Memeluk Rindu

Memeluk Rindu
MR Bab. 27


__ADS_3

Memeluk Rindu


Bab. 27


Malam semakin larut, setelah obrolannya dengan Sara beberapa jam lalu, Arga kesulitan memejamkan matanya. Bunga-bunga yang bermekaran di hatinya lantaran senang Sara menerima lamarannya, sampai detik ini masih terasa. Membuaikan segala angannya tentang cinta.


Padahal Sara hanya mengangguk saja, tapi sudah mampu melambungkan perasaannya sampai-sampai rasa kantuk pun terusir dengan sendirinya. Alhasil, sampai detik ini matanya masih saja nyalang.


Arga sedang tersenyum-senyum sendiri memandangi langit-langit kamar, berbaring dengan berbantalkan kedua telapak tangannya. Ia tengah membayangkan seperti apa rupa rumah tangganya dengan Sara nanti saat tiba-tiba angan-angannya buyar ketika suara derum mobil terdengar sampai ke telinganya.


Mengernyitkan dahi, dengan gerakan cepat Arga bangun. Berjalan menuju jendela kamar, dilihatnya di bawah sana Alphard hitam miliknya bergerak perlahan keluar gerbang. Beragam pertanyaan pun mulai bermunculan di kepalanya.


Arga lantas mengambil ponsel, mencoba menghubungi Dodit. Namun Dodit tak menjawab panggilannya. Selang beberapa menit, setelah beberapa kali mencoba, Dodit pun akhirnya menjawab panggilannya.


“Kamu di mana, Dit?” tanyanya pada supir yang berusia beberapa tahun di bawahnya itu. Dan sudah bekerja padanya selama tiga tahun. Jadi lebih kurang, Dodit sudah hapal betul dengan peraturan yang diberlakukannya di rumah. Termasuk dalam menggunakan mobil miliknya. Jika Dodit ingin menggunakan kendaraan untuk urusan pribadinya, maka Dodit diijinkan menggunakan mobil jenis yang lain yang ada di garasi rumah selain si Alphard yang sering ia gunakan.


“Maaf saya tidak memberitahu Den Arga sebelumnya. Soalnya mendesak. Neng Sara meminta tolong ke saya, Den. Katanya biar Neng Sara yang akan memberitahu Den Arga langsung.” Dodit berkata di ujung telepon.


“Katakan kalian ada di mana sekarang?”


Arga pun bergegas setelah Dodit membagikan lokasi yang didatangi Sara dengan menggunakan mobil yang lain. Ia tahu ia terlalu lancang untuk tahu urusan pribadi Sara. Namun naluriahnya sebagai lelaki tersentil ingin menjaga wanitanya. Apalagi Sara telah menerima lamarannya, paling tidak ia ingin melindungi calon istrinya dari marabahaya. Terlebih lagi, malam sudah larut. Ada banyak bahaya di luar sana yang sedang mengintai


Begitu tiba di lokasi, ia malah terkejut melihat Sara sedang berlari dikejar seseorang. Membuat naluri ingin melindunginya semakin kuat. Ia hendak menghampiri Sara ketika tanpa sengaja Sara malah menabraknya. Ada perasaan lega saat Sara kini ada bersamanya.


“Sara?” gumamnya cemas dengan setumpuk tanya di kepala.


Sara tampak terkejut begitu mengangkat kepala.


“Arga?” Antara keheranan, kebingungan, juga cemas mendera Sara. Masalahnya, keluar rumah di tengah malam seperti ini ia tak memberitahu Oma Widya ataupun Arga. Ia pergi begitu saja saking khawatir terjadi sesuatu kepada Danny. Ia takut kalau sampai Danny nekat ingin mengakhiri hidupnya. Tentu saja ia tak ingin hal itu terjadi.

__ADS_1


“Sedang apa kamu di sini malam-malam begini?”


Sara tak lekas menjawab. Ia menoleh ke belakang.


Arga pun mengikuti arah pandang Sara. Ia kemudian mengerutkan dahi begitu melihat Danny yang datang mendekat setengah berlari.


Namun langkah Danny terhenti. Pria itu memandangi Sara dan Arga dengan raut wajah berbeda. Dadanya kembang kempis, napasnya memburu.


“Sara.” Danny memanggil Sara. Hati kecilnya berkata Sara pasti akan datang untuk menemuinya. Ia bahkan bisa merasakan kehadiran Sara. Dan ternyata ia tak salah. Sara memang datang, tapi tak ingin menemuinya. Dan malah memilih menghindar. Tak perlu banyak bertanya lagi, ia sangat yakin jika perasaan Sara masih sama untuknya. Walau Sara menyangkalnya berulang kali, bahkan berusaha menyembunyikannya, tetapi hatinya bisa merasakan itu.


“Maaf, kamu ini siapa? Kenapa mengganggu calon istriku?” Ini adalah yang ketiga kalinya Arga melihat Danny. Sehingga memantik rasa penasarannya. Apalagi pria itu kedapatan sedang mengejar Sara. Jika pria itu adalah orang jahat, jelas ia harus melindungi Sara. Ia pun menarik Sara lebih merapat kepadanya, kemudian melingkarkan lengan kanannya di pundak Sara. Merangkul Sara, memberinya rasa aman.


Siapa sangka sikap protektif Arga itu justru mengundang raut berbeda di wajah Danny. Antara marah dan cemburu membaur jadi satu.


“Kamu tahu kan Sara ini adalah calon istri orang terkenal. Jadi, hati-hati, Bro.” Tak perlu memberi penjelasan panjang lebar, Arga yakin jika pria di depannya itu paham akan konsekuensi berurusan dengan orang terkenal seperti dirinya. Apalagi jika dilihat dari tampang dan penampilan, pria itu terlihat seperti pria berpendidikan dan bukan pria sembarangan mungkin.


“Danny. Kamu ini sudah gila ya? Apa kamu mau bikin Mama jantungan? Ayo, kita pulang.” Setengah menghardik Mayang berkata dengan wajah marahnya. Wajah marah itu pun tampak murka ketika menoleh dan melihat Sara.


Tanpa banyak berkata, Mayang langsung menarik kasar lengan Danny. Menyeretnya, membawanya menjauh dari Sara dan Arga. Anehnya, Danny malah tak memberontak. Danny tak memberikan perlawanan, ia menurut saja ketika Mayang membawanya ke mobil. Tak berapa lama mobil yang mereka tumpangi pun mulai bergerak meninggalkan tempat itu.


....


Sepanjang perjalanan pulang, keheningan menguasai. Bergantian dengan Dodit, Arga mengendarai si Alphard untuk membawa Sara pulang. Sedangkan Dodit mengendarai mobil yang dikendarai Arga ketika datang ke lokasi.


Beragam pertanyaan masih bertumpuk-tumpuk di kepala, namun Arga memilih bungkam. Sebab dilihatnya Sara diam seribu bahasa dengan wajah menoleh ke jendela mobil.


Sebetulnya Arga ingin sekali mengurai bingung serta keingintahuannya akan sosok Danny. Tetapi urung dengan diamnya Sara.


Namun, begitu sampai di depan rumah, baru saja Sara turun dari mobil, Arga pun melontarkan tanya yang membuat langkah Sara yang hendak menapaki undakan tangga teras itu pun terhenti.

__ADS_1


“Laki-laki itu apakah laki-laki yang berarti dalam hidupmu sampai-sampai kamu nekat keluar rumah malam-malam begini?”


Sara menelan ludah. Kemudian menoleh. Arga pun mendekat.


“Kamu sudah menceritakan masa lalu kamu padaku. Tapi mungkin belum semuanya. Apakah aku benar?” sambung Arga.


Menundukkan wajahnya, Sara kemudian mengangguk. Memang tidak semua masa lalunya ia ceritakan kepada Arga, termasuk tentang perasaannya yang sesungguhnya kepada Danny. Arga hanya tahu jika ia dijodohkan dengan teman masa kecilnya tanpa memiliki perasaan satu sama lain.


“Dia mantan suamiku.” Sara berkata lirih.


“Sudah aku duga. Tapi, Sara, setidaknya, kamu harus memberitahu Oma atau aku jika kamu keluar rumah. Sekalipun itu untuk pergi menemui mantan suamimu. Kalau misalkan terjadi apa-apa sama kamu, siapa nanti yang akan bertanggung jawab.”


“Maaf. Tadi mendesak. Dia memintaku bertemu.” Sara tahu ia telah bertindak tak sopan tanpa memberitahu tuan rumah. Bahkan dengan lancang ia meminta supir pribadi tuan rumah untuk mengantarkannya ke tempat tujuannya tanpa seijin tuan rumah.


“Tapi, Sara. Seharusnya kamu mengajakku serta. Bukankah aku ini calon suamimu?”


“Maaf. Maafkan aku.” Sara sungguh merasa bersalah sudah bersikap lancang seperti itu. Mungkin saja Arga marah kepadanya.


“Sara, jujur saja, aku cemburu.”


Namun agaknya Sara keliru. Ia pun sontak mengangkat wajahnya, menatap sepasang mata Arga yang menatapnya berbeda. Ia menelan ludah saat tiba-tiba saja ada perasaan lain menelusup ke dalam hatinya ketika menatap sorot mata Arga.


“Sebagai calon suami, aku cemburu melihat calon istriku pergi menemui mantannya secara diam-diam. Sara, jika boleh aku meminta, bisakah kamu berhenti menemui laki-laki itu?”


Sara kembali menelan ludah. Ingin menyanggupi, namun hati kecilnya ...


Sara menghela napasnya sejenak. Ia bimbang harus memberi jawaban apa.


*

__ADS_1


__ADS_2