
Memeluk Rindu
Bab. 30
Tidak memiliki jadwal syuting, maka Arga memanfaatkan waktu luangnya untuk bersama Sara. Meski tak berkencan, namun bagi Arga bersama-sama di pantry restoran sebagai koki dan asisten koki sudah merupakan kencan baginya.
Namun, bukannya memasak dengan serius, Arga malah sibuk memperhatikan Sara yang tengah mengerjakan apa yang ia perintahkan. Sara cukup telaten, tidak salah Oma Widya memberinya pekerjaan itu.
Saking terlalu asyik memperhatikan Sara, sampai-sampai Arga tak menyadari garlic yang ditumisnya hangus. Aroma hangusnya bahkan sampai memenuhi ruangan. Membuat koki yang lain terganggu. Termasuk Sara.
“Ya ampun, Chef. Tumis bawangnya hangus.” Cepat Sara mematikan kompor.
Arga pun terkaget, panik seketika. Namun beruntung Sara sudah mematikan api kompornya. Ia pun bisa bernapas lega akhirnya.
“Baru kali ini Chef Arga tidak konsen. Ada apa, Chef? Apa Chef punya masalah?” tanya koki yang lain. Sebab ini yang pertama kalinya Arga melakukan kesalahan.
Arga salah tingkah. “Emm ...” ia bingung harus menjawab apa.
Sementara yang lain tersenyum-senyum melihat tingkahnya. Meski sibuk menyiapkan pesanan, namun mereka masih sempat melihat walau sekilas, jika sang koki andalan itu tengah sibuk memperhatikan Sara. Tingkahnya sangat kentara memperlihatkan tingkah seseorang yang sedang jatuh cinta.
“Kalau Chef kurang enak badan, biar aku saja yang mengerjakan ini. Aku bisa kok, Chef.” Sara menawarkan bantuan.
“Emm ... Tapi Sara, aku tidak mau merepotkan kamu. Nanti kamu kecapean.” Bukan hanya cemburu ketika tahu Sara masih menemui mantan suaminya, Arga bahkan kini sangat peduli kepada Sara. Ia tak ingin calon istrinya itu sampai kelelahan. Apalagi jika sampai jatuh sakit. Mungkin ia akan mengajukan protes kepada Oma Widya jika sampai hal itu terjadi. Karena Oma Widya yang memberi Sara pekerjaan ini. Seharusnya calon istrinya itu berdiam diri saja di rumah.
“Kaj ada koki yang lain, Chef. Mereka bisa membantuku.”
Menggerakkan bola matanya melirik para koki, Arga malah mendapat senyuman mencurigakan. Mereka seolah tengah meledeknya melalui senyuman itu. Arga semakin salah tingkah.
Oh came on, apakah tingkahnya terlalu mudah terbaca? Apakah koki-koki yang lain sudah tahu jika ia memiliki perasaan terhadap Sara?
__ADS_1
“Ehem, ehem.” Ia berdehem, demi menutupi salah tingkahnya.
“Tidak apa-apa. Pulanglah, Chef. Beristirahatlah di rumah. Aku bisa kok mengerjakan ini. Bahkan tanpa bantuan siapa pun.” Sembari tersenyum, Sara mencoba meyakinkan. Beberapa kali dilatih oleh Arga langsung, sedikit banyak ia sudah bisa mengerjakan menu terlaris di restoran itu. Bahkan rasanya pun hampir menyerupai buatan Arga.
“Tidak, tidak. Sebenarnya aku tidak apa-apa. Aku hanya_” namun kalimatnya harus terhenti ketika seorang pramusaji tiba-tiba datang dengan wajah panik.
“Chef, maaf Chef. Itu, di luar ada pelanggan yang marah-marah.” Pramusaji wanita itu berkata dengan panik.
“Marah-marah kenapa?” tanya Arga mengerutkan dahi.
“Katanya, makanannya tidak enak. Tidak sesuai seperti yang diinginkannya.”
“Maksudnya?” Baru kali ini restoran kedatangan pelanggan seperti ini. Sebelum-sebelumnya belum pernah ada pelanggan yang melayangkan protes dengan cita rasa menu di restoran itu.
“Katanya, dia tidak mau membayar makanannya. Karena rasanya tidak sebanding dengan harganya. Dia menginginkan menu pesanannya dibuat dengan bahan yang berkualitas, Chef. Padahal saya sudah menjelaskan panjang lebar kalau semua makanan di resto ini dibuat dengan bahan yang berkualitas. Malah ada beberapa bahan makanan yang harus di impor dari luar negeri. Tapi orang itu tetap ngeyel.”
Pelanggan yang satu ini sudah mengusik ketenangan Arga. Segera Arga melepas apron yang dikenakannya. Kemudian bergegas keluar dari pantry, hendak menemui pelanggan itu.
“Yang mana orangnya?” tanya Arga sembari menyapukan pandangannya pada setiap pengunjung yang ada. Namun pandangannya terhenti pada seorang pengunjung yang tampak tak asing lagi di matanya.
“Yang itu, Chef.” Pramusaji itu menunjuk seorang pengunjung yang sama, yang berada dalam pandangannya. Seorang pria yang tampak familiar, yang sudah beberapa kali bertemu dengannya namun belum pernah berkomunikasi dengannya. Sebab pria itu selalu saja bungkam ketika mereka bertemu.
Berbeda dengan reaksi Sara ketika melihat pria itu. Sara justru terkejut, lalu memasang wajah tak suka serta bahasa tubuhnya menggambarkan ketidaknyamanan.
Dengan tenang Arga pun menghampiri pria itu. Pria yang tengah duduk memangku kaki dan bersedekap dada itu pun tak kalah tenangnya. Padahal baru saja pria itu membuat masalah dengan melayangkan protes akan cita rasa makanan yang tak sebanding dengan harga makanan itu sendiri. Jelas hal itu sangat mengganggu Arga. Secara tak langsung pria itu telah menjatuhkan nama baik restorannya.
“Maaf, ada yang bisa saya bantu?” Arga bertanya begitu menghampiri.
Pria yang tengah bersedekap dada itu, pelanggan yang protes akan harga dan cita rasa makanan di restoran itu pun menoleh, mengangkat wajahnya. Ia menatap Arga datar. Lalu menggulir tatapan pada Sara yang berdiri di belakang Arga.
__ADS_1
“Bukankah tadi Anda protes dengan rasa dan harga makanan di restoran kami? Bisakah Anda jelaskan lebih spesifik lagi, kira-kira di mana letak ketidakpuasan Anda. Agar saya bisa berbenah. Ataukah memang mungkin Anda yang sedang bermasalah dengan selera Anda?” tambah Arga antusias. Namun sebetulnya ia sedang menahan emosi. Sebab pria di depannya itu tak asing lagi. Pria yang membuatnya cem ... Ah, sudahlah.
Pria itu, Danny, mengulum senyuman tipis, menatap dingin chef rupawan di depannya itu.
“Bukannya Anda yang sedang bermasalah dengan selera Anda?” Danny menyindir, sembari melirik Sara dibalik punggung Arga. Sengaja Danny berbuat demikian dengan berpura-pura mengajukan protes akan rasa makanan di restoran yang cukup terkenal itu. Sebab ada maksud lain yang hendak ia tuju. Yaitu, Sara.
Baru beberapa saat lalu Danny mendapat informasi jika Sara bekerja di One Taste Food and Resto sekarang. Restoran milik chef terkenal itu, yang kabarnya adalah calon suami Sara sendiri.
“Saya?” Arga terkekeh sembari menunjuk dirinya sendiri.
“Kalau memang Anda tidak berselera dengan makanan di restoran kami, kenapa Anda harus datang ke sini? Masih banyak kok restoran lain yang bisa Anda datangi. Kalau tujuan Anda datang ke sini bukan untuk makan, melainkan hanya untuk membuat gaduh, sebaiknya Anda tinggalkan tempat ini segera sebelum saya panggil kemanan.” Belum apa-apa Danny sudah menyulut emosinya saja. Ada perasaan lain yang mendera Arga ketika melihat Danny. Jelas saja rasa itu memantik emosinya. Selain kemampuan memasaknya yang diremehkan secara tak langsung.
“Aku akan pergi, tapi dengan satu syarat.”
“Syarat? Wah, parah nih orang.” Arga terkekeh lagi sembari menggeleng tak percaya.
“Chef, biar aku saja yang menanganinya.” Sara menawarkan diri sambil berbisik.
“Tidak bisa. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa. Sebaiknya kamu kembali ke belakang. Hm?” bisik Arga pula, meminta Sara meninggalkannya bersama Danny. Sebab mungkin ada hal lain yang ingin dibicarakan Danny selain protesnya akan makanan di restoran miliknya. Instingnya sebagai lelaki membisikkan hal itu. Itu sebabnya ia meminta Sara menjauh.
“Apa kalian tidak ingin mendengar apa syaratku?” tanya Danny tak tahan melihat Arga dan Sara saling berbisik.
“Mohon maaf sekali ya, Pak. Anda datang ke tempat ini bukan kami yang meminta. Jadi, jika Anda ingin pergi, ya silahkan saja pergi. Kenapa harus ada syarat-syarat segala? Dan untuk makanan yang sudah Anda pesan ini ...” Arga menunjuk makanan di hadapan Danny. Menu terlaris di restorannya yang memiliki harga cukup fantastis.
“Anda tidak perlu membayarnya. Untuk Anda, free. Oke? And now, please take away from here,” sambung Arga ingin segera Danny menghilang dari hadapannya.
“Baik. Tapi aku tidak akan pergi sendiri. Istriku harus ikut bersamaku.”
“Istri? Istri yang mana? Tolong jangan bercanda.”
__ADS_1
Danny pun menggulir tatapannya pada Sara. “Dia istriku. Aku dan dia belum resmi bercerai.”
*