
Memeluk Rindu
Bab. 15
Melangkah panjang memasuki rumah, Danny tak menggubris Tania yang memanggil-manggilnya ketika turun dari mobil. Bahkan Danny mengunci pintu kamarnya begitu masuk ke dalam kamarnya. Tania sampai jengkel dibuatnya.
“Ada apa, Tania? Kamu kenapa?” Mayang bertanya, datang dari arah dapur. Ia yang tengah meminta Bi Minah menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri itu terkejut ketika mendengar suara Tania memanggil-manggil Danny.
“Danny bikin aku kesal, Tante.” Memasang wajah kesal, Tania hendak mengadukan tingkah Danny.
“Memangnya kenapa dengan Danny?”
“Setiap kali dia sedang bersamaku, selalu saja Sara yang disebut. Gimana aku tidak kesal, Tante.”
“Maksud kamu? Apa dia suka membicarakan tentang Sara?”
“Akhir-akhir ini Danny jadi sering melamun, Tante. Dan disaat dia sedang melamun itu dia selalu saja tanpa sadar menyebut nama Sara. Kadang aku merasa bingung dengan sikap Danny, Tante. Bukannya Danny itu sangat membenci Sara?”
“Tentu saja Danny sangat membenci Sara. Dari dulu kamu sendiri tahu, Danny tidak menyukai Sara. Kalian kan lama pacaran, masa kamu meragukan cinta Danny sama kamu.”
“Aku sebenarnya tidak ragu, Tan. Hanya saja aku merasa aneh dengan sikap Danny belakangan ini. Danny jadi sering memikirkan Sara. Kalau aku tanya kapan dia akan menikahiku, dia selalu saja menghindar. Apa jangan-jangan Danny menyesal sudah berpisah dengan Sara?”
“Ah, mana mungkin. Kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh deh. Tidak mungkin Danny menyesal. Kan dia sendiri yang ingin berpisah dengan Sara.” Mayang sebetulnya pun mulai meragu. Memang belakangan ini ia juga menyadari perubahan yang terjadi dalam diri Danny semenjak Danny berpisah dengan Sara. Akan tetapi, mana mungkin Danny menyesali perpisahannya dengan Sara. Sedangkan Danny sendiri yang menginginkan perpisahan itu. Mayang pun dibuat kebingungan.
....
Tak bisa mengusir bayang-bayang Sara dari pelupuk mata, bahkan tak kuasa melenyapkan kenangan-kenangan Sara dari ingatannya, sehingga membuatnya frustasi. Danny memilih mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Sambil berharap bayang-bayang Sara pergi jauh lalu menghilang.
Cukup lama Danny berdiri di bawah guyuran air dari shower. Pun berharap penat di hatinya luruh, terbawa hanyut oleh air dingin.
Keluar dari kamar mandi, sembari mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil, Danny berjalan menuju walk in closet. Membuka lemari, lantas memilih pakaian yang hendak digunakannya tidur.
__ADS_1
Namun, pandangannya terhenti pada sebuah lingerie berwarna merah yang tergantung di dalam lemari itu. Ingatannya pun seketika kembali ke saat malam pertamanya bersama Sara. Tetapi ia sia-siakan dengan menghabiskan malam itu dengan Tania.
Rasa sakit pun menusuk tiba-tiba. Matanya mulai berkaca-kaca. Danny sungguh menyesali malam itu. Mengapa baru sekarang ia menyadari, betapa sakitnya Sara malam itu.
Mengingat kembali malam itu, Danny pun tak kuasa menahan tangisnya. Bahunya bahkan sampai berguncang, isak tangisnya pun mulai terdengar.
“Sara.” Danny bergumam di sela isak tangisnya. Betapa hancur hatinya, mengapa ia menyia-nyiakan seseorang yang sesungguhnya berarti dalam hidupnya. Mengapa pula ia baru menyadarinya sekarang, disaat ia kehilangan.
Aku jadi ragu, apa kamu bisa hidup tanpaku Danny.
Kalau bisa, cobalah lakukan semuanya sendiri tanpa bantuanku. Bagaimana jika suatu saat nanti aku tidak ada di sisimu. Siapa yang akan membantumu.
Benarkah kamu ingin aku pergi dari hidupmu?
“Tidak, Sara. Aku tidak ingin kamu pergi dari sisiku. Aku ingin kamu selalu ada untukku, Sara.” Danny semakin terisak kala teringat kembali kalimat-kalimat yang pernah diucapkan Sara dahulu. Hatinya bahkan tersayat ketika bayangan Sara bersama Arga melintasi benaknya. Sehingga membuat rasa kehilangan itu amat menyiksa batinnya.
Dahulu Danny sangat yakin, bahkan dengan lantangnya ia mengumbar keyakinannya itu, bahwa ia bisa hidup tanpa Sara. Ia bisa melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan Sara. Ia tidak akan kesepian tanpa Sara. Tapi nyatanya, semuanya berbanding terbalik dengan apa yang dirasakannya saat ini. Hari-harinya justru sepi tanpa Sara.
....
Padahal Sara telah berjanji pada dirinya sendiri untuk menghapus Danny dari ingatan juga dari hatinya. Tapi kenyataannya, tak semudah itu.
Bohong jika Sara berkata ia tak rindu. Karena nyatanya, rindu itu teramat menyiksa batinnya. Tumbuh bersama sejak kecil membuat Sara terbiasa dengan kehadiran Danny dalam hidupnya.
Danny ibarat mentari di pagi hari dalam hidup Sara. Menyinari hidupnya yang kelam, menghangatkan jiwanya yang sepi.
Namun kini kehadiran Danny laksana malam gulita. Memberi gelap juga ketakutan dalam jiwa Sara.
Kehilangan Danny membuat matanya terbuka. Bahwa kebersamaan dan terbiasa bersama tak selalu memberikan kenyamanan. Buktinya, kehadirannya malah membuat Danny tak nyaman. Padahal dahulu, Danny kerap menyuarakan hal itu. Tetapi ia yang telah dibutakan perasaannya terhadap Danny, justru tak peduli.
Sara menganggap omongan Danny kala itu hanyalah candaan. Meski terkadang omongan Danny menyakiti perasaannya, tetapi Sara tak peduli. Ia menulikan pendengaran agar tak tersinggung. Semua ia lakukan hanya demi tetap bisa berada dekat dengan Danny.
__ADS_1
Namun kini, ia baru menyadari ketidaknyamanan Danny akan kehadirannya. Sehingga menghilang dari hidup Danny adalah pilihan yang terbaik.
Sara hendak merebahkan diri di atas pembaringan saat tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.
“Iya, sebentar Oma.” Bangun dari duduknya di tepian tempat tidur, ia bergegas menuju pintu. Sebab ia mengira yang mengetuk pintu kamarnya adalah Oma Widya.
Akan tetapi ketika pintu kamar itu dibuka, malah wajah tampan Arga yang terlihat. Pria itu mengembangkan senyumnya. Membuat Sara merasa risih juga kikuk.
“Kamu sudah tidur? Maaf mengganggu,” ucap Arga.
“Kalau saya sudah tidur, mana mungkin saya bisa membuka pintu ini,” kelakar Sara merasa tak nyaman dengan kehadiran Arga di depan kamarnya.
Arga pun tertawa kecil mendengar ucapan Sara.
“Oh iya, benar.” Arga mengusap tengkuknya malu. Baru kali ini ia dibuat salah tingkah seperti ini oleh seorang gadis. Padahal sebelum-sebelumnya ia tak seperti ini. Jangankan berada di hadapan seorang gadis, bahkan di depan berpuluh-puluh kamera saja adalah hal yang biasa baginya. Tetapi kali ini, entah keanehan apa yang terjadi padanya. Badannya bahkan dibuat panas dingin, lidahnya serasa kelu untuk mengutarakan maksudnya.
“Ada apa chef kemari? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Sara kemudian.
“Emm ... Sara, bisakah kamu tidak memanggilku seperti itu? Kamu bisa berbicara santai denganku. Tidak perlu formal.”
“Oh iya, maaf chef. Eh, Arga.” Sara mengulum senyum, namun memalingkan wajahnya, lantaran tak ingin beradu tatap dengan Arga terlalu lama.
“Bisa kita ngobrol sebentar?”
“Emm ...” Enggan sebetulnya, bahkan Sara merasa tak nyaman. Apalagi ia tak ingin sampai dilihat oleh Oma Widya. Walau bagaimanapun ia hanyalah tamu di rumah ini. Sebisa mungkin ia harus menjaga sikapnya.
Namun agaknya, kekhawatiran Sara justru berbanding terbalik dengan kenyataan. Dari balik dinding tak jauh dari kamar Sara, Oma Widya mengintip.
Arga adalah cucu satu-satunya. Dari gelagatnya saja Oma Widya sudah bisa menebak, jika Arga memiliki ketertarikan terhadap Sara. Ia pun sangat yakin jika rencananya untuk menjodohkan Sara dengan sang cucu akan berjalan mulus. Kemungkinan berhasil sudah terlihat jelas dari tingkah Arga malam ini.
*
__ADS_1