
Memeluk Rindu
Bab. 8
Mimpi yang datang selama ia dalam keadaan koma berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Nyatanya, kisah rumah tangganya tak seindah dalam mimpinya. Danny duduk termenung seorang diri di area taman kecil di belakang gedung Venus Hotel, merenungkan kehampaan hidupnya kini tanpa Sara di sisinya. Padahal tak ada cinta di hatinya untuk Sara. Tetapi ketiadaan gadis itu dalam hidupnya, membuat hari-harinya kosong.
Hati dan pikirannya tak sejalan. Teringat mimpi indah itu menghadirkan debaran dalam dadanya. Rindu pun ikut menyelinap masuk diam-diam.
Namun, akal sehatnya seringkali memungkiri. Menyangkal secuil rasa yang datang menggetarkan kalbunya.
Memandangi bunga-bunga di taman itu mengingatkannya pada Sara. Yang suka menyiram tanaman di pekarangan depan rumahnya setiap sore. Ia yang jahil, terkadang suka mengerjai Sara dengan menginjak selang, sampai aliran airnya terhenti.
Disaat seperti itu, Sara akan dibuat kebingungan. Bahkan mengintip ke dalam selang. Ketika Sara dalam posisi mengintip lubang selang seperti itu, barulah ia menyingkirkan kakinya dari selang. Alhasil, wajah Sara terkena semburan air dari selang. Jika sudah seperti itu, ia akan menertawai Sara. Bahkan meledek Sara dengan sebutan Panda Ceroboh.
Mengingat secuil kenangan masa lalu itu, ia hanya bisa meniupkan napasnya panjang.
“Seharusnya aku senang tidak ada kamu dalam hidupku, Sara. Pergilah, pergilah yang jauh. Jangan pernah kembali lagi. Sedikit pun aku tidak akan merindukanmu.” Danny memegangi dadanya yang terasa sesak ketika kata rindu terucap.
Rasa yang sering datang mendera hatinya itu seringkali ia pungkiri. Ia rindu akan hadirnya Sara, namun ia menyangkalnya. Ia bahkan tak ingin memaknai perasaannya itu lebih jauh. Sebab ego masih terlalu mendominasi.
****
Di lain tempat.
“Kenapa wanita tua sepertimu selalu saja bikin aku susah?” Arga mengomel. Berkacak pinggang di depan Oma Widya. Yang duduk mendekap dada sembari berpaling muka.
“Berbulan-bulan Anda menyusahkanku Nyonya Widya Pratama.” Arga menambahkan. Lantas mengambil duduk di samping Oma Widya.
“Salahmu sendiri kenapa tidak pernah mau menuruti permintaan Oma.” Oma Widya merajuk. Masih tak mau memalingkan wajahnya kepada Arga. Ia terlalu di buat kesal oleh chef rupawan yang satu ini.
“Oma ... Bukannya aku tidak mau menuruti permintaan Oma. Tapi masalahnya di sini, dengan siapa? Dengan siapa aku harus menikah, Oma? Pacar saja aku tidak punya.” Arga mulai di buat kesal.
Memang belakangan ini Oma Widya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, kerap menuntutnya untuk segera menikah. Sedangkan ia sendiri sampai detik ini tidak memiliki kedekatan dengan wanita mana pun. Sampai-sampai ia kesal dengan tuntutan Oma Widya. Berulang kali Oma Widya meminta, berulang kali pula ia menolak. Membuat Oma Widya jengkel, kecewa, sakit hati, sampai Oma Widya pergi dari rumah. Hanya demi memberi pelajaran kepada cucu satu-satunya yang ia kasihi itu.
Beruntung, Oma Widya dipertemukan dengan Sara. Yang membantunya tanpa pamrih. Sara kasihan melihat Oma Widya duduk seorang di depan minimarket tengah malam. Sedangkan minimarket sudah hampir tutup.
__ADS_1
Sara lantas membawanya pulang ke rumah kontrakan yang sempit dan hanya memiliki satu kamar. Di rumah kontrakan Sara itu, Oma Widya tidak pernah keluar rumah selama berbulan-bulan. Semua kebutuhannya dipenuhi oleh Sara.
Sara tidak mengijinkan Oma Widya keluar rumah lantaran takut jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan kepada Oma Widya. Itulah sebabnya mengapa orang-orang suruhan Arga kesulitan menemukan keberadaan Oma Widya.
Sampai akhirnya Arga menemukan jejak Oma Widya. Berbulan-bulan orang-orang suruhan Arga mencari keberadaan Oma Widya dari pagi sampai malam tiba. Terpaksa Arga menggunakan opsi yang tersisa, yaitu dengan memasang foto Oma Widya pada selebaran.
Seorang tetangga yang sempat sekali melihat Oma Widya berada di kontrakan Sara pun langsung mengenalinya. Kemudian menghubungi nomor yang tertera pada selebaran yang ditemukannya itu, untuk memberitahukan keberadaan Oma Widya.
“Apa Oma hidup dengan baik di rumah itu?” tanya Arga kemudian. Ingin mengalihkan topik perdebatan. Karena memang ia tak suka jika Oma Widya membahas soal pernikahan.
Mendengar pertanyaan Arga, perhatian Oma Widya teralih detik itu juga. Ia terhenyak, lalu gegas bangun dari duduknya.
“Astaga. Oma sampai lupa. Tolong kamu antar Oma kembali ke rumah itu,” pintanya dengan wajah cemas.
Arga pun bangun berdiri.
“Kembali ke rumah kumuh itu? Untuk apa, Oma?”
“Sara pasti akan sangat cemas jika tidak menemukan Oma di rumah itu.”
“Siapa Sara?” tanyanya penasaran.
Oma Widya pun mengulum senyumnya ketika Arga bertanya siapa Sara.
“Nanti Oma kenalkan kamu dengannya. Sekarang, kamu antar Oma dulu ke sana. Kasihan, nanti dia panik mencari Oma,” ujarnya memang sengaja ingin mempertemukan Sara dengan sang cucu. Sebuah niat pun terbersit di benaknya.
“Dia itu mengidolakan kamu loh, Arga,” sambungnya membuat Arga tersenyum senang.
“Siapa sih yang tidak mengidolakanku.” Hanya di depan Oma Widya Arga bisa bersikap narsis seperti ini. Selebihnya, ia hanyalah seorang pribadi yang pemalu sebetulnya. Terlebih jika menyangkut soal wanita. Maka tak heran mengapa sampai hari ini pun ia masih sendiri.
Hal itulah yang mendorong Oma Widya hendak menjodoh-jodohkannya dengan cucu-cucu dari kenalannya. Tetapi Arga selalu menolak, dengan dalih ingin menemukan sendiri yang cocok dengannya.
Bahkan beberapa kali Arga tidak menghadiri kencan buta yang telah diatur Oma Widya. Dengan beralasan kesibukannya di restoran serta padatnya jadwal syuting yang harus dijalaninya.
Sampai-sampai membuat Oma Widya marah bahkan nekat pergi dari rumah. Dengan harapan Arga akan menurut kepadanya nanti.
__ADS_1
“Jadi, mau tidak mengantar Oma ke sana?” tanya Oma Widya memastikan.
“Maaf, Oma. Hari ini aku sibuk. Lain kali saja kita ke sana. Lagi pula, coba Oma lihat penampilan Oma ini. Seperti gembel. Paling tidak, Oma mandilah dulu.”
“Alaaah ... Bikang saja kalau kamu tidak mau. Ya sudah, Oma pergi sendiri saja kalau begitu. Oma cuma mau berterima kasih kepada Sara karena sudah menampung dan memberi makan Oma selama beberapa bulan. Kamu tahu, dia bahkan rela tidur kedinginan karena dia memberikan selimutnya ke Oma. Oma sampai sampai merasa tidak enak sudah merepotkan dia. Kalau bukan karena dia, mungkin kamu ini sudah tidak punya oma lagi sekarang.” Oma Widya memasang wajah kesal dan merajuknya demi meraih meraih perhatian Arga. Kemudian bersimpati. Lalu pada akhirnya akan menuruti permintaannya.
Arga sangat menyayangi Oma Widya. Sehingga Oma Widya yakin, Arga akan menurutinya kali ini.
****
Dengan wajah semringah Sara pulang ke rumah sore ini. Lelahnya bekerja seharian terbayarkan dengan gaji yang baru saja ia terima. Ia pun berkeinginan mengajak Oma Widya makan malam di luar.
Belum pernah sekali pun ia mengajak wanita tua itu bersenang-senang di luar rumah. Biasanya ia yang akan membelikan makanan dari luar untuk mereka makan berdua. Atau jiga biasanya Oma Widya yang akan memasak.
Kali ini ia ingin mengajak Oma Widya bersantai sejenak, menghirup udara luar.
Namun, ketika ia memasuki rumah, ia tak menemukan Oma Widya. Baik di dalam kamar, ruang tamu, bahkan dapur sekali pun. Wanita tua itu menghilang bagai di telan bumi. Tak ada satu pun jejak yang ditinggalkan. Paling tidak, meninggalkan pesan jika mungkin Oma Widya memiliki urusan di luar rumah.
“Oma? Oma di mana, Oma?” panik juga cemas mendera Sara sembari mencari-cari keberadaan Oma Widya. Padahal rumah itu luasnya tidak seberapa. Tetapi Oma Widya tak jua menampakkan batang hidungnya.
Berbagai kemungkinan buruk pun mulai berkecamuk di kepalanya. Apakah mungkin Oma Widya pergi dari rumah? Padahal Oma Widya tidak memiliki siapa pun selain dirinya. Oma Widya mengaku sebatang kara. Sehingga jatuh rasa ibanya, lalu mengajak Oma Widya tinggal bersamanya.
Mengambil ponsel, sembari melangkah keluar rumah, ia hendak menghubungi pihak kepolisian setempat untuk meminta bantuan. Saat tiba-tiba sebuah Alphard hitam berhenti tepat di depan pagar rumahnya.
Dahinya berkerut, merasa penasaran siapa gerangan yang datang hari ini.
Namun ia terkejut ketika dilihatnya seseorang yang familiar di matanya turun dari mobil tersebut. Seorang pria tampan yang tengah digandrungi banyak kaum hawa itu melepas kacamata hitam yang membingkai wajahnya. Mengarahkan tatapan kepadanya yang berdiri terpaku di ambang pintu.
“Chef Arga?” gumamnya terkejut. Dan yang lebih membuatnya terkejut lagi adalah ...
“Oma?”
Oma Widya turun dari mobil itu dengan tampilan yang berbeda. Teramat mencolok dari tampilan yang sering ia lihat.
*
__ADS_1