
Memeluk Rindu
Bab. 29
“Mantan istri gimana, orang kalian belum resmi cerai kok.”
Gerakan tangan Danny terhenti seketika. Gelas wine yang hampir menyentuh bibir itu ia letakkan kembali. Walau kepalanya terasa pening efek dari minuman keras itu, namun pendengarannya masih berfungsi dengan baik.
Ia mendengar dengan jelas kalimat yang diucapkan Ferdy. Pengacara yang ditunjuk Mayang untuk menggantikan Hilman, seorang pengacara senior yang telah bertahun-tahun lamanya menjadi pengacara keluarganya semenjak mendiang Jayadi masih hidup.
“Coba ulangi lagi, apa katamu tadi?” memicingkan matanya, Danny ingin memastikan kembali jika pendengarannya memang tak salah. Beragam pertanyaan pun mulai mengisi kepalanya. Termasuk perceraiannya dengan Sara yang tak ia ketahui sama sekali. Sebab saat itu ia dalam keadaan koma.
Seperti baru menyadari sesuatu, Ferdy pun terhenyak. Ia tergagap kemudian. Kebingungan harus berkata apa.
“Emm ... Sorry, sorry, aku tadi salah ngomong.” Ferdy mengelak.
“Bisa gawat ini kalau sampai ketahuan Bu Mayang aku membeberkan kebenaran. Lagian, kenapa aku keceplosan sih. Sialan.” Ferdy pun lantas mengumpat dalam hati. Ia salah tingkah. Gelagatnya pun terlihat mencurigakan.
“Tadi aku mendengarnya dengan jelas, kamu bilang aku dan Sara belum resmi bercerai. Benar begitu?” Danny meninggikan alis, menodong Ferdy dengan sorot mata tajamnya.
Ferdy menelan ludah, kebingungan harus menjawab apa. Masalahnya, ia telah dibayar Mayang untuk menutupi kebenaran itu. Kebenaran jika perceraian Danny hanyalah rekayasa. Sebab kenyataannya Danny tidak bisa berpisah dari Sara. Maka akan ada konsekuensi yang harus diterima Mayang dan Danny jika sampai hal itu terjadi.
Untuk itulah mengapa Mayang merekayasa perceraian Danny dan Sara. Demi menutupi satu kebenaran lain agar tak terkuak ke permukaan. Hal itu pula lah yang menjadi penyebab mengapa Mayang menunjuk Ferdy untuk menggantikan Hilman sebagai pengacara keluarganya. Sebab Hilman mengetahui sebuah kebenaran lain tentang kisah masa silam yang ingin ditutupi oleh Mayang rapat-rapat.
“Kamu memang tidak salah dengar. Yang tadi itu bukan kamu, tapi orang lain. Ada banyak kasus perceraian yang aku tangani, termasuk perceraian kamu. Jadi, mohon maaf, aku salah tadi. Maksudku bukan kamu.” Sembari berharap Danny mempercayai omongannya, Ferdy mencoba menghindari tatapan memicing Danny. Yang tengah menelisik raut wajah serta tingkahnya. Yang mungkin saja terlihat mencurigakan dimata Danny.
“Kamu tidak bohong?”
Ferdy menggeleng cepat dan meyakinkan.
__ADS_1
“Kamu yakin tidak sedang membodohiku?” Meski tak dekat, bahkan belum lama mengenal Ferdy, tetapi sedikit banyak Danny pernah mendengar desas-desus tentang Ferdy. Si pengacara muda nan nakal dan sangat mudah tergiur rupiah.
“Untuk apa aku membodohimu kawan. Oh ya, kalau begitu, aku tinggal dulu ya. Aku masih punya banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Oke, kawan. Selamat malam.” Ferdy menepuk pundak Danny sebelum akhirnya melenggang pergi. Meninggalkan Danny yang tampak sedang berpikir keras.
Memutar balik ingatan ke masa beberapa bulan lalu, Danny merasa telah melewati satu bagian terpenting. Yaitu omongan Mayang saat itu, tentang memalsukan tanda tangannya pada berkas perceraian. Betapa bodohnya ia mengapa melewatkan hal sepenting itu.
Sepanjang malam Danny tak bisa tidur sepulangnya dari bar. Sepanjang malam itu pula ia memikirkan hal tersebut. Hal yang janggal dalam kasus perceraiannya. Mengapa pula ia tak permah terpikirkan hal itu.
....
Keesokan harinya. Tanpa sepengetahuan Mayang, Danny pergi ke pengadilan setempat, guna untuk memastikan kecurigaannya. Pada bagian resepsionis Danny menyerahkan selembar kertas untuk dicek keabsahannya. Ia pun terkejut ketika bagian resepsionis mengatakan sesuatu hal diluar dugaannya.
PRAK
Danny melempar berkas di tangan ke meja sofa ruang tengah ketika ia pulang ke rumah dan menemukan Mayang tengah duduk bersantai sambil menonton TV.
“Apa ini?” Mayang terkejut, mematikan TV segera. Lalu meraih berkas itu. Ia pun mengerutkan dahi setelah membuka map dan membaca isinya.
“Apa Mama tidak ingin mengatakan yang sebenarnya padaku?” tanya Danny menatap serius sang Mama.
“Maksud kamu ini apa sih? Mama tidak mengerti.”
“Tolong jangan bohongi aku lagi Ma. Apa Mama tidak merasa sudah menyembunyikan sesuatu dariku?” Ada amarah yang sebetulnya sedang berusaha Danny redam. Ingin rasanya ia menumpahkan amarah itu dan melampiaskannya segera. Namun ia masih menghormati ibunya. Sehingga ia mendesak sang ibu untuk berterus terang saja kepadanya. Tentang sebuah kebohongan yang disembunyikan.
“Me-menyembunyikan apa maksud kamu? Katakan saja, jangan bikin Mama bingung deh.” Sembari menerka-nerka, Mayang membuang muka, menghindari tatapan tajam Danny yang malah membuatnya salah tingkah.
Sementara Danny tak melepas sedetik pun tatapannya yang menghunus tajam kepada Mayang. Yang membuat Mayang jelas terlihat salah tingkah. Gelagat Mayang pun serasa mencurigakan dimatanya. Terlihat seperti gelagat orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.
“Jangan mengelak lagi, Ma. Mama pikir aku tidak tahu apa yang sudah Mama lakukan?” Danny menyambar berkas di meja itu.
__ADS_1
“Surat cerai ini palsu.” Sembari merobek kertas di tangan menjadi serpihan kecil, lalu melemparnya asal. Hingga serpihan kertas itu berhamburan di lantai.
Mayang menelan ludahnya kelat. Segera ia bangun dari duduknya.
“Danny, Mama bisa jelasin ini,” ujarnya. Padahal ia sudah bersusah payah meyakinkan Sara dan juga Danny tentang perceraian mereka. Ia bahkan telah membayar mahal Ferdy unyuk memalsukan berita acara perceraian itu demi sesuatu yang lain yang ingin ditutupinya. Tetapi pada akhirnya, usahanya pun sia-sia.
“Mama mau menjelaskan apa lagi, Ma? Mama sudah memalsukan surat perceraianku, dan Mama juga sudah mengusir Sara dari rumah. Dengan mengusir Sara dari rumah, itu berarti Mama sudah melanggar janji Mama pada almarhum Papa. Apa Mama sudah lupa Mama pernah berjanji apa sama Papa?”
Beberapa jam lalu Danny baru mengetahui jika perceraiannya tidak terdaftar di pengadilan agama setempat yang didatanginya baru-baru ini. Ia memperlihatkan surat perceraian yang dibawanya itu kepada petugas resepsionis. Yang membuatnya terkejut bukan kepalang saat itu juga ketika petugas mengatakan bahwa surat perceraiannya itu tidak asli.
Semula Danny sempat mengira bahwa hanya tanda tangannya saja yang dipalsukan. Namun ternyata, surat perceraian itu pun palsu adanya. Lekas Danny pun pulang ke rumah, hendak menemui Mayang dengan kemurkaan.
Namun beruntung ia masih menghormati sebagai satu-satunya orang tua yang masih ia miliki. Sehingga amarah yang telah meluap itu berusaha ia redam.
“Terus, memangnya kenapa? Mama tidak lupa kok dengan janji Mama. Apa kamu pikir Mama mengusir Sara tanpa uang sepeser pun? Mama sudah memberinya uang yang banyak agar dia tidak terlantar di jalanan. Kurang baik apa lagi sih Mama?”
“Di dunia ini Sara tidak punya siapa-siapa selain kita. Mama tega mengusir dia dari rumah. Mama juga tega sudah memisahkan aku dari wanita yang aku cintai Ma.”
“Alaaah cinta, cinta apaan. Bukannya selama ini kamu ingin sekali menjauhkan Sara dari hidup kamu? Seharusnya kamu berterima kasih sama Mama. Karena Mama sudah membantu kamu menyingkirkan perempuan itu. Bukannya kamu malah menyalahkan Mama.” Mayang pun mulai terpancing emosi.
“Tapi itu dulu, Ma. Sebelum aku menyadari perasaanku. Aku mencintai Sara, sejak dulu. Hanya saja aku terlalu egois dengan diriku sendiri sampai-sampai aku sering menyangkal perasaanku.”
“Alaaah ... Yang kamu rasakan itu bukan cinta. Tapi ketergantungan. Kamu sangat bergantung dengan Sara. Karena selama ini dia selalu melayani kamu.”
“Tapi tidak seharusnya Mama membohongiku seperti ini, Ma. Mama tahu aku sangat kecewa sama Mama.”
“Ya sudah, sekarang kan kamu sudah tahu. Kalau begitu kamu ceraikan saja dia lalu segera kamu nikahi Tania. Tinggu apa lagi?”
Danny menggeleng. “Tidak, Ma. Aku tidak akan melakukan itu. Yang akan aku lakukan adalah membawa Sara kembali ke rumah ini. Karena Sara masih istriku.”
__ADS_1
*