Memeluk Rindu

Memeluk Rindu
MR Bab. 16


__ADS_3

Memeluk Rindu


Bab. 16


Duduk manis di mini bartender yang ada di dapur rumah itu, Sara tengah menyaksikan aksi Arga yang sedang membuat jus buah untuknya. Sara tersenyum simpul menyaksikan aksi Arga secara langsung. Sebab biasanya ia hanya melihat aksi pria itu secara live di ponselnya saja.


Arga Pratama, pria itu tampak gagah meski tengah mengenakan apron berwarna hitam. Jus buah naga telah selesai dibuat, yang lantas disodorkannya kepada Sara. Disertai dengan senyuman manis, semanis jus buatannya.


“Buat aku?” Sara meninggikan kedua alis, sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Buat siapa lagi?” Melepas apron, Arga lantas mengambil duduk di sebelah Sara.


“Makasih.”


“Jus itu bagus untuk pencernaan. Aku lihat kamu tadi tidak makan banyak. Mau aku buatkan sesuatu?” Arga menawarkan. Sebab saat makan malam mereka berdua beberapa jam lalu, ia melihat Sara tak makan banyak. Bahkan diperhatikannya kala itu Sara seperti tak bersemangat. Ia hanya menaruh kekhawatiran saja terhadap Sara. Bila mungkin saja Sara sedang tidak enak badan.


“Tidak perlu. Aku masih kenyang kok. Tapi makasih sudah menawarkan,” tolak Sara halus. Bukan bermaksud mengecewakan Arga, hanya saja ia sedang tak berselera saat ini.


“apa kamu kurang enak badan atau gimana? Maaf ya, di restoran tadi aku perhatikan kamu seperti kurang bersemangat. Kamu juga tadi makannya sedikit. Jadi aku pikir kamu mungkin kurang enak badan. Kalau kamu sakit, kamu tinggal ngomong. Nanti aku dan Oma akan menemani kamu ke dokter.”


“Aku tidak apa-apa kok, Chef. Eh, maaf, Arga.” Rasanya masih terlalu kaku bagi Sara untuk menyebut nama Arga secara langsung. Selain belum terbiasa, ia juga merasa risih dan kurang sopan. Sebab ia sadar diri dengan perbedaan status yang melekat diantara mereka berdua, ruang lingkup pergaulan, serta dari mana mereka berasal. Perbedaan yang amat kontras itulah yang membuatnya risih, tak percaya diri.


“Mulai sekarang kamu harus terbiasa memanggil namaku, jangan chef lagi. Memangnya ke mana-mana aku membawa penggorengan?” kelakar Arga, yang membuat Sara tergelak. Kedua mata Sara bahkan sampai menyipit, tertawa terpingkal-pingkal saking merasa lucu dengan gurauan Arga.


Wajah Sara yang tertawa-tawa itu seolah memiliki medan magnet. Yang menarik kedua mata Arga memaku tatapannya pada wajah itu. Semakin lama menatap wajah itu, Arga semakin terbawa arus yang tercipta oleh pesona wajah itu. Terlihat sederhana, namun memikat.


“Maaf. Baiklah, kalau begitu mulai sekarang aku akan membiasakan diri memanggil namamu.”


“Ya, kamu memang harus terbiasa. Karena kalau sudah menikah nanti, panggilannya akan berbeda.”


“Apa? Me-menikah?” Sara terkejut mendengarnya, tawanya terhenti seketika, canggung pun menguasai. Padahal kalimat itu spontan saja terlontar dari lisan Arga.


“Bercanda.” Arga langsung menepis keterkejutan Sara.


“Silahkan diminum,” ujarnya kemudian. Sembari membetulkan duduknya. Mendadak ia merasa canggung saat kata menikah meluncur begitu saja dari lisannya tanpa terkontrol. Sudah tentu Sara terkejut, sebab Oma Widya sekali pun belum mengutarakan niatnya kepada Sara. Untuk rencana Oma Widya itu Sara tidak tahu menahu.


“Jusnya enak. Makasih ya?” ujar Sara setelah meneguk jus itu sampai menyisakan setengah. Ternyata kepiawaian Arga tak bisa diragukan lagi. Padahal pria itu hanya menggunakan sedikit tambahan bahan ke dalam jus itu. Tapi rasanya bisa seenak dan sesegar itu.


“Oh ya, lusa nanti apa kamu punya kegiatan?”

__ADS_1


“Ada mungkin. Soalnya Oma mau mengajakku ke resto.”


“Oh, gitu ya?” Arga mengusap tengkuk. Sangat kentara bila ada yang ingin diutarakannya.


“Memangnya kenapa?”


“Emm ...” Arga tengah memilah kata, sebab baru kali ini ia hendak meminta waktu seorang gadis.


“Kata Oma kamu sering menonton acaraku?”


Sara terlihat malu. Lalu mengangguk pelan.


“Kalau begitu, aku mau mengajak kamu ke lokasi syuting lusa nanti. Kamu bisa kan meluangkan waktu?”


Sara tak lekas menjawab. Ia kebingungan. Juga masih tak percaya Arga menawarinya ikut bersama ke lokasi syuting. Bukannya tak ingin, hanya saja ia masih merasa risih. Bertemu orang-orang baru adalah sesuatu yang canggung baginya.


“Tapi_”


“Pergilah, tidak apa-apa. Oma mengijinkan kok.”Tiba-tiba saja Oma Widya datang dan mengagetkan keduanya.


“Tuh, Oma ngasih ijin. Gimana?” Arga berusaha membujuk dengan gayanya.


“Sudah, pergi saja. Lagian selama ini kamu menonton siaran Arga hanya dari henfon kan? Nah, ini kesempatan buat kamu menyaksikannya secara langsung,” ujar Oma Widya.


Sara masih saja terlihat ragu meski Oma Widya sudah memberi ijin.


“Kalau ditemani Oma, aku mau,” sahut Sara akhirnya menyetujui, namun dengan persyaratan.


Arga melirik Oma Widya. Wanita tua itu pun mengangguk, sembari mengulum senyum. Namun mengedipkan sebelah matanya di detik berikutnya. Tanpa butuh penjelasan, Arga sudah mengerti maksud dari kedipan mata sang nenek itu.


“Iya, baiklah. Oma akan temani kamu. Hm?” Oma Widya tersenyum, kemudian merangkul pundak Sara.


....


Kekalutan hati dan pikiran semalam, membuat Danny kesulitan memejamkan mata. Alhasil hingga pagi menjelang raganya tak menyentuh tempat tidur. Untuk mengusir kekalutan itu ia memilih menghabiskan malam di depan layar komputernya. Bermain game online kesukaannya.


Mentari masih belum menampakkan pijar cahayanya. Tetapi di dapur rumah sudah terdengar bunyi spatula yang beradu dengan wajan. Keributan kecil di dapur itu pun mengundang perhatian Bi Minah, yang hendak menyiapkan sarapan untuk majikannya.


“Loh, Tuan Danny sedang apa di dapur?” tanya Bi Minah, tergesa menghampiri Danny yang tengah menyendok nasi goreng ke piring. Ia keheranan melihat Danny memasak sendiri. Dan ini adalah yang pertama kalinya Danny menginjakkan kakinya di dapur. Sebab dahulu, setiap kebutuhan Danny, Sara lah yang menyiapkan. Termasuk memasak sarapannya.

__ADS_1


“Masak, Bi. Ngapain lagi?”


“Kenapa tidak membangunkan Bibi kalau Tuan Danny ingin makan sesuatu? Kan Bibi bisa buatin. Coba kalau ada Non Sara. Non Sara itu paling perhatian sama Tuan Danny.”


Danny terdiam. Kenangan-kenangan Sara pun kembali menari-nari di benaknya. Ia tak memungkiri, jika ada Sara, ia tidak perlu repot-repot seperti ini.


“Bi,” panggil Danny.


“Iya, Tuan. Tuan perlu sesuatu?”


“Bibi kan paling dekat dengan Sara.”


“Bukannya Tuan yang paling dekat dengan Non Sara? Kan hampir setiap hari Tuan bersama Non Sara. Dilayani, diperhatikan.” Belum juga Danny mengutarakan maksudnya, Bi Minah sudah menyela.


“Sebelum Sara pergi, apa Sara tidak menitipkan sesuatu?”


“Setahu Bibi tidak Tuan.”


“Benarkah? Coba Bibi ingat-ingat dulu.”


Bi Minah mengernyit. Menerawang ke beberapa waktu lalu.


“Non Sara cuma nitip pesan sih ke Bibi,” ujar Bi Minah teringat pesan Sara sebelum meninggalkan kediaman Dharmendra.


“Pesan apa, Bi?”


“Non Sara cuma nitip pesan agar Bibi memperhatikan Tuan Danny. Itu saja pesannya Tuan.”


Danny sedikit kecewa. Sebab ia ingin mendengarkan yang lain tentang Sara. Semisal curhatan Sara kepada Bi Minah mungkin. Memang benar dirinya yang paling dekat dengan Sara. Namun tentang gadis itu ia tak sepenuhnya mengetahui.


Dahulu mungkin ia adalah pribadi yang egois. Sehingga apa pun tentang Sara ia tak peduli dan tak mau tahu.


“Baiklah, Bi. Makasih.” Menyeret langkahnya lesu, ia pun membawa sepiring nasi gorengnya ke meja makan. Lalu mulai menyantapnya.


Namun dahinya berkerut, kemudian memuntahkan kembali sesuap masi goreng buatannya yang telah masuk ke mulut. Mungkin lantaran ia yang kurang berkonsentrasi atau memang ia yang tak terbiasa berurusan dengan dapur, sehingga nasi goreng buatannya itu terlalu asin.


Di detik ini, rasa bersalah pun kian membebaninya. Andai saja ada Sara, yang selalu mengerti keinginan dan kebutuhannya. Tapi kini, ia hanya bisa memeluk bayang-bayang Sara.


Kini ia menjalani hari dengan sepenggal-sepenggal kenangan Sara. Yang bermunculan, membuat rindunya kepada Sara kian menggunung. Tetapi sayangnya, rindu itu tak kan pernah bermuara. Bertemankan kenangan, ia hanya bisa memeluk rindu itu erat-erat. Sambil berharap Tuhan akan memberi keajaiban.

__ADS_1


*


__ADS_2