dan siapa sangka bisikan hati kecilnya tak pernah berbohong. Di seberang jalan sana, dibalik pohon yang rindang, Danny seperti melihat bayangan Sara. Yang sedang bersembunyi dan mengintipnya dari kejauhan.


“Sara?” gumam Danny, menajamkan pandangan, berusaha mengenali sosok yang diyakininya adalah Sara.


“Sara!” pekik Danny sembari mengambil langkah buru-buru hendak mendatangi sosok yang bersembunyi dibalik pohon itu.


Menyadari persembunyiannya diketahui oleh Danny, sosok yang sedang bersembunyi dibalik pohon itu pun bergegas pergi. Setengah berlari sosok itu menjauh, menghindar dari kejaran Danny. Hoodie yang dikenakannya tetiba tersingkap lantaran berlari. Sehingga menampakkan wajahnya dengan jelas.


“Sara, tunggu Sara.” Danny berteriak, menyebrangi jalan tanpa memperhatikannya.

__ADS_1


“Danny, kamu mau ke mana Danny.” Mayang meneriaki Danny karena kesal Danny mengabaikannya.


Danny hendak mengejar sosok Sara tanpa memperhatikan ketika menyebrangi jalan. Sampai tiba-tiba ...


PIIIIIIIP ...


Suara lengkingan panjang klakson mobil pun terdengar. Beberapa kendaraan berhenti tiba-tiba ketika Danny berada tepat di tengah jalan.


“Danny ...”


Lengkingan panjang klakson mobil itu terdengar berbarengan dengan pekikan Mayang dalam kepanikan. Yang pun menghentikan langkah sesosok yang sedang berlari menghindari kejaran Danny.


Sosok itu, adalah Sara. Ia menoleh ke belakang. Wajahnya terlihat panik juga cemas luar biasa. Khawatir jika terjadi sesuatu pada Danny. Pasalnya Danny berhenti tepat di tengah jalan, di depan sebuah mobil yang hampir saja menyentuh tubuhnya.


“Sara ...” Danny memanggil. Napasnya memburu, saking bersemangat melihat Sara datang. Namun sedikit kecewa karena Sara malah ingin menjauh.


“Woy, minggir woy. Mau cari mati kamu!” Seorang pengendara meneriaki Danny. Danny pun segera menyeberangi jalan agar kemacetan yang terjadi karena ulahnya terurai.


....


Setelah meneruskan pesan teks Danny kepada Mayang, Sara bergegas mengganti pakaiannya. Ia memilih mengenakan celana jeans dan kaus oblong, serta tak lupa menggunakan hoodie untuk menutupi kepalanya. Ia meminta bantuan Dodit, supir pribadi Arga untuk mengantarkannya ke tempat di mana Danny sedang menunggunya.


Tiba di lokasi, ia memilih bersembunyi dibalik pohon. Karena ia tak ingin Danny melihat kedatangannya. Dari balik pohon itu ia mengintip perdebatan yang terjadi antara Danny dan Mayang yang telah tiba lebih dulu.


Namun sayang, persembunyiannya telah diketahui oleh Danny. Sehingga ia pun memilih keluar dari persembunyiannya dan menghindar dari kejaran Danny.


Tiba-tiba saja lengkingan Mayang yang memanggil nama Danny pun menghentikan langkahnya. Membuat jantungnya memompa dua kali lebih cepat lantaran didera cemas juga ketakutan. Ia lantas menoleh.


“Sara ...” Danny memanggil sembari berusaha mengejar.


Ia kemudian bergegas mengambil langkah seribu demi menghindari Danny. Namun untuk kedua kali langkahnya harus terhenti karena tanpa sengaja menabrak seseorang. Ia pun mendongak, dan terkejut seketika.

__ADS_1


“Sara?” gumam orang itu.


*


__ADS_2