
Memeluk Rindu
Bab. 14
Beberapa menit lalu.
“Masih mau bilang Sara kampungan?” Oma Widya menantang Arga ketika Sara berlalu ke luar ruangan VIP.
Arga salah tingkah, mengusap tengkuk, serta membasahi bibir berkali-kali. Batinnya mengakui bila ia salah menilai Sara. Ruang pandangnya telah terbiasa melihat gadis-gadis yang berpenampilan up to date, sesuai dengan perkembangan mode jaman sekarang. Sehingga ketika pertama kali melihat Sara dalam kesederhanaannya, ia lantas menyebut Sara kampungan.
Padahal jika dilihat-lihat, dibalik kesederhanaan itu terpancar kecantikan alaminya. Yang sayangnya, ia tak bisa melihat hal itu.
“Sekarang gimana menurut kamu penampilan Sara. Hm?” tantang Oma Widya lagi.
Arga belum memberikan tanggapannya. Ia sok memasang tampang berpikir keras. Padahal lidahnya serasa kelu melontarkan pujian, karena gengsi lebih mendominasi.
“Ayolah, jangan gengsi. Oma tahu apa yang dalam pikiran kamu sekarang. Tatapan kamu itu sudah cukup memberikan jawabannya.” Oma Widya tersenyum simpul melihat tingkah Arga. Yang masih saja memelihara gengsinya.
“Memangnya apa yang terlihat di mataku? Apa mataku ini bisa berbicara?” Mendadak Arga terlihat seperti orang bodoh. Hanya karena gelagatnya terbaca oleh Oma Widya.
“Oma juga baru tahu kalau ternyata matamu itu bisa berbicara. Matamu berkata bahwa kamu terpesona melihat Sara. Oma benar kan?”
“Ehem ... Ehem.” Arga sengaja berdehem untuk menyembunyikan senyuman yang hampir saja terukir di bibirnya, jika saja ia tak menahannya.
“Arga, kamu itu cucu Oma satu-satunya. Di depan Oma kamu tidak bisa menyembunyikan apa pun. Hanya dengan melihat ekspresi wajahmu saja, Oma bisa tahu apa isi hatimu. Sudahlah, berterus terang saja sama Oma. Kamu suka tidak dengan Sara? Ini Oma serius loh mau menjodohkan kalian. Kalau kamu tidak suka ya, Oma juga tidak akan memaksa kamu. Oma tinggal carikan saja dia calon yang lain. Dan Oma ak_”
“Oma, Oma ...” Arga menyela dengan cepat. Ia terlihat panik, namun kembali salah tingkah lantaran malu mengakui sesuatu hal yang sudah terbaca oleh sang nenek.
“Kenapa? Mau bilang apa? Hm?” Melipat tangan di depan dada, Oma Widya kemudian menyandarkan punggung. Sembari melempar senyum menggodanya melihat tingkah sang cucu.
“Em ... Itu ... Tawaran Oma mungkin akan aku pertimbangkan. Tapi aku butuh waktu untuk saling mengenal,” ujar Arga pada akhirnya.
Tersenyum puas, Oma Widya meniupkan napasnya lega. Karena pada akhirnya, apa yang ia dambakan selama ini akan terwujud menjadi kenyataan.
__ADS_1
“Nah, gitu dong. Oma jamin, kamu tidak akan menyesal memilih dia.”
“Semoga saja.” Padahal ia baru bertemu Sara, namun hatinya telah terpaut begitu cepatnya. Apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?
Ah, Arga, kamu terlalu naif.
Arga tersenyum-senyum sendiri dengan suara hatinya. Baru pertama kali ini ia merasakan getaran yang berbeda ketika bertemu seorang gadis. Padahal, sudah banyak gadis cantik yang bertemu dengannya. Tetapi yang satu ini, sungguh berbeda.
Terlalu naif rasanya jika ia cepat menyimpulkan bahwa perasaan yang mendadak hadir ini adalah cinta. Namun bersemoga jika ini bukan semata karena penasaran saja.
....
“Ijinkan saya memperkenalkan diri. Saya Arga, calon suami Sara.”
Kalimat itu, ekspresi wajah Arga ketika melontarkan kalimat itu, masih terbayang-bayang di pelupuk mata. Bahkan bayangan Sara yang menurut saja ketika Arga mengajaknya kembali, masih tergambar jelas di matanya. Yang membuat cemburu menelusup diam-diam. Menggoreskan luka yang tak terlihat, namun meninggalkan perih yang masih terasa.
Melihat kedekatan Arga dan Sara membuat Danny tak bisa tenang. Sejak dari toilet sampai duduk kembali bersama Tania, ia diam seribu bahasa. Sakit yang datang tiba-tiba saat tahu Sara ternyata sudah memiliki orang lain di dalam hidupnya itu membuatnya kehilangan kata-kata.
Raganya ada bersama Tania, namun jiwanya terseret arus gelombang rindu yang dahsyat. Sayangnya rindu itu harus terdampar di samudera yang tak bertepi.
“Danny, ayo buka mulutmu,” pinta Tania. Namun lamunan Danny seolah tak terusik. Ia masih termangu dengan bayang-bayang Sara menari-nari dalam benaknya. Kenyataan bahwa Sara mampu berpaling darinya itu masih teramat mengejutkan baginya. Padahal ia tahu, semenjak dahulu, Sara sangat mencintainya.
“Danny ... Dan?” panggil Tania dengan tangan masih terulur. Namun Danny masih juga tak terusik. Sampai Tania dibuat kesal, lalu membanting garpu ke piring.
Bunyi denting garpu itu pun akhirnya menyentak Danny dari lamunannya.
“Ada apa, Sara?” tanya Danny tanpa sadar. Membuat Tania semakin kesal jadinya.
“Sara lagi, Sara lagi. Aku Tania, bukan Sara. Apa selama ini yang kamu pikirkan hanya Sara? Aku kecewa sama kamu, Danny!” Tania membuang muka kesal. Dadanya kembang kempis menahan luapan amarah. Selera makannya bahkan telah menguap entah ke mana. Danny sungguh membuatnya jengkel.
Bukannya membujuk Tania yang sedang kesal, Danny justru beranjak meninggalkan Tania seorang diri dengan kekesalannya.
“Danny ... Danny tunggu.” Bangun dari duduknya, Tania menyusul Danny yang telah beberapa langkah di depannya.
__ADS_1
Seolah Danny menulikan pendengarannya. Pria itu bahkan tak menggubris panggilan Tania. Danny malah melangkah panjang meninggalkan restoran tersebut. Ia bergegas menuju tempat parkir, di mana mobil mereka terparkir.
BLAM
Kesal, sakit hati, bercampur kecewa, Danny membanting kuat pintu mobil. Sampai menimbulkan bunyi dentam kencang, yang membuat Tania yang tengah menyusul di belakang Danny terlonjak kaget.
Di dalam mobil, Danny bahkan memukul-mukul kuat stang kemudi demi melampiaskan kekesalannya. Bayang-bayang Sara seolah menghantuinya, memenuhi pikirannya, membuatnya frustasi pada akhirnya.
“Kamu kenapa sih, Danny? Setiap kali kita bersama, kamu selalu saja menyebut nama Sara. Kenapa? Apa kamu menyesal sudah berpisah dengannya?” cecar Tania begitu naik ke mobil, mendaratkan pantat di kursi sebelah kemudi. Ia sungguh heran dan jengkel dengan tingkah laku Danny belakangan ini. Yang selalu saja menyebut nama Sara jika sedang bersamanya.
“Aku pusing, kita pulang saja. Biar aku yang mengemudi,” sahut Danny tak memedulikan cecaran pertanyaan Tania. Saat ini ia hanya ingin segera sampai ke rumah. Sebab hatinya tengah dibuat panas saat melihat kedekatan Sara dengan Arga. Ia cemburu, namun tak ingin menafsirkannya demikian.
Tania tak bisa berbuat apa-apa. Ia cukup tahu jika ia tak bisa memaksa Danny untuk saat ini. Oleh sebab itu ia hanya bisa pasrah, menuruti dulu permintaan Danny. Setelah pikiran Danny tenang, ia akan menuntut penjelasan.
....
Berbanding terbalik dengan Sara. Meski rindu pun memberondongnya begitu melihat Danny, namun Sara masih bisa menguasai diri. Ia mengesampingkan sejenak perasaannya terhadap Danny demi menghadapi situasi saat ini.
Begitu kembali ke ruang VIP, Sara malah tak mendapati keberadaan Oma Widya di dalam sana. Padahal kata Arga, Oma Widya yang meminta Arga untuk menyusulnya ketika lama kembali dari toilet.
“Mendadak Oma sakit kepala. Jadi Oma pulang lebih awal.” Arga berkata ketika melihat ekspresi wajah Sara yang tampak kecewa mungkin.
Karena kedatangan Sara ke restoran ini bersama Oma Widya adalah untuk mengenalkannya pada seluk beluk One Taste Food and Resto. Bukan makan malam berdua bersama Arga. Yang membuat Sara malah merasa risih dengan suasana saat ini. Belum lagi, lilin yang menyala di tengah-tengah meja itu seolah memberi kesan makan malam yang romantis.
Sara melipat lengan, mengusap lengannya lembut. Hawa dingin yang berhembus dari pendingin udara ruangan itu membuat bulu kuduknya sedikit meremang.
Arga yang memahami bahasa tubuh Sara pun bangun dari duduknya. Lalu melepas jaketnya, lantas menyampirkan jaket itu di pundak Sara.
“Kalau kamu merasa tidak nyaman, kita bisa kok pulang sekarang,” ujar Arga mengulum senyuman. Menatap Sara dengan berbinar-binar.
Sengaja Arga meminta Oma Widya pulang lebih dulu. Sebab ia ingin berdua bersama Sara. Walau sekedar untuk menyambung kata. Sebab ia ingin mengenal sosok Sara lebih dekat lagi.
“Sayang makanannya nanti rugi,” sahut Sara. Yang membuat Arga tergelak tiba-tiba.
__ADS_1
“Selain cantik, ternyata kamu juga lucu. Aku berharap apa yang dikatakan Oma itu benar. Dan semoga aku tidak akan salah melabuhkan hati.” Arga tersenyum simpul, menatap Sara lekat-lekat.
*