
Memeluk Rindu
Bab. 21
“Ehem, ehem.” Arga berdehem sebentar, masih dalam posisi memeluk Sara.
“Sara, aku Arga. Bukan Danny,”sambungnya. Membuat Sara terhenyak. Lalu tersadar cepat dari angannya.
Melepas pelukannya cepat, Sara salah tingkah. Bahkan malu luar biasa. Entah mengapa ia malah memeluk Arga, padahal dalam pandangannya ada Danny. Pria yang teramat dirindukannya.
“Maaf.” Sara salah tingkah, sembari menghapus air sisa air matanya. Ia kebingungan harus berkata dan berbuat apa sekarang. Secara tak sadar ia malah menyebut nama Danny. Padahal baru semalam ia telah menceritakan semua tentang masa lalunya kepada Arga. Termasuk masa lalunya bersama Danny.
“Maaf, Sara. Aku pikir kalian tidak saling mencintai. Tapi dari yang aku lihat tadi, sepertinya kamu ...”
“Bukan, bukan seperti itu. Aku ...” Sara menyela ucapan Arga. Tetapi kemudian ia malah kebingungan harus berkata apa.
“Apakah ini alasannya kenapa kamu belum menjawab pertanyaanku?” Terus terang saja, Arga masih menunggu jawaban Sara akan pertanyaannya kemarin siang di studio. Tetapi sampai detik ini, Sara belum juga memberikan jawabannya.
“Tidak, tidak seperti itu. Aku hanya merasa tidak pantas saja bersanding denganmu. Aku ini sangat jauh dari kata sempurna. Di luar sana masih banyak gadis-gadis yang lebih baik dariku. Aku, aku hanya_”
“Kamu meragukan aku? Kamu tidak percaya padaku?” sela Arga. Memasang wajah serius ia mencoba meyakinkan Sara jika ia tak main-main.
“Bu-bukan seperti itu. Aku...” Sara kebingungan harus berkata apa agar tak menyinggung Arga.
“Lalau seperti apa?” Menatap lekar sorot mata Sara yang jelas masih ada keraguan di sana, Arga justru berusaha meyakinkan Sara tentang perasaannya. Yang pun sejujurnya ia masih meragu. Tetapi dorongan hatinya begitu kuat, ingin mengenal Sara lebih dekat lagi.
Seperti kata Sara, dirinya bukan wanita sempurna, masih memiliki banyak kekurangan. Namun entah mengapa di mata Arga, Sara justru terlihat berbeda. Sara memiliki daya pikatnya tersendiri dibalik sikap dan kesederhanaannya.
“Sara, maaf. Katamu kalian tidak saling mencintai. Kalian menikah karena dijodohkan. Tapi, bukankah orang yang tidak saling mencintai itu tidak akan saling merindukan?”
Sara pun terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Sungguh ia malu dan tak enak hati terhadap Arga.
“Maaf kalau aku menyinggung kamu. Lupakan saja soal ini. Oh ya, siang ini aku ada kelas dadakan. Ada beberapa ibu-ibu sosialita yang ingin belajar memasak langsung denganku. Apa kamu mau ikut?” tanya Arga mengalihkan topik, demi mengurai canggung yang tercipta. Walau diam-diam ia merasa cemburu, namun ia berusaha bersikap bijak. Sara adalah wanita bebas, bukan haknya melarang Sara memikirkan lelaki lain. Mungkin ia yang harus selangkah lebih maju untuk memenangkan hati Sara.
“Tapi, tidak akan lama kan? Soalnya nanti sore aku ada janji.”
__ADS_1
“Dengan Danny?” Padahal ia sudah mencoba bersikap bijak, berpikir waras dan telah mengesampingkan rasa cemburunya. Tetapi entah mengapa ia ingin sekali mengetahui perasaan Sara yang sesungguhnya.
“Bukan. Dengan Bi Minah. Bibi yang bekerja di rumahnya Danny.”
Arga mengangguk. Tak banyak bertanya lagi yang mungkin akan membuat Sara merasa tak nyaman nantinya.
“Sarapannya sudah siap?” Tiba-tiba Oma Widya datang dan mengangetkan keduanya.
“Su-sudah, Oma. Sudah selesai kok. Akan segera aku siapkan.” Salah tingkah, Sara tampak lebih mirip orang yang tertangkap basah sedang berduaan di dapur. Padahal Oma Widya justru senang jika melihat mereka berduaan seperti itu. Keseringan juga tidak masalah. Karena calon pengantin memang harus sering menghabiskan waktu berdua agar hubungan terasa lebih hangat.
“Oma tunggu ya? Arga, bantu Sara. Darmi sudah Oma suruh membersihkan kamar Oma.” Tersenyum simpul, Oma Widya kemudian berjalan menuju meja makan. Menunggu Sara dan Arga menghidangkan sarapan.
Betapa senang hati Oma Widya melihat kebersamaan Arga dan Sara. Mereka berdua terlihat sangat serasi. Ia sudah tak sabar ingin melihat Arga dan Sara bersanding di pelaminan.
....
Tergiur dengan bayaran yang tinggi dan telah terlanjur menerimanya, Raka, sahabat sekaligus manajer yang membawahi Arga harus membuat schedule dadakan kelas memasak untuk ibu-ibu sosialita. Bertempat di salah satu studio gedung Lucky Star, kelas memasak dadakan itu pun diadakan.
Dengan menggandeng mesra Sara, Arga melangkah penuh percaya diri memasuki aula. Banyak sorotan kamera justru membuat Sara risih juga malu. Sudah beberapa kali setiap ia bersama Arga, awak media akan datang mengerubungi, meminta wawancara, namun sampai detik ini pun ia masih belum terbiasa.
“Chef Arga akhirnya datang juga.” Seorang ibu-ibu sosialita yang berambut cokelat sebahu berseru begitu Arga memasuki studio. Ia sudah siap dengan kamera ponselnya, langsung menghambur menghampiri Arga dan Sara.
“Aduh, Chef, saya pikir tidak akan datang. Padahal saya sudah membayar mahal loh untuk ikut kelas ini,” ujarnya bersemangat.
Arga tersenyum, masih menggandeng Sara.
“Mana mungkin saya mengecewakan ibu-ibu semua. Saya sangat menghargai undangan kelas ini. Untuk itu saya ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyak sudah mempercayakan saya sebagai tutor ibu-ibu yang cantik-cantik ini.” Arga memuji, sengaja demi menghargai wanita-wanita paruh baya yang telah bersedia merogoh kocek yang tak sedikit untuk kelas dadakan ini. Padahal dari sekian alasan, ia tahu pasti, ibu-ibu itu hanya ingin bertemu dengannya secara langsung.
Ah! Beginilah nasib orang ganteng dan terkenal.
Membenahi kerah kemeja, menyisir rambut dengan jemari, narsis Arga kambuh disaat yang tepat.
“Ini calon istrinya ya Chef?” tanya wanita yang bernama Wulan itu.
Arga melebarkan senyumnya. “Tepat sekali. Kenalkan, ini calon istri saya, Sara.”
__ADS_1
Sara pun menyunggingkan senyumnya, membungkukkan sedikit badannya sebagai tanda hormatnya.
“Cantik ya, sopan lagi. Kalau gitu, boleh ya kita foto-foto dulu, Chef. Mau saya pajang di beranda instagram saya.”
“Boleh, boleh.”
Seperti itulah keseharian Arga. Yang selalu dekat dengan kamera. Dan agaknya Sara harus membiasakan diri dengan hal itu. Padahal ia belum memberikan jawaban atas pertanyaan Arga, namun ia pun seolah tak bisa menyanggah setiap ucapan Arga. Mulutnya bungkam setiap kali Arga memperkenalkan dirinya sebagai calon istri.
Diantara ibu-ibu sosialita yang kini menghambur menyerbu Arga dan Sara meminta foto bersama itu, ada seorang ibu-ibu yang enggan menghampiri. Dia adalah Mayang, mantan mertua Sara. Sekaligus wanita yang telah memberinya kehidupan sejak kecil.
Mayang tampak terkejut, tak percaya, bahkan mungkin tak suka ketika ia mengenali sosok Sara. Yang kini tampil berbeda, mempesona, memukau setiap pandangan meski dalam kesederhanaan.
Menyadari jika ada seorang diantara ibu-ibu itu yang tidak datang mendekat, Sara pun menoleh. Dan dalam seketika Sara pun terpaku. Saling melempar tatapan dengan Mayang dalam diam.
....
“Kenapa tadi tidak ikutan foto bareng Bu Mayang?” Wulan bertanya ketika mereka sedang duduk di kafe seusai kelas memasak yang hanya dihadiri tidak lebih dari lima ibu-ibu sosialita saja, termasuk Mayang.
“Saya hanya malas saja Bu Wulan,” sahut Mayang dengan air muka yang mulai berubah. Yang tadinya semringah kini terlihat suram. Seolah ada kegelisahan yang tengah melandanya.
Wulan mengamati perubahan itu dengan seksama.
“Bukannya Bu Mayang antusias sekali tadi sebelum chef Arga datang? Kok begitu chef Arga datang, Bu Mayang malah terlihat ogah-ogahan?”
“Tidak apa-apa Bu Mayang. Tiba-tiba saya merasa kurang enak badan saja.” Mana mungkin juga Mayang mengakui jika Sara adalah mantan menantunya. Menantu yang dipaksanya bercerai dari sang putra, lalu mengusirnya dari rumah tanpa ampun. Ia hanya terkejut dan tak menyangka jika Sara akan mempunyai kehidupan yang lebih baik. Bahkan memiliki calon suami seperti Arga. Yang datang dari kalangan berkecukupan juga berparas tampan. Namun yang menjadi pertanyaannya, apakah Danny mengetahui semua ini?
“Apa Bu Mayang kenal dengan calon istrinya chef Arga?”
Mayang pun salah tingkah. ”Oh, ti-tidak Bu Wulan. Saya tidak kenal. Oh ya, kenapa kita membahas tentang mereka. Kenapa kita tidak membahas hubungan Danny dan Tania saja, Bu Wulan?”
Wulan mengangguk. “Ya, sampai sekarang saya sih masih menunggu itikad baik dari Danny. Apakah Danny benar-benar serius atau tidak dengan anak saya.” Jika ditanya, sebetulnya Wulan sudah kecewa dengan Danny. Karena sampai detik ini tidak menunjukkan keseriusannya terhadap Tania.
“Kalau Danny tidak serius dengan anak saya, mendingan saya jodohkan saja anak saya dengan Daren, putra seorang menteri. Jelas dia lebih baik dari Danny.”
“Jangan dong Bu Wulan. Nanti saya akan bicara dengan Danny.”
__ADS_1
*