
Memeluk Rindu
Bab. 40
“Maaf, Oma. Ada yang ingin aku sampaikan.” Sara berkata ketika Oma Widya mengajaknya menghampiri Arga. Dengan wajah cemas Sara menatap Oma Widya dan Arga bergantian.
Melihat raut wajah Sara, timbul perasaan tak enak seketika di hati Oma Widya. Firasatnya sebagai seorang wanita seolah berkata jika Sara mungkin berubah pikiran.
Lain halnya dengan Arga. Pria itu justru terlihat gugup dan salah tingkah. Semburat merah diwajahnya pun terlihat jelas, ia malu dan menjadi salah tingkah ketika tanpa sengaja bertemu tatap dengan Sara.
“Aoa yang ingin kamu sampaikan? Kebetulan, Oma juga ingin menyampaikan sesuatu sama kamu. Oh ya, silahkan. Kamu lebih dulu,” kata Oma Widya.
Melirik Arga sebentar, Sara menghela napasnya pelan. Ia telah mengumpulkan keberanian untuk berkata jujur. Ia harus mengambil langkah ini sedari awal agar demi menghalau sesuatu yang tak diinginkan yang mungkin saja akan terjadi di masa mendatang. Lebih baik mereka kecewa dari sekarang dari pada nanti.
“Maaf, Oma. Aku sudah mendengar obrolan Oma dengan Arga barusan,” ungkapnya jujur. Tanpa sengaja ia mendengar obrolan Oma Widya dengan Arga ketika ia hendak menuju ruang makan. Darmi sudah memanggilnya untuk sarapan sejak tadi. Begitu ia ke ruang makan, ia malah mendengar percakapan nenek dan cucu itu. Yang menghadirkan rasa bersalah seketika di hatinya, karena masih menyembunyikan sesuatu yang penting.
“Oh ya? Kebetulan hal itu yang mau Oma sampaikan ke kamu. Oma ingin tahu pendapat kamu.” Oma Widya kaget, sorot matanya berbinar-binar senang. Yang berarti bahwa ia tak perlu lagi menyampaikan hal itu kepada Sara. Hanya tinggal menunggu pendapat dan keputusan Sara saja.
“Aku mau minta maaf sama Oma dan Arga. Aku minta maaf kalau aku mengecewakan kalian.”
“Loh, loh, maksud kamu apa, Nak?” Wajah yang tadinya terlihat senang, kini berubah cemas.
Begitu pula dengan Arga. Wajahnya mendung seketika. Hati kecilnya pun mulai menerka-nerka. Ada satu kemungkinan yang terbersit dalam benaknya. Tapi ia tak ingin cepat berasumsi. Siapa tahu, dugaannya salah besar.
“Oma, Arga, aku minta maaf. Aku ... Aku tidak bisa menikah dengan Arga.” Akhirnya Sara mengatakannya. Susah payah ia mengumpulkan keberanian itu. Hanya lantaran tak enak hati kepada Oma Widya dan Arga yang telah banyak membantunya, ia bahkan telah menentang kata hatinya. Dan kini, ia memberanikan diri mengutarakannya.
“Tapi kenapa, Nak? Oma pikir kamu suka sama cucu Oma.”
__ADS_1
“Ada satu kebenaran yang belum aku beritahu. Sejujurnya, aku juga baru tahu ini kemarin. Dan aku pikir, aku harus kasih tahu ini ke Oma dan Arga.”
“Kebenaran? Kebenaran apa lagi. Bukannya kamu sudah cerita semua tentang masa lalu kamu?”
“Aku tidak bisa menikah dengan Arga karena aku ... karena aku masih menjadi istri orang. Aku dan Danny belum resmi bercerai.”
Oma Widya terkejut, kehilangan kata-kata dalam seketika. Sungguh ia tak tahu harus berkata apa. Ia hanya tak menyangka, perempuan yang ia kagumi itu menyembunyikan sesuatu yang penting darinya. Padahal ia telah berharap banyak pada perempuan itu. Ia bahkan telah membangun impiannya di sisa hidupnya ini. Yaitu melihat sang cucu berbahagia dengan perempuan pilihannya.
Tak tahu harus berkata apa, Oma Widya memilih meninggalkan Sara. Ia melangkah lesu menuju ke kamar pribadinya.
“Oma, aku minta maaf, Oma,” ujar Sara memandangi kepergian Oma Widya.
Namun Oma Widya tak sedikit pun menggubris permintaan maaf Sara. Wanita itu pun menghilang di balik daun pintu kamarnya yang menutup.
Tinggallah Sara dan Arga berdua. Yang masih saling membisu. Hening masih membentang diantara keduanya ketika Darmi datang menaruh dua gelas susu hangat di meja makan. Darmi yang sempat mendengar ucapan Sara itu pun sebetulnya terkejut.
“Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf.” Sara berkata penuh penyesalan, menundukkan wajahnya dalam-dalam.
“Kamu sudah makan?” Hancur perasaanya itu sudah pasti. Tapi Arga tidak melupakan perhatiannya kepada Sara, walaupun wanita itu sudah menggores hatinya.
Sara tidak menanggapi pertanyaan itu. Kepalanya masih tertunduk, tak berani ia menatap wajah Arga. Ia sadar, ia telah melukai perasaan Arga begitu dalam. Sebagai seorang wanita, ia sudah sangat keterlaluan. Seharusnya ia tak memberi harapan kepada Arga sejak awal jika memang ia masih tak bisa membuka hatinya untuk pria itu.
“Kamu makanlah dulu. Aku mau siap-siap. Hari ini aku ada syuting.” Menyeret langkahnya lesu, Arga hendak ke kamarnya. Sungguh ia tak tahu harus berkata apa.
Arga sudah menduga jika Sara mungkin berubah pikiran. Dan ternyata dugaannya itu benar. Ia pun menduga jika Sara mungkin masih mencintai Danny.
Semenjak Danny datang menjemput Sara di restoran tempo hari, sejak saat itu pula perasaan Arga tak bisa tenang. Ada ketakutan yang tiba-tiba saja menelusup ke dalam kalbunya, takut kehilangan. Ketakutan itu terus menghantuinya. Sehingga pagi ini ia mengambil inisiatif untuk mempercepat pernikahannya dengan Sara. Sebab ia takut kehilangan. Sama seperti ia takut kehilangan kedua orang tuanya dahulu. Yang meninggal dalam kecelakaan tragis.
__ADS_1
Ketika Oma Widya pergi meninggalkan rumah, ketakutan yang sama juga sempat menghantui Arga. Sehingga ia melakukan segala cara dan upaya untuk menemukan Oma Widya.
Rasa bersalah pun mendera Sara bertubi-tubi. Sungguh ia tak tahu diri, ia telah melukai hati orang-orang yang telah banyak membantunya tanpa pamrih. Sebagai permintaan maafnya, ia berpikir, mungkin akan lebih baik jika ia pergi meninggalkan rumah ini.
Dengan mata mulai berkaca-kaca, Sara mulai mengemasi barang-barangnya ketika ia kembali ke kamarnya. Ia sudah tidak memikirkan lagi ke mana ia akan membawa dirinya pergi. Karena yang terpenting baginya saat ini adalah menjaga perasaan Arga dan Oma Widya dengan pergi meninggalkan rumah. Mungkin dengan kepergiannya, mereka tidak akan terluka lagi.
“Non Sara, ini Bi Darmi bawakan susu dan roti buat Non Sara. Tadi Non Sara belum sempat sarapan kan? Bibi taruh di sini ya?” Bi Darmi datang membawakan sarapan Sara tanpa Sara memintanya. Darmi melakukan itu karena Arga pernah memintanya untuk memperhatikan Sara, termasuk soal makannya.
Sara menghentikan kegiatannya mengemas pakaian sejenak.
“Iya, Bi. Taruh saja di situ.” Sara mengiyakan. Darmi pun menaruh baki berisi sepiring roti lapis dan segelas susu hangat itu di meja rias. Kemudian Darmi bergegas keluar dengan wajah keheranan melihat Sara sedang mengemas pakaiannya ke dalam koper.
Sara meniupkan napasnya panjang begitu Darmi keluar dari kamarnya. Kembali ia melanjutkan kegiatannya, mengemasi semua pakaiannya. Keputusannya sudah bulat ingin pergi dari rumah Oma Widya. Ia tak ingin lagi mengganggu ketenangan hidup mereka dengan kehadirannya.
Sara telah selesai mengemas pakaiannya. Koper itu telah ia turunkan dari atas tempat tidur. Ia pun menggeret koper itu, hendak keluar dari kamar. Namun langkahnya terhenti saat Arga tiba-tiba datang. Arga berdiri di ambang pintu itu, seolah tak ingin memberinya akses untuk keluar dari kamar.
“Kamu mau ke mana? Bukannya aku minta kamu sarapan dulu?” kata Arga menatap Sara tajam.
“Arga, aku sangat berterima kasih sekali atas semua kebaikan kamu dan Oma. Aku tahu aku tidak bisa membalas kebaikan kalian sampai kapan pun. Aku juga tahu aku sudah melukai hatimu dan Oma. Aku sudah mengecewakan kalian. Sungguh alangkah tidak pantasnya jika aku masih tetap berada di rumah ini, sementara aku sudah menyakiti perasaan kamu dan Oma.
“Mungkin, dengan aku pergi dari rumah ini, setidaknya aku bisa sedikit mengurangi beban kalian. Aku hanya tidak mau terus-terusan menyusahkan kamu dan Oma. Aku tidak mau menjadi beban kalian. Jadi, tolong biarkan aku pergi. Sekali lagi aku minta maaf.” Setelah berkata panjang lebar, Sara pun menerobos keluar dengan menggeret koper. Membuat Arga yang berdiri di ambang pintu itu terpaksa menyingkir memberi jalan.
Tetapi kemudian Arga menyusul langkah Sara. Tidak ia biarkan wanita itu pergi begitu saja. Ia yang hendak pergi ke studio di kagetkan oleh Darmi. Yang datang memberitahunya jika Sara akan pergi dari rumah. Terpaksa ia menunda kepergiannya sejenak dan ingin menghalangi Sara pergi.
“Sara, tunggu. Tolong jangan pergi, Sara. Kita bicarakan dulu ini baik-baik. Semua bisa dibicarakan, bukan asal main pergi seperti ini. Sara ...” Arga masih menyusul langkah Sara. Sampai di ruang tengah, langkahnya pun harus terhenti ketika terdengar suara Oma Widya.
“Biarkan saja dia pergi, Arga. Kamu tidak perlu menahan dia. Biarkan saja dia pergi, karena dia sudah tidak pantas lagi berada di tengah-tengah keluarga kita.”
__ADS_1
*