Memeluk Rindu

Memeluk Rindu
MR Bab. 32


__ADS_3

Memeluk Rindu


Bab. 32


“Kamu mau apa?” tanya Sara cemas.


“Mau mencurahkan rinduku.” Danny berkata sembari melepas apron yang dikenakan Sara. Lalu melemparnya asal.


Apa yang dilakukan Danny itu bukan hanya membuat sesak pernapasannya, tapi rasa-rasanya napas Sara telah terhenti detik itu juga. Ditambah lagi tatapan Danny yang tak biasanya itu membuatnya membeku, tak sanggup lagi berkata-kata. Tatapan itu begitu dalam dan ...


Entahlah! Sara tak ingin salah mengartikan. Tetapi yang jelas, tatapan Danny itu membuat bulu romanya meremang, sekujur tubuhnya pun menjadi panas dingin.


Namun sepertinya Sara masih harus menahan napasnya lebih lama lagi. Pasalnya, wajah Danny perlahan-lahan mulai mengikis jarak yang tersisa. Refleks ia pun memejamkan matanya rapat-rapat ketika jarak itu terkikis habis, dan bibir Danny hampir saja menyentuh bibirnya. Hembusan napas Danny bahkan terasa menerpa kulit wajahnya.


Akan tetapi, bukannya sebuah kecupan yang seharusnya mendarat di bibir Sara, Danny hanya menempelkan dahinya dengan dahi Sara. Sara pun membuka matanya.


“Aku merindukanmu, Sara. Aku rindu Sara-ku yang dulu.” Danny berkata lirih dengan mata terpejam.


Sara tak menggubris ucapan Danny. Ia diam saja, bahkan tak melihat wajah Danny yang teramat dekat dengan wajahnya.


“Kembalikan Sara-ku yang dulu. Sara yang selalu ada untukku, walau apa pun yang terjadi. Sara yang tidak pernah membantah kata-kataku, Sara yang akan selalu tersenyum untukku bahkan disaat aku marah sekalipun, Sara yang ...” Danny menjeda kalimatnya sejenak. Menarik mundur wajahnya. Ia menghela napasnya sejenak. Kemudian kembali berkata,


“Mana Sara-ku. Sara yang akan selalu membantuku disaat aku jatuh. Saat ini pun aku sedang jatuh, Sara. Aku jatuh cinta padamu. Apa kamu tidak akan membantuku?”


Sontak Sara pun mengangkat pandangannya, bertemu tatapan sendu Danny. Sekali lagi Sara hanya bisa meneguk ludahnya mendengar ucapan manis Danny yang dahulu sangat ingin didengarnya itu. Tetapi sayangnya, terlambat bagi Danny mengutarakan hal itu sekarang. Sebab hatinya telah terlanjur terluka.


“Kita memang saling mengenal sejak kecil. Tapi jangan pernah berharap kamu bisa dekat denganku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa mencintaimu. Kamu masih ingat kalimat itu? Kalimat yang pernah kamu ucapkan padaku dulu?” Bernada lirih Sara berkata. Sekedar mengingatkan Danny akan kalimat menohok yang pernah Danny ucapkan dahulu di malam pertama mereka. Bahkan di malam pertama itu pula ia harus mendengarkan suara lenguhan Tania saat Tania sedang digagahi Danny.

__ADS_1


Malam yang tragis itu harus dilalui Sara di dalam toilet kamar hotel. Hampir sepanjang malam itu Sara tersiksa mendengarkan suara-suara lakknat yang saling bersahutan merdu, yang sukses menyayat hatinya. Sakit sekali rasanya hati dan perasaan Sara jika teringat malam itu.


“Maaf, aku pernah berkata seperti itu. Maafkan aku, Sara.”


“Untuk hal itu mungkin masih bisa aku maafkan. Tapi untuk yang satu ini, bagaimana aku bisa memaafkanmu? Apa kamu bisa menghilangkan suara dessahan Tania yang masih terngiang di telingaku?”


Danny memejamkan matanya. Sungguh ia merasa bersalah telah melakukan hal itu di malam pertama mereka. Andai saja ia bisa memutar waktu, ia sungguh ingin mengganti kenangan buruk itu dengan kenangan-kenangan indah yang tak terlupakan bagi Sara. Tetapi sayangnya, semua itu telah terlanjur terjadi.


“Untung saja aku tidak menyaksikan perbuatan kalian. Jika tidak, seumur hidupku aku mungkin membencimu,” sambung Sara dengan memberi penekanan pada kata terakhir.


“Dan sekarang, di hadapanku kamu bilang kalau kamu mencintaiku? Lalu kamu berharap aku percaya itu?” tambah Sara mengutarakan kepedihan akan luka yang telah terlanjur tertoreh dalam di hatinya.


“Sara, aku sungguh menyesal. Tolong maafkan aku.”


Danny masih menunduk dengan mata terpejam. Namun matanya harus kembali terbuka, lalu lekas ia mengangkat wajahnya ketika yang terdengar hanyalah suara isak tangis Sara setelah beberapa saat hening membentang. Perasaan bersalah pun semakin mendera Danny.


Membawa jemarinya menyentuh wajah Sara, Danny hendak menghapus deraian air mata itu. Berharap perasaan Sara sedikit melega.


“Sara, aku tahu aku sudah melukai hatimu. Aku tahu aku laki-laki bedebah yang sudah menyia-nyiakan wanita sepertimu. Silahkan kamu marahi aku, bencilah aku sepuas hatimu,” ujar Danny sembari menangkup kedua sisi wajah Sara dengan kedua tangannya.


Dahulu Danny sangat bergantung kepada Sara. Semua kebutuhannya disediakan oleh Sara. Bahkan pernah di suatu pagi Danny tidak mau sarapan jika bukan Sara yang menyiapkan.


Di sekolah, pernah juga Danny menghajar seorang siswa sampai babak belur karena mengganggu Sara. Dalam kehidupan Danny, Sara itu ibarat denyut nadinya. Ia kehilangan semangat hidupnya jika Sara tiada di sisinya. Mungkin sejak saat itulah ia sebetulnya telah jatuh hati kepada Sara, namun ia belum menyadarinya.


“Sekarang aku tanya sama kamu. Apakah di hatimu masih ada cinta untukku, walau hanya sedikit saja?” tanya Danny sembari menatap sendu.


Sara menggeleng pelan. “Aku tidak tahu.”

__ADS_1


“Sara, andai aku bisa memutar waktu, aku ingin sekali kembali ke masa itu. Masa di mana Sara masih ada untukku. Ingin rasanya aku hidup di masa itu dan tak akan pernah kembali. Aku sungguh sangat rindu Sara-ku yang dulu. Sara yang mencintaiku tulus. Andai waktu bisa diulang kembali, aku_” Sesak mulai merebak di dada, Danny bahkan sampai tak bisa menuntaskan kalimatnya. Bagaimana ia harus mengutarakan rintihan hatinya yang nelangsa disaat ia telah terlanjur melukai.


“Sara, andai kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Aku sungguh mencintaimu Sara. Aku mencintaimu. Apa kamu bisa melihat itu di mataku?” Danny mengunci tatapan, berharap Sara bisa melihat kesungguhannya melalui tatapannya.


Sejak kecil Sara sudah mengenal Danny. Setidaknya Sara sudah bisa membedakan saat Danny sedang bercanda dan saat Danny sedang serius. Dan saat ini, ia bisa melihat keseriusan Danny hanya dari sikap dan cara bicaranya.


Namun Sara berusaha memungkiri itu. Karena hatinya terlanjur terluka. Ia bahkan terus melawan kata hatinya, berusaha menumbuhkan kebenciannya disaat cinta masih bermekaran diantara luka.


Bukti bahwa cinta Sara masih teramat besar untuk Danny bisa dilihat ketika Danny perlahan-lahan mulai mengikis jarak, Sara hanya diam saja. Sara bahkan memejamkan matanya ketika sapuan hangat bibir Danny menyentuh bibirnya.


Sikap yang Sara tunjukkan itu seolah tengah memberi kesempatan bagi Danny. Sehingga Danny pun tak ingin melewatkan kesempatan ini. Sembari merengkuh tubuh Sara, Danny semakin memperdalam ciumannya.


Terbawa oleh suasana, sejak dahulu ingin diperlakukan Danny seperti ini, sehingga Sara pun tak memberikan perlawanan. Perasaannya yang masih teramat dalam untuk Danny menuntunnya membalas ciuman itu dengan jantung berdegup kencang.


Apa yang Sara lakukan itu semakin membakar api gairah Danny yang lama terpasung. Ditambah rindu yang menggebu-gebu membuat Danny semakin buas saja mencumbu.


Danny menyerang beringas, kalap dan lupa diri. Sementara lawan kepayahan mengimbangi karena ini adalah pengalaman pertama baginya. Sehingga dorongan kecil di dada membuat Danny menghentikan cumbuannya sesaat.


Diantara deru napas yang memburu, rongga dada yang kembang kempis menahan gejolak, Danny mengulum senyuman tipis. Tanpa perlu Sara berkata, ia tahu Sara masih mencintainya. Bisa dilihat dari sikap Sara dan tatapan Sara saat ini. Ia tahu Sara pun menginginkan hal ini.


Merasa kesempatan itu terbuka lebar, Danny pun meraih Sara ke dalam gendongannya. Semakin senang rasanya melihat Sara tak memberontak ketika ia membawa Sara ke sebuah ruang rahasia dibalik rak buku di dalam ruangannya itu. Hanya dengan menekan tombol yang tersembunyi diantara buku-buku yang berbaris rapi, ruangan itu pun terbuka.


Di dalam ruangan itu terdapat sebuah tempat tidur kecil yang sering digunakan Danny untuk beristirahat. Bahkan terkadang Danny bermalam di tempat itu ketika ia merasa bosan dan tak ingin pulang ke rumah.


Perlahan Danny pun merebahkan Sara di atas tempat tidur itu. Dan sikap yang Sara tunjukkan itu semakin menumbuhkan keberaniannya. Sara tidak memberikan perlawanan sedikit pun.


Sembari menatap Sara lekat, Danny berkata, “Sara, aku ini masih suamimu. Ijinkan aku mengambil hakku sebagai suami.”

__ADS_1


*


__ADS_2