Memeluk Rindu

Memeluk Rindu
MR Bab. 31


__ADS_3

Memeluk Rindu


Bab. 31


Danny pun menggulir tatapannya pada Sara. “Dia istriku. Aku dan dia belum resmi bercerai.” ujarnya dengan wajah serius sambil menatap Sara dalam-dalam.


Namun hal itu justru membuat Arga tergelak. Yang tadinya ia sudah mulai geram kini ia tergelitik dengan ucapan Danny. Ia merasa lucu saja Danny masih mengakui Sara sebagai istrinya. Padahal jelas-jelas sejak dahulu Danny tak pernah menginginkan pernikahan itu.


Suara gelak tawa Arga itu pun mengundang perhatian tamu yang lain. Mereka terheran-heran melihat perdebatan kecil antara Arga dan Danny.


“Istri katamu?” Memelankan nada suaranya, Arga melirik ke sekitar, berharap tidak ada paparazi yang melihat keributan kecil ini. Untuk Sara, Arga mulai memposisikan diri ingin melindungi wanitanya dari gangguan pria itu.


“Sorry, aku rasa ini bukan waktunya untuk bercanda. Silahkan secepatnya Anda tinggalkan tempat ini, jika tidak saya akan memanggil keamanan. Saya akan memberi Anda waktu lima menit dari sekarang sebelum saya benar-benar memanggil keamanan untuk mengusir Anda. Jangan salahkan saya jika saya benar-benar melakukan ini.” Arga memberi peringatan setengah menakuti Danny.


Namun Danny justru terlihat tak bereaksi lebih dengan peringatan Arga selain senyuman tipis yang terukir di bibirnya.


“Sungguh sangat disayangkan ya, orang terkenal sepertimu ini malah berselera dengan istri orang. Padahal masih banyak gadis-gadis singgel di luar sana yang jauh lebih menarik ketimbang istri orang. Tapi memang mungkin seleranya sedang bermasalah.” Entah apa maksud Danny sampai berkata demikian. Tetapi yang jelas, ada cemburu dalam dada ketika melihat Sara malah bersembunyi dibalik punggung Arga. Bahkan Sara terlihat enggan melihat ke arahnya.


“Kamu_” Arga terpancing emosi. Sembari menunjuk wajah Danny dengan telunjuknya, ia hendak membalas sindiran itu. Namun Sara dengan cepat mencegahnya. Sehingga umpatan yang hendak meluncur dari mulutnya itu pun tertelan kembali.


“Arga, biar aku saja yang menghadapinya.” Sambil berbisik, Sara menawarkan.


Arga pun menoleh ke belakang, sedikit membungkuk agar lebih dekat dengan wajah Sara.


Hal itu pun memantik api cemburu Danny. Raut wajah Danny berubah seketika itu juga. Ia menghela napas panjang, menahan geramnya sendiri melihat pemandangan itu.


“Tidak bisa, Sara. Sekarang kamu adalah tanggung jawabku, jadi serahkan saja semua padaku. Oke?” Arga mengurai senyum, menatap bola mata Sara dalam jarak yang cukup dekat.


“Tolong jangan buang-buang waktuku. Aku masih punya banyak pekerjaan. Jadi, lakukan saja apa yang aku minta. Banyak hal yang harus aku bicarakan dengan dia.” Danny melirik arloji di tangan, hendak memperlihatkan bahwa ia tak memiliki banyak waktu untuk berdebat.


“Sepertinya Anda ini tuli ya? Baiklah kalau begitu saya akan panggil keamanan sekarang juga.” Kesal, Arga pun mengangkat tangannya hendak memanggil security yang sedang berjaga. Mulutnya telah terbuka, namun Sara meraih tangannya. Mencegahnya memanggil security.


“Biar aku saja. Tolong, jangan buat keributan. Malu sama pelanggan.” Sara berbisik dengan wajah meringis cemas.


“Tapi, Sara ...”

__ADS_1


“Percayalah padaku. Tidak akan terjadi apa-apa padaku.” Mengulum senyuman, Sara ingin meyakinkan Arga. Agar pria itu sedikit tenang dan tak perlu mencemaskannya.


“Apa perlu aku perlihatkan bukti kalau dia masih resmi istriku? Atau haruskah aku tunjukkan bukti itu di depan wartawan?” ujar Danny setengah mengancam. Tangannya sudah bergerak mengambil ponsel dari dalam saku celana.


Arga pun akhirnya tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan Sara ikut bersama Danny. Walau sebetulnya hatinya tengah cemas luar biasa. Sebab ia tahu pria itu adalah mantan suami Sara. Entah apa yang akan dilakukan Danny, sampai membuat Arga sungguh tak bisa tenang. Jika saja Danny tak mengancam dengan menyebut wartawan, mana mungkin ia akan membiarkan Danny membawa Sara.


“Kalau ada yang perlu di bicarakan, kita bicarakan saja di luar. Tapi ingat, aku tidak bisa lama-lama.” Menatap tajam Danny, Sara pun kemudian mengekor di belakang Danny. Mengikuti pria itu sampai ke tempat parkir.


“Katakan saja sekarang, apa yang ingin kamu bicarakan denganku.” Sara berkata, begitu langkah mereka terhenti di samping mobil Danny. Sara tak ingin berlama-lama berurusan dengan Danny.


“Naik.” Bukannya menggubris ucapan Sara, Danny malah membuka pintu mobil.


“Apa kamu sedang ingin bercanda?”


“Aku tidak punya banyak waktu untuk bercanda. Lagipula, sejak kapan aku sering bercanda denganmu?”


Sejak dulu Sara juga sudah tahu dan sudah bisa membedakan ekspresi Danny ketika sedang bercanda maupun sedang serius. Dan kali ini, yang tampak di mata Sara adalah Danny sedang tak bercanda.


“Apa kamu benar-benar lupa atau kamu pura-pura lupa, kalau diantara kita itu sudah tidak ada apa-apa lagi sekarang. Jadi aku tidak akan naik ke mobil kamu. Kalau memang ada yang ingin kamu bicarakan, sebaiknya bicarakan saja sekarang. Di sini, bukan di tempat lain.” Sara mulai berani menunjukkan kemarahannya bahkan membantah Danny.


“Kamu itu istriku. Ke manapun suamimu pergi, kamu harus ikut.”


Sara menggeleng. “Tidak. Aku bukan istrimu lagi. Ingat itu.”


Mendengar kalimat bantahan Sara itu, Danny pun mengambil ponselnya. Ia memperdengarkan rekaman obrolannya dengan petugas di bagian resepsionis ketika ia mendatangi pengadilan agama setempat yang tercantum dalam akta cerai.


Dalam rekaman itu jelas terdengar jika petugas mengatakan bahwa perceraian mereka tidak terdaftar di pengadilan tersebut.


Hal itu sebenarnya mengejutkan Sara. Tetapi Sara berusaha tidak menampakkannya. Ia bersikap biasa-biasa saja, tidak memberikan reaksi berlebihan.


“Ayo naik,” titah Danny sembari menyimpan kembali ponsel ke dalam saku celananya.


“Tapi_”


“Aku tidak terima bantahan. Naik sekarang atau aku akan sedikit memaksa. Atau kamu mau aku gendong?” Menghunus tatapan serius, Danny sekarang tak main-main lagi. Sejak ia menyadari perasaannya dan sejak ia tahu akta cerainya palsu, ia semakin gencar mengejar Sara. Tak peduli seberapa jauh dan seberapa kencangnya Sara berlari, ia akan terus mengejarnya sampai dapat. Karena Sara adalah miliknya sejak dahulu hingga kini.

__ADS_1


Sudah tahu jika Danny tidak main-main dengan ucapannya, Sara pun akhirnya menurut. Ia naik ke mobil itu. Disusul oleh Danny kemudian. Mobil yang dikendarai Danny pun mulai bergerak meninggalkan area parkir.


Sementara dari kejauhan, berdiri di ambang pintu masuk restoran, Arga melihat kepergian mobil Danny dengan hati cemas luar biasa.


....


Sara menarik-narik tangannya yang digenggam erat Danny ketika mereka memasuki Venus Hotel. Sara tak mengira jika Danny malah akan mengajaknya ke hotel. Karyawan-karyawan hotel yang melihat Danny tengah menyeretnya itu terheran-heran. Bahkan mereka saling berbisik. Hingga membuat Sara malu.


“Danny, lepas,” pinta Sara setengah berbisik.


Namun Danny malah mempererat genggamannya. Sambil terus menyeret Sara sampai ke ruangannya.


Klek!


Danny mengunci ruangannya begitu mereka masuk. Membuat Sara terkejut lalu menoleh cepat.


“Kenapa dikunci,” ujar Sara.


“Untuk apa lagi? Aku tidak mau ada yang mengganggu.” Dengan santainya Danny berkata sembari mendekat perlahan tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Sara.


Bersamaan dengan langkah maju Danny, Sara mundur perlahan. Cara Danny menatapnya itu membuat jantungnya berdebar-debar. Tatapan yang belum pernah diterimanya dari seorang Danny selama ini.


Sara meneguk ludah dalam-dalam, pernapasannya mulai terasa sesak ketika Danny mendekat. Sampai akhirnya langkahnya pun terhenti ketika pahanya membentur sisi meja. Lekas ia menoleh ke belakang, namun tak ia duga Danny malah mengangkat tubuhnya, mendudukkannya di atas meja itu. Ia terkejut, refleks ia menoleh.


Namun ia harus menahan napasnya kuat karena wajah Danny dan wajahnya nyaris tak berjarak.


“Kamu mau apa?” tanya Sara cemas.


“Mau mencurahkan rinduku.”


*


Mohon maaf untuk update yang tak menentu. Kesibukan di real life tak bisa dihindari. Anak² mulai masuk sekolah, emaknya yang sibuk🤭 Mudah²an setelah semua urusan beres, upnya seperti biasa lagi.


So thank you buat yang sudah dan masih setia mampir di karya recehan ini.

__ADS_1


Luv U😘


__ADS_2