Memeluk Rindu

Memeluk Rindu
MR Bab. 9


__ADS_3

Memeluk Rindu


Bab. 9


Senyuman manis terkembang di bibir Sara saat melihat Oma Widya datang menghampirinya. Wanita tua itu tampil modis dan elegan. Bergaya bak ibu-ibu sosialita yang berkelas.


Melihat Oma Widya datang bersama Arga, Sara mengira jika Oma Widya diselamatkan oleh Arga. Seperti yang ia lakukan terhadap wanita tua itu. Terlunta-lunta di jalanan seorang diri. Tanpa arah tujuan, dan tanpa sanak saudara yang hendak di tuju.


“Wow ... Oma cantik sekali. Oma dari mana saja, Oma? Tahu tidak, aku mencari Oma ke mana-mana. Hampir saja aku menghubungi polisi untuk meminta bantuan mencari Oma.” Sara mencecar tak sabaran, saking senangnya.


Oma Widya pun mengulas senyum. “Maaf, Oma pergi tanpa memberitahumu,” ujarnya sembari mengulurkan tangan, meraih pundak Sara, mengelusnya lembut penuh kasih.


Sementara Arga, pria itu tengah mengedarkan pandangannya memperhatikan keadaan sekeliling.


Lingkungan tempat tinggal Sara memang tak seperti di lingkungan tempat tinggal Arga. Yang berada di kawasan perumahan elit.


Namun Sara selalu menjaga keasriannya. Serta memastikan tempat tinggalnya bebas dari sampah. Jika di perhatikan, walau pun rumah kontrakan itu kecil dan sempit, tapi kebersihannya terjaga.


“Ehem!” Arga berdehem, meraih perhatian Oma Widya segera.


“Oh iya, Oma sampai lupa.” Memanjangkan lengan, meraih pergelangan Arga, menariknya mendekat. Ia bermaksud memperkenalkan sang cucu kepada Sara.


“Oh ya, maaf sudah merepotkan Chef. Dan terima kasih banyak sudah menolong Oma saya.” Sara salah sangka. Ia mengira Arga sama seperti dirinya, yang menolong Oma Widya saat kehilangan arah mungkin.


“Kamu kenal saya?” Tak patut ditanyakan lagi, siapa di negeri ini yang tidak mengenal chef muda yang satu ini. Bahkan Sara adalah penonton setianya.


“Dia ini fans kamu, yang Oma ceritakan tadi sama kamu,” ujar Oma Widya.


Sara tersenyum malu-malu. Sedangkan Arga, membetulkan kerah kemejanya. Serta menyisir rambutnya dengan jemari. Kelakuan setengah narsis yang malu-malu ia tunjukkan itu membuat Oma Widya mengulum senyuman menggoda.


“Oma bikin aku malu saja. Aku hanya suka dengan acaranya. Oma lupa kan?” Sara membantah kata fans. Ia terlalu malu Oma Widya mengakui hal itu di depan Arga langsung.


“Oh ya, sampai lupa. Mari, silahkan masuk,” ujarnya kemudian membuka tangan, mempersilahkan masuk tamunya. Ia hendak mengambil langkah lebih dulu saat Oma Widya mencekal lengannya tiba-tiba.

__ADS_1


“Sara, maafkan Oma. Oma mungkin tidak akan tinggal denganmu lagi,” ujar Oma Widya.


Sara tampak terkejut. Dengan wajah kebingungan dan bertanya-tanya dipandanginya bergulir Oma Widya dan Arga.


“Maksud Oma?” tanyanya kemudian. Ia berpikir mungkin saja Arga telah menawarkan bantuan kepada Oma Widya untuk tinggal bersamanya. Itu bisa saja terjadi, sebab dilihatnya Oma Widya berpenampilan sangat berbeda hari ini. Terlihat elegan dan berkelas. Tetapi, apa pula yang mendorong Arga mengajak seorang wanita tua terlantar seperti Oma Widya tinggal bersamanya? Apakah demi meraih simpati fansnya sehingga popularitasnya semakin meroket?


Bisa jadi!


“Oma tidak akan tinggal denganmu lagi. Tapi kamu yang akan tinggal bersama Oma. Di rumah Oma.” Oma Widya tersenyum simpul melihat wajah kebingungan Sara.


Sara memang tidak tahu identitas Oma Widya yang sebenarnya. Oma Widya bukan seorang wanita tua terlantar. Ia hanyalah seorang nenek yang sedang merajuk dari cucunya, karena keinginannya tak diwujudkan oleh sang cucu. Sehingga ia pergi dari rumah, hanya sekedar untuk memberi pelajaran kepada sang cucu. Bahwa hidup sendirian dan kesepian itu tidak menyenangkan.


Sayangnya, sang cucu, Arga, masih belum menyadari hal itu. Arga bersedia menemani Oma Widya untuk menjemput Sara agar sang nenek tidak pergi lagi dari rumah.


“Apa maksud Oma? Aku tidak mengerti.” Dengan wajah kebingungan serta penuh tanya Sara memandangi Oma Widya dan Arga bergantian.


Bersikap santai, Arga mengenakan kembali kacamata hitamnya. Yang menambah pancaran pesonanya kian memukau. Beruntung, kompleks tempat tinggal Sara sepi pada sore hari ini. Sehingga Arga aman dari serbuan fansnya.


Bisa dimaklumi, karena belakangan wajah tampan Arga senantiasa menghiasi layar kaca, layar ponsel, pamflet, dan masih banyak lagi. Hampir di setiap sudut kota bisa ditemukan wajah Arga. Sehingga ia berhati-hati jangan sampai keberadaannya di tempat kumuh ini tertangkap kamera paparazi.


“Oma, aku sungguh tidak mengerti apa maksud Oma.”


Widya mengulum senyum jenaka seraya melirik Arga sejenak. Kemudian kembali berkata,


“Sebagai ungkapan terima kasih Oma sama kamu karena sudah menolong Oma, memberi makan Oma selama beberapa bulan ini. Maka dari itu, Oma akan mengajak kamu tinggal bersama Oma dan Arga.”


Sara terkejut. Ia masih belum paham maksud kalimat Oma Widya. Apakah Oma Widya mengajaknya menumpang tinggal di rumah Arga? Tapi apakah Arga mengijinkan?


“Maaf, Oma. Bukannya aku menolak, hanya saja aku tidak mau merepotkan siapa-siapa. Tidak apa-apa jika Oma ingin ikut dengan Chef Arga. Aku tidak keberatan. Karena sepertinya Chef Arga ini memperlakukan Oma dengan sangat baik. Mungkin Oma betah dengan Chef Arga.” Sara berkata sungkan, melirik-lirik malu kepada Arga.


“Oh iya, Sara, Maaf. Oma belum memberitahumu kalau Arga ini sebenarnya adalah cucu Oma. Cucu Oma satu-satunya. Dan satu-satunya keluarga yang Oma punya di dunia ini.”


Sara semakin terkejut lagi mendengar ucapan Oma Widya barusan. Ia bahkan sampai melongo, lantas menggulir pandangan kepada Arga. Yang terlihat santai saja saat Sara memindainya dari ujung sepatu sampai ujung kepala. Sara hampir tak mempercayainya. Satu kenyataan yang membuatnya tercengang.

__ADS_1


Lalu mengapa Oma Widya terlunta-lunta di jalanan jika dia memiliki seorang cucu yang kaya raya. Lantas mengapa pula Oma Widya baru memberitahukan hal ini kepadanya? Sara sungguh dibuat kebingungan sendiri.


“Ceritanya panjang, Nak. Nanti Oma ceritakan semua sama kamu setelah kita sampai di rumah Oma. Nah, sekarang, cepat kemasi semua barang-barang kamu. Kamu ikut Oma sekarang. Ya?”


“Tapi, Oma. Aku ...”


“Tolong cepatlah sedikit. Aku tidak punya banyak waktu. Atau kamu mau aku seret? Atau aku gendong saja sekalian? Ayo, kamu mau pilih yang mana? Aku seret atau aku gendong?” Arga menyela sebelum Sara menuntaskan kalimatnya. Yang membuat Sara bingung harus berkata apa lagi. Arga sungguh membuatnya terkejut.


****


“Nah, ini dia rumah Oma.” Oma Widya berkata menunjukkan rumahnya yang semegah istana itu kepada Sara. Membuat Sara tercengang.


Sara memindai setiap sudut rumah megah itu dengan berdecak kagum. Sampai detik ini, ia masih tak menyangka Oma Widya ternyata bukan orang sembarangan. Selain memiliki cucu seorang chef terkenal, Oma Widya bahkan memiliki sebuah resto berbintang lima yang tengah dikelola sang cucu saat ini. Pantas saja, masakan apa pun yang dimasak Oma Widya sangat enak rasanya walau menggunakan bahan sederhana sekalipun. Dan rupanya bakat Arga itu menurun dari neneknya.


“Bi ... Bi Darmi.” Arga memanggil pembantu rumahnya sembari melangkah masuk. Kemudian mendudukkan diri di sofa ruang tengah. Disusul oleh Oma Widya dan Sara sambil menggeret kopernya.


Oma Widya mengajak Sara duduk, sambil bercerita tentang siapa-siapa saja yang tinggal di rumah itu. Hanya ada Oma Widya sendiri, Arga, serta sepasang suami istri Saleh dan Darmi yang telah bekerja di rumah itu bertahun-tahun lamanya.


“Aden memanggil Bibi?” Darmi datang menghadap Arga yang memanggilnya.


“Tolong ambilkan aku air minum, Bi,” titah Arga.


“Baik, Den.” Darmi pun bergegas ke dapur untuk mengambilkan majikannya segelas air minum. Tak berapa lama wanita paruh baya itu kembali dengan nampan di tangan. Segelas air itu disodorkannya kepada Arga.


“Oh ya, Darmi.” Oma Widya berkata, meminta perhatian Darmi sejenak.


“Iya, Nyonya.” Darmi membungkuk hormat.


“Kenalkan, ini Sara. Mulai hari ini Sara akan tinggal di rumah ini. Tolong layani dan perlakukan dia dengan baik. Dia ini adalah calon istrinya Arga.”


BYUR


Air minum yang baru saja memasuki mulut Arga itu pun menyembur tiba-tiba begitu mendengar omongan Oma Widya.

__ADS_1


*


__ADS_2