
Memeluk Rindu
Bab. 20
Tak seperti yang sudah-sudah, pagi ini Danny terlihat bersemangat. Wajahnya yang biasanya terlihat datar, kini terukir senyuman tipis di wajah itu. Hanya setipis tisu, tapi mampu menumbuhkan rasa penasaran Mayang. Yang memperhatikan tingkahnya sedari tadi.
Jika biasanya, Danny selalu termenung ketika berada di meja makan, pagi ini Danny justru terlihat berbeda. Kemarin-kemarin Danny tidak berselera. Sekarang lihatlah seperti apa lahapnya pria itu makan. Bahkan sampai menambah tiga porsi nasi goreng.
“Tumben lahap.” Mayang menyindir, sebab ia keheranan melihat perubahan mendadak dalam diri Danny. Padahal baru kemarin dilihatnya anak itu seperti kehilangan semangat dan gairah hidupnya. Mungkinkah Danny sedang menyembunyikan sesuatu?
“Hanya sedang butuh tenaga saja,” sahut Danny dengan santainya. Hari ini ia memang butuh banyak tenaga untuk menghadapi kenyataan. Kenyataan jika ia telah kehilangan Sara. Dan mendadak timbul keinginannya untuk mendapatkan Sara kembali. Si Panda jeleknya. Panda yang selalu setia berada di sisinya, seperti bayangannya, namun ia sia-siakan.
“Oh ya, gimana hubunganmu dengan Tania?”
Danny tak menggubris. Ia fokus dengan sarapannya. Belakangan ini ia memang kehilangan selera makannya, untuk itu ia memilih fokus saja menghabiskan sarapannya sebelum selera makannya menguap. Apalagi jika Mayang sudah menyinggung soal hubungannya dengan Tania. Hal itu sungguh membuatnya kesal dan tak bersemangat lagi. Hampir setiap hari Mayang membahasnya ketika mereka berada di meja makan. Sehingga membuatnya benar-benar muak.
Danny akui, semenjak menyadari arti Sara dalam hidupnya ketika ia kehilangannya, bersamaan dengan itu juga perasaannya kepada Tania berubah. Atau bahkan mungkin telah sirna.
Kepergian Sara telah membuka mata hati Danny. Kehilangan Sara membuatnya akhirnya menyadari perasaannya selama ini terhadap Sara yang tertutupi oleh gengsi dan keegoisannya. Bahkan tertimbun oleh kebenciannya kepada Sara. Padahal sedikitpun Sara tidak bersalah akan keputusan yang diambil mendiang Jayadi, ayahnya.
“Danny, Mama tanya sama kamu. Gimana hubunganmu dengan Tania.” Mayang mengulang kembali pertanyaannya yang belum ditanggapi Danny.
“Kenapa sih Mama ngotot sekali ingin aku segera menikahi Tania?” Kesal, Danny pun membalasnya ketus.
“Karena Tania itu adalah perempuan yang pantas untuk kamu. Apalagi kalian kan pacaran. Ya wajarlah kalau Mama tanya soal hubungan kalian. Memangnya kalian tidak ingin ke jenjang yang lebih serius?”
“Jangan munafik deh, Ma. Mama ingin aku segera menikahi Tania itu karena Tania adalah putri seorang pengusaha resort ternama? Itu kan maksud Mama?”
“Loh, loh, kok malah Mama yang disalahin. Kamu bukannya cinta sama Tania?”
“Dulu.”
“Jawaban macam apa itu? Jangan bercanda kamu Danny. Barusan Tania menghubungi Mama. Katanya orang tuanya ingin bicara sama kamu mengenai hubungan kalian berdua. Makanya Mama nanya hal ini terus ke kamu untuk kepastian hubungan kalian.”
Menghela napasnya panjang, Danny menyudahi sarapannya.
“Ma ... Mama tahu apa penyesalan terbesarku?” tanyanya bernada pelan.
__ADS_1
“Maksud kamu?” Mayang mengernyit.
“Aku menyesal tidak mengikuti kata hatiku. Seharusnya sejak dulu aku mengutarakan perasaanku pada Sara. Andai aku mengikuti kata hatiku, mungkin aku tidak akan kehilangan Sara. Aku sangat menyesal, mengapa aku baru menyadarinya sekarang, disaat aku telah kehilangan dia.” Bangun dari duduknya kemudian, Danny lantas beranjak meninggalkan Mayang terbengong-bengong sendiri. Berusaha mencerna kalimat Danny.
....
“Selamat pagi.” Arga menyapa begitu memasuki dapur. Sambil mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil, ia menuju dispenser. Mengambil gelas, lalu mengisinya dengan air hangat.
Arga baru saja selesai mandi. Mencium aroma makanan yang menguar dan terbawa angin sampai ke kamarnya itu membuatnya ingin melihat kegiatan Sara di dapur rumahnya pagi hari ini.
“Pagi, Den Arga.” Bukannya Sara, malah Darmi yang membalas sapaan Arga. Mengharuskan Arga meliriknya kesal. Padahal sapaan itu ia tujukan untuk Sara. Tetapi agaknya, wanita itu malah sibuk memotong-motong sayuran.
Sembari meneguk air minum, Arga memandangi Sara. Memperhatikan wanita itu dengan serius. Entah apa yang menarik dari Sara, yang membuat pandangannya tak jemu. Semakin diperhatikan semakin membuatnya penasaran. Padahal Sara itu hanyalah wanita sederhana.
“Ngelihatin calon istri sampai segitunya, Den. Den Arga sudah tidak sabar ya ingin cepat-cepat dihalalin?” Darmi berseloroh. Membuat Arga salah tingkah. Lalu melempar handuk di tangannya kepada Darmi.
“Ngaco kamu Bi,” sergah Danny.
“Kenapa muka Den Arga jadi merah begitu?” Bukannya berhenti setelah mendapat lemparan handuk, Darmi malah mulai meledek majikannya itu. Yang semakin salah tingkah ketika tingkahnya terbaca oleh asisten rumahnya.
“Kalau cara Neng Sara memotong sayuran itu salah, ya diajarin dong Den. Den Arga kan koki terkenal.”
Tak terima diledek Darmi, Arga pun menyambar cepat apron berwarna hitam miliknya yang selalu menggantung di dinding dapur itu. Apron yang bertuliskan namanya dan hanya boleh digunakan olehnya seorang. Kemudian ia menghampiri Sara yang sedang memotong-motong wortel.
“Sini, biar aku saja,” ujarnya.
“Tidak apa-apa, biar aku saja.” Sara menolak bantuan. Melakukan pekerjaan rumah bukan merupakan rutinitas yang baru Sara. Selain sudah terbiasa, memasak juga merupakan salah satu hobinya.
“Kalau kamu memotongnya dengan cara seperti itu, nanti kandungan gizinya akan berkurang.” Entah ia mendapat ide dari mana sampai-sampai omongannya melantur seperti ini.
Darmi yang mendengarnya melipat bibir, berusaha menahan tawanya. Saking merasa lucu melihat majikannya yang salah tingkah.
“Cara memotong yang benar itu seperti ini.” Mengambil posisi berdiri di belakang Sara, Arga mengulurkan tangan. Persis seperti ingin memeluk Sara dari belakang.
Meraih tangan kanan Sara yang sedang memegang pisau, Arga menuntun tangan itu dengan hati-hati memotong wortel. Sekilas jika dilihat, mereka berdua mirip seperti pasangan yang baru saja menikah dan sedang mesra-mesranya.
Padahal hanya memotong wortel. Mau dipotong seperti apapun tidak akan mengurangi nilai gizinya. Justru pengolahan yang salahlah yang akan mengurangi nilai gizi dari wortel itu. Arga ini ada-ada saja tingkahnya hanya demi menutupi malunya ketika tertangkap basah sedang memperhatikan Sara.
__ADS_1
“Aku bisa kok melakukannya sendiri.” Merasa risih, Sara sungguh tak nyaman Arga berdiri di belakang punggungnya dengan posisi seperti sedang merangkulnya. Hembusan napas Arga bahkan terasa menerpa kupingnya.
“Tapi caramu memotong salah. Biar aku ajari.”
“Iya, tapi, aku ...” menoleh ke belakang, tanpa sengaja malah mempertemukan pandangannya dengan sepasang mata Arga. Membuatnya sungguh merasa risih ketika sepasang mata itu menatapnya dalam dan tak berkedip.
Wajah tampan yang biasanya hanya bisa dilihat Sara melalui layar ponselnya itu kini berada dekat dengan wajahnya. Saling menatap dalam keheningan. Namun anehnya, malah bayangan Danny yang terbayang di pelupuk matanya.
Seketika itu juga hatinya berdesir perih, membuat rindu serasa sesak memenuhi ruang di dadanya. Sara tak memungkiri, masih teramat dalam perasaannya untuk Danny. Tidak semudah itu menghapus bayangan Danny dari pelupuk matanya. Tak segampang itu menyingkirkan Danny dari hatinya.
Menatap wajah itu, membuat air mata Sara berlinang dengan sendirinya. Sungguh ia teramat merindukan Danny. Rindu saat-saat kebersamaan mereka, sebelum kebencian menguasai Danny.
“Sara.” Arga bergumam heran melihat Sara tiba-tiba menangis.
Namun anehnya, yang terdengar justru suara Danny yang memanggil namanya. Membuat Sara kini malah terisak, terbawa oleh perasaannya sendiri. Sedari tadi, meski ia disibukkan kegiatannya di dapur, rupanya yang mengisi pikirannya adalah Danny. Sehingga sapaan Arga tak terdengar olehnya.
“Sara, kamu kenapa?” tanya Arga.
Mungkin lantaran terhanyut oleh perasaannya sendiri, tanpa sadar Sara pun memeluk Arga. Menyandarkan kepalanya di dada bidang Arga sambil terisak.
Membuat Arga terkejut juga keheranan dengan tingkah Sara pagi ini.
“Aku sangat merindukanmu,” ucap Sara lirih dalam pelukannya.
Arga yang masih dibuat kebingungan itu tak tahu harus berbuat apa selain membalas pelukan Sara.
Darmi yang melihat keduanya saling berpelukan, bergegas meninggalkan dapur. Ia tak ingin melihat lebih banyak lagi pemandangan yang disangkanya kemesraan.
“Aku sangat merindukanmu, Danny,” ucap Sara dengan berlinang air mata. Yang membuat Arga terkejut.
Semalam Sara sudah menceritakan semua tentang masa lalunya. Bahkan alasan ia menikah lalu akhirnya bercerai, Sara sudah mengatakannya. Tetapi untuk yang satu ini, Sara mungkin lupa. Atau mungkinkah ada alasan lain?
Bukankah kata Sara mereka tidak saling mencintai. Lalu mengapa Sara malah berkata rindu?
Arga mengeratkan pelukan. Walaupun ada cemburu yang diam-diam menelusup ke dalam hatinya.
*
__ADS_1