
Memeluk Rindu
Bab. 23
“Aku mencintaimu, Sara. Aku sangat mencintaimu.”
Sara terdiam. Rasanya seperti mimpi saat Danny mengutarakan kalimat itu. Andai dahulu Danny mengutarakannya, mungkin rasanya akan berbeda. Tidak seperti sekarang. Yang ada ia malah merasa sedih.
“Maaf aku baru mengatakan ini sekarang. Maaf juga karena aku baru menyadarinya setelah aku kehilanganmu. Sara, aku mencintaimu,” tambah Danny dengan tatapan sendunya. Semalaman ia hampir tak bisa tidur karena memikirkan hal ini. Sampai akhirnya ia meyakini perasaannya sendiri. Bahwa yang ia rasakan terhadap Sara adalah cinta. Perasaan itu hadir karena terbiasa bersama. Berbeda dengan apa yang ia rasakan terhadap Tania. Yang tidak lebih hanya karena hasrat semata.
Ketika berhubungan dengan Tania, tidak ada batasan diantara mereka. Tania terlalu bebas dalam menjalin hubungan, sehingga membuat Danny ketergantungan, bukan tergila-gila. Bersama Tania, hasratnya selalu bisa terpuaskan setiap kali ia menginginkannya.
“Cinta?” Sara tersenyum kecut. Ditatapnya kedua mata Danny yang menampakkan keseriusan. Seharusnya ia senang, namun malah perih yang menusuk hatinya. Yang ia sesalkan mengapa baru sekarang Danny menyadarinya.
“Kamu pernah berkata, apakah aku bisa hidup tanpamu. Saat itu aku kira aku bisa. Tapi ternyata, aku tidak bisa hidup tanpamu Sara.” Danny harus mengakui bayang-bayang Sara selalu mengganggunya setelah Sara tiada di sisinya.
“Kamu keliru, Danny. Buktinya, sampai hari ini kamu masih hidup kan?”
Danny menggeleng. “Sara, aku mohon beri aku kesempatan.”
“Ini bukan waktunya untuk bercanda, Danny.”
“Aku serius, Sara.”
Sara kembali tersenyum. Lalu menghela napasnya panjang.
“Apa kamu masih membutuhkan jasa asisten pribadi? Sayangnya aku tidak bisa. Sebaiknya, kita tidak usah bertemu lagi. Jalanilah hidupmu dengan baik.” Pelan Sara melepas cengkeraman jemari Danny dari lengan kirinya. Lalu hendak meninggalkan Danny.
Namun lagi-lagi, Danny menarik pergelangan tangan Sara. Membuat Sara harus meronta untuk membebaskan diri.
“Danny, lepaskan tanganku,” pinta Sara sambil menarik-narik pergelangan tangannya. Tetapi Danny bersikeras tak mau melepaskan.
__ADS_1
“Sara, please. Beri aku kesempatan untuk mencurahkan isi hatiku,” ujar Danny menghiba. Entah apa pula yang terjadi padanya, sampai ia menjatuhkan harga dirinya seperti ini. Dahulu tak pernah sekalipun ia memohon-mohon kepada Sara. Yang ada ia justru tak peduli dengan perasaan Sara. Yang ia pedulikan hanya dirinya sendiri juga kesenangannya. Dan memperlakukan Sara seperti pembantu pribadi adalah hobinya.
“Bukan aku, Danny. Bukan aku tempat yang pantas untuk mencurahkan isi hatimu. Bukannya sekarang kamu punya Tania? Seharusnya kamu curahkan saja isi hatimu padanya, bukan padaku. Diantara kita sudah tidak ada apa-apa lagi sekarang. Tolong Danny, jangan seperti ini.” Masih sambil berusaha melepaskan genggaman erat Danny dari pergelangannya.
“Baik, akan aku lepaskan. Tapi tolong kamu jawab satu pertanyaanku, Sara.”
“Aku tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaanmu. Lepaskan aku, Danny.”
“Sara, please, jawablah. Apakah kamu masih mencintaiku?” Menatap Sara lekat-lekat, Danny berusaha memberi sinyal akan dalamnya perasaannya saat ini. Ia berharap Sara pun bisa merasakan getaran di dadanya. Yang membuat jantungnya bertalu-talu dan aliran darahnya berdesir. Baru kali ini, ia menggila seperti ini. Hari-harinya bahkan senantiasa dihiasi oleh bayangan Sara.
Sara sudah membuka mulutnya, hendak menjawab pertanyaan Danny saat kedatangan Arga mengganggu, dan membuyarkan barisan kata-kata yang hendak diutarakannya kepada Danny.
“Calon istriku ini kenapa lama sekali?” Datang dengan wajah penuh tanya, Arga menggulir pandangan kepada Danny. Kemudian menurunkan pandangan ke pergelangan Sara yang tengah digenggam Danny. Merasa berhak melindungi calon istrinya, Arga pun melepaskan genggaman Danny.
“Dilarang pegang-pegang calon istri orang. Ini di tempat umum loh ya. Tidak baik kalau sampai ada orang yang melihatnya. Apalagi Sara ini calon istri orang terkenal. Jadi sebaiknya, jaga sikap dan jaga jarak Anda dari calon istri saya,” ujar Arga memberi peringatan langsung.
Tak ada yang bisa Danny lakukan, mengingat situasinya memang kurang menguntungkan baginya. Ditambah lagi, apa yang dikatakan Arga itu memang benar adanya. Seharusnya ia bisa menjaga jarak juga menjaga sikapnya. Sebab Sara sudah bukan lagi miliknya. Yang bisa ia perlakukan semena-mena seperti dahulu.
“Ayo sayang, kita pergi. Oma sudah menunggumu di resto.” Tak meminta penjelasan dari Sara, Arga langsung menarik pergelangan Sara. Mengajaknya menuju Alphard hitam yang terparkir manis tak jauh dari tempat mereka. Supir sudah menunggu, begitu Sara dan Arga naik ke mobil, si supir langsung tancap gas meninggalkan area parkir kafe.
Sementara Danny masih mematung di tempatnya, memandangi Alphard hitam yang mulai menjauh itu sampai menghilang dari pandangannya.
Mengepalkan tinjunya erat, giginya bergemeletuk. Rahangnya mengetat, wajahnya memerah. Danny hanya bisa menahan luapan kekesalan itu. Kehadiran Arga rupanya akan menjadi batu sandungan untuknya untuk mendapatkan Sara kembali.
Luapan amarah dan cemburu yang mendesak secara bersamaan itu pun hanya bisa Danny lampiaskan pada minuman beralkohol di sebuah bar langganannya.
Duduk di meja bartender, Danny menenggak gelas demi gelas minuman wine yang disajikan bartender untuknya. Sampai untuk gelas yang kesekian kalinya, tangannya terhenti ketika sebuah jemari lentik menahan tangannya.
“Sudah cukup, sayang.” Tania merebut gelas wine dari tangan Danny, menjauhkannya dari jangkauan Danny.
“Berikan padaku.” Danny meminta dengan wajah marah.
__ADS_1
“Sudah cukup sayang. Aku tahu kamu tidak kuat minum.”
Danny membuang muka. Apa yang dikatakan Tania benar. Ia memang suka mendatangi bar, minum minuman beralkohol, tapi tak pernah melewati batas kemampuannya. Tak pernah sekali pun ia minum sampai mabuk berat.
Tania memindai keadaan Danny yang terlihat kacau dengan dahi berkerut. Sejak tadi ia berusaha menghubungi Danny untuk tahu keberadaan Danny. Sebab ketika ia mendatangi Hotel Venus, Danny sedang tidak berada di tempatnya. Sehingga menimbulkan kekesalan juga kecurigaannya.
Membuang pikiran-pikiran negative yang mulai mengganggu, Tania mencoba bersikap tenang walau ada kekesalan yang ingin ia luapkan kepada sang kekasih. Tetapi mungkin keadaan sedang tidak memungkinkan. Dengan melihat keadaan Danny yang kacau seperti ini, mengapa ia tidak memanfaatkannya sekalian.
“Danny, sayang.” Merapatkan diri, Tania mulai merayu. Mengulurkan tangan kanannya, meraih kancing teratas kemeja Danny. Membukanya perlahan dengan gaya centil manjanya. Sementara satu tangannya melingkari pundak Danny.
“Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu berdua. Aku sangat merindukanmu, Danny,” tambahnya merayu, menelusupkan jemarinya di balik kemeja Danny. Mengusap dada Danny dengan lembut demi membangkitkan hasrat pria itu.
Mungkin lantaran isi kepala Danny hanya dipenuhi oleh Sara, sampai-sampai wajah Tania pun menyerupai Sara dalam pandangannya. Apalagi ketika Tania berkata rindu, yang ada dalam bayangan Danny pun hanya Sara.
....
Sementara di lain tempat. Setelah mengajari Sara beberapa menu terlaris di One Taste Food and Resto, yang diawasi langsung oleh Oma Widya, Arga kini tengah mengobrol berdua dengan Oma Widya di pantry. Sementara Sara tengah mengobrol dengan koki yang lain.
Memperhatikan wajah Sara yang tampak ceria kala sedang mengobrol itu menimbulkan desiran halus dalam dadanya. Arga tersenyum kecil memandangi Sara. Entah mengapa belakangan ini wajah Sara teramat menarik di matanya. Seolah dalam wajah itu ada keindahan yang sayang untuk dilewatkan.
Tingkah Arga yang sedang tersenyum-senyum sambil memandangi Sara itu pun tertangkap mata oleh Oma Widya.
“Kenapa cuma dilihatin. Didekati dong. Kalian kan calon pengantin.” Oma menggoda Arga.
“Aku malu, Oma.”
“Loh, kenapa malu? Terus gimana kalian bisa saling mengenal kalau kamunya malu begini?”
“Sara itu orangnya pendiam. Dia selalu menjaga sikapnya. Aku jadi kesulitan untuk mendekatinya.” Arga mendesah resah. Apalagi ketika teringat seorang pria yang mengganggu Sara di tempat parkir sore tadi. Kekhawatiran pun mendadak mendera. Khawatir jika Sara akan tergoda oleh lelaki lain. Namun yang membuatnya merasa aneh adalah mengapa pria itu memegangi tangan Sara. Apakah Sara dan pria itu saling mengenal?
“Oma, apa tidak sebaiknya pernikahannya dipercepat saja? Untuk saling mengenal, aku rasa, setelah menikah juga bisa dilakukan. Aku hanya takut Sara akan berubah pikiran.”
__ADS_1
*