Memeluk Rindu

Memeluk Rindu
MR Bab. 33


__ADS_3

Memeluk Rindu


Bab. 33


Sembari menatap Sara lekat, Danny berkata, “Sara, aku ini masih suamimu. Ijinkan aku mengambil hakku sebagai suami.”


Sara tak menggubris, tidak pula memberikan respon. Sara membisu sambil menatap lekat Danny. Baru kali ini Sara melihat rona yang berbeda di wajah Danny. Bukan rona wajah yang seperti biasanya.


Menurunkan tatapannya sedikit, kembang kempis rongga dada Danny dengan napas yang masih memburu. Seperti tengah menahan sesuatu yang sedang bergejolak dalam dirinya.


Danny hendak meminta haknya sebagai suami. Tapi, apakah ia bisa mempercayai ucapan Danny jika akta cerai mereka itu adalah palsu. Sara tak ingin tertipu lagi.


“Bagaimana aku bisa percaya kata-katamu sedangkan kamu tidak membawa bukti yang kuat kalau kita masih suami istri. Gimana kalau ternyata kamu berbohong dan menipuku. Kamu hanya ingin mengambil keuntungan dariku,” ujar Sara pelan.


Danny membuang napasnya pelan. “Sayangnya aku sudah merobek akta cerai itu di depan Mama. Tapi aku bisa membawamu menemui pengacara yang dibayar Mama untuk memalsukan perceraian kita.”


“Danny yang aku kenal bukan pembohong.”


“Sejak kapan aku pernah berbohong padamu?” Kepada Sara Danny tidak pernah membual. Danny selalu berterus terang dan blak-blakan. Bahkan ia tak peduli dengan perasaan Sara, apakah Sara tersinggung dengan omongannya atau tidak. Karena sejak dahulu memang seperti itulah Danny.


Sejak dahulu Sara pun mengetahui itu. Danny orang yang tidak suka basa-basi. Danny akan berkata apa adanya tak peduli perasaan orang lain. Dan kepadanya pun Danny bersikap sama. Tak pernah menyembunyikan apapun.


Terlepas dari kata sahabat, Sara sebetulnya mengenal Danny dengan baik. Danny orang yang tidak suka bercanda. Danny selalu serius dengan omongannya. Lalu apakah kali ini ia bisa mempercayainya?


“Sara ...” panggil Danny lirih sembari menyentuh wajah Sara, mengusap pipinya dengan lembut.

__ADS_1


“Katakan padaku, bagaimana caranya aku meyakinkan kamu kalau aku benar-benar mencintaimu. Dulu kamu selalu bilang kalau aku tidak akan bisa hidup tanpamu. Iya, kamu benar. Aku akui itu. Aku memang tidak bisa hidup tanpamu. Tolong katakan, apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya,” sambungnya lirih dengan tatapan semakin sendu. Tatapan yang menyimpan gairah yang berbeda. Dan perasaan seperti ini tak pernah ia rasakan saat bersama Tania.


“Sejak kapan?” tanya Sara dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Membuat Danny mengernyit tipis.


“Sejak kapan kamu menyukaiku? Apa kata-katamu bisa aku percaya?” sambungnya parau. Sesak di dadanya membuatnya sedikit kesulitan bernapas. Ditambah lagi, ia tengah terbaring di bawah kungkungan Danny, membuat jantungnya berloncatan.


Selama mengenal Danny, belum pernah sekali pun Danny bersikap manis seperti ini kepadanya. Dahulu, sikap manis Danny yang seperti ini hanya angan saja baginya. Tetapi kini sudah menjadi kenyataan. Bagaimana ia tak bahagia?


“Jangan tanya kapan dan kenapa, karena aku sendiri tidak tahu. Tapi yang pasti aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Aku tidak meminta kamu harus percaya padaku. Tapi, kamu yang paling mengenalku. Kamu tahu kapan aku berkata benar dan hanya sekedar bercanda.”


Sorot mata Danny memancarkan kesungguhan. Dan Sara bisa melihat itu. Sorot mata yang membuat Sara terhanyut diam-diam. Lalu untuk kedua kalinya ia tak memberikan perlawanan ketika Danny mengecup keningnya.


Kecupan yang semula berada di kening itu pun perlahan mulai turun ke bawah. Masih tak ada penolakan, Sara justru memejamkan matanya ketika Danny mulai memberikan kecupan-kecupan lembut di bibirnya.


Hal tersebut terang saja seperti lampu hijau untuk Danny. Terlebih lagi ketika Sara malah membalas setiap sesapan Danny dengan sama lembutnya. Bukan hanya lampu hijau, seolah pintu telah terbuka lebar untuk Danny. Membuat Danny tak sabar lagi untuk segera memasukinya.


“Danny ...” Sara melenguh lembut seiring cengkeraman kuat jemarinya pada rambut Danny ketika Danny semakin kalap mencumbu.


Dan lenguhan lembut Sara itu pun malah semakin mengobarkan api asmara Danny yang menggelora. Apalagi sampai sejauh itu Danny mencumbu, Sara tak jua memberi penolakan. Membuat keyakinan Danny semakin bertambah jika Sara masih memiliki perasaan yang sama, debaran yang sama, serta hasrat yang sama.


Kaos oblong yang dikenakan Sara telah terlepas entah bagaimana caranya. Entah Sara menyadarinya atau tidak, sampai sejauh itu Danny berbuat, Sara masih juga tak menolak.


“Sara, apa kamu mengijinkan aku?” tanya Danny lirih disela cumbuan lembutnya menyusuri sepanjang leher jenjang Sara menuju ke pundaknya yang terbuka. Sembari jemarinya perlahan menggeser si tali berwarna hitam itu sampai terlepas dari penyangganya.


Sara tak memberikan jawaban. Sara malah memalingkan wajahnya sembari merangkul Danny. Jelas saja Danny merasa hal itu merupakan jawaban jika Sara mengijinkannya untuk berbuat lebih jauh lagi. Sebab sebetulnya ia berhak atas diri Sara. Karena Sara masih menjadi istrinya.

__ADS_1


Sara telah terbawa arus permainan lembut Danny. Sehingga ketika si kain berenda berwarna hitam penyangga dua asetnya itu telah terlepas dari tubuhnya ia tak menyadari. Ia terbuai dengan kelembutan sentuhan Danny sampai-sampai ia mendesahkan nama Danny diantara kenikmatan itu.


Merupakan lampu hijau untuk Danny. Danny tak ingin membuang-buang waktu lagi. Kini tak ada lagi sehelai benang pun yang tersisa di tubuh Sara. Hanya tinggal menyisakan si kulit putih sehalus sutera yang membuat Danny tak bisa menahan lagi.


Melihat Sara dalam keadaan polos seperti itu menghadirkan debaran yang tak biasa dalam dadanya. Berbeda jauh ketika ia melihat pemandangan yang sama dalam diri Tania. Sara jauh lebih indah dalam pandangannya.


Kini tiada lagi penghalang bagi Danny. Sara tak menolak, suasana pun mendukung. Danny telah melepas setelan yang melekat di tubuhnya. Ia telah siap tempur. Baru saja ia hendak membenamkan diri, sebuah suara melengking yang terdengar di luar ruangannya itu pun membuyarkan suasana. Aktifitasnya pun terhenti seketika.


“Danny! Buka pintunya!” Suara Tania terdengar kencang di luar ruangan Danny. Beriringan bersama suara ketukan keras pada daun pintu ruangan itu.


Suara gaduh itu pun mengembalikan kesadaran Sara dalam seketika. Mendorong Danny menjauh, Sara lantas bangun dari pembaringan. Segera ia memunguti pakaiannya yang berserakan. Sembari merutuki kebodohannya sendiri yang hampir saja tenggelam dalam lautan asmara Danny.


“Sara ...” panggil Danny lirih dengan suara parau.


Cepat-cepat Sara mengenakan kembali pakaiannya. Betapa malunya ia kini dengan apa yang baru saja dilakukannya. Padahal tidak seharusnya ia goyah dengan semudah itu. Betapa rapuhnya ia, hanya dengan sedikit rayuan Danny saja ia telah melupakan janjinya kepada Arga.


“Keluarlah, temui Tania. Tidak seharusnya aku berada di sini. Aku sudah melakukan kesalahan.” Sara sudah mengayunkan kakinya hendak keluar dari ruangan itu. Namun pelukan Danny dari belakang menghentikan langkahnya.


Danny masih dalam keadaan bertellanjang dada memeluk Sara dari belakang. Tak ia pedulikan suara gaduh Tania di luar sana. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah Sara dan hasratnya yang harus terpendam lagi akibat situasi yang tak terduga.


“Please, jangan tinggalkan aku lagi Sara. Aku benar-benar butuh kamu di sisiku,” ucap Danny setengah berbisik, menaruh dagunya di pundak Sara.


Sara sedang berperang dengan logika dan perasaannya sendiri. Di satu sisi ia masih memiliki perasaan terhadap Danny, namun pada sisi lainnya ia telah terlanjur menerima pinangan Arga. Ia bahkan takut menyakiti dan mengecewakan Arga juga Oma Widya.


Sementara di sisi lainnya ada Tania dan Mayang, yang akan menjadi batu sandungan untuknya. Lantas ia harus bagaimana agar tidak akan ada yang tersakiti ketika ia mengambil keputusan?

__ADS_1


Jika ditanya, ia sungguh tidak ingin menyakiti siapapun. Haruskah ia mengambil jalan yang berbeda dengan tidak memilih satu diantara keduanya?


*


__ADS_2